Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
bab 10. Kedinginan


__ADS_3

Gemerlap kilat pun datang kembali, membuat Eman merasa senang karena merasa diterangi. dengan segera dia pun berlari menuju ke Saung, dan akhirnya dia pun tiba di tempat yang dituju. tanpa berpikir panjang Eman pun masuk ke dalam, memburu api yang terlihat mengepul mengeluarkan asap.


"Kayaknya di sini sangat Teduh, semoga saja aku tidak mati kedinginan." ujar Eman sambil terus membuka baju yang sudah banyak sobekan, baju itu dia peras sampai pucat kemudian baju itu dipakai kembali, lalu dia melepaskan celananya. seperti bajunya celana itu pun di peras sampai kering, kemudian dipakai kembali.


Setelah mengeringkan bajunya dengan cara diperas, Eman pun mendekat ke arah api pembakaran, kemudian dia pun meniup api itu agar membesar dan bisa menghangatkan tubuhnya.


Lama berusaha akhirnya api yang awalnya hanya mengeluarkan asap, sekarang mengeluarkan bara api yang sedikit menerangi keadaan Saung itu, ditambah tubuh Eman terasa hangat tidak semenggigil tadi. Karena dia menggunakan anyaman bambu yang menjadi penutup Saung.


Eman duduk di atas tumpukan jerami yang dihamparkan, sambil mendekatkan telapak tangannya ke arah api, membuat tangan itu terasa hangat mengurangi rasa dingin yang menyiksanya, sambil menghangatkan tubuh mata Eman terus memindai seluruh area kandang kerbau, yang terlihat terang tersinari oleh api pembakaran.


"Kayaknya itu pohon singkong, Kebetulan bisa dijadikan pengganjal perut yang lapar, nggak apa-apa disebut maling juga daripada mati kelaparan," ujar Eman sambil bangkit dari tempat duduknya, matanya memindai ke arah atas kemudian ke arah samping kanan dan kiri, hingga mata itu terhenti di salah satu cetok Yang Sudah usang, yang mengait di siku kandang.


Tanpa berpikir panjang Eman pun mengambil cetok itu kemudian dipakai di kepalanya, dengan penuh kehati-hatian dan perhitungan Eman berjalan mendekat ke arah pohon singkong yang berada di samping kandang kerbau. setelah sampai dia pun menarik pohon itu sehingga terlihatlah 4 umbi yang sangat besar, sebesar tangan orang dewasa.

__ADS_1


Dengan segera Eman pun menarik pohon singkong itu dibawa masuk ke dalam Saung, Sesampainya di dekat api pembakaran dengan segera dia pun mematahkan umbi dari batangnya, kemudian umbi itu dimasukkan ke dalam api pembakaran, sambil terus menghangatkan tubuh.


Semakin lama api unggun itu semakin membesar, membuat baju Eman yang basah kuyup terlihat mengepul mengeluarkan asap, menghilangkan cairan yang masih tertahan. Eman merasa tenang bisa berteduh di tempat itu karena air hujan tidak masuk ke dalam, tangannya terus membolak-balikkan singkong bakar yang berada di atas bara, sambil terus memijat Singkong itu untuk mengecek tingkat kematangannya. ketika dipencet ekornya dan terasa Singkong itu sudah matang, Eman pun dengan segera memakan singkong yang sudah matangnya, sedangkan yang masih mentah dia masukkan kembali ke dalam bara api.


Begitulah pekerjaan Eman, dia terus memakan bagian singkong yang sudah matang, sedangkan sisanya yang belum matang dia bakar lagi, hingga akhirnya satu singkong pun sudah dihabiskan. setelah itu dia mengambil singkong yang lainnya untuk mengisi perut yang dari tadi pagi hanya baru terisi oleh lontong dan gorengan pemberian dari Salamah.


Dua singkong bakar pun dihabiskan oleh Eman, membuat perutnya terasa kenyang, bahkan terdengar suara sendawa. Namun sayang ketika dia mau minum dia tidak bisa menemukan air, walaupun hujan sedang turun tapi itu tidak bisa untuk diminum.


Angin terus berhembus tanpa berhenti menerpa pohon-pohon yang berdiri, membuat ranting-ranting kering terdengar kmeretek, kemudian jatuh ke bawah terendam oleh derasnya air comberan. kerbau dan sapi yang berada di dalam kandang terlihat tengkurap sambil mengunyah, matanya terlihat membulat mereka tidak bisa tidur karena merasa terganggu dengan kehadiran orang yang ikut menumpang berteduh.


Eman terus duduk di hadapan api, dia tidak berani meninggalkan tempat itu, karena rasa dingin terus menyeruak membuat tubuhnya terasa menggigil. kalau dia merasa bosan dengan menghadap ke api, dia pun memiringkan tubuh, bahkan sampai membelakangi agar pantatnya terasa hangat.


Lama kelamaan hujan pun terlihat reda, suaranya sedikit berkurang tidak terlalu bergemuruh seperti tadi. angin pun terlihat diam, tapi petir masih terus terdengar di awali dengan gemerlap kilat yang membelah gelapnya malam, menerangi air yang jatuh dari daun.

__ADS_1


Kira-kira tengah malam hujan pun reda seutuhnya, Hanya menyisakan gerimis kecil. Sehingga membuat Eman terlihat membangkitkan tubuh, pinggangnya terasa sangat pegal, kulitnya terasa kering soalnya terlalu lama berdekatan dengan api. Eman tidak sadar kalau dia sudah menghabiskan Satu bilik dinding Saung yang dia ambil sedikit demi sedikit buat dijadikan kayu bakar.


"Yah, kok habis...? pasti yang punya Saung akan merasa kehilangan," ujar Eman yang terlihat tidak percaya sambil menarik kembali Arai bilik yang masih tersisa, kemudian dia masukkan ke dalam api. "Tapi nggak apa-apa lah, karena ini keadaan mendesak," lanjut hati Eman sambil keluar dari dalam Saung sehingga menimbulkan rasa dingin yang masuk menusuk sampai ke perut. dengan segera Eman pun melipatkan tangan di depan dada, matanya terus memindai area sekitar, takut ada orang lain memperhatikan. tapi Siapa orangnya yang mau berjalan dalam keadaan seperti itu, karena Eman pun kalau berada di rumahnya, dia pasti sudah berada di bawah selimut dengan memeluk guling di kamarnya.


Eman mulai melangkahkan kakinya Kembali, meninggalkan Saung yang terlihat diterangi oleh api yang sebentar lagi mau padam, karena kayu bakarnya sudah mau habis. Eman terus berjalan membelah gelapnya malam, namun beruntung sesekali suka terlihat gemerlap kilat yang menerangi, sehingga Eman bisa memastikan keadaan pijakannya.


Dengan perjuangan dan kegigihan yang dilakukan, akhirnya Eman pun sampai kembali ke rumah Mang sarpu. namun sayang ketika dia sampai ke halaman rumah. Eman terperanjat kaget, karena pintu rumah pun tiba-tiba terbuka  sehingga cahaya lentera semerbak menerangi halaman.


"Halah....! kok jam segini masih ada orang yang belum tidur?" ujar Eman sambil mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, dia tidak berani menunjukkan diri karena merasa takut diburu seperti tadi sore.


Sedangkan orang yang keluar itu adalah mang sarpu yang diikuti oleh Jana dan Dadun, ketiga orang itu terus mengobrol sambil menunggu hujan reda.


"Mau ke mana mereka, apa mau ngeronda, sampai harus tiga orang seperti itu?" umpat hati Eman dengan mata tetap menatap ke arah orang-orang itu

__ADS_1


__ADS_2