
"Jangan menyerah terlebih dahulu Jang. kalau Ujang memiliki cita-cita dan keinginan yang kuat, Jangan mudah tergoyahkan. pertama tidak boleh menyerah sebelum bekerja, tidak boleh kalah sebelum bertarung. yang kedua Ujang harus percaya dengan kekuatan diri sendiri. yang ketiga Ujang harus tetap tenang harus memiliki perhitungan yang matang, jangan cepat bosan dalam berusaha karena kalau dikerjakan dengan bersungguh-sungguh Mamang yakin pasti itu akan membuahkan hasil," jawab Mang Sarpu menenangkan hati Jang Jana.
"Benar...! tapi saya harus bagaimana kalau sudah begini. kira-kira pekerjaan Apa yang harus saya kerjakan?" tanya Jana yang suaranya sudah terdengar tenang.
"Sekarang Ujang jangan tanggung kalau Ujang benar mau mengikuti sayembara. antarkan saja babi itu ke Ciandam, serahkan ke bah Abun, pasti dia akan sangat bahagia karena Mamang yakin bahwa babi itu adalah anaknya. Tapi mengantarkannya jangan sekarang, karena sekarang sudah malam, itu sangat berbahaya. apalagi membawa benda yang sedang disayembarakan pasti para penjahat dan orang-orang yang memiliki hati iri dengki, mereka akan berusaha menggagalkan niat Ujang," nasehat Mang Sarpu panjang lebar.
"Oh begitu, Terus kira-kira kapan saya harus mengantarkan babi ngepet itu?"
"Besok saja, pagi-pagi biar leluasa." Jawab Mang sarpu memberi keputusan
"Antar saya ya, Kang...!" ujar jana sambil melirik ke arah Dadun yang sejak dari tadi diam memperhatikan.
"Siap lah...! Akang akan mengantar cita-cita Ujang dan membela ujang sekuat tenaga Akang, semampu Akang." sanggup Dadun.
"Ya sudah, terima kasih kalau begitu."
Mereka bertiga terus berjalan menyusuri jalan desa, menimbulkan Deru langkah kaki yang menjajaki tanah, dilantuni dengan suara jangkrik dan katak yang terdengar sangat nyaring.
__ADS_1
Dari arah selatan terdengar suara anjing yang menggonggong, di Sahuti oleh suara kucing yang sedang marah, Mungkin mereka sedang bertengkar dengan musuh bebuyutannya, membuat para warga Kampung Sukaraja merasa kesal karena suara anjing dan kucing. mereka sangat Geregetan soalnya suara itu mengganggu gendang telinga, ditambah dengan suasana alam yang sangat menakutkan.
Mang Sarpu, Dadun dan Jana Mereka pun sudah sampai di halaman rumah Mang sarpu. Sedangkan para warga yang lain yang tadi ikut mengejar sang maling, Mereka pun masuk kembali ke rumah masing-masing. begitu juga dengan Ketiga orang itu Mereka terlihat masuk ke dalam rumah, tapi ketika mereka duduk. dari arah luar terdengar suara Deru angin yang sangat besar, diikuti oleh suara hujan yang turun dari langit, suaranya Terdengar sangat nyaring seperti suara batu yang dilemparkan ke atas genteng. semakin lama suara itu semakin bergemuruh, menandakan hujan turun semakin lebat seperti yang ditumpahkan langsung dari atas langit.
"Beruntung kita sudah sampai ke rumah Mang...!" ujar Jana sambil menatap ke arah luar jendela, sehingga dia bisa melihat jelas air hujan yang jatuh dari atas genteng. bahkan air comberan pun terlihat menggumpal memenuhi seluruh area halaman rumah, mengalir menuju ke arah Lembah, memenuhi selokan-selokan yang berada di samping kanan kiri jalan.
"Biarkan kalau hujan turun, karena kita sebagai makhluk hidup sangat membutuhkan air. sekarang Ujang Jangan berpikiran kemana-mana. kita mengobrol saja agar kita tidak tidur sore-sore," saran mang Sarpu sambil mengeluarkan bungkusan rokok lalu mengambil satu batang, kemudian disimpan di bibirnya disusul dengan korek api yang menyala, akhirnya dia pun menghisap benda putih itu lalu dihempaskan, sehingga mengeluarkan asap yang mengepul memenuhi kepala.
Jana dan Dadun pun mereka mengambil bungkus rokok Mang Sarpu, kemudian mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh tuan rumah, membakar rokok itu sampai terlihat asap putih memenuhi ruang tamu seperti ada kebakaran.
Sedangkan di luar rumah terdengar suara hujan semakin deras, Suaranya sangat menakutkan bercampur dengan suara angin yang menggoyangkan pohon-pohon yang menjulang tinggi seperti terlihat Mau patah. Ruang tamu rumah Mang sarpu terlihat sepi tak ada seorangpun yang berbicara. Mereka terlihat terdiam melamun membayangkan pengalaman yang baru saja mereka alami ketika tadi mengejar maling. mereka masih merasa kesal, marah, karena jangankan untuk menangkapnya menemukan bayangannya pun mereka tidak bisa, mereka melakukan hal itu lumayan lama sambil menikmati rokok masing-masing.
"Kurang tahu Jang Jana, karena Mamang tidak bisa menyimpulkan dan Mamang tidak bisa menebak karena Mamang bukan ahlinya. tapi kalau melihat dari berita yang Mamang ketahui, bahwa sayembara ini melibatkan banyak orang yang mengikuti, banyak orang yang ingin mendapatkan babi aneh itu," jawab Mang sarpu memberi penjelasan.
"Intinya Bagaimana Mang?"
"Intinya orang yang mengganggu ritual pengembalian wujud babi menjadi manusia adalah salah satu dari orang yang menginginkan babi itu. tapi Mamang tidak bisa menebak siapa dan orang mana, karena sudah dipastikan babi itu akan banyak orang yang ingin memiliki."
__ADS_1
"Benar perkiraan Saya juga seperti itu mang," Timpal Dadun setelah memuntahkan asap yang ada di mulutnya.
"Heran banget saya Mang, kira-kira orang mana dan apa tujuannya sampai tiba di kampung kita, dan dapat Info dari mana Kalau babi ngepet ada di rumah Mamang?" tanya Jana yang terlihat mengerutkan dahi.
"Jangan aneh, jangan heran Jang Jana. karena pembicaraan manusia lebih keras dari gong yang dipukul, sehingga berita Apapun akan cepat menyebar. tapi walaupun begitu Ujang jangan khawatir dan jangan takut karena babi itu masih ada di rumah Mamang, dan Mamang bisa pastikan bahwa babi itu tidak akan kabur ataupun melarikan diri," jawab Mang sarpu memberi ketenangan.
"Benar Jang kita harus tetap tenang, biarkan besok Akang akan menemani Ujang pergi ke kampung Ciandam. tapi menggotongnya jangan seperti tadi, kita masukkan ke dalam tandu, kalaupun tidak ada tandu, kita akan membuatnya terlebih dahulu. karena sangat kasihan kalau diikat seperti itu," ujar Dadun terus menenangkan Jana yang terlihat uring-uringan karena ritual yang dilakukan oleh Mang Sarpu tidak membuahkan hasil.
"Benar Kang, kita buat dulu saja tandunya," jawab Jana yang terlihat sumringah, karena banyak orang yang mendukung dengan niat dan tujuannya.
Suasana ruang tamu pun terdengar Hening kembali, namun suara hujan di luar masih terdengar bergemuruh dan sangat berisik seperti yang sedang di tumpahkan Dari Langit.
Kerlap
Duuuuarrrr!
Terdengar suara petir yang sangat kencang membuat orang-orang yang sedang berkumpul terlihat terkejut kaget.
__ADS_1
Sedangkan makhluk yang berada dalam Pendaringan padi, Ranti dalam wujud babi ngepetnya, waktu itu dia pun memiliki ketakutan yang sama, Ranti terdiam tidak berani pergi ke mana-mana, sesekali Dia terlihat memejamkan mata seolah tidak mau melihat kenyataan yang begitu menyakitkan, sesekali matanya terbuka karena ingin melihat keadaan sekitar, Mungkin dia ingin memastikan bahwa dia masih berada di dalam. Ketika ada kemerlap kilat, Ranti terlihat menahan nafas takut ada suara petir yang sangat menggelegar, takut jantungnya copot.