
Sedangkan kedua orang yang menggagalkan kebahagiaan Jana dan Dadun, mereka Terus Berlari mengejar babi yang sudah dibawa kabur oleh Eman. Namun sayang walaupun mereka menghabiskan seluruh tenaga untuk berlari, mereka tidak bisa menyusul keberadaan Eman. sebab jejak yang melarikan diri tidak jelas, orang yang mengejar berlari kesebelah Timur sedangkan yang dikejarnya berlari ke sebelah barat. semakin lama bukan semakin tersusul, tapi semakin menjauh dari kejarannya.
Hingga akhirnya Galih dan Saiful tiba di salah satu puncak bukit, mereka berdua menghentikan pengejarannya. nafasnya terlihat memburu, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh. apalagi Saiful yang tadi disiksa oleh Jana Dia tidak mampu lagi menopang tubuhnya hingga tubuh itu ambruk duduk di atas Rumput yang tumbuh di samping kanan kiri jalan. mulutnya terlihat menganga, tangannya memijat-mijat betis yang terasa kebas.
"Haduh gil4, ke mana kaburnya si sial4n itu....!" ujar Galih sambil memindai area sekitar berharap makhluk yang sedang ia kejar terlihat. tapi Galih hanya melihat burung-burung yang sedang bermain di ranting-ranting pohon harendong, daunnya terlihat bergerak-gerak tertiup oleh angin entah ke mana perginya babi itu.
"Halah.....! Mamang sangat Heran Jang, Siapa orang yang membebaskannya dan siapa orang yang membawa kaburnya?"
"Iya ini sangat menjengkelkan hati Mang....! sangat memusingkan kepala. benda yang sudah mau kita dapatkan, tiba-tiba hilang begitu saja. dasar kurang ajar....! kira-kira Siapa orangnya yang berani merebut rezeki kita, kalau ketemu tidak akan saya kasih ampun lagi Mang, saya akan bunuh menggunakan tangan agar dia bisa menikmati kematiannya...!" gerutu Galih sambil mengepalkan tangan, terdengar suara gemeretak dari gigi yang dikencangkan, menandakan amarahnya sudah memenuhi seluruh jiwa.
Suasana di puncak bukit itu kembali Hening, Galih dan Saipul hanya terdiam sambil merasakan rasa capek setelah berlari dan bertarung. angin kecil menerpa tubuh memberikan sedikit kesegaran dari panasnya hati, suara burung terdengar berkicau dari setiap penjuru menambah kegetiran yang sedang mereka rasakan.
Setelah merasa tubuh mereka kembali segar akhirnya Galih pun mengajak Saiful untuk melanjutkan perjalanannya kembali, untuk mencari babi ngepet yang sudah kabur entah ke mana. sehingga ketika mereka berjalan pun tanpa tujuan dan arah.
__ADS_1
Sambil berjalan mata mereka terus memindai ke samping kanan kiri jalan, berharap bisa bertemu dengan babi ngepet yang sudah kabur. Namun sayang jangankan menemukan babinya menemukan tandanya pun mereka sangat kesusahan, soalnya mereka dan makhluk yang dikejar berlari berlawanan arah.
*****
Sedangkan hewan yang dikejar oleh Galih dan Saiful, mereka sudah sangat jauh meninggalkan tempat pertarungan. kedua makhluk berbeda jenis itu terus menyusuri pelataran rumpun ilalang, kemudian Eman dan Ranti dalam wujud babi ngepetnya menyeberangi Sungai, sehingga membuat jejaknya semakin samar tidak akan tersusul oleh Galih dan Saipul.
Setelah menyeberangi Sungai, Mereka pun terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tepian sawah. Eman menghentikan langkahnya mengajak Ranti untuk beristirahat terlebih dahulu, karena dia sudah tidak kuat menahan rasa capek, ditambah kakinya terasa perih karena tadi malam menginjak serpihan kaca. begitupun dengan Ranti dia sudah tidak kuat kakinya terasa kebas akibat terlalu lama berada di dalam tandu nafasnya terlihat memburu.
Eman membangkitkan tubuhnya ke rumput yang tumbuh di tepian jalan, sedangkan Ranti tengkurap dengan menyelonjorkan kaki depan untuk menopang kepalanya, sambil mengatur nafas yang terasa memburu, keringat bercucuran membasahi tubuh.
Eman merasa bahagia karena dia sudah bisa bergabung kembali dengan buah hatinya, Berjalan seiring, bisa saling tolong, saling menjaga, saling menitipkan diri masing-masing.
"Neng Akang sudah putus Harapan, karena Akang tidak bisa bertemu kembali dengan Eneng, soalnya Neng sudah dikuasai oleh Jana orang kampung Sukaraja. Akang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan, namun Akang selalu gagal. tapi kalau sudah rezeki, kalau sudah alur ceritanya, Akang bisa bertemu kembali lagi dengan Eneng," ujar Eman sambil membelai lembut punggung babi itu dengan penuh kasih sayang, harapan yang sudah di ujung tanduk sekarang membesar kembali seiring kembalinya Ranti ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Makhluk yang diajak berbicara dia tidak menyahuti, Bukannya dia tidak mau menjawab perkataan Eman. tapi apalah daya Tangan Tak Sampai, karena ketika dia berbicara yang keluar dari mulutnya hanya suara seekor babi jarah. hanya Telinganya yang bergerak-gerak dan air mata yang membasahi pipi yang bisa babi itu lakukan. Ranti merasa sedih dan tersiksa ingin berbicara tapi tidak bisa mengeluarkan suara manusia, tapi dalam hatinya yang dipenuhi dengan kesusahan ada kebahagiaan yang tersirat tanpa bisa dilukiskan dengan kata-kata. karena dia sudah bisa bersama kembali dengan Eman, bisa terlepas dari satu kesusahan, bisa terbebas dari genggaman Jana dan Dadun.
"Neng....! kira-kira di mana kampung Ciandam itu, masih jauh atau enggak? Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan agar kita bisa cepat bertemu dengan Bapak, biar Akang tidak khawatir karena Akang takut kalau Neng akan diperebutkan kembali. Soalnya sekarang Akang sudah mengerti Eneng berada dalam bahaya, Eneng sedang diperebutkan oleh banyak orang," ujar Eman sambil menatap lekat ke arah sang babi, dia bertanya layaknya sedang bertanya kepada seorang manusia.
Namun sayang makhluk yang Ditanyanya tidak bisa menjawab walaupun dalam hatinya dipenuhi dengan perkataan-perkataan dan ungkapan-ungkapan kebahagiaan untuk membalas ucapan yang Eman utarakan. Tapi itu hanya angan-angan saja tidak bisa diutarakan dengan pembicaraan, karena kalau Ranti berbicara, hanyalah suara berbicara yang keluar karena bentuk tubuhnya yang seekor hewan.
"Neng kita lanjutkan lagi perjalanannya, jangan terlalu lama untuk beristirahat. takut tersusul oleh orang-orang yang jahat, ayo Eneng berjalan duluan, nanti Akang menyusul di belakang.....!"
Grock!
"Iya benar, ayo, ayo duluan....!"
Setelah selesai Eman memberikan komando, Ranti dalam bentuk babi ngepetnya dia membangkitkan tubuh kemudian berjalan dengan tenang diikuti oleh Eman.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di Jalan Setapak yang biasa digunakan para petani untuk menuju kebun atau untuk mencari kayu bakar. mereka terus menyusuri jalan itu hingga akhirnya tiba di jalan desa, membuat Eman merasa bahagia karena dia sudah bisa menebak bahwa jalan yang mereka susuri adalah jalan yang nantinya akan sampai ke kampung Ciandam.
"Semoga aja Perjalanan kita cepat sampai ke tempat tujuan, diakhiri dengan cerita yang menyenangkan. karena perjuangan kita sudah terasa cukup, pengorbanan sudah banyak, sekarang kita tinggal menunggu kebahagiaannya. jangan sampai terus-terusan susah....!" ujar Eman yang dipenuhi dengan harapan-harapan yang indah, tapi kayaknya Harapan Eman belum sampai dengan waktunya. Apa sebabnya, karena di jalan yang sedang mereka susuri terlihat ada seorang manusia yang sedang berjalan sendirian.