Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 24. Babinya Ada Yang Mencuri


__ADS_3

Bret! bret! bret!


Suara tali yang terputus oleh golok, kemudian Eman pun membuka pintunya lalu dia berbisik.


"Neng ini akang, Eman.....! Ayo kita kabur.....!" bisik Eman seperti yang tidak sabar membuat babi itu terperanjat kaget namun bercampur dengan kebahagiaan. dengan segera dia pun mengeluarkan tubuhnya dari dalam tandu, kalau bisa mungkin Ranti ingin memeluk kekasih hatinya, yang baru sehari tidak bertemu. tapi keadaan yang tidak memungkinkan hingga hanya dalam hatinya saja yang bisa berbicara banyak, ditambah air mata kebahagiaan yang terlihat mengembun. karena Ranti merasa sedih dan sengsara bahkan ketika dia mau menjawab ajakan Eman dia menghentikan niatnya, karena dia yakin pasti suara yang keluar tidak akan di mengerti oleh Eman, bahkan bisa jadi menarik perhatian orang yang sedang bertarung, Seperti kejadian tadi malam ketika berada di rumah Mang sarpu.


"Ayo Neng....! Ayo lari yang cepat, kita kabur......!" ujar Eman sambil mengusap lembut punggung babi itu dengan penuh kasih sayang.


Tanpa menunggu jawaban Ranti karena Eman sudah mengerti, kalau Ranti tidak akan bisa menjawab ajakannya. dengan segera dia pun berlari menuju ke arah rerumpunan rumput yang lebat, diikuti oleh Ranti sehingga menimbulkan suara kemrosok.


Kedua makhluk berbeda jenis itu terus menerobos masuk menyela-nyala rerumputan yang rimbun, membuat Galih dan Saipul yang sedang menyiksa musuh-musuhnya, terperanga kaget mendengar suara seperti itu. ketika dia melirik ke arah tandu, terlihat pintunya sudah terbuka. membuat Galih sangat terkejut dengan segera dia melepaskan cekikan yang berada di leher Dadun.


Galih dan Saipul yang sedang menyiksa Jana dan Dadun Mereka terlihat terperanjat kaget setelah memperhatikan ke arah tandu yang membawa babi. mata mereka terbelalak dengan sempurna merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, sehingga mereka pun melepaskan orang yang sedang disiksa.

__ADS_1


"Mang, mang....! babinya ke mana mang?" Tanya Galih memberitahu sambil membangkitkan tubuh, tak lupa dia melayangkan tendangan ke arah wajah Dadun, membuat tubuh Pemuda Sukaraja itu terjungkal ke belakang.


"Halah....! ke mana Jang?" Jawab Saipul malah balik bertanya, matanya memindai ke arah tandu yang sudah kosong tak berisi, bahkan pintunya menganga terbuka. "Aduh celaka Jang, Kayaknya ada maling kurang ajar....! ayo kita kejar!" lanjut Saipul sambil melepaskan genggaman tangannya yang berada di kantong minyak Jana sehingga tubuh pemuda itu ambruk kehilangan tenaga, bahkan pemuda itu terlihat menangis karena merasa sedih mendapat kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, mendapat siksaan yang tidak berperikemanusiaan.


Galih dan Saipul tidak memperdulikan orang yang sudah kepayahan, mereka berdua berlari mengejar orang yang sudah melarikan diri membawa babi mereka. suara kemrosok kemeresek rerumputan yang tertabrak oleh tubuhnya, dibarengi deru langkah kaki yang menapaki tanah menimbulkan suara gemuruh. mereka berlari menggunakan seluruh tenaganya, sehingga tak lama mereka pun sudah meninggalkan jauh Jana dan Dadun yang terlihat sudah kepayahan. wajah Jana pucat Pasi, air matanya terus mengalir membasahi pipi, tenaganya habis terkuras, bajunya terlihat banyak sobekan, hatinya sangat sedih, rasa sakit karena terkena sabetan golok yang berada di betisnya mulai terasa kembali, bahkan terlihat masih mengeluarkan darah.


"Kang.....! Kenapa kejadiannya seperti ini, kemarin saya menyiksa orang lain sampai tak sadarkan diri, sekarang saya yang disiksa oleh orang lain sampai seperti ini, sampai diperlakukan seperti orang yang tidak memiliki harga diri, harus bagaimana sekarang Kang....? babi sudah ada yang mencuri, Tubuh terasa hancur disiksa oleh orang jahat." ujar Jana sambil menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Sabar Jang, biarkan Nanti kita pikirkan lagi Bagaimana caranya agar babi itu menjadi milik kita kembali. dan siapa tahu saja masih ada rezeki kita, sehingga babi itu akan kembali ke genggaman tangan kita." jawab Dadun menenangkan hati sahabatnya, Padahal dia juga sangat bersedih karena nasibnya tidak jauh beda dengan Jana. tapi beruntung dia sudah lebih dewasa sehingga dia bisa lebih tenang, tidak menangis seperti sahabatnya. Dadun tidak menyangka kalau kejadiannya akan sepahit ini.


"Kita pulang saja terlebih dahulu, karena Akang juga bingung harus Berbuat Apalagi. badan sudah sangat lelah, leher terasa sakit, nafas pun terasa sesak." jawab Dadun sambil mengusap-ngusap lehernya yang masih terasa sakit akibat dicekik oleh Galih.


"Benar Kang....! saya juga merasakan hal yang sama seperti yang akang rasakan. kurang ajar dasar si sial4n, kira-kira Siapa orang yang tadi itu dan tempat tinggalnya di mana?" Jawab Jana sambil mengusap-ngusap benda yang berada di bawah perut karena masih terasa sakit.

__ADS_1


Ditanya seperti itu, Dadun tidak menjawab lagi, dia hanya menatap ke arah tandu yang sudah kosong melompong. khayalnya pun terbang melayang menerka-nerka babi ngepet yang sudah berlari jauh meninggalkan mereka, namun Dadun belum mengerti bagaimana bisa babi itu kabur dari kandangnya, karena menurut sepengetahuannya tandu babi itu sangat kuat, bahkan ikatannya pun menggunakan berlapis-lapis sehingga tidak mungkin bisa dirusak oleh seekor babi.


"Kang, Ayo kita pulang, ayo.....!" ajak Jana setelah tidak mendapat jawaban.


"Masih lemas Jang," tolak Dadun yang terlihat malas.


"Ayo Kang pulang, kita istirahatnya di rumah saja...!"


"Iya, iya, ayo pulang....! kita istirahatkan saja dulu badan kita yang terasa sakit, nanti kalau tenaga kita sudah pulih Kita harus mencari kedua sial4n itu, kalau ketemu jangan dikasih ampun, kita siksa sampai mampus.....!"


"Iya benar, keinginannya seperti itu. tapi bagaimana lagi sekarang Khayalan Tinggal Khayalan. Khayalan tidak bisa diwujudkan menjadi kenyataan. padahal Rezeki itu sudah berada di genggaman tangan kita, tapi secepat kilat menjadi milik orang lain, bahkan kita tidak bisa berbuat banyak Kalau tidak ada keberuntungan mungkin kita hanya tinggal nama. dasar lagi sial....! ada-ada saja gangguan kebahagiaan itu." jawab Jana yang terlihat menggerutu dipenuhi kekesalan yang tak terbatas, namun apa daya tangan Tak Sampai dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Setelah berbicara Mereka pun membangkitkan tubuh masing-masing yang masih terasa sakit, tapi mereka tetap berusaha agar bisa pulang ke kampung Sukaraja sambil membawa hati yang dipenuhi kekecewaan, Karena kebahagiaan yang sudah berada di depan mata harus sirna digagalkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Hati Jana dipenuhi dengan amarah, namun Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan, hanya mengumpat Galih dan Saipul dengan sumpah serapah. karena kalau bukan gara-gara kedua orang itu usahanya untuk menikahi gadis yang bernama Ranti orang Ciandam anak Bandar anyaman akan terlaksana. sehingga hati Jana terus dipupuk dengan amarah, bahkan menjadi dendam terhadap Galih dan Saiful, membuahkan satu tekad yang tidak baik, ingin membalas perlakuan orang yang sudah mengganggu kebahagiaannya.


__ADS_2