Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
bab 17. menemui Aki Makmun


__ADS_3

"Saya Galih aki, orang Ciandam."


"Oh iya, hahaha. jang Galih. Ya sudah ayo masuk ke dalam, ayo...!" ujar aki Makmun yang terlihat sumringah menandakan beliau sangat ramah. akhirnya Galih pun masuk ke dalam diikuti oleh Saiful. mereka berdua pun mengajak aki Makmun bersalaman, kemudian duduk di atas tikar yang sudah tinggal sebelah, bersila dengan tegap menghormati yang punya rumah.


"Selamat datang Ujang, tapi ada apa, Kelihatannya kok kayak buru-buru?" Ujar tuan rumah dengan segera mengintrogasi tamunya.


"Terima kasih banyak atas pengakuannya Aki, sehingga saya cepat ditanya. begini aki, maksud saya datang ke sini, mau menyusul kembali tujuan yang dulu?"


"Tujuan Apa itu Jang?" tanya aki Makmun sambil menatap ke arah Galih.


"Tentang babi aneh yang sedang saya cari, babi aneh yang memakai anting yang tingkah lakunya berbeda dengan babi pada umumnya."


"Oh itu, terus bagaimana Jang?"


"Menurut keterangan yang saya dapat, babi aneh itu berlari ke arah timur, yaitu ke arah Kampung Ciaul. nah maksud saya mendatangi Aki ke sini, Siapa tahu saja aki bertemu dengan babi itu. Kan Aki sangat ahli tentang perbabian, bahkan orang-orang menyebut aki itu sebagai Pakar, ditambah para warga Kampung Ciaul senang berburu, bahkan pageran perangkap pun sangat banyak di sekitar kampung sini."


"Oh perkara babi itu?"


"Iya benar aki!"


"Syukur kalau begitu Jang, karena sekarang aki sedang bingung memikirkan kejadian tadi malam," jawab aki Makmun mengungkapkan kegelisahannya.


"Kejadian Apa itu aki?"


"Ceritanya begini, tadi malam aki bersama reng-rengan para pemburu, hendak menggiring babi menuju perangkap. bahkan orang-orang yang ikut lebih dari tujuh belas orang, ditambah anjing sembilan ekor, bahkan Anjing itu anjing pekerja, anjing pemburu."

__ADS_1


"Terus bagaimana?" tanya Galih yang terlihat penasaran.


"Ketika kita sedang berburu, anjing-anjing sangat bersemangat mengejar babi, para pemburu terlihat sampai serius. bahkan aki juga sampai menghabiskan seluruh tenaga karena ingin menangkap babi itu. tapi aneh jang, ketika sudah masuk ke mulut perangkap, tiba-tiba babi itu kembali lagi?"


"Babinya kembali aki, keluar lagi begitu?" tanya Galih memastikan.


"Iya babinya kembali lagi, tapi yang semakin aneh ternyata babi itu dikawal oleh seseorang yang mengikuti."


"Orang yang mengikuti?" ulang Galih seolah tidak percaya.


"Bener Ujang, bahkan Jang RT bahunya terkena hantaman orang itu. ada juga temannya yang dihajar pergelangan tangannya, bahkan senternya sampai direbut, yang lain diseruduk sampai terjungkal, tidak bisa bangkit lagi. Ditambah dua anjing terluka termasuk anjing aki situmang."


"Oh begitu," ucap Galih sambil manggut-manggut.


"Iya, makanya kejadian itu sangat aneh, karena ada seekor babi yang diikuti oleh seorang manusia."


"Kira-kira Ke mana perginya babi itu aki?" tanya Saiful yang sejak dari tadi terdiam.


"Ada dua perkiraan Ujang. yang pertama bisa masuk ke Hutan Larangan, yang kedua perkiraan aki pergi ke sebelah timur, karena di tempat itu ada Kebun yang sangat luas, ditambah tidak ada perangkap. nah, begitu Jang." jelas aki Makmun menerangkan.


"Kayaknya menurut pemikiran saya babi itu tidak akan berani masuk ke dalam hutan, apalagi kalau dikawal oleh manusia. paling juga ke sebelah timur, ke kebun yang sangat luas itu aki," jawab Saiful mengungkapkan pendapat.


"Bisa jadi, karena menurut perkiraan aki juga seperti itu."


"Oh, mohon maaf aki...!" potong Galih.

__ADS_1


"Iya kenapa Jang?" jawab aki Makmun sambil melirik ke arah pemuda yang duduk di hadapannya.


"Bagaimana kalau kita susul babi itu ke kampung Sukaraja, soalnya tidak ada lagi kampung terdekat selain Kampung Sukaraja."


"Silakan Jang, tapi jangan sekarang." tanggap aki Makmun.


"Laaah, Kenapa aki?" jawab Galih yang terlihat melongo


"Begini Jang Galih, Kampung Sukaraja itu lumayan jauh kalau dari sini. sedangkan waktu sekarang sudah mulai malam, sebentar lagi juga mungkin magrib, ditambah cuacanya yang terlihat sangat tidak memungkinkan, karena kayaknya mau turun hujan badai. dari dasar itu, Ujang menginep saja dulu di sini, besok baru melanjutkan perjalanan." pendapat aki Makmun.


"Haduh....! Bagaimana kalau sudah begini Mang Saiful? karena memang benar apa yang disampaikan oleh si aki." tanya Galih yang terlihat menarik nafas dalam, matanya melirik ke arah Saipul yang sejak dari tadi hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka, hanya sesekali dia menimpali.


"Kalau Mamang terserah Ujang saja, mau nginep silakan, mau melanjutkan, ya ayo, kita jalan lagi." jawab Saiful tidak memberi keputusan.


"Kalau begitu kita nginep saja dulu di sini, baru besok kita lanjutkan lagi perjalanan. kita datangi Kampung Sukaraja untuk menanyakan tentang keberadaan babi ngepet, karena semakin ke sini jejaknya semakin jelas, karena menurut keterangan Mang Dodo larinya ke sini, ternyata memang benar babi itu lari ke Kampung ciaul. menurut keterangan Si Aki dia bertemu dengan babi itu dan kita bisa pastikan babi itu akan terus menuju ke sebelah timur yang menjadi tujuannya adalah Kampung Sukaraja. begitu Kan, Aki?" Jelas Galih sambil melirik ke arah tuan rumah.


"Iya benar, begitu. besok pagi-pagi silakan Ujang susul tentang berita babi itu, karena aki sudah tua, sudah tidak punya tenaga untuk berjalan jauh, walaupun sebenarnya aki masih penasaran karena ada babi yang seperti itu. seumur hidup aki, baru pertama kali menemukan babi yang dikawal seorang manusia, Apakah itu hantu pengasuh babi begitu?"


"Nggak tahu aki, hehehe. karena aki yang lebih banyak pengalaman kalau dibandingkan dengan saya," ujar Galih sambil mengulum senyum.


Setelah itu obrolan pun berlanjut membahas pembahasan yang tidak terlalu penting, tidak memakai topik sama sekali, yang penting rame saja. tapi pikiran mereka sedang dihantui oleh babi ngepet, maka obrolan itu ujung-ujungnya berakhir dengan pembahasan babi yang dikawal seorang manusia.


Akhirnya keadaan waktu pun sampai ke waktu maghrib, suara gerapung terdengar sudah tidak riang, matahari sudah menghilang digantikan dengan Lembayung senja yang sangat indah, Namun sayang Lembayung tidak terlalu lama menampakan dirinya, Karena terhalangi oleh awan hitam yang berada di atas langit. jangkrik dan kodok saling bersahutan menyambut waktu malam tiba.


Dur! Dur! Dur!

__ADS_1


Terdengar bedug magrib yang dipukul dari arah Masjid, diikuti suara azan yang sangat merdu, suaranya Sampai menusuk ke hati Sanubari. malam pun datang dengan gelap-gelita karena langit yang suka menunjukkan bintang, malam itu tidak menampakan diri, terhalang oleh awan hitam yang tebal. suara angin pun terdengar bergemuruh menambah suasana ketir dan menakutkannya malam itu. tak lama diantaranya suara hujan pun terdengar berjatuhan menimpa Genting rumah, namun hujan di kampung Ciaul tidak separah dengan hujan yang berada di kampung Sukaraja.


__ADS_2