
Tinnnnnnnnnn............................. Tinnnntinnnnnnnnnn..........
Jesica memencet klason motornya berulang kali dengan kesal.
Di balik pintu pagar tampak Pak Ujang datang dengan langkah setengah berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar. Wajahnya terlihat seperti orang linglung dengan satu mata tertutup dan yang satu lagi terbuka lebar. Aneh kenapa bisa gitu ya.
"Maaf non saya ketiduran" ucapnya sambil menundukkan kepala
Jesica diam memberenggut kesal tak menanggapi ucapan pak Ujang, ia malah melempar tatapan seram. Ingin rasanya ia menerkam wajah satpam sekaligus sopir itu.
"Maaf non saya salah" ucapnya lagi
Jesica memutar bola mata jengah, karena bukan sekali ini ia melakukan kesalahan, hampir setiap hari ia dibuat kesal. Dengan kesal berlipat dua ia langsung menyalakan kembali Scoopy nya dan berlalu begitu saja meninggalkan pak Ujang yang masih berdiri mematung di pintu pagar.
Jesica melirik pak Ujang dari kaca spion, ada rasa tak enak hati atas perlakuannya yang tak sopan, karena bagaimanapun dia juga orang tua yang harus dihormati. Mengingat Pak Ujang juga sudah berjasa besar pada keluarganya selama ini. Jika dihitung kurang lebih sepuluh tahun pak Ujang mengabdi.
Tubuhnya yang mulai membungkuk serta uban yang sudah mengambil alih kekuasaan di kepala laki paruh baya itu membuat Jesica terkenang pada Papa yang saat ini juga semakin hari semakin menua.
Setelah memarkir Scoopy nya di garasi ia langsung melangkah menuju dapur mengambil air mineral dingin. Entah kenapa setelah bertengkar dengan Tante angkuh itu tenggorokannya jadi kering kerontang. Ditambah lagi kekesalannya pada pak Ujang yang kian hari kian menumpuk, yang memungkinkan nanti bisa meledak. Ia menelan beberapa teguk dalam hitungan detik, hingga tanpa sadar ia telah menghabiskan air tiga perempat botol besar. Tenggorokan nya benar benar sekarat.
"Hah lega juga" ucapnya seraya tersenyum menatap botol yang kini tinggal sepertiga.
"Cika udah balik lu, sejak kapan?" tanya Aldi tiba tiba muncul di pintu dapur
"Baru aja" sahutnya singkat
Aldi mengangguk mengucapkan oh lalu pergi ke garasi. Tak lama kemudian suara mesin mobil terdengar dan beberapa saat kemudian hilang. Jesica hanya mengedikkan bahu, mungkin mau apel malming sama Rey, pikirannya.
"Cika!" panggil sebuah suara lagi membuat Jesica menoleh .
"Kak Mel!" desisnya pelan.
Jujur ia masih canggung dan malas bicara sama Melinda, walau ia telah menyadari kesalahannya tapi luka hati yang telah ditoreh masih membekas jelas di memorinya.
"Udah pulang? temenin kakak yuk!"
"Kemana" sahutnya malas
__ADS_1
"Butik Grecya!"
"gue capek mau istirahat!"
"Please!" pinta Melinda memohon
Jesika memutar bola mata jengah "Ya udah iya gue temenin, tapi gue mau mandi dulu!"
"Oke gue tunggu, gercep ga pake lama!"
Jesica melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa mempedulikan ocehan Melinda.
Brughh......
Ia melempar tasnya ke sembarang tempat, lalu disusul seragam dan sepatu. Dengan langkah malas ia masuk kamar mandi karena badannya terasa gerah dan lengket.
"cikaaaaaa!" teriak Melinda diiringi gedoran keras dari balik pintu.
Jesica menatap sekilas daun pintu yang masih tertutup lalu menggeleng kesal dengan kelakuan Melinda yang terkesan seperti anak TK. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tanpa mempedulikan teriakan Melinda yang semakin menjadi.
"Cikaaaaa!" teriak Melinda entah sudah yang keberapa kali.
"Ya udah cepet keburu malam!" Melinda menarik paksa lengan Jesica untuk mengikuti langkahnya.
.........
Dalam hitungan detik mereka sudah melesat berbaur dengan kendaraan lain menyesaki jalanan yang mulai padat merayap. Sepanjang perjalanan Jesica hanya diam menatap lampu jalanan yang mulai menampakkan diri, sedangkan Melinda terus ngomel tak jelas.
"Duh kenapa juga ini!" sungut Melinda memukul setir dengan raut wajah berlipat
"Nggak usah emosi!" cerca Jesica jengkel
"Gimana nggak emosi, liat tuh di depan! macet setengah kilometer udah kaya uler keket!"
"Ya udah nikmatin aja kenapa! marah marahpun juga nggak akan mengubah keadaan, yang ada tekanan darah Lo semakin naik!" sahut Jesica santai.
Tapi bukan Melinda namanya kalau hanya pasrah dengan keadaan. Setelah termenung memutar otak beberapa saat ia langsung menancap pedal gas menyalip kendaraan lain secara paksa. Membuat sebagian pengendara menepi seraya mencaci maki.
__ADS_1
Melinda tersenyum puas tak peduli dengan teriakan protes dari pengendara lain. Ia terus menambah kecepatan laju seolah olah jalan ini milik nenek moyangnya. Jesica yang sejak tadi melamun dibuat spot jantung dengan gaya menyetir Melinda yang ugal ugalan seperti pembalap amartir.
Sesekali Melinda tertawa senang karena ternyata kelihaiannya dalam menyetir mobil sungguh di atas rata rata, bahkan mampu mengalahkan pembalap hebat dunia sekalipun.
"Kak pelan pelann.........!" teriak Jesica dengan wajah pucat.
Melinda tergelak mendengar teriakkan Jesica yang menurutnya sangat lebay.
"Elo santai aja gue udah ahlinya!" ucap Melinda tersenyum bangga seraya menepuk pundak kanan Jesica .
"Kak Awasssss!" teriak Jesica histeris
Melinda terkejut sebuah tronton datang dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi. Melinda langsung dilanda kepanikan konsentrasinya mulai buyar.
Kak remm kakkkkkk!" teriak Jesica kesal bercampur geram
Seperti menemukan otak warasnya kembali Melinda langsung menginjak pedal rem. Tapi sayang rem mendadak blong. Melinda langsung gelagapan tak tau harus berbuat apa.
Bayangan kepala dengan otak berserakan serta tubuh yang terpisah dari tempatnya membuat ia begidik ngeri. Mati sia-sia lalu menjadi arwah penasaran yang selalu mencari tumbal.
"Gue nggak mau mati sekarang, utang gue masih banyak, dosa gue masih menggunung!" cerocos Melinda panik membuat Jesica semakin geram
Ia terus berusaha menginjak pedal rem yang sudah tidak berfungsi itu, berharap ada keajaiban datang. Tapi usahanya gagal tak ada perubahan apa apa sedangkan mobilnya terus melaju dengan kecepatan tinggi.
"Banting stir kak!!!!" Teriak Jesica geram
"Bodo nanti kita mati!" jawab Melinda tak kalah geram
" Lebih baik nabrak pembatas jalan daripada kita kelindas tronton raksasa itu!" teriak Jesica kesal sedangan tronton raksasa tinggal beberapa meter.
Tanpa pikir panjang Jesica merebut setir dan langsung membelokkan mobilnya ke pembatas jalan. Menurutnya lebih baik nabrak pembatas jalan, kalaupun nanti mati tidak begitu mengerikan.
BRAAAAKKKKKKK........
Dua wanita itu langsung menjerit histeris saat mobil mereka berhasil menabrakkan diri ke pembatas jalan dengan hantaman yang sangat keras. Saking kerasnya mobil mereka sampai berdiri tegak bersandar di tembok pembatas jalan dengan posisi bagian depan mobil berada dibawah.
Jesica menatap nanar ke sembarang arah pandangannya gelap, ia tak bisa menangkap benda di sekelilingnya.
__ADS_1
Sayup sayup ia mendengar suara sirine mendekat. Ia kembali meringis memegang dadanya yang terasa ngilu dan perih, dan setelahnya ia tak sadarkan diri.
🍁🍁🍁🍁🍁