
Orang yang menggotong babi semakin mendekat, terlihat kedua orang itu sangat lelah, karena babi itu mungkin sangat berat, membuat Galih semakin merasa bahagia karena dia sudah melihatĀ dengan jelas bahwa orang itu benar-benar membawa babi. dengan segera dia pun mengencangkan ikat pinggang dan merapikan bajunya seperti hendak maju ke medan tempur, bahkan tangannya membenarkan kepala golok membuat Saipul mengerutkan dahi.
"Jang, Jang! kayaknya Ujang seperti orang yang mau bertarung, kok membetulkan kepala golok segala."
"Kita harus berwaspada Mang, takut nanti ada harimau mengamuk, gajah meronta. kita harus siap sedia untuk menghadapinya, kita harus penuh kewaspadaan. kejadian yang dulu harus dijadikan contoh, keinginan memiliki babi ngepet itu sangat besar resikonya."
"Oh iya, benar ya!"
"Mengerti Mang?"
"Mengerti Jang! hehehe," jawab Saipul sambil membenarkan kancing bajunya, Bahkan dia pun mengencangkan ikat pinggang, tangannya terlihat menggerakkan kepala golok mengikuti Galih, sedangkan matanya tetap menatap ke arah orang yang sedang menggotong tandu yang semakin mendekat.
"Jelas banget Mang, kalau mereka sedang menggotong babi."
"Kalau sudah begini kita harus bagaimana Jang?" tanya Saipul meminta pendapat.
"Kita Cegat, kita periksa babinya! kalau babi itu adalah babi yang sedang kita cari, mau tidak mau kita harus memintanya, dikasih syukur."
"Kalau tidak dikasih bagaimana?"
"Kita paksa!"
"Halah...! itu persis seperti orang yang membegal Jang."
"Iya itu kan baru seperti, bukan aslinya." Jawab Galih tanpa dosa.
__ADS_1
"Kenapa bisa ngomong seperti itu Jang?"
"Soalnya kita hanya meminta hak kita, meminta babi yang sudah kita dapatkan, walaupun sekarang babi itu ada di Raja Jin, kita tetap harus merebutnya. Bagaimana siap Mang?" tanya Galih sambil melirik Saipul dengan sudut matanya.
"Jadi, siap lah!" tanggap Saipul yang terlihat menyetujui, dia sudah menyiapkan diri kalau sampai harus bertarung, sehingga dia pun meregangkan kaki dan bertolak pinggang, matanya membulat sempurna menatap tajam ke arah orang yang sedang menuju ke arahnya
Ketika kedua orang itu sampai kehadapan mereka, dengan cepat Galih pun melangkahkan kaki mencegat Langkah kedua orang yang menggotong itu, hingga akhirnya dia pun berbicara, matanya membulat dengan sempurna, menunjukkan sorot mata yang tajam dan galak.
"Berhenti.....!" bentak Galih membuat kedua orang itu berhenti seketika, bahkan sampai terkejut merasa kaget mendapat bentakan yang mendadak.
Setelah diperhatikan ternyata kedua orang itu adalah Jana dan Dadun, dua pemuda dari Sukaraja yang mau mengantarkan babi ngepet ke kampung Ciandam, mau disetorkan ke Bah Abun.
"Mau apa kisilah?" tanya Jana sambil menatap, nafasnya terlihat memburu, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, wajahnya terlihat memerah terjemur oleh sinar matahari. sedangkan Dadun dia tidak ikut berbicara namun sorot matanya terlihat beringas, menandakan bahwa dia sangat marah dengan orang yang mengganggu perjalanannya.
Tanpa berbicara kedua orang itu melepaskan pikulan tandu babi mereka, kemudian disimpan dengan perlahan di samping jalan. Jana dan Dadun terdiam berpikir, matanya terus menatap ke arah Galih. sedangkan Saiful terlihat sangat berhati-hati dan penuh kewaspadaan, bersiap menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi.
Sementara waktu tidak ada orang yang berbicara, mata Galih menatap lekat ke arah wajah Jana, Bahkan dia memindai tubuh pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti sedang mengukur kekuatannya. setelah puas menatap Jana, tatapan itu pindah ke arah Dadun, Galih melakukan hal yang sama, dia menetap sahabat Jana itu dengan lekat dan lumayan lama, membuat orang yang ditatap hatinya merasa tersinggung, jantungnya tiba-tiba berdegup, hatinya terasa panas, darah mudanya bergejolak naik ke arah kepala.
"Hai kisilah, mau apa ini sebenarnya, ayo buruan jawab...! Jangan menganggap sepele urusan ini, nanti tinju saya menghajar wajahmu," ujar Dadun yang sudah mengeluarkan amarahnya.
"Hahaha, jangan mudah marah saudara. coba dengarkan saya mau bertanya, babi ini kalian dapat dari mana, hayo jawab!" ujar Galih yang membalas tatapan tajam Dadun dengan wajah datarnya, tidak ada sedikitpun ketakutan tergambar di wajah itu. Bahkan tangan Galih memegang kepala golok dengan begitu erat, seperti siap menerkam bulat-bulat musuh yang berada di hadapannya.
"Apa perlunya bertanya tentang babi?" tanya Dadun yang merasa jengkel Karena perjalanan mengantarkan babi ngepet terganggu oleh Galih dan Saipul.
"Halah kamu jangan banyak bertanya, Kalau kamu ingin selamat, jawab pertanyaanku dengan benar! ini babi dari mana?" tanya Galih dengan wajah datarnya namun sorot mata menunjukkan kewaspadaan dan kekejaman.
__ADS_1
"Dari Sukaraja."
"Dari mana asalnya?" susul Galih.
"Hah?"
"Dari mana asalnya budeg...?"
"Kenapa banyak bertanya, aku tidak punya waktu meladeni pengangguran seperti kalian berdua, ayo Jang!" jawab Dadun sambil melirik ke arah sahabatnya.
"Ayo apa kang?" Jawab Jana yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Ayo kita teruskan perjalanan jangan meladeni kedua cucunguk ini," saran Dadun sambil mengambil pikulannya kembali, hendak meneruskan kembali perjalanan.
Melihat orang yang ditanyanya bertingkah seperti itu, membuat amarah Galih pun terpanggil, hingga tanpa bertanya lagi dia membubat babitkan golok yang dipegangnya, menerjang ke arah tali pengikat pikulan yang berada di tandu, sehingga tak ayal lagi tali bambu itu terlepas dari tandunya, terputus oleh sabetan golok Galih, membuat amarah Dadun pun terpancing merasa dihina oleh orang yang baru kenal.
"Kurang ajar....! kamu ngajak berkeringat?" bentak Dadun yang sudah dipenuhi dengan amarah, matanya terlihat memerah sempurna dengan menatap tajam ke arah musuh. giginya terkancing, tangannya dikepalkan.
"Kurang ajar, manusia seperti ini tidak pantas dianggap saudara. kamu ingin mampus setan.....!" Timpal Jana dengan segera dia pun mengeluarkan goloknya, untuk menandingi golok Galih yang sudah dikeluarkan dari tadi. Mata Jana pun menatap tajam ke arah pemuda yang sedang tersenyum mengejeknya.
Melihat sahabatnya mengeluarkan golok, Dadun pun dengan segera mencabut goloknya, seperti orang yang diberikan contoh, karena dia juga membawa benda tajam itu, ujungnya terlihat mengkilap tersinari oleh sinar matahari, menandakan golok yang dimiliki oleh Dadun sangat tajam.
"Putuskan lehernya Jang....! seru Dadun memberikan komando, dengan segera dia pun loncat menerjang ke arah Galih sambil Mengayunkan golok mengarah leher Pemuda Ciandam itu. membuat Galih merasa terkaget-kaget dengan segera dia pun mundur beberapa langkah, menghindari serangan musuh.
Jana yang sudah melihat temannya menyerang dia pun tidak tinggal Diam, Jana meloncat menerjang ke arah Galih, sambil melayangkan serangan goloknya mengancam dahi pemuda Ciandam itu. namun serangan itu tidak kena karena dengan segera Galih menundukkan kepala, sambil menahan serangan.
__ADS_1