Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 23. Menyerah


__ADS_3

"Hollooooo....! haduhhh.....! halah....!" halahhhh! halah!  halah jangan di pijit, set4n.....!" teriak Jana yang tak kuat menahan rasa sakit ketika kantong minyaknya diremas kuat oleh Saiful.


"Makan sial4n...!" ujar Saipul sambil mengulum senyum karena dia merasa puas bisa membalas Jana dengan cara yang lebih menyakitkan. tadi dia dicekik oleh Jana, sekarang dia bisa mencekik Adek Jana yang berada di kedua selangk4ngannya.


"Haduh.....! haduh....! tolong lepaskan! haduh, haduh, haduh sakit...!" Rancu Jana yang masih dipegang terlihat loncat-loncat seperti anak kambing yang baru bisa berjalan, wajahnya terlihat pucat pasi seperti kehabisan darah. tapi Saipul tidak melepaskan genggamannya, Bahkan dia terlihat menarik ke arah atas membuat Jana semakin tidak berdaya, kakinya terlihat berjinjit menyeimbangkan tarikan tangan musuhnya. Jana terlihat tertarik meringis menahan rasa sakit yang tidak terkira.


Sedangkan Galih Setelah dia terbebas dari cengkraman Jana, kalau mengikuti hawa nafsunya dia ingin membinasakan orang yang sudah berada di genggamannya. tapi walaupun seperti itu Galih tidak punya pikiran sampai ke situ karena dari tadi juga dia hanya ingin mengetahui babi yang dibawa oleh mereka. kalau babi itu sesuai dengan babi yang sedang ia cari maka dia ingin merebutnya.


Sedangkan Dadun semakin lama tenaganya semakin habis, sehingga badannya terasa sangat lemah dia tidak lagi meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepertinya dia sudah pasrah dengan apa yang akan menimpa kehidupannya, wajah Dadun terlihat membiru seperti kekurangan oksigen, nafasnya memburu karena merasa sesak.


"Hai b4ngsat.....! Siapa nama kamu?" tanya Galih tanpa melepaskan hampitan tangannya, namun sekarang himpitan itu agak dilonggarkan agar musuhnya bisa menjawab pertanyaan.


"Hah, huh, hah......!" Dadun tidak langsung menjawab seperti sedang menikmati keleluasaan untuk bernapas.


"Jawab b4ngsat....! Siapa nama kamu?" susul Galih.


"Da....., dun......!" jawabnya dengan terbata-bata seperti sangat kesusahan untuk berbicara.


"Babi itu, dari mana asalnya? jawab........!"


Dadun yang sudah kepayahan dia tidak langsung menjawab, dia terus mengatur nafas yang terasa lega.


"Jawab.......!" bentak Galih sambil mengencangkan kembali hampitan tangannya.

__ADS_1


Ba....., bbbbba, baik....!"


"Jawab.....!"


"Hasil tangkapan dari kebun."


"Mau dibawa ke mana?"


"Ke, ke, ke,"


"Ke mana...?" tanya Galih sambil menaikan intonasi suaranya kembali.


"Ke Ciandam."


"Ciandam itu luas koplok......! Mau dibawa ke mana....! Jawab jujur mau disetorkan sama siapa ke ciandamnya?"


"Hahaha, sangat dimengerti sekarang. dengerin b4ngsat...! Kalau kamu tidak tahu babi itu adalah milikku, sudah lama aku mencarinya. sekarang dengan terpaksa aku akan mengambilnya, soalnya babi Itu hakku." ujar Galih yang terlihat sumringah dia merasa bahagia mendapat penjelasan seperti itu.


Mata Galih memindai samping kanan kirinya, dia bermaksud mencari tali untuk mengikat Dadun, karena dia takut kalau orang itu melawan kembali, tapi itu sangat susah karena dia harus tetap memegangi musuhnya, Galih takut karena kalau dilepaskan nanti bisa-bisa Dadun melawan kembali, tapi ketika mau menyuruh Saipul dia tidak tega mengganggu kesenangan sahabatnya yang sedang memainkan kantong minyak Jana, karena pemuda itu masih belum meminta ampun, masih memberontak melawan meski tidak ada gunanya.


"Tarik mang sampai terputus....! agar dia mampus! hahaha." saran Galih terhadap sahabatnya.


"Biarkan saja Jang....! Mamang mau bermain-main dulu dengan burungnya, agar si si4lan ini bisa menikmati kematiannya yang sangat mengenaskan. hahaha," jawab Saiful tanpa melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


"Jang, Jang Jana! sudah kita Menyerah saja," ujar Dadun dengan suara parau memberi peringatan terhadap sahabatnya agar mengakui kekalahannya, karena dia takut kalau tetap bertahan, nanti mereka bisa celaka yang lebih berat.


Orang yang diperingatkan tidak menjawab, karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas, dia tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Dadun. hingga akhirnya dia pun terus loncat-loncat, berjinjit, menggelinjal, kedua tangannya terus memegang tangan Saipul yang sedang berada di telur burungnya.


Sedangkan Saipul dia hanya cungar-cengir mengejek musuhnya, bahkan ditambah dengan pembicaraan yang menghina.


"Ayo Jang puaskan saja menarinya, Nanti kalau sudah puas Mamang akan menyunatinya kembali. hehehe, karena perasaan golok Mamang sangat tajam, hahaha....!"


"Haduh, Halah.....! ampun, ampun, ampun......!" teriak Jana meminta ampunan, tenaganya sudah lemah nafasnya terasa sesak. rasa sakit yang ditimbulkan membuat perutnya terasa mual, tapi Saiful tidak melepaskan karena dia belum puas membalaskan dendam karena tadi dia dicekik oleh pemuda itu sampai-sampai kehilangan nyawa.


*****


Di tempat lain tidak jauh dari tempat pertarungan keempat orang yang sedang memperebutkan babi ngepet. Ada sesosok bayangan yang ke merusuk masuk menyela-nyela rimbunnya rerumputan, setelah diperhatikan ternyata pakaiannya penuh dengan sobekan dan kotoran tanah yang menempel, Kembang Tebu timbarau banyak yang menempel di bajunya. bahkan kepalanya yang rambutnya sudah tidak terurus di hiasi dengan kembang ilalang.


Setelah diperhatikan, ternyata orang itu adalah Eman yang sudah kehabisan harapan karena dia tidak sanggup membebaskan Ranti dalam wujud babi ngepetnya dari rumah Mang sarpu


Ketika Eman sampai di atas bukit, Dia sangat terkejut karena mendengar suara teriakan-teriakan orang yang sedang marah, ditambah dengan suara rintihan-rintihan seperti orang yang terkena serangan, bercampur dengan suara golok yang beradu. Eman pun menghentikan langkah, kemudian menatap ke arah datangnya suara terlihatlah ada empat orang yang sedang bertarung, tidak jauh dari keempat orang itu ada satu tandu yang berisi dengan babi.


"Dasar milik tidak akan pergi ke mana-mana, dicari menjauh, didiamkan tetap diam. tapi kalau sudah rezekinya, milik itu akan datang dengan sendirinya," gumam Eman sambil terus mendekat ke arah tempat pertarungan.


Setelah sampai ke dekat gelanggang tarung, Eman tidak menunjukkan diri dia bersembunyi di balik rimbunnya rerumputan, tapi matanya terlihat melongok menatap ke arah orang yang saling cekik mencekik. setelah diperhatikan dia melihat wajah seseorang sehingga membuat nafsunya bergejolak, dia mengingat kembali kejadian hari kemarin, ketika dia disiksa oleh Jana sampai tak Sadarkan diri, bahkan sampai diikat ke pohon nangka.


Dari dasar itu Eman pun berpikir, dia berniat membalas dendamnya terhadap Jana. namun ketika memindai area sekitar mencari benda yang bisa menghajar musuhnya, matanya berhenti di tandu babi terlihatlah dengan jelas Bahwa babi itu adalah Ranti yang sedang terdiam seperti yang sedang kebingungan.

__ADS_1


"Kasihan banget kamu Neng Ranti, kamu kayaknya sedih banget sampai matamu berenang dengan cairan kesedihan, kalau seperti ini biarkan saja si Jana tidak akan aku ganggu, karena sedang disiksa oleh orang lain. mending sekarang aku menolong Ranti," begitulah pikiran Eman sambil merangkak mendekat ke arah tandu babi, sengaja dia bergerak seperti itu agar tidak diketahui oleh pemiliknya.


Sebelum sampai ke kandang babi Eman menemukan golok, tapi entah golok siapa yang jatuh di situ. mungkin golok Salah satu dari keempat orang yang sedang bertarung. dengan segera dia pun mengambil golok, kemudian dia mendekat ke arah tandu, setelah sampai dengan segera memutus tali kandang babi.


__ADS_2