
"Iya yah....! benar juga Mang. Ya sudah kalau begitu ayo kita ke rumah Mang, sekalian saya mau menemui Mbah Abun ingin mengetahui kabarnya seperti apa. tapi saya merasa tidak enak hati Mang, semenjak dari tadi hati saya terus berdebar seperti akan menemukan ketakutan?" ujar Galih sambil mengelus dada karena memang benar hatinya terus bergejolak, bahkan jantungnya pun seperti memompa lebih keras.
"Wajar Jang......! karena kita sedang capek dipenuhi dengan kebingungan dan yang paling utama yang mungkin membuat jantung itu terus berdebar, karena kita sebenarnya mau mendapatkan untung yang sangat besar, mau mendapat kebahagiaan yang tak terhingga, tapi hanya bisa menggigit jari. Jadi hal yang seperti itu sangat wajar, Ujang nggak harus terlalu dipusingkan. mendingan kita pulang dulu ke rumah, sekalian Mamang juga ingin tahu detail tentang Kampung Ciandam." ujar Saipul sambil membangkitkan tubuh terlihat sudah tidak sabar ingin segera mengetahui Kampung Ciandam, yang terutama dia ingin bertemu dengan Mbah Abun, ingin mendengar jelas tentang kebenaran berita sayembara.
"Ya, ayo Mang....! Jangan membuang waktu, tapi sebentar, sebentar.....! itu siapa ya mang...?" jawab Galih sambil bangkit matanya menatap ke arah orang yang sedang berjalan.
Mendengar keterangan dari galih, Saiful pun terkejut matanya menatap ke arah yang ditunjuk oleh sahabatnya, menatap orang yang seperti sedang menggiring domba. setelah diperhatikan Saipul tidak bisa melihat jelas orang itu sehingga dia tidak bisa mengenali, tapi dia bisa melihat jelas dengan hewan yang digiringnya.
Dugdeg, dugdeg, dug, deg.....!
Tiba-tiba jantung Saipul bergejolak hatinya bergetar sambil tidak enak perasaan, hingga akhirnya dia pun berbicara.
"Jang, Jang.....!" Panggil Saipul.
"Yah kenapa Mang?:
"Kayaknya hewan itu seperti babi Jang, lihat saja cara berjalannya yang menunduk."
"Lah mustahil lah Mang, masak ada babi bisa digiring seperti domba?" sanggah Galih yang tidak percaya.
"Lah Ujang Bagaimana sih....! domba itu tidak berjalan seperti itu. walau begini-begini juga mamang itu mantan bandar hewan ternak, soalnya sebelum usaha menjadi penjual kerupuk, Mamang pernah terjun menjadi bandar domba, bahkan sampai 2 tahun Mamang menekuni usaha itu. nah sekarang Mamang bisa membedakan antara domba dan hewan yang lain."
"Ah....!" tanggap Galih yang tetap menyanggah.
__ADS_1
"Ah apa?"
"Saya belum percaya Mang, tapi kita tunggu saja sampai lewat ke sini. lebih bagus kita bersembunyi di tempat yang rimbun, Nanti kalau sudah bisa melihat jelas Hewan apa yang sedang digiring dan Kalau benar itu adalah babi yang sedang kita cari, jangan tanggung kita rebut.....!"
"Ayo kalau begitu juga, Mamang sangat setuju....!"
Tanpa membuang waktu, Galih dan Saipul Mereka pun masuk ke belakang pohon petai, kebetulan ada rumpun yang sangat rimbun hingga cocok untuk dijadikan tempat bersembunyi. kemudian Mereka pun diam tanpa mengeluarkan suara, kedua mata mereka terus menatap ke arah orang yang sedang menggiring hewan, menerka-nerka Hewan apa yang sedang dibawa oleh orang itu.
Orang yang sedang menggiring hewan peliharaannya, Sesekali terlihat, sesekali menghilang di balik rumpunan rumput yang menghalangi jalan. tapi yang jelas orang itu semakin lama semakin mendekat, Soalnya orang yang mereka intip tidak lain dan tidak bukan, itu adalah Surya Jaya yang sedang menggiring si Gogi atau Ranti yang sedang terjebak dalam wujud babi ngepet.
Setelah orang itu mendekat. jantung Galih berdetak dengan kencang seperti yang mau jatuh dari tempatnya. Bagaimana tidak tegang, karena dia tidak ragu lagi bahwa hewan yang sedang digiring orang itu bukan seekor domba, melainkan seekor babi yang tanda-tandanya sesuai dengan babi ngepet yang mereka cari, yang tadi mereka kejar.
"Mang kita sangat beruntung kita bisa bertemu kembali dengan babi yang tadi, Pasti orang yang tadi mencuri babi kita adalah orang itu. Dan mungkin ini pula orang yang dibicarakan aki Makmun, sebagai pengawal babi tadi malam" ujar Galih dengan berbisik takut menimbulkan kecurigaan, giginya mengerat merasa kesal karena sudah ditusuk dari belakang, sedangkan matanya menatap tajam ke arah Surya Jaya.
"Tidak akan salah Ujang pasti sial4n itu yang merebut babi kita, karena sangat jelas jahatnya orang lain membawa babi itu digotong, sedangkan dia digiring seperti membawa domba."
"Terus bagaimana?" tanya Saipul sambil melirik ke arah Galih dengan sudut mata.
"Mamang menyergap orangnya, sedangkan saya akan menyergap babinya, karena takut babi itu kabur."
"Beres, siap, setuju lah.....!"
Rencana sudah matang, jantung mereka terus bergejolak bahkan tangan saja terasa bergetar, ditambah dengan mata yang terus menatap orang yang sebentar lagi akan lewat, Bahkan mereka sama sekali tidak mengedipkan mata takut orang itu tidak terpantau.
__ADS_1
Lama menunggu, akhirnya Surya Jaya lewat ke hadapan mereka. tanpa membuang waktu Saiful pun loncat lalu menyergap Surya Jaya dari belakang, sedangkan Galih tak tinggal Diam dia mengambil tambang yang digunakan untuk mengikat tubuh Ranti.
Saipul dengan segera menghimpit leher Surya Jaya menggunakan tangan, kaki kanannya dimasukkan untuk menjatuhkan tubuh pawang babi itu, sehingga Tak aya lagi tubuh Surya Jaya pun ambruk.
Bulgh!
Tubuh Surya Jaya roboh dengan terlentang, matanya membulat dengan sempurna, wajahnya terlihat pucat pasi akibat dari rasa kaget yang mendadak dan tak terhingga.
"Maafkan saya sahabat.....! saya terpaksa berbuat seperti ini. sebab kamu bersalah sudah berani-beraninya merebut barang berharga saya," begitulah ujar Saipul sambil menekan leher Surya Jaya ke tanah, dadanya di tindih menggunakan dengkul, maksud Saiful ingin sekalian menghabisi nyawanya.
Tapi sayang Surya Jaya bukan orang yang kosong melompong, setelah sadar dia sedang berada di dalam bahaya. dengan segera dia menahan nafas sambil memusatkan tenaga, setelah terkumpul dia pun mengangkat kedua dengkulnya dengan serempak, menghantam tubuh Saipul dari belakang.
Bugh.....! walaa.....!
Seketika tubuh Saipul tertarik ke belakang, dia melepaskan cengkramannya untuk memegang pinggang yang terasa patah, wajahnya terlihat meringis menahan rasa sakit yang sangat memilukan. melihat musuhnya seperti itu dengan segera Surya Jaya pun menggoyangkan tubuhnya lalu bangkit sekaligus, sehingga tubuh Saiful terjatuh ke arah samping. dengan segera Surya Jaya pun bangkit lalu menerjang ke arah musuhnya, membalas perlakuan Saiful dengan mencekiknya dari belakang.
Tak Sampai di situ, Surya Jaya menekan wajah Saipul ke tanah sehingga orang itu tak berkutik, karena cekikan Surya Jaya sangat keras bahkan mungkin sebentar lagi dia akan berpindah alam. tapi Galih tidak tinggal diam dengan segera dia mengikatkan tambang yang dipegang ke pohon, kemudian menerjang ke arah Surya Jaya.
Plak! plak! plak!
Galih memegang kerah baju Surya Jaya, kemudian dia menamparnya dengan membabi buta, menggunakan seluruh kekuatan. sehingga membuat telinga Surya Jaya terasa mendenging, penglihatan matanya kabur akibat rasa sakit yang tak terhingga, tangannya yang mencekik leher Saipul dilepaskan begitu saja, kemudian dia pun menjauh dari galih, tapi tidak bisa karena rasa pusing yang diderita.
Dengan segera Saipul membangkitkan tubuh, tanpa berbasa-basi lagi dia melayangkan satu tendangan ke arah bokong Surya Jaya, sehingga orang itu tidak mampu menahan lagi beban tubuhnya, dia tersungkur dengan dahi menabrak batu yang berada di samping jalan.
__ADS_1
Tamat.
lanjut Vol. 6