
Hari ini langit terlihat begitu mendung, dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Jesica terduduk di balkon dengan wajah gusar. Kelopak matanya bergerak naik turun mengikuti hembusan nafasnya yang juga terasa sesak. Hingga ia benar benar tak sanggup lagi menahan beban, mau bercerita pun cerita sama siapa, semua ia tanggung sendiri. Tak terasa air mata jatuh membasah bersamaan dengan turunnya air hujan ke bumi. Seolah bumi dan seisinya turut menangis.
Jesica mengusap air matanya dengan kasar, tersenyum pahit pada air hujan yang semakin deras. Karena hujan semakin deras Jesica memutuskan untuk masuk kedalam, ia tak tahan jika terus terusan di luar kedinginan. Ia melangkah gontai ke sofa yang berada di pojok kamar membelakangi jendela kaca besar.
Dengan kesal ia membanting tubuhnya ke sofa. Tampak air bening mengalir di sudut matanya yang indah itu. Otaknya kembali mengingat peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, awal dari semua petaka yang membuat dirinya seperti ini.
FLASBACK ON....
Malam itu usai makan malam bersama ,Jesica langsung pergi menuju ke kamarnya. Papa Arman dan mama kinan sudah lebih dulu pergi ke kamar mereka. Sedangkan di ruang keluarga nampak sepasang pengantin baru yang tengah asik menonton serial drama psikopat, siapa lagi kalau bukan Melinda dan dewa, pengantin yang baru beberapa hari menikah itu tengah memerankan adegan bermanja- manjaan ala ala sinetron roman picisan di layar kaca.
Melinda bergelayut manja di lengan Dewa, sedangkan Dewa membelai lembut rambut Melinda tapi matanya sibuk menatap kepergian Jesica. Entah kenapa hatinya berdesir aneh setiap melihat adik iparnya itu. Berkali kali ia mencoba untuk melupakan gadis yang telah menjadi iparnya dan mulai mencintai istrinya. Tapi ternyata cinta tak bisa dipaksakan hatinya tetap memilih Jesica. Kenapa cinta serumit ini, lebih rumit ketimbang rumus matematika.
"Yank aku ngantuk, tidur yok!" rengek Melinda membuyarkan lamunan Dewa.
"Ya udah ayok tidur!" jawab Dewa gelagapan dan tersenyum palsu pada Melinda.
"Gendong!" Rajuk Melinda sambil menyodorkan kedua tangannya ke arah dewa.
Dewa tersenyum dengan tingkah Melinda yang manjanya nggak ketulungan, dewa menggendong Melinda ala bridal style menuju kamar mereka berdua. Sesampainya di kamar Melinda langsung memejamkan mata dan tertidur pulas. Sedangkan Dewa juga nampak berbaring di samping Melinda tapi matanya masih berkedip menatap langit langit kamar yang tiba tiba sangat indah. Malam ini Dewa tak bisa memejamkan mata, pikirannya selalu tertuju pada pesona Jesica yang tak pernah hengkang dari otaknya.
Dewa menatap wajah Melinda sejenak, mencium dengan lembut lalu bangkit keluar dari kamar menuju dapur, mengisi kerongkongannya yang mendadak haus.
CEKLEK
ia menekan saklar lampu dapur dan tampaklah semua benda benda yang berada di dapur dan satu sosok yang tengah asik berdiri menyenderkan tubuhnya ke tembok. Satu tangannya memegang terali besi jendela dan yang satunya memegang botol minuman berisi air mineral. Sedangkan matanya menatap nanar keluar jendela, entah apa yang dilihat diluar sana. Padahal diluar gelap lalu apa yang dilihatnya?
"Dek ngapain disini?" tanya Dewa memecahkan keheningan disambut jenggitan tubuh Jesica .
"Aku haus kak, terus nggak bisa tidur" keluh Jesica
"terus kakak ngapain ?"
"sama " sahut Dewa seraya berjalan mendekati Jesica yang kembali sibuk dengan tingkah anehnya.
__ADS_1
"Liatin apa sih , serius amat!" Dewa mengikuti arah tatapan mata Jesica. gelap. Tak ada yang terlihat menarik karena yang berada di depan sana merupakan perkebunan teh. Terus terang kalau malam malam begini tentu gelap.
Siang tadi Melinda dan Dewa ingin bulan madu ke puncak Bogor. Tapi gara gara mama pengen ikut akhirnya semua keluarga diboyong ke villa papa di sana.
Akhirnya satu keluarga ikut bulan madu menginap di Sebuah villa cukup mewah dan strategis, karena berada tepat di puncak bukit dikelilingi kebun teh. Membuat udara sekitar teras sejuk apalagi kalo malam sangat cocok untuk liburan, apalagi sekarang ini musim hujan pas banget buat pengantin baru.
" liatin apa sih serius amat' ulang dewa karena tak menjawab pertanyaan darinya.
Jesica tertawa kecil, dewa menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"liatin gelap kak" jawab Jesica membuat dewa mengernyitkan dahi bingung dengan jawaban Jesica yang aneh.
"hah?"
"gelap itu indah , gelap itu membuat aku selalu merindu sesuatu yang tak bisa aku gapai" jawab Jesica antusias
Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya fokus menatap wajah ayu Jesica. Jesica yang ditatap Dewa seperti itu awalnya tak peduli, tapi lama kelamaan ia menjadi risih.
Jesica mencoba menghempaskan tangan Dewa tapi naas Dewa terlalu kuat menggenggamnya. Jesica tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Mereka berdua jatuh dengan posisi Jesica di atas menindih tubuh Dewa.
Dewa merasakan degup jantungnya yang semakin menggila seakan ingin loncat dari tempatnya. Ditambah lagi posisi mereka yang membuat dewa tak bisa menahan nafas. Dewa menatap mata indah Jesica tanpa berkedip, jarak wajah mereka hanya terpaut lima centi.
Sedangkan Jesica merasakan ada yang tengah berdetak keras di dalam dada, dia tau itu detak jantung Dewa. Dan hembusan nafas Dewa membuatnya semakin yakin. Jesica menyelusuri wajah kakak iparnya itu. "Hemzzz kau memang pantang untuk kakakku, tampan kaya dan romantis pastinya" batin Jesica sambil mengulum senyum.
Dewa menarik tengkuk Jesica sehingga tak ada jarak diantara mereka. Dengan tubuh gemetar dewa mengecup bibir Jesica dan ********** dengan kasar. Jesica terkejut, dan berontak ia tak mau petaka menimpa dirinya.
Di tempat lain di kamar Melinda.
Melinda langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang di ikuti Dewa. Malam ini dia sangat malas jadi ia memilih untuk pura pura tidur. Dan dewa ternyata tak kunjung tidur malah pergi keluar kamar setelah mengecup keningnya. Melinda penasaran dan ikut bangun mengikuti kemana suaminya pergi.
Dewa tampak melangkah menuju dapur, Melinda terus menguntit dari belakang. dan ceklek.... saat dewa menekan saklar lampu tampak Jesica adiknya tengah berdiri di dekat jendela. "Ngapain Jesica malem malem gini berdiri di jendela gelap gelapan gitu, kurang kerjaan emang tu bocah". bisik Melinda sambil terus mengamati gerak gerik dewa yang malah ikut ikutan Jesica berdiri di samping Jesica.
"La itu ngapain juga dewa pake ikut ikutan ke situ?" Melinda terus mengamati mereka berdua seolah ia seorang algojo yang siap menghabisi mereka jika berani macam macam. Melinda terus bersembunyi di balik tembok. ia dibuat panas dengan tingkah dewa yang menatap Jesica dengan tatapan, ah... ia takut untuk memastikannya. la tak mau buru buru mengambil kesimpulan yang salah.
__ADS_1
Dengan legowo ia mengabaikan tatapan dewa. Tampak Jesica menutup jendela dengan cepat dan melangkah pergi. Melinda bersorak senang ternyata adiknya menolak, bagus elo emang adikkkk guee yang...., tapi belum selesai Melinda memuji adiknya itu, tiba tiba ia di pertontonkan adegan yang membuat nya geram, muka yang tadinya terlihat manis kini berubah seperti monster yang siap menerkam mangsanya. Melinda mencakar tembok di depannya dengan kasar. Dengan langkah besar sekaligus kasar, ia berjalan mendekati tersangka.
"Dasar adik nggak tau diri, awas ya gue cakar cakar muka kau !" ucap Melinda menahan amarah yang sudah sampai puncak apalagi melihat la malah tersenyum menggoda dan adegan ciuman terjadi begitu saja tanpa diduga.
Bangsattttt apa yang kalian lakukan!!!" teriak Melinda tak terima menghentamkan kakinya dengan kasar di hadapan suami dan adiknya. Kali ini ia benar benar marah dengan perbuatan kedua manusia tak berperasaan itu. Bisa bisanya mereka berdua menusuk dirinya dari belakang. Dan yang paling menyakitkan mereka adalah orang yang ia cintai. Tapi apa, Melinda salah menilai ternyata mereka musuh dalam selimut.
Dewa terkejut langsung mendorong tubuh Jesica dengan kasar membuat Jesica terjungkal ke lantai. Jesica meringis merasakan nyeri di pantat dan tangannya. Jesica mengibaskan tangannya tapi tiba tiba sebuah tangan menarik rambutnya dengan keras.
"Awwwww ampun sakittt!!!" teriak Jesica kesakitan , Melinda tertawa sinis dan semakin menarik kuat rambut jesica.
" ini pantes buat elo, yang udah berani main api dengan suami kakakmu sendiri, kecil kecil udah mau jadi penggoda suami orang ya, mau jadi pelakor hah?" teriak Melinda kalap. kali ini tak hanya menarik rambut Melinda hingga rontok tapi ia juga mencakar wajah Jesica hingga berdarah.
"Melinda hentikan!" bentak Dewa kasar, Melinda terlonjak terkejut karena Dewa telah membentaknya, seumur hidup dia tak pernah dibentak dan baru kali ini ia di bentak bahkan yang membentaknya ialah orang yang dia cintai, suaminya sendiri. Batinnya menangis tak terima.
"apa??? jadi kamu lebih bela pelakor ini hah, kamu jahat apa kamu cinta sama dia iya? lalu kenapa ksu menikahiku, laki laki brengsek!!!" teriak Melinda mengucap sumpah serapah dewa sambil terus mencakar Jesica dengan frustasi.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Mel! tolong hentikan!" Dewa tak kuasa melihat Jesica yang sudah tak berbentuk manusia. Sedangkan Melinda masih membabi buta menyiksanya. Dewa menarik Melinda dengan kasar mendekap tubuh istrinya dengan erat.
"Kamu jahat, kita baru beberapa hari menikah kamu sudah tega main api di belakangku, dan yang paling menyakitkan kau bermain dengan adikku sendiri, dimana otak warasmu hah dimana ......!" teriak Melinda frustasi memukul tubuh kekar Dewa.
"Maafkan aku sayang ak..... aku... akuuu.... sa.. sa..salah" jawab Dewa gugup. "tapi jangan salahkan Jesica, dia tidak tau apa apa"
"pelakor harus mati" teriak Melinda tak terima karena Dewa masih membela Jesica.
Jesica terkejut mendengar ucapan Melinda tubuhnya langsung merinding. Ia menangis frustasi tak hanya meratapi tubuhnya yang sudah tak berwujud manusia, serta luka bekas cakaran Melinda di wajahnya, tapi juga menangis meratapi jalan hidupnya yang tragis, yang pernah membawanya ke jalan bahagia .
Jesica mengusap wajahnya yang basah oleh darah, ia tak menyangka Melinda bisa berubah menjadi monster menakutkan. Otaknya kembali mengulang peristiwa silam dimana dirinya saat itu berlumuran darah. Tapi itu hanya bayangan yang tak bisa Jesica jangkau, entah mengapa setiap mencium darah bayangan itu slalu mengusiknya. Tapi jika ia mengingat lebih jauh maka kepalanya akan mendadak pusing.
Saat ini Jesica hanya pasrah , dan membiarkan semuanya berlalu bagai air yang mengalir. Jika memang ia harus hidup dengan derita yang berkepanjangan maka biarlah terjadi hingga sampai tiba waktunya semua terhenti dengan sendirinya. Ia tak akan lari dari derita ini.
Tapi satu yang kini harus Jesica lakukan ia harus pergi jauh dari kehidupan Melinda dan Dewa atau mungkin menyingkirkan diri dari keluarga Cokrodiningrat. senyum indah penuh ketulusan tersungging dari balik bibir Jessica yang berlumuran darah. Dewa sempat melihat senyum Jesica , ia merasa was-was jika gadis itu akan melakukan hal nekat yang dia sendiri juga tidak tau.
🍁🍁🍁
__ADS_1