
Rumah Mang sarpu masih terasa bergoyang, menimbulkan suara kemerekot yang sangat keras.dari arah jauh terdengar suara auman anjing. di luar rumah terlihat sangat gelap seperti sudah tengah malam, padahal kalau dalam keadaan normal, mungkin waktu itu adalah waktu azan maghrib, yang seharusnya Belum gelap. tapi dengan keadaan langit yang mendung, membuat keadaan Kampung Sukaraja sangat gelap.
Dalam keadaan yang sangat mengerikan, para warga Kampung tidak ada yang berani keluar, Jana dan Dadun yang ingin mengetahui Apa yang sedang dikerjakan oleh Mang sarpu, Mereka pun membatalkan niatnya dengan mampir ke rumah saudaranya, karena merasa ngeri kalau berada di luar. walaupun keadaan yang sangat menakutkan, ada salah seorang manusia yang terlihat sangat pemberani seperti tidak ada ketakutan dalam dirinya.
Orang itu terus berjalan mendekat ke arah rumah Mang sarpu, rambut yang kusut terlihat terbang tertiup oleh angin, Pakaiannya yang sudah sobek terlihat bergelambir. Eman yang sudah mendapat keterangan dari seorang nenek-nenek, Bahwa babi yang ia cari berada di rumah Mang Sarpu yang disimpan di Pendaringan padi.
"Benar ini rumahnya Mang sarpu, karena di depan rumahnya ada pohon belimbing, sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh si nenek. kira-kira di mana Ranti disimpannya, apa benar disimpan di Pendaringan padi. rasanya sangat aneh kalau menyimpan babi di tempat seperti itu. tapi aku tidak akan menyerah, Aku akan membuktikan perkataan si nenek." ujar Eman yang meyakinkan dirinya sendiri kemudian dengan perlahan dia pun berjalan dipenuhi dengan kehati-hatian menuju ke samping rumah, agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang berada di dalam.
Setelah memperhatikan dan menebak Di mana letaknya tempat pendaringan padi, Eman pun menempelkan telapak tangannya disusul dengan menempelkan dahinya ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu, mengintip keadaan di dalam.
Namun Aneh ketika Eman mengintip, tiba-tiba rumah itu pun bergerak sekali dengan gerakan yang lebih keras dari yang terjadi seperti yang dihentakkan, sehingga menimbulkan beberapa Genting jatuh menimpa tanah.
Awwwwwwww!
Dari dalam pendaringan terdengar suara jeritan seorang perempuan, seperti orang yang sangat kesakitan. membuat mang sarpu terkejut dan terkaget, dengan segera Eman pun buru-buru mundur sambil dipenuhi dengan perasaan heran, karena dia tidak menyangka Kenapa kejadiannya bisa seperti itu.
"Ada apa ini, padahal aku belum jelas mengintipnya. Apa benar Neng Ranti berada di dalam pedaringan atau tidak. Sayang aku belum bisa melihatnya keburu kaget dengan suara teriakan," gumam Eman sambil mencari tempat sunyi untuk bersembunyi.
__ADS_1
Dari dalam rumah terdengar suara orang yang berlari menuju keluar, membuat Eman terkejut karena dia bisa melihat jelas ada orang yang berlari di sekitar samping rumah, seperti yang hendak mengejarnya.
"Kurang ajar.....! dasar sial4n, Siapa kamu Ban5at....! Sampai berani menggagalkan pekerjaan orang, awas Aku bunuh kau sekalian.....! Dasar setan.....!" teriak Mang Sarpu dengan keras, wajahnya terlihat masam karena semedinya terganggu oleh perbuatan Eman.
Di tangannya terlihat ada golok yang dipegang begitu erat, matanya memindai area sekitar samping rumah, membuat jantung Eman terasa berdegup dengan kencang, rasa panas mulai menyeruak memenuhi wajah, bahkan bulu kuduknya terasa berdiri, hatinya dipenuhi dengan ketakutan. tanpa berpikir panjang dia pun berlari dengan terbirit-birit yang terpenting bisa jauh dari rumah Mang sarpu.
Ketika melihat ada orang yang berlari, membuat amarah mang sarpu semakin memuncak, dengan segera dia pun mengejar sambil berteriak.
"Maling....! maling....! maling.....! ada maling."
Mendengar ada orang yang berteriak memberitahu bahwa ada maling, membuat warga Kampung Sukaraja merasa kaget, terutama Dadun dan Jana yang sedang berada di rumah saudaranya.
"Benar itu suaranya Mang sarpu. Ya sudah ayo kita keluar!" ajak Dadun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian mereka berdua pun keluar dari rumah dengan membawa senjata yang lengkap, lalu berlari menuju ke rumah Mang Sarpu.
Tak lama mereka pun sampai dan bertemu dengan Mang Sarpu lalu bertanya tentang kejadian yang sebenarnya. Mang Sarpu pun menjawab dengan yang sebenarnya, bahwa ada orang yang berlari menuju ke arah selatan, akhirnya mereka pun berlari mengejar orang yang dianggap maling.
Namun sayang pekerjaan mereka tidak membuahkan hasil karena Eman sudah berlari jauh, Bahkan dia sudah keluar dari kampung Sukaraja. karena Eman berlari dengan dipenuhi ketakutan ditambah dengan keadaan yang sudah mulai gelap, sehingga membuat dirinya susah dikejar dan akhirnya orang yang mengejar Eman pun pulang dengan tangan kosong, menggigit jari tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
Mang sarpu terlihat menggerutu dipenuhi dengan kekesalan, hingga membuat Jana merasa penasaran Akhirnya dia pun bertanya.
"Bagaimana Mang, sudah berhasil."
"Jangankan berhasil, yang ada hanya kegagalan. karena ada yang mengintip dari dinding, bahkan rumah Mamang hampir roboh karena ada yang menggoyangkan. babi menjerit mengeluarkan suara wanita, Namun sayang Mamang belum melihat jelas wajahnya, karena Mamang sedang memejamkan mata untuk bersemedi, ketika Mamang membuka mata baju jimat yang sudah terbuka tiba-tiba menutup kembali," jawab Mang sarpu menjelaskan pengalamannya
"Haduh sayang sekali kalau begitu, kira-kira Siapa orang yang mengintipnya, kurang ajar...! Kalau tadi sampai bisa ketangkap tidak akan saya kasih ampun lagi, akan saya injak-injak sampai dia kehilangan nyawa." ujar Jana yang terlihat mengeratkan gigi menahan amarah yang memenuhi relung dadanya.
Sambil berjalan tinjunya yang sudah dikepalkan menerjang apapun yang berada di samping kanan kiri jalan, sehingga tangan itu mengenai pohon jambu batu yang berada di hadapannya.
"Haduh.....! dasar sial4n," ujar Jana yang terlihat mengibas-ngibaskan tangan, kemudian punggung tangannya ditiup-tiup mungkin agar tangannya tidak terlalu terasa sakit.
"Makanya kata Akang juga harus tenang, jangan mengumbar nafsu karena itu bisa membuat kita celaka," ujar Dadun mengingatkan, terlihat sudut bibirnya terangkat karena merasa lucu melihat kelakuan Jana yang seperti anak kecil.
"Kesel kang, saya kesel banget....! soalnya pekerjaan yang sudah mau berhasil digagalkan begitu saja, dasar siaaaal! kalau orang yang mengintip itu bisa ketemu pasti kepalanya akan saya tumbuk seperti rujak bebek," jawab Jana seperti orang yang kurang waras, karena amarahnya tidak bisa terlampiaskan.
"Sabar Jang....! sabar....! Ujang harus menerima semua kenyataan yang sudah terjadi, karena Mamang tidak bisa mengulang kembali pekerjaan Mamang. kalau sudah gagal satu kali ya sudah tidak ada yang kedua kali, sebab Mamang bekerja sendirian. eh, maksudnya tidak bekerja sendirian, Mamang menyuruh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan itu," Timpal Mang Sarpu memberi keterangan.
__ADS_1
"Haduh...! kalau begini Saya harus bagaimana, Coba tolong say Mang...!" jawab Jana yang terlihat raut wajahnya dipenuhi kekecewaan, nafasnya terasa sesak, karena amarah yang belum dikeluarkan.