Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Akhirnya


__ADS_3

David memarkirkan mobilnya, dan segera keluar dengan gayanya yang sangat elegan, membuat setiap mata berbelok padanya dan berdecak kagum melihat ketampanan David yang di atas rata rata. Terutama kaum hawa, mereka saling berbisik bisik entah apa itu ,hanya tuhanlah yang tau, kita juga tidak akan pernah tau kalau mereka tak memberi tahu kita apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang pasti itu ada sangkut pautnya dengan david.


David terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah perlahan, matanya menatap lurus ke depan. Mata mata perempuan yang menatapnya dibuat meleleh semakin terpesona oleh ketampanan David yang sangat sempurna


"Ya Allah semoga kita bisa berjodoh membangun rumah tangga yang harmonis aman sehat dan sejahtera ya Robb, semoga kau mendengar doaku ya Robb, amiin " ucap seorang wanita sambil menakupkan kedua tangan menengadah keatas dan menatap dengan penuh harap pada David.


"Huuss jangan ngimpi lo Sin, sadar woi sadar !! tampang lo terlalu jelek untuk bersanding dengan cowok setampan dia" ucap teman di sampingnya sambil menjitak kepalanya dengan kesal. Sedangkan wanita itu memberengut kesal, mengusap bekas jitakan temannya.


"Aduh gantengnya, Abang ganteng nikahin aku dong bang!" ucap seorang Abg berseragam sekolah dengan nada genit


"mau dong jadi istri, yang kedua juga tak apa aku rela" ujar gadis gadis yang satunya


Namun David tetap acuh dan dingin. Ia mempercepat langkahnya sebelum wanita wanita itu mengejar ngejar dirinya seperti artis yang dikejar kejar wartawan hanya demi sebuah berita yang tak penting.


Hari ini dia datang ke rumah sakit lagi untuk menemui Dewi yang masih terbaring koma. Sudah sebulan ini dia bolak balik ke rumah sakit itu hanya untuk memantau setiap perkembangan Dewi. Ia tersenyum simpul dan mempercepat langkahnya untuk segera menatap wajah Dewi. Entah mengapa dia senang sekali memandangi wajah Dewi.


"David..!" seru serang wanita


David menoleh ke sumber suara, dan ternyata suara dokter Alia.


"Mau jenguk Dewi!?" tanya dokter Alia ramah dan tentunya dengan senyum adalan seorang dokter, Senyum Pepsodent.


Eh dokter Alia iya nih ,tadi habis dari kampus sekalian mampir kesini buat lihat perkembangannya Dewi" jawab David dengan senyum tak kalah lebar.


"Mari ikut keruangan saya!" ucap Dewi sambil melangkah menuju ruangan kerjanya diikuti David yang mengekor di belakangnya.


"silahkan duduk!" perintah dokter Alia dengan senyum Pepsodent.


"Duh ini dokter kenapa ya senyum mulu dari tadi, gue jadi ngeri lihatnya, atau jangan jangan dia udah gila, aduh parah kalau memang beneran gila, bisa bisa nanti pasiennya ikut ikutan gila". ucap David dalam hati seraya menatap dokter Alia yang masih tersenyum lebar kearahnya. David menggeleng kepala tak mengerti.


"jadi gimana dok apa ada perkembangan?"


tanya David dengan nada serius


Dokter Alia kembali tersenyum lebar dan itu membuat David memijit keningnya yang tiba tiba sakit melihat senyuman dokter Alia yang menurutnya sudah overdosis dan menyebalkan.

__ADS_1


Dokter Alia mengambil sebuah map dan membukanya, ia membaca secara perlahan tulisan tulisan ajaib dalam map itu dengan serius. David mencoba melirik pada map yang tengah dibaca dokter Alia. Namun dia tak menemukan huruf yang tertulis dengan rapi kecuali tulisan berbentuk gulungan gulungan seperti kawat.


"Kondisi Dewi sekarang sudah semakin membaik dari hari ke hari, cuma untuk saat ini dia masih harus tetap berada dalam perawatan medis. ucap Dew seriusi tanpa senyum Pepsodentnya lagi.


"Kapan kemungkinan dia sadar dok?" tanya David antusias.


"Kemungkinan hari ini dewi sudah sadar, tapi ingat dia telah kehilangan memori otaknya sebanyak tujuh puluh lima persen, jadi saya harap kamu bisa membantunya selama ia menjalani masa penyembuhannya hingga selesai!!."


"Baik dok!" jawab David senang karena Dewi akan segera sadar. Sudah sebulan ini dia hanya bisa menatap Dewi yang hanya terbaring lemah dengan mata terpejam.


"Mari saya antar menemui dewi, dia sudah dipindah ke ruang Flamboyan " ucap dokter Alia berdiri dan melangkah menuju ruang Flamboyan dimana Dewi masih terbaring lemah.


David beranjak mengikuti dokter Alia menuju tempat dimana Dewi berada. Tepat di depan ruangan dengan papan nama Flamboyan yang tergantung di atas pintu masuk, dokter Alia mendorong pintu kaca ruang itu dan masuk kedalam.


Di dalam ruangan Flamboyan ternyata masih ada lorong lorong kamar dengan jumlah lebih dari hitungan jari. David mengira kalau di dalam cuma ada satu kamar dan satu ranjang dengan satu pasien tentunya. Tapi ternyata dugaannya salah, di sana banyak sekali berjejer-jejer manusia yang tidak hanya ada satu pasien tapi banyak sekali, dengan berbagai tipe merk dan rupa tentunya. Dokter Alia terus melangkah sedangkan David mengekor di belakangnya.


Sesekali David menganga membuka mulutnya dengan lebar, terkadang juga ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak dia melewati pasien pasien yang terbaring dengan kondisi bermacam macam. Mulai dari manusia tak bertangan dan berkaki sampai manusia tak berkepala. David terus mengurut dada dan mengucap istighfar sepanjang perjalanan.


Hingga akhirnya dokter Alia berhenti dan memasuki ruang kamar Flamboyan nomor 201. David segera mendekati dewi, sedangkan dokter Alia berdiri dibelakangnya dengan senyum Pepsodent.


David menatap Dewi yang masih terbaring lemah. Dia meraih jemari lentik Dewi dan menggenggamnya dengan erat. Tangannya yang kokoh dan kekar membelai wajah Dewi yang tampak masih terbalut perban putih.


Suara erangan lemah membuat David yang tengah sibuk memikirkan kegilaan dokter Alia menoleh terkejut kearah Dewi. David segera menggenggam erat jemari dewi.


Perlahan namun pasti Dewi membuka matanya sedikit demi sedikit. Silau cahaya lampu membuat ia kembali terpejam. Dia menarik nafas lemah dan kembali membuka mata dengan perlahan. Ia menatap David dengan penuh tanya kemudian dia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan yang berwarna serba putih.


"Dewi kamu sudah sadar?" tanya David tersenyum senang.


Dewi mengerutkan kening ."Dimana aku? dan siapa kamu?" tanya Dewi dengan nada serak.


David tersenyum dan meraih tangan Dewi yang sempat ditarik oleh pemiliknya. Dengan lembut ia membelai punggung tangan Dewi , sedangkan Dewi tampak ingin menarik tangannya kembali , namun David semakin erat menggenggam tangannya.


"tenang aku adalah penolongmu jangan takut, aku bukan penculik atau penjahat" ucap David lembut


Dewi menatap bola mata David mencari kejujuran dari sana untuk mencari tau apakah benar yang di ucapkan dari mulut David. David yang mengerti apa yang ada dalam pikiran Dewi langsung mengeratkan genggaman jemarinya mencoba memberi kehangatan.

__ADS_1


"Siapa kamu sebenarnya dan kenapa aku bisa ada disini, apa yang telah terjadi padaku?" tanya Dewi penuh selidik.


David menggaruk tengkuknya dan meringis menatap Dewi yang masih memandangnya dengan tatapan penuh curiga seolah olah dia seorang maling yang terdakwah tertangkap basah oleh si empu pemilik barang yang sudah ia curi.


"siapa kamu sebenarnya dan kenapa aku bisa ada disini, apa yang telah terjadi padaku?" ucap Dewi mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kali.


David semakin bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Dewi yang ia sendiri takut untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya mematikan. Jika saja dia salah menjawab maka semuanya akan fatal dan dia tak mau itu terjadi karena itu bisa membuat dirinya terseret dalam masalah Dewi yang ia sendiri tak tahu bagaimana kehidupan Dewi sebelum tragedi malam itu.


David menghembus nafas gusar, pikirannya buntu, dia tak kunjung menemukan jawaban yang tepat. Sedangkan Dewi tampak kesal menanti jawabannya.


Aku tunanganmu deww dan sebentar lagi kita akan menikah, dan kenapa kau bisa ada disini, waktu itu saat kita hendak tukar cincin pertunangan tiba tiba kau jatuh pingsan tak sadarkan diri" Ucap David dengan nada tertekan, bagaimana tidak dia harus berbohong hanya untuk menolong Dewi mengembalikan ingatannya seperti semula.


"Benarkah ,tapi kenapa aku tak ingat sedikitpun?" tanya Dewi kecewa, dia telah mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya, namun dia tak juga menemukan petunjuk kecuali bayangan kosong berwarna hitam yang terus menari nari di memorinya.


David tersenyum kecut mendengar ucapan


Dewi, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"mungkin kamu terlalu lelah dew.. jadi kamu tidak ingat apa yang telah terjadi padamu malam itu " ucap David sekenanya.


David benar benar menyerah dan pasrah, kini dirinya harus siap mental dan fisik untuk untuk menghadapi hal yang mengejutkan dalam hidupnya selama beberapa tahun ke depan sampai ingatan Dewi kembali.


"Kamu cepat sembuh ya setelah ini kita akan segera mengurus pernikahan kita!" ucap David lembut sambil membelai rambut Dewi yang berantakan. Keyakinannya sudah bulat dia akan segera menggelar pesta pernikahannya dengan Dewi.


Mata David kembali menatap wajah Dewi yang tampak sendu , David meraih wajah itu dan membenamkan ke dadanya. Dewi tak menolak dan malah semakin membenamkan kepalanya ke dada bidang itu. Dewi berharap semua itu bukanlah mimpi semata yang hanya akan menyakitinya suatu saat nanti.


Dewi tersenyum simpul memeluk tubuh David dengan erat. Sedangkan David membalas pelukan Dewi tak kalah erat.


Dokter Alia yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka berdua dari balik tirai tampak tersenyum bahagia. Akhirnya David mau menolong Dewi, walaupun dia tahu David tampak keberatan, tapi setidaknya dia cukup senang. Dia berharap semoga David tak hanya menolongnya tapi juga menjadikan Dewi bagian dari hidupnya sampai tua.


"Tugasku sudah selesai sekarang aku harus menyingkir dari sini karena masih banyak pasien lain yang membutuhkan bantuanku" bisik dokter Alia sambil melangkah menuju ruangan di sebelahnya, untuk menangani seorang gadis kecil yang juga merupakan korban kecelakaan sama seperti Dewi, cuma pasiennya yang satu ini lebih parah. Dokter menatap kilas ruangan bernomor 201, dua mahluk itu masih berpelukan satu sama lain. Dokter alis kembali menyunggingkan senyumnya kemudian beranjak meninggalkan tempat itu.


Suara detak jam dinding dan dinding dinding kamar dengan nuansa serba putih putih itu menjadi saksi bisu sebuah sejarah dari kehidupan secuil perjalanan insan manusia yang dipenuhi dengan drama dan lika liku kehidupan yang tak pernah bisa di tebak oleh siapapun kecuali sang sutradara kehidupan.


 

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


 


__ADS_2