Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Karma


__ADS_3

"Ra!" panggil David kesal


"eh i....ya.... sorry.... sorry.... vid" sabit Clara tergagap


"gimana tes laboratoriumnya?" tanya David jengkel


Clara menarik nafas panjang, dan menghembuskanya dengan pelan. Jemari tangannya meraih amplop berwarna coklat yang tergeletak disampingnya. Amplop itu berisi hasil tes David dan juga Jesica. Pelan sekali Clara membuka penutup amplop itu membuat David yang melihatnya menjadi kesal. Ia tak sabar ingin segera tahu apa isi dari hasil tes di dalam amplop itu. Jantungnya berdegup kencang bahkan hampir lepas dari tempatnya.


"Ayo Ra buka,lamban banget kaya siput Lo!" ucap David kesal


"iya ini juga mau gue buka kali vid sabar napa sih!" gerutu Clara sebal


"Sini biar gue aja yang buka" kata David sambil merebut amplop cokelat itu dari tangan clara.


Dengan dada berdebar David mulai merobek sampul cokelat itu. "Kreeesss" begitu kira kira bunyinya. David menarik lembar putih di dalamnya dan mulai membaca kata perkata yang tercetak di kertas itu.


Sedangkan Clara juga penasaran dengan hasil tes itu ikut resah. "gimana vid?" tanya Clara penasaran


David hanya diam dan masih mengeja tiap huruf dengan rasa was-was. Dan ending nya...tet tottt.... matanya membulat sempurna , begitu juga mulutnya terbuka lebar. Tubuhnya seketika lemas dan luruh jatuh kelantai. Clara melihat tingkah aneh David langsung mengambil kertas putih itu dan membaca isinya. Ia juga penasaran karena dia belum sempat melihatnya tadi.


Tulisan balok 'MANDUL' bercetak tebal melambai lambai di mata Clara. Mata beserta mulutnya membulat sama seperti David. Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat, untuk memastikan kembali dia mengucek matanya dan menatap kembali tulisan bercetak tebal itu. Namun tulisan itu masih tetap sama tak berubah sedikitpun.


Clara memasang wajah miris, ia merasa kasian dengan David juga Jesica. Bagaimana tidak ini pasti akan membuat mereka berdua sangat terpukul. Dan sudah pasti akan menjadi bumerang dimasa depan mereka berdua. Clara tertegun, bingung harus berbuat apa, karena dia juga tak tahu harus bagaimana.


"yang sabar ya vid, mungkin ini sudah menjadi suratanmu!" ucap Clara lirih dengan nada hati-hati takut David tersinggung.


David hanya diam terduduk dilantai dengan keadaan mata terpejam. Air mata mengalir dari sana menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ya dia sangat shock untuk menerima kenyataan ini, bahkan ia tak akan pernah rela ini semua terjadi, tapi apa hendak dikata semua telah terjadi. Sekarang ia hanya bisa meratapi kebodohan sendiri.


Sia-sia sudah, mimpinya telah hancur bersama penyesalan yang tak berujung, juga ia sudah merasa gagal menjadi seorang laki-laki sejati. Dan dia yakin setelah ini tak akan ada seorangpun yang sudi menerima keadaannya.


"Arggghhhhhhhhhhhhh" teriak David sambil mencakar wajahnya.


Clara terkejut dengan apa yang dilakukan david.

__ADS_1


"vid sadar vid Lo jangan ke gini, gue tau ini sulit buat Lo, tapi ini sudah terjadi, Lo harus ikhlas dan mulai menerima ini semua" bisik Clara pelan sambil jongkok disisi David sedangkan tangannya memegang pundak kekar David.


"Ra gue...."


"Iya gue tahu" potong Clara sedih


"gue ga guna lagi Ra, gue bukan lagi yang dulu gue udah bukan...."


"stttttt ga boleh ngomong ke gitu", potong Clara sambil menekan jari telunjuknya ke bibir David. Clara menatap manik mata David yang hitam dan pekat itu, alisnya yang tebal membuat mata itu semakin terlihat tajam. Clara menarik nafas menahan sesak dalam dadanya, saat mata mereka beradu, ada sebuncah kerinduan tersirat dari tatapan mereka, begitu dalam. Tapi entah apa itu hanya mereka yang tahu,karena author sendiri juga tidak tahuπŸ˜‚.


"eh sorry sorry" ucap Clara terbata bata dan menarik jari telunjuknya dengan cepat dari bibir David. Ia membuang muka dan tersenyum sedih penuh luka. David hanya menatap kosong tak bereaksi apa apa.


🌿🌿🌿


Jesica pov.


Aku terbangun dari alam bawah sadarku. Perlahan kubuka kedua mata ini, sebuah pemandangan serba putih menyapa retinaku. Bau alkohol khas rumah sakit menyeruak ke dalam indera penciuman membuatku mual. Dimana ini ? kenapa aku bisa di tempat ini? bukannya terakhir aku ada di kamar horor?


Aku mencoba bangun dari pembaringan , rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhku yang lemah. Sakit yang luar biasa itu yang aku rasakan.


Susah payah aku bangun, dan rasa sakit itu semakin menyiksa.


"ya tuhan salah apa aku ini? mengapa kau biarkan aku menderita" pekikku dalam hati.


Aku menutup rapat rapat mulutku menggunakan kedua tangan agar tak menimbulkan kegaduhan. Aku terus berjuang untuk bisa bangun, dengan kondisi tubuhku yang kaku, lemah tak bisa bergerak sedikit pun. Keringat mulai membasahi tubuhku.


"ahhhhh..... ya Tuhan sakit sekali " teriakku menahan tangis. Aku mengangkat punggungku sedikit demi sedikit bersama linangan air mata yang tak kuat enahan rasa sakit.


"huhhhh" akhirnya aku bisa bangun dari tidur sialan ini. Kutahan nafas sebentar sebelum turun dari ranjang. Dan ini butuh tenaga ekstra karena batas ranjang dengan lantai lumayan tinggi, apalagi kakiku pendek membuat semakin sulit. Aku memang terkenal cewek cebol karena tinggi badanku cuma satu setengah meter, kurang tiga centi. haha biar cebol yang penting cantik ya kan ya kan?...


Kugerakan kedua kakiku dan lagi lagi rasa sakit itu datang, tapi kali ini lebih parah. "Oh tidak jangan jangan.." bisikku terkejut. Aku segera menyingkat selimut bergaris putih biru itu dari kakiku.


kedua bola mataku celingukan ke kiri dan ke kanan ,memastikan tidak ada orang yang memperhatikan gerak-gerikku. Sepi dan lenggang, jadi aman .

__ADS_1


Kedua jemariku menelusup kedalam celana dan meraba sesuatu disana. "Awww sakit " teriakku saat jemariku menyentuh sebuah benda, bengkak. Aku meringis membayangkan betapa ganas dan brutalnya om jelek drakula pemangsa manusia itu.


Hatiku seketika mengeras mengingat kejadian demi kejadian itu. Marah benci juga dendam memenuhi hatiku. Akan ku balas kau! tunggu tanggal mainnya saja om drakula pemangsa manusia berwajah jelek. Kau akan mendapatkan yang lebih dari ini!.


Aneh bin ajaib tubuhku yang semula lemah tak berdaya dan terasa sakit jika digerakkan sekarang hilang entak kemana. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini aku langsung beranjak turun dari ranjang dan mengendap endap melangkah kearah pintu keluar. Aku menarik pintu kaca itu dengan gerakan halus agar tak mengeluarkan suara berderit. Setelah berhasil keluar aku mengendap- endap kembali layaknya maling yang sedang mengintai korbannya.


Keringat membasahi tubuhku yang sudah basah. Ku hempaskan tubuhku di kursi panjang yang berada di ujung lorong. Lorong ini sangat sepi hanya beberapa suster yang berlalu lalang. Karena ini adalah lorong yang mengarah ke kamar mayat. Jadi kurasa aman disini dan om drakula pemangsa berwajah jelek itu tak akan menemukan keberadaanku. Sebenarnya aku penakut, dan aku juga paling takut dengan yang namanya orang yang sudah mati.


BRAKKKKK


tiba tiba terdengar suara pintu dibanting dengan keras. Aku mengusap dadaku karena merasakan jantungku hendak berpindah tempat.


BRAKKKKK


suara bantingan pintu kembali membuat nyaliku ciut.


Dengan rasa was-was kulirik daun pintu kamar jenazah itu. Tak ada orang tak ada angin, tapi pintu itu bergerak sendiri seolah olah ada yang menggerakkan. Lalu siapa yang menggerakkan pintu itu, ah mungkin itu hanya halusinasiku saja" ucapku sambil menenangkan hati.


" ya Tuhan...." ucapku tegang, merasakan bulu kudukku berdiri.


BRAKKKKK


suara pintu dibanting kembali terdengar untuk yang ketiga kali. Tanpa pikir panjang aku berlari sekuat tenaga menjauhi lorong itu. Entah dapat kekuatan darimana aku berlari begitu kencang. Rasa takutku mengalahkan segalanya.


"hahhh hahhhh"


kuhentikan langkahku karena posisiku saat ini sudah jauh dari kamar hantu itu bahkan sekarang sudah berada di jalan yang dipenuhi semak semak. Entah dimana aku sekarang, yang terpenting aku bisa lari dari kejaran setan itu. Kutarik nafas dengan cepat untuk mengisi paru-paru yang telah kosong. Rasa trauma masih membayang jelas di memoriku.


Rasa sakit itu hinggap kembali di tubuhku. Kepalaku mendadak pusing. Kusandarkan tubuhku ke tembok di berada tak jauh dari tempat aku berdiri. Kini aku benar benar tak kuat menanggung derita ini. Aku pasrah andai saja aku harus mati saat ini. Toh tak ada yang peduli denganku , jadi untuk apa aku hidup.


Aku merasa kepalaku semakin berat dan kakiku tak kuat menahan beban tubuhku. Pandanganku semakin kabur menggelap dan menggelap. Dan setelah itu aku tak tau. Mungkin aku sudah mati.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2