Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Ketemu


__ADS_3

// seorang manusia pasti pernah merasakan betapa melelahkan hidup ini dengan berbagai macam ujian yang datang silih berganti, dan terkadang diluar dugaan nalar kita. Bahagia, sedih sudah menjadi makanan sehari-hari, dan untuk tetap bertahan kuncinya cuma satu sabar dan ikhlas //


Jesica gadis belia itu berjalan tersoek-soek menyusuri lorong jembatan Pasupati Bandung. Tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit bekas benturan dengan tembok kemarin. Sesekali bibir mungilnya bergerak mengerucut.


Ia bingung bagaimana cara pulang kerumah, sedangkan jarak menuju rumah berkilo kilo meter, tak mungkinkan kakinya kuat untuk jarak sejauh itu. Mau naik taksi juga tak mungkin, ia tak membawa uang sepeserpun untuk membayar ongkos. Jesica berdecak kesal, malang nian nasibnya.


Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Secepat mungkin ia menepikan tubuhnya menempel pada dinding. Tadinya ia berharap kenapa mobil itu tak menabraknya sekalian. Mobil putih itu berhenti setelah hampir saja menabrak Jesica.


" Pa itu siapa kok kaya kenal" tanya Aldi sambil membuka jendela mobil dan kepalanya melongok keluar. Ia meneliti penampilan Jesica yang tengah berdiri memunggunginya menempel pada dinding dengan posisi kedua tangan memegang kepala.


" ah mungkin gelandangan " sahut Arman acuh, Ia juga sekilas melirik Jesica yang dikira gelandangan karena penampilannya sangat kumuh kotor dan berantakan.


"Tapi pa" ucap Melinda yang dari tadi juga diam diam mengamati Jesica . Entah karena dorongan apa tangan Melinda bergerak menarik handle pintu mobil dan turun.


" Mau kemana Mell?" Tanya Arman terkejut


" Bentar pa aku mau lihat gadis itu" jawab Melinda menutup kembali pintu mobil. Arman hanya mendengus kesal, waktunya bisa habis kalau hanya mengurusi gelandangan itu. Dengan terpaksa akhirnya dia turun mengikuti Melinda.


Melinda mengayunkan langkah kakinya dengan pelan mendekati Jesica.


" Dek kamu tidak apa?" tanya Melinda pelan sambil menepuk pundak Jesica


Jesica terlonjak kaget, seketika bulu kuduknya berdiri. Ia tak berani menoleh dan memilih menutup kedua matanya. Ia terus membaca doa penyelamat.


Melinda melihat tubuh itu tersentak, tapi setelahnya tak ada reaksi.


"Apa dia tuli ya" tanya Melinda dalam hati


"dek kamu denger kakak kan?" kali ini Melinda sedikit menaikkan intonasinya.


"suara itu, gue seperti akrab dengan suara itu, tapi siapa?" guman Jesica pelan. Ia benar benar lupa.


"Dek" suara itu kembali menyapa telinganya.


" Mell sudahlah mungkin dia tuli, sebaiknya kita lanjutkan pencarian kita!" ultimatum Arman kesal. Ia benar benar heran, sempat sempatnya Melinda menghampiri gelandangan itu.


" ah itu aku kenal suara itu, iya itu suara papa" desis Jesica terkejut bercampur senang.

__ADS_1


Jesica membuka mata dan membalikkan badannya. Didepannya Melinda tengah berdiri dengan ekspresi jijik.


" kak Melll.... papa...." teriak Jesica histeris


Melinda dibuat hampir muntah melihat penampilan Jesica yang sangat menjijikkan.


" udah berapa hari nih anak ga mandi, jorok banget, duh nyesel gue, tau kek gini gue ogah nyamperin elo" omel Melinda sambil membuang muka, dia hampir muntah.


Eh tapi tunggu dulu, kok dia panggil nama gue sama papa?" guman Melinda penasaran,.


Ia mengambil tissue di tasnya dan menutupi hidungnya dengan tissue yang diambilnya tadi. Melinda memutar kembali badannya menghadap gadis yang berdiri di depannya dengan wajah sedih.


Jesica mendekati Melinda ingin menghambur dalam pelukan kakaknya itu, tapi belum sempat ia menyentuh tubuh kakaknya, Melinda sudah lebih dulu menepis mundur kebelakang dengan wajah syok dan jijik pastinya.


Jesica tersenyum kecut saat Melinda tak menyambut dirinya malah menepis dan memandangi dirinya dengan tatapan jijik. Ia menatap tubuhnya sendiri yang memang sudah kotor oleh tanah, bekas pingsan semalam.


" kak ini aku Jesica" ucap Jesica lirih


"Bukan lo bukan cyka, elo cuma ngaku ngaku kan biar bisa numpang hidup enak" jawab Melinda dengan nada sengit. Sumpah kali ini Melinda tak akan tertipu dengan modus modus seperti ini, sudah banyak korbannya.


"Tapi ini aku kak Jesica adek kakak" ucap Jesica menahan tangis


"aku berani bersumpah kalau aku benar-benar Jesica" ucap Jesica lirih


" hah elo kira gue percaya dengan omongan elo itu, jangan harap, Jesica ga semenjijikkan ini, dia cantik , putih rapi dan wangi. Lah elo bau busuk, berantakan, kulit penyakitan, jadi jangan ngimpi kalau gue bakal percaya sama elo. Mukanya aja beda jauh cantikan Jesica daripada muka Elo yang penuh koreng menjijikkan itu" ejek Melinda sinis


Jesica tertegun, hatinya seperti di hantam mendengar ucapakan dari kakaknya itu. Kakaknya menghina dirinya dengan penampilannya yang memang tak akan dikenali oleh siapapun, memang sangat menjijikkan, kalaupun disuruh memilih dia juga tak mau mengalami nasib ini. Pantas jika kakak kandungnya tak mau mengakuinya dengan penampilan seperti ini.


"tapi kak..!"


"ga ga ada.! sorry gue nyesel nyamperin elo, gue kira tadi cyka ternyata gelandangan yang ngaku ngaku sebagai adik gue," potong Melinda melangkah meninggalkan Jesica yang masih berdiri mematung.


"kak tunggu" teriak Jesica mengejar Melinda yang sudah hampir masuk ke mobil dengan langkah tertatih. Melinda mengurungkan niatnya masuk ke mobil. Melinda melirik papanya yang sudah tampak kesal.


" kak tolong dengerin penjelasan ku dulu" pinta Jesica memaksa.


Melinda memutar bola matanya dengan kesal. Ampun dech nyesel pake banget gue, ni bocah emang ga punya malu ya, udah ketahuan boong nya masih ngotot ,huh dasar ... tapi baiklah gue dengerin dulu dia mo ngomong apa" umpat Melinda kesal dan kembali menutup pintu mobil.

__ADS_1


"ya mo ngomong apa , cepat gue ga punya banyak waktu gue sibuk" ketus Melinda.


Jesica tersenyum penuh harap semoga kakaknya percaya setelah mendengar ceritanya. Sedangkan Arman penasaran kenapa Melinda tak jadi masuk malah duduk bersama gelandangan itu di pinggir jalan.


Aldi yang semenjak tadi diam memutuskan keluar mencari tau apa sebenarnya yang terjadi.


" kak ada apa?" tanya Aldi bingung


"iya Mell ada apa, kita sudah kehilangan waktu banyak gara gara gelandangan itu" omel Arman sambil melirik benci pada Jesica. Dia mual melihat wajah Jesica yang penuh dengan perban yang sebagian terbuka memperlihatkan koreng yang masih setengah basah.


"cepat ceritakan apa yang ingin kau sampaikan!" omel Melinda kesal


Jesica mengangguk dan mulai menceritakan semua apa yang dia alami tanpa ada yang ditutupi, kecuali pemerkosaan itu. Sedangkan ketiga pendengar itu terkejut mendengar cerita Jesica.


" jadi elo adek gue??" tanya Melinda tak percaya dibalas anggukan Jesica


Arman dan Aldi berdiri tak jauh dari TKP, hanya menutup mulut mereka. Mereka tak percaya mendengar pengakuan gelandangan itu yang tak lain dan tak bukan adalah cyka.


Dengan ragu mereka mendekat dan memastikan kalau itu memang benar benar cyka orang yang mereka cari.


Penampilan Jesica sungguh menggenaskan, ditambah perban putih yang menempel di kepalanya telah mengalami transformasi warna menjadi warna cokelat kotor.


Melinda memeluk erat tubuh Jesica, ia sudah tak peduli dengan keadaan Jesica saat ini yang membuat perutnya mual. Baginya menemukan Jesica kembali adalah sebuah anugerah. Melinda mengecup pipi Jesica dengan lembut. Air matanya bersatu bersama air mata Jesica, mereka menangis dalam satu pelukan.


" Maafin kakak, udah kasarin kamu" ucap Melinda sambil melonggarkan pelukannya dan mengusap air mata.


" Ga papa kak aku ngerti kok" balas Jesica dengan senyum getir.


Arman dan Aldi tersenyum bahagia akhirnya Jesica ditemukan, walaupun mereka masih meragukan itu


"kangen mama" ujar Jesica manja


Arman Melinda dan Aldi sontak tertawa secara bersamaan, mirip grup paduan suara dengan nada sumbang, kenapa? ya karena suara mereka mampu membuat gendang telinga pecah, saking jeleknya suara ayam bertelur lebih merdu daripada suara sumbang mereka.


Jesica menutup kedua telinganya, wajahnya cemberut menatap ketiga makhluk aneh di depannya yang tengah menertawakan dirinya.


"Sumpah mending dengerin suara kucing tanding daripada suara makhluk aneh ini, bikin telinga gue rusak"

__ADS_1


Jesica menarik nafas panjang dan bangkit melangkah menuju mobil. Ketiga makhluk aneh itupun menghentikan tawanya dan ikut masuk ke dalam mobil. Tak butuh waktu lama mobil itu meluncur membelah ruas jalan yang sudah mulai sepi tapi rame, intinya ga rame banget tapi juga ga sepi sepi amat. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam, mobil itu terus menyisir jalan menuju Bekasi.


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2