AYASA

AYASA
angin (36)


__ADS_3

malam ini seperti biasa tidur di sofa melihat acar tv bunda,atasan,bima,serta ahsan memakan cemilan dan meminum segelas susu,itu bagus keinginan sederhana yang bagus suara gemrisik tetesan hujan dan juga angin sepoy sepoy di luar membuat ayasa ingin bermain dilaut di tahannya karna ingin menikmati suasana sekarang,tidak bagus jika memikirkan hal yang tidak pernah terjadi.gorden melayang layang bagaikan burung terbang karna tertiup angin,cuacanya dingin tapi hangat dengan datangnya keluarga ini,ayasa menghela napas sebentar dan tidur di pangkuan paha bundanya yang ada di atas sofa,memainkan dan melilit rambut anak perempuannya itu,merasa cemburu ahsan melirik ke arah ayasa yang memejamkan mata


"sudah besar ahsan cemburu"cengir bunda sambil mengelus kepala ayasa,sontak ia mengintip ke arah sebrang sofa tempat duduk ahsan dan bima


"gantian abang"sahut ayasa sambil tertawa kecil dan menutup mata,hampir 19 tahun ia tidak pernah merasakan sentuhan yang ia inginkan,tidak ada satupun orang yang perduli dengan nya kecuali keluarga ini,dunia itu selalu berbohong mengatakan iya,agar kita nyaman,tidak bermaksud lain hanya ayasa juga rindu dengan ayah dan bunda aslinya ratu dan raja dari kerajaan arandlle kerajaan megah di bawah laut yang tidak diketahui banyak orang,ingin kembali kemasa lalu dan melindungi semuanya,itu keinginan ayasa ketika tau asal usul nya,setitik air mata jatuh di celana bunda mutia


"ayasa menangis,kenapa?"sahut bunda dengan nada pelan sambil mengusap air mata dari putri nya itu


"bunda,ayasa ingin selamanya dengan bunda"peluk ayasa dan melihat wajah bundanya yang redup juga akibat ngantuk


tidak ada yang ia percaya lagi kecuali keluarga ini,mengerikan jika tinggal di dunia dengan keadaan sendirian,sangat sangat menakutkan,tidak ingin terulang lagi,(dalam hati ayasa)

__ADS_1


"tidur,sana masuk kamar ya"sahut bunda dengan nada lembut,bukan maksud mengusir ia tahu mungkin ayasa sedang memikirkan sesuatu


"iya bunda"jawab ayasa sambil berjalan masuk ke kamar dengan mata sembab,mata merah dengan kulit putih bersih,tetap cantik di lihat,berjalan dan melewati pintu kamar bima,dan masuk ke arah ruangan kamarnya sendiri,membuka gorden dan jendela kamarnya berbisik lembut berharap ke dua orang tuanya itu mendengar kiasan hati nya,tidak sedih hanya kecewa belum bisa bersatu dengan mereka berdua


"kiann,kemarilah temui aku"bisik ayasa pelan


kian adalah seorang sahabat laki lakinya ketika ia masih kecil dan berada di lautan,entah mengapa dia mengingat nama itu,ia tau asal usul nya ketika ia menelusuri kedalaman lautan kerjaannya sendiri,kian laki laki tampan yang memiliki wajah yang cukup menawan dengan bola mata berwarna biru muda,rambut hitam lurus dengan tinggi 178 ya hampir sama dengan tinggi bima sekitar 180.rintikan hujan serta angin sepoy sepoy menghembus wajah ayasa ketika ia membuka jendela itu,dan seorang pria tiba tiba saja berdiri di depan wajah ayasa sampai tidak ada jarak diantara mereka berdua,mengecup pipi ayasa yang dingin itu,sampai membuat pipinya berwarna pink,


"apa kau tidak merindukanku"sahut ayasa sambil melihat ke arah langit yang menghitam,tidak ada bulan dan bintang malam ini,


"sangat sangat merindukanmu,"jawab kian sambil tersenyum ke arah ayasa

__ADS_1


"aku ingin tau di mana kerajaan musuh kita"ujar ayasa sambil berjalan dan duduk di atas kasur tempat duduk


"hanya itu,ku kira kau menginginkan ku"jangan berharap ke pada putri duyung ketika kita tidak pernah mengetahui perasaannya


"ahaaa,merindukan mu juga,pikiran ku hilang entah kemana"jawab ayasa


"pergilah besok malam ke arah teluk barat bersama ku"kian tersenyum kecil dan duduk di tengger jendela kamar ayasa


"baiklah,aku tidak meragukan mu kian"jawab ayasa sambil menarik selimut dan tertidur


"aku akan kembali"jawab kian sambil berjalan dan menghilang dari pandangan ayasa.

__ADS_1


__ADS_2