Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 29. Galih Dan Saiful


__ADS_3

Ranti dalam wujud babi ngepetnya, dia pun berjalan di depan Surya Jaya yang memegang tali kekangnya. kalau dilihat sepintas kejadian itu sangat aneh dan langka, karena ada seorang manusia yang bisa menggiring seekor babi, layaknya menggiring seekor kambing ataupun hewan peliharaan lainnya. karena biasanya ketika ada orang yang membawa babi, orang itu lebih memilih menggotong atau menandunya.


Berbeda dengan Surya Jaya yang sudah sangat mahir dalam mendidik babi, bahkan dia lebih pantas disebut pakar. dia tidak melakukan hal seperti itu, dia lebih memilih menggiring babi yang baru ia dapat seperti hewan peliharaan. Surya Jaya sangat pintar, dia tidak berjalan di hadapan Ranti karena dia sangat Waspada. Nanti kalau dia berjalan di hadapan sang babi bisa-bisa dia diseruduk.


Surya Jaya terus berjalan mengikuti sang babi dipenuhi dengan kebahagiaan, Karena dia sudah berhasil menangkap kembali babi peliharaannya yang dilepaskan oleh istrinya yang bernama Hamidah. seekor babi yang pernah dia pelihara dan dapat menghasilkan uang dari hasil pertunjukan sirkusnya.


Sekarang bunga-bunga kebahagiaan sudah terlukis di dalam benak Surya Jaya, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan hadiah dari bah Abun yang sangat besar, ditambah dengan gadis cantik yang bernama Ranti. berbeda dengan hewan yang berada di hadapannya, Ranti sambil berjalan hatinya terus dipenuhi dengan kesedihan, karena dia tidak bisa menikmati kebebasannya untuk hidup tenang, baru saja dia bisa terbebas dari cengkraman singa sekarang masuk ke lubang buaya.


Keselamatan, kebahagiaan, keindahan, hanya baru bertemu di dalam impian, hanya menjadi Harapan, hanya menjadi angan-angan, belum sempat sampai menggapainya, belum sempat menikmati kenyataannya. apalagi kalau melihat sekarang yang sudah berada di genggaman orang yang tidak bertanggung jawab, orang yang sangat serakah, sehingga sampai tega melukai orang lain demi menggapai tujuannya.


Kesedihan Ranti semakin bertambah, ketika mengingat Eman yang tadi melarikan diri, seolah tidak memiliki tanggung jawab atas dirinya. tapi setelah dipikir ulang Ranti sangat mengerti, Eman melakukan hal itu adalah hal terbaik untuk diri Eman. karena walaupun sekejam apapun Surya Jaya dia tidak akan mau melukai diri Ranti. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi membuat kebahagiaan yang sudah berada di depan mata kini sirna kembali, hanya tinggal kesedihan kesengsaraan yang terus mengejar tanpa henti.


"Kalau sudah seperti ini, cabutlah nyawaku...! karena sangat Percuma kalau hanya hidup untuk merasakan kesedihan, merasakan kesengsaraan......!" begitulah gumam hati Ranti yang sudah mulai dipenuhi dengan rasa putus asa, yang sudah kehilangan harapan untuk hidup bahagia, mulai tidak percaya dengan kasih sayang Sang Pencipta yang mengatur alur cerita.

__ADS_1


Berbeda dengan Surya Jaya sekarang hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan dan harapan-harapan indah yang sudah terlukis di depan mata, wajahnya terlihat sumringah, hidungnya kembang kempis, bahkan di dalam hatinya dia merasa sombong Memiliki harapan yang melebihi batas kemampuan. dalam khayalnya sudah dilukiskan dengan sempurna, bahwa sebentar lagi dia akan menerima padi sekamar, uang satu karung, kambing satu kandang, ditambah gadis cantik yang bernama Ranti anaknya Mbah Abun. karena tidak ada orang lain yang pantas menerima semuanya Kecuali dirinya sendiri, karena Surya jayalah pemenang sayembara yang dibuat oleh Mbah Abun Bandar anyaman dari Ciandam.


"Kalau aku sudah menjadi pemenang sah sayembara dan Hadiahnya sudah berada di genggaman. si Hamidah istri rese itu akan aku tolak empat, tidak akan talak tiga, biar mulutnya tidak mengomel lagi. aku akan bersenang-senang dengan istri baruku yang masih muda dan masih cantik, Hahaha."


Gumam hati Surya Jaya yang sangat dendam terhadap Hamidah, sehingga hanya itulah yang memenuhi pemikiran Surya Jaya. wajahnya terlihat tersenyum-senyum bak orang yang kurang sesendok, sambil terus mengikuti Ranti dalam wujud babi ngepetnya. Tapi walau begitu dia tetap dipenuhi dengan kewaspadaan, Surya Jaya terus menggenggam erat tambang pengikat babi itu agar tidak meloloskan diri.


Sinar matahari yang yang menyinari kedua makhluk berbeda jenis itu, seolah tidak ingin menyaksikan kesedihan Ranti. sehingga lama-kelamaan Matahari itu bersembunyi ke balik awan hitam yang menggumpal, tidak kuat menyaksikan sang babi yang sedang disiksa oleh Surya Jaya.


Suasana pun terlihat sangat Teduh, awan hitam menggumpal memenuhi langit menutup cahaya mentari, semilir angin kecil menerpa dedaunan menimbulkan suara kemerosok kemeresek, ketika beradu dengan daun-daun yang lain terdengar suara bergemuruh seolah sedang berbisik mengajak Ranti untuk berlari dari kenyataan, mengajak Ranti untuk menuju ke alam kelanggengan, meninggalkan alam yang pana, alam yang dipenuhi dengan kesedihan dan kesengsaraan.


Kedua orang yang berbeda jenis itu terus berjalan menyusuri jalan desa yang nantinya akan sampai di Kampung Ciandam, namun di depan ada pertigaan yang satu menuju ke arah Kampung Ranti yang satunya lagi menuju Kampung situ, kampung yang dulu pernah mengadakan pertunjukan adu babi, yang ternyata babi itu adalah mang sarbu.


****

__ADS_1


Di tempat lain, dalam keadaan waktu yang sama. terlihat ada dua orang laki-laki yang sedang mengistirahatkan tubuhnya berteduh di bawah pohon petai. yang satu terlihat menyandarkan tubuh ke pohon, yang satunya lagi bersila sambil memeluk dengkulnya, mengantarkan Lamunan yang sudah terbang entah ke mana.


Melihat keadaan kedua orang yang sedang beristirahat itu seperti orang yang sedang menemukan kesusahan, karena mereka sedang mencari dan memikirkan seekor babi ngepet yang tadi ia perebutkan dengan Jana dan Dadun.


Dua orang itu adalah Galih dan Saipul yang kehilangan jejak, tidak mampu menemukan Eman yang telah membebaskan babi yang sedang di sayembarakan.


"Mang.....! Saya sangat lelah, Coba tolong bantu saya berpikir, kita harus bagaimana kalau sudah begini?" ujar orang yang paling muda sambil mengusap wajah, mungkin sedang menghilangkan rasa pusing, tubuhnya masih terasa sakit akibat bertarung dengan Dadun.


"Lah kenapa Ujang harus merasa susah, bukannya tempat ini sudah dekat ke kampung Ciandam." jawab Saiful yang tetap terlihat tenang meski tubuhnya merasakan hal yang sama, namun semangat juangnya yang masih tinggi.


"Memang sudah dekat Mang, bahkan sangat dekat hanya tinggal melewati Bukit itu. setelah melewati Bukit kita langsung sampai ke kampung Ciandam, tapi kenapa kalau begitu?" jelas Galih diakhiri dengan pertanyaan.


"Kenapa kalau begitu, begitu bagaimana, gimana maksudnya?"

__ADS_1


"Yah kenapa Mamang bertanya tentang Kampung Ciandam?"


"Ya begini Jang Galih. Apa salahnya kalau kita pulang terlebih dahulu, kita temui orang tua Ujang untuk meminta doanya sekalian mengganti baju atau mengambil bekal kembali, atau apa aja yang penting kita pulang dulu karena kalau sudah sampai ke rumah pasti banyak kebutuhan." jawab Saiful menjelaskan.


__ADS_2