Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 9. Eman


__ADS_3

Ranti masih berada dalam wujud babi ngepetnya, membuatnya semakin merasa sedih, karena kejadian yang baru saja ia alami, kejadian yang akan membahagiakan, Namun tiba-tiba tertutup kembali, sirna seketika. Gara-gara ada orang yang mengintip ritual penyembuhannya.


Tadi ketika ada orang yang mengintip, rambut Ranti terasa ada yang menjambak dengan begitu kuat, Sehingga tadi dia terdengar berteriak kesakitan. awalnya Ranti merasa sangat bahagia karena suaranya sudah kembali ke seperti semula, namun ketika dia mau mencoba berbicara kembali, tapu suara itu kembali lagi seperti dahulu, suara babi hutan yang keluar, membuat Ranti seperti biasa Dia hanya bisa mengumpat di dalam hatinya.


"Siapa Orang yang mengintip itu, Kenapa dia sangat kejam dan tega, sampai berani menghalangi kebahagiaanku. tega....! memang benar-benar tega," gumam hati Ranti.


Clak!


Air kesedihan pun jatuh ketika dia mengedipkan mata, berjalan membasahi pipi sampai akhirnya jatuh ke pelupuh papan.


Hujan di luar terus bergemuruh, suaranya berkumpul dengan suara angin yang terdengar sangat menakutkan. suara petir yang terus menghiasi hujan seperti dag, dig, dugnya jantung Ranti. gelapnya waktu malam seperti gelapnya hati Ranti, basahnya air hujan yang turun dari langit bak air mata Ranti.


Angin Malam yang masuk dari lobang bilik, mengitari tubuh Ranti seperti hendak mengikatnya. rasa takut terasa sangat dekat, kekhawatiran seperti tidak bosan terus berdatangan, rasa bingung saling berbondong-bondong, rasa susah saling susul menyusul. hati Ranti yang terus menerus merasa sedih, semakin terasa perih, semakin terasa sengsara menghadapi kehidupan yang rasanya hanya dipenuhi dengan kekecewaan dan kekhawatiran. soalnya penyembuhan yang pertama dilakukan harus gagal, sedangkan kesusahan tidak sedikitpun mengurangi, ditambah sekarang Ranti sudah tidak bisa berbuat apa-apa, berada dalam genggaman Jana dan Mang sarpu yang pastinya akan sulit untuk Bebas kembali.

__ADS_1


"Ya Allah, Ya Robbi....! Tolonglah hambaMu ini. masa iya selamanya hamba akan menjadi babi, hamba sangat malu Tak Berujung, hamba sangat susah yang tak terhingga. Tolonglah hambaMu ya Allah. kasih jalan agar diberi keselamatan dan kembali lagi ke wujud manusia seperti biasa, Jangan sampai terus berkerudung bingung, jangan berenang di bahtera kesusahan. Ya Allah, tolong bukakanlah baju jimat yang menyiksa ini." begitulah doa Ranti sambil terus menerus membasahi kelopak matanya dengan air kesedihan.


Dari rasa putus asa yang terus menghinggapi kehidupan Ranti, dia berniat untuk kabur dari rumah Mang sarpu, dia ingin bebas kembali seperti semula, ingin mencari Eman yang belum diketahui kabarnya Seperti apa. dia tidak mau berada di genggaman Mang sarpu diikat oleh kekuatan Jana, tidak mau berteman dengan manusia serakah. soalnya Ranti sudah bisa membaca kalau Jana mau menolongnya karena ada udang Dibalik Batu, sedang mengejar cita-cita namun dengan cara yang salah, sampai berani menyiksa orang yang tak berdosa.


Lama terlarut dalam lamunan, akhirnya kaki babi itu berdiri diikuti dengan kaki belakang, Lalu berjalan dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan mendekat ke arah bilik, mau mencoba mengukur kekuatan dinding rumah itu, dengan mendorongnya menggunakan mulut. Namun ternyata dinding anyaman itu terlihat sangat kuat, bahkan tidak bergerak sedikit pun, karena anyaman itu terbuat dari hinis atau kulit bambu tua, kalau Ranti memaksakan diri hidungnya bisa terluka.


Ranti mondar-mandir di dalam kamar Pendaringan padi, mencari lobang agar bisa keluar dari tempat itu. Sedangkan hujan di luar bercampur dengan suara angin diselingi dengan suara petir yang terdengar sangat keras, menggetarkan gendang telinga menghentikan detak jantung.


Kemerlat kilat membelah gelapnya keadaan malam, di samping rumah terdengar suara krektttt derk dari ranting pohon yang patah, mengeluarkan suara bergemuruh ketika terbang menuju Tanah, disahuti blag, blig, blug, suara buah kelapa yang jatuh, seolah sedang menyahuti suara petir yang bergemuruh di udara.


Ranti tidak menyerah, dia pun terus mencoba memasukkan kepalanya. Namun sayang hanya mulutnya saja yang masuk tidak bisa lebih dari itu, membuat pipinya terasa sakit sehingga dia pun mendudukkan kembali tubuhnya menirukan anjing.


"Gimana kalau sudah begini, Kenapa sangat susah untuk keluar dari sini, apa jangan-jangan rumah ini memiliki penjaga?" tanya Ranti di dalam hatinya.

__ADS_1


Merasa tidak ada jawaban, Ranti pun menyelonjorkan kembali kaki depannya untuk dijadikan sandaran kepala. Ranti kembali ke posisi awal bertengkurap dengan terus meratapi kehidupannya yang sangat Malang, khayalannya kembali terbang membayangkan keadaan Eman yang masih berada di kebun, membuat Ranti menarik nafas dalam, tidak sanggup membayangkan Bagaimana sedihnya Eman sekarang. Karena dia harus terkena hujan yang sangat lebat, ditambah dengan tubuh yang habis disiksa.


Ranti tidak tahu kalau eman sudah dibebaskan, namun meski sudah bebas Eman tidak terlepas dari kesengsaraan, karena tubuhnya terasa dingin akibat kehujanan, mungkin kalau siang hari tubuh pemuda itu terlihat akan mengkerut, tidak kuat menahan rasa dingin. rambutnya terlihat basah kuyup sama seperti bajunya.


Eman terlihat menggigil sambil melipatkan tangan di dada, menyembunyikan telapaknya dari rasa dingin yang tidak tertandingi, rasa dingin itu seperti masuk menusuk sampai ke sumsum Balung.


Hujan terus turun begitu lebat menyirami tubuh Eman yang sedang berteduh di samping Saung, namun Saung itu tidak sedikitpun melindunginya. Eman tetap basah kuyup terkena air hujan yang tertiup oleh angin seperti yang sengaja diguyurkan.


"Haduh....! Bagaimana kalau sudah begini, di mana aku harus berteduh. mana keadaan sangat gelap, Coba kalau terang bulan pasti aku bisa memilih tempat berteduh yang baik." ujar Eman berbicara sendiri, tangannya terlihat mengusap wajah yang terlihat basah tersirami oleh air.


Gemerlap kilat membelah Malam yang sangat gelap, dengan cepat Eman menutup lubang telinga menggunakan kedua tangan. soalnya tadi juga setelah ada kilat pasti akan disusul dengan suara petir yang terdengar sangat keras. Memang benar ternyata sama seperti tadi sekarang pun tak jauh beda, suara petir itu Terdengar sangat menggelegar, rasanya terdengar seperti sangat dekat.


Brobot!

__ADS_1


Suara ranting kayu yang patah dari pohonnya, ranting yang tersambar oleh petir membuat Eman terperangga kaget, hingga mengencangkan detak jantungnya, merasa takut tersambar oleh petir yang nyasar.


"Haduh....! halah, haduh......! bagaimana ini. kayaknya aku harus pindah tempat berteduh, tapi ke mana...?" gumam hati Eman sambil berjalan dengan perlahan menyusuri samping Saung. berjalan dipenuhi dengan kehati-hatian karena takut terpeleset karena keadaan di tempat itu sangat licin akibat terus diguyur air hujan


__ADS_2