Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 14. dibawa oleh Jana Dan Dadun


__ADS_3

Tubuh Ranti pun perlahan bergerak, kemudian dia membangkitkan tubuhnya yang terasa malas, matanya terlihat menatap ke arah Jana dan Dadun yang sudah bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi, takut babi itu ngamuk dan melarikan diri.


"Awas hati-hati....! nanti kabur Mang," ujar Dadun yang terlihat ketakutan dia menyangka babi itu sangat galak dan beringas, disamakan dengan babi jarah. bahkan jana tidak Hanya mengingatkan Mang sarpu, tapi mengingatkan dirinya sendiri, karena dengan Sigap dia mengeluarkan golok yang berada di pinggangnya, kemudian memegang kepalanya dengan begitu erat, untuk berjaga semua kemungkinan yang akan terjadi.


Sama seperti Dadun, Jana pun terlihat bersiaga dengan mengeluarkan senjatanya. Dalam pikiran Jana kalau babi itu kabur dia tidak akan ragu-ragu untuk menebas kakinya, biar kakinya tidak bisa berjalan lagi, agar tidak bisa melarikan diri.


Ranti yang melihat kenyataan seperti itu, Dia terlihat meringis merasa ngeri melihat tajamnya golok yang terlihat mengkilap, membuat hatinya berdebar, jantungnya berdegup dengan kencang. jangankan untuk berlari, kakinya pun terasa lemas seperti tidak memiliki kekuatan, bak Kapuk kapas yang terkena air embun.


"Ayo buruan masuk Nyai, nanti mereka Keburu marah...!" ujar Mang sarpu mengagetkan Ranti yang sejak dari tadi terdiam, dia menakut-nakuti Babi itu seperti sedang menakut-nakuti anak kecil.


Babi itu masih terdiam seperti sedang menimbang baik buruknya ketika dia mengikuti perintah atau Haruskah dia melarikan diri, karena dia yakin dengan kekuatan dirinya sendiri ketika dia berlari pasti tidak akan ada manusia yang sanggup mengimbangi kekuatan larinya yang seekor babi. tapi ketika matanya melihat ke arah golok khayalan itu terhapuskan seketika, Ranti takut kalau golok itu mengenai lehernya, hingga akhirnya dia harus kehilangan nyawa.


Dari rasa bingung dengan kejadian yang ia hadapi, akhirnya Ranti pun dengan perlahan mencoba melangkahkan kaki dengan gontai, badannya terasa lemas bahkan terlihat sempoyongan seperti orang yang baru bangun dari sakit. menurut nafsunya dia ingin menyeruduk orang yang berdiri di hadapannya, Tapi menurut hati yang sabar, lebih memilih tenang masuk ke dalam tandu dengan ikhlas dan Ridho, sambil terus berharap semoga ini adalah jalan menuju kebahagiaan.

__ADS_1


Dua hati terus berebut pendapat, hingga membuat kepala Ranti terasa berat, pandangannya mulai kabur keadaan sekitar terasa berputar. akhirnya Ranti pun memejamkan mata tidak ingin melihat pintu tandu yang terlihat menganga seperti mulut Buto Ijo yang mau menelannya bulat-bulat.


Lambat laun akhirnya babi itu masuk ke dalam kandang yang dijadikan tandu, dengan Sigap Jana pun menutup pintunya lalu mengikat nya dengan tali dengan ikatan yang sangat kuat, membuat Ranti merasa terkejut, merasa kaget dengan suara pintu yang menutup begitu keras, hingga dia pun membuka mata. ternyata dia sudah berada di dalam penjara, dia tidak bisa bergerak dengan leluasa, tidak bisa membalikkan tubuh. hanya bisa maju mundur itu pun hanya sedikit, ke samping kanan kirinya hanya tersisa seukuran dua jari.


Ranti dalam wujud babi ngepetnya, dia pun menjatuhkan tubuh karena kakinya sudah tidak kuat menopang. namun berbeda dari penglihatan mata mang Sarpu, orang tua itu terlihat sangat bahagia, bahkan terdengar suara tawa yang menggelegar.


"Tuh, lihat Jang! babi yang baik seperti itu disuruh masuk tanpa berbasa-basi dia mengikuti, kemudian dia menjatuhkan tubuh seperti sangat santai dan sangat menikmati. Itu tandanya dia sangat menyukai dengan kita semua, sehingga dia pun mengikuti semua yang diperintahkan oleh kita. hahaha, sudah jangan khawatir, karena tidak akan terjadi apa-apa...!"


"Terima kasih, saya sangat percaya sama Mamang. ternyata Mamang adalah seorang sepuh yang sangat banyak pengalaman, menurut peribahasa sudah sering makan asam manis kehidupan. hehehe," timpal Jana yang diakhiri dengan suara tertawa, wajahnya sangat sumringah, sangat bahagia melihat babi itu masuk dengan sendirinya. dia semakin percaya dengan apa yang diucapkan oleh Mang Sarpu.


"Yah, ayo...!"


Kandang yang sudah dibentuk tandu itu pun digotong oleh dua orang, kemudian dibawa keluar dari dalam dapur diikuti oleh Mang sarpu. Setelah berada di luar tandu Itu disimpan terlebih dahulu di samping rumah, Jana dan Dadun Mereka terlihat bersiap-siap, soalnya mereka mau berjalan jauh mau menyetorkan babi kepada Mbah Abun yang berada di kampung Ciandam.

__ADS_1


Setelah semuanya dirasa rapih dan siap, akhirnya kedua orang itu pun mulai berjalan sambil menggotong tandu berisi babi, sedangkan Mang sarpu dia hanya mengantar dengan tatapan, karena walaupun dia ingin bertemu dengan sahabatnya yang bernama Mbah Abun. Tapi kalau dalam keadaan segenting ini, dia merasa Malas takut ikut terbawa nanti kalau ada apa-apa.


*****


Di tempat lain, terlihat ada dua orang pria yang satu masih muda yang satunya lagi terlihat sudah paruh baya, mungkin umurnya tidak kurang dari 48 tahun. kedua orang itu terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di salah satu kampung yang bernama Kampung Sukamaju. merasa capek dan lelah sehabis perjalanan yang tidak ada henti-hentinya, Mereka pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di bawah pohon duren yang berada di pinggir kampung.


Siapa kedua orang itu, tak lain dan tak bukan itu adalah Galih dan Saipul yang sudah berbulan-bulan mengikuti sayembara mencari Ranti anaknya Mbah Abun, atau mencari babi ngepet, babi aneh, babi ajaib, babi beranting.


Galih dan Saipul dulu pernah mencoba mencuri babi itu dari tangan Surya Jaya, ketika pawang babi itu melakukan pertunjukan di kampung Cisarua. namun sayang usaha mereka gagal, karena warga kampung ikut membantu Surya Jaya untuk mengejarnya, hingga akhirnya mereka pun kabur menyelamatkan diri masing-masing, merelakan babi yang sudah mereka dapatkan kembali ke pangkuan Surya Jaya.


Ketika mereka selesai menyusun rencana untuk mencuri babi Surya Jaya di rumahnya, mereka keburu mendapat kabar bahwa babi itu sudah kabur melarikan diri, padahal bukan kabur, babi itu dilepaskan oleh Hamidah karena diliputi oleh rasa. hingga akhirnya Galih dan Saipul yang sudah menemukan jejak babi yang di sayembarakan harus mengulang kembali dari nol, harus menjelajahi dari kampung satu ke kampung yang lain untuk mencari keberadaan babi ngepet yang sudah pergi entah ke mana.


Akhirnya hari itu Mereka pun tiba di salah satu kampung yang bernama Kampung Sukamaju, kampung pemuda yang bernama Eman. mereka memilih beristirahat terlebih dahulu Karena rasa capek sudah tidak bisa tertahan lagi.

__ADS_1


Suasana di bawah pohon duren yang dijadikan tempat beristirahat Galih dan Saiful terasa hening, karena mereka saling terdiam seperti sudah kehabisan Harapan, karena sudah mencari ke sana kemari, tapi mereka belum menemukan jejak babi yang lepas itu.


__ADS_2