
"Seterusnya begini Jang. siangnya bertemu dengan Surya Jaya, sorenya ada kejadian yang membuat semua orang merasa heran."
"Kejadian Apa itu mang?" tanya Saipul menimpali.
"Ada seorang anak kecil yang mau mengantarkan makanan ke rumah neneknya. Namun di perjalanan dia dicegat oleh babi, sehingga anak itu berteriak meminta tolong. tak Ayal lagi semua warga kampung berbondong-bondong mendatangi anak itu, tujuannya untuk menolong. setelah mendengar penjelasannya, kami semua terperanga kaget hingga memutuskan untuk berangkat menuju ke tempat kejadian perkara tapi aneh Jang!"
"Aneh bagaimana Mang?" tanya Galih yang terlihat semakin penasaran.
"Anehnya rantang wadah makanan itu sudah hilang Tidak ada di tempat, yang ada hanya jejak babi yang sangat banyak." jelas Dodo.
"Terus bagaimana Mang?"
"Seterusnya kita pun bersama-sama menyusuri jejak babi itu sampai waktu maghrib, Namun sayang tidak membuahkan hasil. tapi ketika disusul kembali ke esokan paginya kita menemukan jejak babi, bahkan rantang itu sampai ketemu, tapi."
"Babinya ada Mang?" potong Galih yang sudah tidak sabar.
"Sebentar Jang....! jangan dipotong terlebih dahulu, karena babinya tidak ada Jang. tapi sudah bisa dipastikan Bahwa babi itu adalah babi aneh, karena dia makannya makan nasi. Soalnya rantang yang dicuri hanya tinggal wadahnya, nasinya sudah hilang tak ada sisa sedikitpun."
"Haduh Sayang sekali kalau begitu," tanggap galih yang terlihat menarik napas kecewa.
"Kira-kira Ke mana perginya itu Mang?" tanya Saiful yang sejak dari tadi diam memperhatikan.
"Apanya?"
"Iya babinya kira-kira larinya ke mana?"
__ADS_1
"Kurang tahu Ujang, karena sebenarnya Mamang juga sedang mencari babi itu, karena Mamang tertarik dengan hadiahnya. Namun ternyata Mamang tidak ada rezeki sehingga babi itu tidak tersusul, karena babi itu menyebrang sungai ke sebelah timur."
"Kejadian itu sudah lama apa belum Mang?" tanya Galih.
"Tidak lama, kejadian itu dua hari yang lalu."
"Oh begitu berarti belum lama ya Mang?"
"Belum Ujang," tanggap Mang Dodo.
"Kalau ke sebelah timur, berarti menuju ke Kampung Ciaul. Ya sudah kalau seperti itu saya mohon pamit dulu, saya mau menyusul jejak babi itu."
"Yah Semoga berhasil Jang!" doa Dodo Sebenarnya dia pun ingin mengikuti sayembara itu, tapi dia masih memiliki tugas yang lebih penting yaitu mencari keberadaan anaknya yang bernama Eman, yang sudah seminggu menghilang tanpa kabar, tanpa berita.
"Amin....! Terima kasih Mang atas informasinya," ujar Galih dengan wajah sumringah, Dia sangat bahagia karena sudah menemukan jejak yang bisa dijadikan petunjuk.
"Kecelakaan Apa itu mang?" tanya Galih yang merubah raut wajahnya menjadi sangat khawatir sebagai bentuk Simpati sesama manusia.
"Namanya orang lagi sial, kalau menurut peribahasa Sudah jatuh tertimpa tangga, karena orang susah semakin susah, orang miskin semakin miskin. Mamang tidak ada hentinya kesusahan itu terus menerus, datang silih berganti. pertama Mamang tertipu dua domba, yang kedua menolong Anjing terjepit, anak saya sampai harus mengganti barang orang yang hilang dicuri oleh orang lain. yang ketiga ketika berburu maling, tapi ternyata bukan maling yang dapat, malah punduk Mamang yang di pukul menggunakan batu sampai Mamang tak Sadarkan diri, ketika Mamang sadar sudah berada di rumah. tapi yang membuat hati Mamang semakin perih, karena anak Mamang satu-satunya tidak ikut pulang kembali ke kampung, sampai sekarang belum ada kabar, belum ada berita, entah dia masih hidup atau sudah meninggal. jangankan menemukan wujudnya, menemukan jejaknya pun Mamang tidak bisa."
"Oh begitu, kira-kira perginya ke mana anak Mamang dan siapa namanya?" Tanya Galih yang merasa kasihan.
"Kayaknya dia di siksa oleh kedua maling itu, nama anak saya adalah Eman."
"Ya sudah kalau seperti itu, saya akan membantu ikut mencari anak Mamang, Siapa tahu saja ada jodoh kita."
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih banyak atas bantuannya."
Setelah pembicaraan itu selesai, Galih dan Saiful berpamitan ke Mang Dodo, tidak lupa Mereka pun bersalaman kembali. setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tergesa-gesa karena ingin cepat sampai ke Kampung Ciaul, diantar oleh tatapan Dodo yang terlihat masih berdiam diri seperti berpikir, matanya terus menatap mengantarkan kedua orang yang sudah pergi dengan khayalannya, hatinya dipenuhi dengan banyak pertanyaan, karena semakin ke sini semakin banyak orang yang mencari keberadaan babi ngepet.
"Ternyata benar-benar ramai sayembara ini, ternyata benar-benar menggemparkan seluruh jagat raya. kira-kira anak siapa yang bisa berubah menjadi babi, apa orang yang melakukan pesugihan babi atau nyegik. tapi Ah, bodo amat itu bukan urusan.....!" ujar Dodo sambil mengambil perkakas pertaniannya kemudian dia pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah untuk beristirahat setelah seharian bekerja.
~
Sedangkan Saiful Dan Galih mereka semakin mempercepat langkah kakinya, diantarkan oleh semilir angin yang menerpa, disambut dengan suara burung-burung yang berkicauan, dedaunan terlihat melambai-lambai seperti sedang menyambut kedatangan Galih dan Saiful.
Keadaan waktu itu sudah menunjukkan sore hari, karena matahari sudah berada di sebelah barat, sebentar lagi matahari itu akan bersembunyi di balik ubun-ubun gunung, Namun sayang sore itu mataharinya tidak terlalu terang seperti hendak ada hujan yang akan turun. tonggeret terdengar suaranya begitu riang bahkan burung-burung pun bersuara tanpa berhenti.
"Nah, ini Kampung Ciaul itu Mang," ujar Galih sambil menyusut keringat yang berada di wajah, nafasnya terlihat memburu karena dia sangat capek.
"Oh ini namanya Kampung Ciaul, Ciaul itu. Mamang baru ke sini sekarang Jang," jawab Saiful yang sama terlihat sangat capek, bahkan kancing bajunya terlihat dilepas beberapa kancing Agar udara bisa mengipasi tubuhnya.
"Ya sudah, kita langsung saja bertamu ke rumah aki Makmun, karena dulu saya pernah menemuinya." saran Galih.
"Baik, baik, terserah Ujang saja! Mamang akan mengikuti."
Akhirnya mereka pun berbelok ke sebelah kiri, hingga akhirnya sampai ke kebun singkong, tak lama mereka pun sampai ke halaman rumah aki Makmun. pintu depan terlihat terbuka, tapi di ruang tamu tidak terlihat ada orang.
Galih pun berhenti di depan rumah itu, kemudian dia berjalan ke samping rumah, memindai area sekitar. namun sayang di area samping juga tidak ada siapapun, hingga akhirnya Galih pun kembali ke depan pintu kemudian dia pun mengucapkan salam.
"Assalamualaikum....!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab orang yang keluar dari dalam rumah. yang tak lain dan tak bukan itu adalah aki Makmun sendiri. "Eh ternyata ada tamu, rasanya kita pernah bertemu ya? tapi aki lupa namanya siapa dan bertemu di mana?" tanya aki Makmun setelah sampai di ambang pintu.