
Malam itu Galih dan Saipul sangat beruntung, karena baru malam itu pula mereka bisa istirahat dengan tenang, karena dia bisa tidur di atas kasur di rumah aki Makmun. sehingga mereka tidak merasa kedinginan walaupun di luar hujan sangat lebat.
Galih dan Saiful mereka tidur dengan nyenyak, karena hampir sudah sebulan lebih mereka terus berjalan mencari keberadaan Ranti yang menghilang, dan tidak pernah menemukan tempat tidur seenak di rumah aki Makmun. paling bagus mereka numpang tidur di warung, itu pun tidak memakai kasur, mereka hanya tidur beralaskan pelupuh yang terbuat dari bambu. kalau lagi sengsara mereka biasanya ikut tidur di pos ronda atau di saung saung kebun ketika mereka kemalaman Di tengah perjalanan.
Keesokan paginya. di rumah aki Makmun udaranya sangat sejuk memberikan kesegaran, gunung-gunung terlihat masih diselimuti oleh kabut, rerumputan terlihat basah oleh air hujan tadi malam, di ujung daun-daunnya terlihat menggantung air embun, mengeluarkan cahaya yang mengkilap bak mutiara yang tersinari oleh sinar.
Suara ayam jago terdengar saling berkokok, ditambah dengan suara Lesung yang sedang menumbuk padi. dari genteng dapur terlihat asap yang mengepul, dari tungku masak. orang yang memiliki rumah dia berjongkok di hadapan tungku membetulkan kayu bakarnya, sambil menghangatkan tubuh yang terasa dingin.
Semakin lama waktu pun semakin terang, karena dari ufuk timur terlihat cahaya kuning kemerahan, bayangan sang surya yang sebentar lagi akan keluar, suara burung terdengar riuh berkicau sambil menjemur sayapnya yang basah terkena air hujan, menyambut mentari yang sebentar lagi akan menerangi Buana Panca Tengah.
Dalam keadaan sepagi itu, Galih dan Saiful sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjuangannya kembali mencari babi ngepet yang sudah jelas jejak lacaknya. Mereka terlihat duduk di ruang tamu sambil menghadapi segelas kopi yang terlihat masih mengepul, sedangkan temannya Ada Uli bakar. sedangkan tuan rumah, aki Makmun dia bersila tegap menghadap kedua tamunya,, di tangan kakek-kakek itu terlihat ada cangklong sebesar kepalan bayi, Setelah berdehem sekali Dia pun berbicara.
"Jang.....! aki tidak akan bisa mengantarkan ke kampung Sukaraja. karena aki banyak pekerjaan di sawah dan di kebun. sekarang susul saja sama Ujang-Ujang berdua, aki doakan semoga maksud dan tujuan Ujang bisa tercapai dan terwujud,"
"Amin Ki....!" jawab Galih dan Saipul dengan serempak.
__ADS_1
"Semoga cita-cita Ujang bisa berhasil dan membahagiakan."
"Amin....!"
"Terima kasih banyak Aki, saya sangat menerima semua nasehat dan kebaikan aki. tidak apa-apa kalau aki tidak bisa mengantarkan kita. mendapat doanya saja saya ucapkan beribu-ribu terima kasih," ujar Galih menimpali perkataan tuan rumah.
"Yah sekarang begitu saja. tapi Aki mau menitip pesan, kalau Ujang sudah berhasil maksud sampai bisa menemukan babi ngepet itu, jangan sampai melupakan aki. apalagi kalau mau menikah, aki harus dikasih tahu, Aki ingin ikut merasakan kebahagiaan Ujang, hahaha."
"Baik Aki, saya pasti akan memberitahu," jawab Galih sambil mengambil air kopi yang terlihat Masih mengepul, dia menyeruputnya dengan sedikit-sedikit, sehingga membuat perutnya terasa hangat, mengusir rasa dingin yang berada di sekujur tubuh.
Begitu juga dengan Saiful, dia pun meneguk kopinya dengan sangat menikmati, karena sudah lama dia tidak bisa menemukan kopi di pagi hari, mereka berdua sudah lama terlunta-lunta demi menemukan babi beranting yang sedang di sayembarakan.
Semakin lama matahari pun semakin tinggi, semakin terasa pula kehangatannya, tanah yang basah terlihat mengepul ketika dipanasi seperti itu, air embun yang menggantung di ujung daun terlihat mengkilap ketika tersinari oleh sinar matahari. Galih dan Saiful terus berjalan menyusuri jalan desa, kedua orang itu terlihat bersemangat karena waktu masih pagi, tenaga mereka masih banyak, ditambah perbawaan hati yang sangat bahagia, karena babi aneh itu sudah ditemukan jejaknya.
Di dalam hati Galih dia sudah sombong, Bahwa babi itu awal ataupun akhir akan menjadi miliknya. Hingga ketika dia berjalan ditemani dengan lamunan-lamunan, menerka-nerka ketika dia sudah bisa mendapatkan babi itu. dia merasa yakin kalau calon mertuanya akan bahagia, serta cita-cita dirinya akan terlaksana, menikahi Ranti yang sekarang berubah menjadi babi ngepet.
__ADS_1
"Mang Saiful....!" Panggil Galih memecah heningnya Suasana perjalanan mereka.
"Ada apa Jang?"
"Kayaknya babi itu sudah mendekati menjadi milik saya."
"Maksudnya bagaimana Jang?" jawab Saipul balik bertanya, kakinya terus melangkah menapaki jalan setapak.
"Babi beranting itu selalu bisa kita temui, meski hanya baru beritanya saja. saya sudah membesarkan hati, Bahwa babi itu akan menjadi milik saya."
"Hahaha benar Ujang, kabar beritanya selalu kita dapatkan. tapi menjadi orang itu jangan sombong dan takabur, karena itu sangat jelek, bisa merusak keimanan kita, membuatnya menurunkan kewaspadaan dan kehati-hatian, bahkan bisa jadi mendekatkan diri kita dalam bahaya besar. sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa sama sang pencipta agar maksud, tujuan dan cita-cita kita berdua diantar olehNya, di barenginya dengan keselamatan dan kebahagiaan. jangan sampai ada kegagalan lagi, tidak ada rintangan yang mengganggu, harus mulus Rahayu berkah selamat. Awas sekali lagi jangan sampai sombong seperti itu, pamali....!"
"Bukan begitu Mang, Saya tidak sedikitpun merasa sombong, tapi."
"Tapi apa Jang?" potong Saipul.
__ADS_1
"Tapi begitulah kenyataannya Mang, karena Neng Ranti dia sudah menjadi pacar saya, dia sudah berjanji akan mengikuti semua kemauan saya. buktinya sama mamang juga sudah disaksikan, ketika ada pertunjukan Doger babi di Cisarua. Mamang Ingatkan bahwa Ranti sendiri yang menghampiri saya, bahkan ketika saya menuntun telinganya, dia pun tetap mengikuti. itu tandanya dia sangat Setia, sangat sayang sama saya. Nah, sekarang walaupun kita sudah berpisah, kabar beritanya selalu kita dapatkan. ini adalah satu tanda bahwa babi ngepet, babi beranting itu akan menjadi milik saya. bukan begitu Mang?"
"Iya benar, sangat dimengerti. dan Mamang bisa menyaksikan dengan kepala Mamang sendiri, Memang sebenarnya begitulah keadaannya. tapi kita harus tetap berhati-hati jangan sampai mengendorkan kewaspadaan, sehingga kita bergerak tanpa perhitungan. Jangan sampai kita gegabah ketika mengambil suatu tindakan, Mamang takut ada penyesalan di kemudian hari. sekarang kita harus mempersiapkan diri, harus menyiapkan mental, untuk apa...? untuk menghadapi semua kejadian yang akan kita seberangi." Jawab Saiful yang tidak bosan memberikan nasihat, Karena dia sudah lama bergabung dengan Galih. sehingga rasa perhatian, rasa sayang terhadap sahabat, sekaligus menganggap Galih sebagai anaknya. Saipul tidak mau, Kalau nantinya Galih akan celaka dengan kesombongannya sendiri.