Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 11. Mengejutkan


__ADS_3

Cahaya senter terlihat dinyalakan, kemudian cahaya itu berkeliling memindai seluruh area halaman rumah, bahkan cahaya senter itu menerangi tempat yang digunakan bersembunyi oleh Eman, beruntung orang itu tidak sadar dengan keberadaannya.


Setelah mereka memindai keadaan sekitar, terdengar suara orang yang mengobrol kembali, namun Eman tidak bisa mendengar jelas karena tempatnya lumayan jauh, Eman hanya bisa berdiam tanpa bergerak karena takut menimbulkan kecurigaan.


"Gil4.....! memang gil4....! mau ngapain mereka sampai harus mengitari seluruh samping rumah," umpat Eman kembali matanya terus memindai Ketiga orang yang sedang mengitari rumah Mang Sarpu.


Setelah puas dengan keamanan keadaan sekitar, Ketiga orang itu pun terlihat masuk kembali ke dalam rumah, kemudian duduk kembali di kursi yang berada di ruang tamu. membuat Eman menarik nafas lega karena dia bisa memiliki kesempatan untuk memperhatikan makhluk yang berada di pendaringan padi.


Eman pun membangkitkan tubuh, kemudian berjalan dengan perlahan mendekat kembali ke tempat tadi sore ia mengintip, langkah Eman diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara, dibarengi dengan kewaspadaan yang sangat tinggi. Jantungnya tiba-tiba terasa berdegup dengan kencang karena takut ada orang yang memerogokinya.


Setelah sampai ke tempat yang dituju, Eman pun kembali menempelkan dahinya ke bilik rumah, matanya mengintip keadaan di dalam Pendaringan Padi, Namun sayang keadaan di tempat itu sangat gelap, karena tidak diterangi oleh lampu, membuat Eman merasa kecewa Bahkan dia terlihat menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal.


"Sial....! Kenapa harus gelap, kenapa tidak disimpan lampu Damar. Kalau seperti ini Neng Ranti tidak akan bisa diketahui," begitulah gumam Eman kemudian dia pun terdiam berpikir.


Lama berpikir, namun Eman tetap tidak menemukan jalan. hingga akhirnya dia pun menempelkan telinga, berharap bisa mendengar suara dari dalam kamar penyimpanan padi itu, karena Eman yakin kalau ada orang, pasti nafasnya akan terdengar, karena waktu sudah sangat malam dan sangat sunyi.


Lama menempelkan telinga, Eman tidak mendengar apapun. Entah di dalam memang tidak ada apa-apa, atau telinga Eman lah yang bermasalah. Yang jelas Eman merasa semakin bingung karena dia kehilangan jejak, tapi meski begitu Eman tidak putus asa sehingga dia pun berbisik.


"Neng....! Neng ada di kamar apa enggak. nih, Akang ada di sini.....!" bisik Eman dengan bibir yang ditempelkan ke dinding, agar suaranya bisa terdengar jelas oleh makhluk yang berada di dalam. kemudian dia pun menempelkan kembali telinganya Berharap ada suara balasan dari dalam.

__ADS_1


Ranti yang sedang tengkurap, telinganya tiba-tiba bergerak tertarik ke atas, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, hatinya berdebar tak karuan. dengan cepat dia pun berdiri, sehingga menimbulkan suara decit papan yang Terinjak. Ranti mendekat ke arah dinding, dia ingin melihat jelas Siapa orang yang berbisik.


"Nah, kan ada suara decit papan, pasti ada seorang makhluk yang tinggal di Pendaringan ini. Awas aku akan panggil kamu lagi," putus hati Eman kemudian dia pun bersiap bahkan sampai terlihat memasang kuda-kuda.


"Neng, Neng...! Apa Eneng ada di dalam? ini akang, Eman." bisiknya seperti tadi, dia menempelkan bibirnya ke bilik anyaman bambu, jantungnya pun mulai bergejolak.


Dari rasa bahagia yang tak terhingga, membuat Ranti melupakan dirinya sendiri.


Groooook!


Maksud hati Ranti dia ingin bersorak-sorai gembira, Namun sayang yang keluar hanya suara babi jarah yang biasa berada di dalam hutan, membuat ketiga orang yang berada di ruang tamu terperanjat kaget.


"Iya benar, Ayo turun, kita lihat....!" jawab Mang sarpu sambil mengambil senter yang berada di atas meja, dengan segera Mereka pun turun ke halaman langsung ke samping rumah.


Cahaya senter pun semerbak menerangi tempat itu, membuat Eman yang sedang mengintip terlihat sangat jelas, membuat pemuda itu terlihat sangat kaget, bahkan wajahnya terasa sangat panas. tanpa berpikir panjang dia pun loncat menuju tempat yang gelap, kemudian berlari dengan terbirit-birit seperti orang yang dikejar hantu.


"Maling.....! Maling......! ada maling.....! Ayo kejar....!" teriak Mang sarpu sambil berlari mengejar Eman yang sudah jauh.


Melihat Mang Sarpu sudah berlari duluan, Jana dan Dadun tidak tinggal di apa mereka pun mengikuti mengejar Eman yang sudah tidak terlihat ditelan gelapnya malam.

__ADS_1


Suara jangkrik yang baru terdengar kembali, mungkin mereka baru keluar selepas hujan besar yang mengguyur lubang persembunyiannya, di Sahuti dengan suara kodok yang terdengar dari arah sawah, Suaranya terdengar sangat bahagia karena banyak air untuk bermain, bahkan air itu terlihat bergejolak di setiap selokan merendam semua sawah.


Sedangkan langit masih terlihat mendung, dari arah jauh terdengar suara anjing yang menggonggong seperti yang sedang menyoraki kelelawar yang terbang di atas gelapnya malam, suara kalong terdengar gemericit dari atas pohon, mangga mungkin mereka baru bisa keluar untuk mencari kifayah, karena tadi terganggu oleh hujan lebat.


Eman terus berlari mencari tempat-tempat yang gelap agar menyusahkan orang-orang yang mengejarnya, ternyata Eman bisa berjalan dalam keadaan seperti itu, seperti ada yang membawa tubuhnya, atau mungkin sudah terbiasa berjalan dalam gelapnya malam. ditambah dengan rasa takut yang memenuhi jiwa, sehingga pelariannya pun tidak main-main, karena takut ditangkap oleh Mang Sarpu dan warga Kampung Sukaraja.


Sedangkan orang yang mengejarnya, Jana dan teman-temannya terlihat berpencar sengaja mencari jalan sendiri-sendiri, yang bertujuan supaya maling itu bisa terkepung


cahaya senter terus semerbak mendebarkan hati Eman, tapi dengan adanya cahaya senter, Eman jadi mengerti di mana keberadaan musuh, sehingga dia bisa memutuskan arah pelariannya dengan tepat.


"Dasar bodoh, malah pergi ke selatan. Sana susul terus, soalnya aku mau ke sebelah barat, hehehe." Gumam hati Eman sambil membelokkan tubuhnya, kemudian dia menyusuri jalan besar menuju ke arah barat.


Perasaan Eman sudah tenang kembali karena dia beranggapan tidak mungkin ada orang yang mempedulikannya, karena orang-orang yang mengejarnya menuju ke arah selatan. tapi dasar Eman yang hidupnya dipenuhi dengan kesialan, ketika dia berjalan terdengar suara gonggongan anjing yang menggonggong dirinya, membuat Eman pun berhenti, matanya menatap tajam ke arah datangnya suara.


Tidak disangka tidak diduga, satu serangan menerjang ke arah Eman, mata anjing terlihat menyala, membuat Eman merasa kaget hingga dia pun loncat ke samping kiri jalan, menghindari serangan anjing galak gitu.


Bugh!


Keadaan yang gelap membuat elakan Eman tidak diperhitungkan, sehingga dia menabrak pohon jambu batu  kepalanya menjadi pusing seperti berputar, membuat tubuh Eman ambruk seketika tidak kuat menahan sakit di area kepala.

__ADS_1


__ADS_2