Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 12. Terus Kabur


__ADS_3

Gooog! goooog! Gog!


Gonggongan anjing menghilangkan harapan Eman untuk selamat, rasanya gigitan Anjing itu sudah kena ke tubuhnya. tapi aneh, Anjing itu tidak berani menggigit, hanya menggonggong sampai terdengar melolong, mengundang anjing-anjing yang lain, sehingga suara anjing pun saling bersahutan seperti ada babi yang Sedang diburu.


Eman merasa semakin panik, hingga akhirnya dia pun membulatkan tekad. kemudian dia bangkit, lalu tangannya mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata sehingga dia pun menemukan batu sebesar kelapa yang ada di tepian jalan. tanpa berpikir panjang Eman pun melemparkan batu itu ke arah suara anjing, karena dia tidak bisa melihat dengan jelas keberadaan sekitar, beruntung lemparan itu terkena salah satu anjing sehingga mengeluarkan suara.


Gaik! gaiiiiik! aik!


Anjing yang terkena batu terdengar merintih, kemudian berlari menjauhi Eman. Namun anjing yang lain masih terus menggonggong sambil terbang menyerang eman, tapi Anjing itu tidak sampai ada yang melukai atau menggigit.


"Dasar anjing koplok...!" bentak Eman sambil mengusap kepala yang tadi terbentur, tanpa berpikir panjang dia pun berlari kembali, karena takut ditemukan oleh orang yang sedang mengejarnya.


Waktu itu. mang Sarpu, Jana dan Dadun mereka sangat terkejut ketika mendengar suara gonggongan anjing yang terdengar dari arah Barat. Mang Sarpu yang sudah hafal dengan sifat-sifat anjing yang berada di kampungnya, Dia sangat yakin bahwa ada orang asing yang lewat.

__ADS_1


"Malingnya ke arah Barat, ke arah barat....!" teriak Mang Sarpu memberitahu, kemudian dia pun berlari duluan sambil terus menerangi pijakannya dengan senter.


Jana dan Dadun Mereka pun mengikuti, tangan kirinya memegang senter, tangan kanannya memegang golok. mereka terus berlari mengerahkan seluruh tenaga agar cepat sampai ke tempat suara gonggongan anjing, membuat anjing-anjing itu semakin bersemangat untuk terus menggonggong, seperti merasa di bobotohi ketika berburu babi di hutan.


"Haayooo! Heuh! Heuh!" Seru Mang sarpu menyuruh salah satu anjing untuk mengejar sang maling. hingga Anjing itu pun berlari sambil mengeluarkan suara gonggongan yang sangat nyaring, keadaan yang semakin lama semakin terasa Genting, membuat warga Kampung Sukaraja yang awalnya Sudah terlelap tidur, Mereka pun terbangun kemudian mengambil senjata masing-masing, lalu turun dari rumah untuk membantu menjaga ketentraman kampungnya.


"Ada apa ini, ada apa ini?" tanya orang yang baru hadir.


"Maling, maling, ada maling....!"


Pembicaraan kala itu membuat suasana semakin terasa ribut, suara deru langkah kaki menghiasi setiap sudut kampung itu, Bahkan tak sedikit orang yang terpeleset jatuh karena jalan yang mereka lalui sangat licin, diakibatkan oleh hujan yang baru berhenti.


Sedangkan Eman orang yang dikejar oleh warga Kampung Sukaraja, dia tidak peduli dengan keadaan segenting itu, dia terus berlari menuju ke arah depan, hingga akhirnya dengan cepat dia sudah keluar dari kampung Sukaraja, bahkan sudah sampai ke kebun kopi, lalu masuk ke dalam semak-semak belukar yang sangat rimbun, bajunya yang tadi sudah kering sekarang sudah basah kembali karena bersentuhan dengan dedaunan yang masih basah terkena air hujan.

__ADS_1


Akhirnya Eman pun sampai di tepian sawah yang terlihat terhampar luas, Eman pun terus berjalan dengan tergesa-gesa dan penuh kehati-hatian menapaki pematang sawah. kemudian dia menaiki sebuah bukit sambil mengatur nafas yang memburu, matanya menangkap batu besar yang berada di bawah pohon pendei. dengan segera Eman pun menjatuhkan tubuh, keringatnya terus bercucuran, nafasnya sangat memburu, matanya terus menatap ke arah lembah, memastikan cahaya senter tidak ada yang mendekat ke arahnya.


"Beruntung tidak diserang oleh anjing, kalau nasibku jelek Mungkin sekarang sudah tinggal nama, jadi santapan anjing sial4n. sama seperti orang-orangnya Kenapa mereka tidak tidur, padahal waktu sudah tengah malam. Menganggu kebahagiaan orang saja, Padahal tadi sudah jelas di kamar itu ada Ranti. haduh.....! Bagaimana cara menolongnya?" ujar Eman yang terlihat Geregetan karena dia tidak bisa membebaskan Ranti dari rumah mang Sarpu.


Keadaan malam semakin larut, rasa dingin pun mulai menyeruak membuat tubuh Eman menggigil, semilir angin menggoyangkan dedaunan menjatuhkan embun sisa hujan, tubuh Eman terasa sangat capek hingga kakinya pun terasa sakit. dengan segera dia meraba kaki itu yang terasa basah, tapi dia belum bisa memastikan, Apakah basah dengan darah atau dengan lumpur karena terasa licin.


"Haduh......! kenapa sakit amat, perih lagi.....! apa jangan-jangan menginjak serpihan kaca," ujar Eman berbicara sendiri, matanya kembali menatap ke arah lembah memperhatikan cahaya senter yang semakin terlihat jarang, suara teriakan orang yang sedang memberitahu keberadaannya, sesekali masih terdengar. namun lama-kelamaan suara itu pun hilang, berbarengan dengan cahaya senter yang menjauh.


Melihat kenyataan seperti itu, Eman pun menarik nafas lega, karena orang yang mengejar dirinya sudah kembali ke rumah masing-masing. Eman berpikir dan menimbang apa pekerjaan yang harus ia lakukan sekarang, karena kalau dia kembali lagi ke rumah mang Sarpu, dia takut dikejar kembali, karena sudah dua kali dia gagal menyelamatkan Ranti. Eman sudah tidak memiliki keberanian karena dia beranggapan tidak ada keberuntungan untuk ketiga kalinya, ditambah kakinya semakin terasa perih, badannya terasa lemas, tubuhnya terasa dingin kembali, karena waktu sudah lewat dari tengah malam. Tapi kalau tidak kembali lagi ke rumah mang Sarpu dia merasa khawatir dengan keselamatan Ranti, ditambah Eman takut dia tidak bisa bertemu dengan wanita itu kembali. Akhirnya Eman hanya terdiam, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, merasa bingung dengan apa yang harus ia kerjakan.


Khayalan Eman mulai terbang kembali ke kejadian 2 hari yang lalu, kejadian di mana Dirinya diselamatkan oleh seekor babi dari jeratan siksa yang diakibatkan oleh Hadi dan Warsa. mengingat kebaikan Ranti Eman pun menarik nafas dalam, dia merasa sedih kalau sampai dia tidak bisa menyelamatkan Ranti, karena dia masih memiliki hutang nyawa, mungkin kalau tidak diselamatkan oleh babi itu sekarang dia sudah berada di perut ular, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Hadi.


Dari rasa bingung yang tidak berujung, susah yang tak ada terhingga. akhirnya Eman pun Hanya berdiam duduk di atas batu tanpa melakukan apapun, matanya terlihat terpejam, kepalanya mulai terjatuh seperti yang sangat mengantuk. mungkin Eman sangat kecapaian, Apalagi sudah dua malam dia tidak bisa tidur nyenyak, hingga lama-kelamaan kakinya ditekuk lalu dipeluk, dijadikan sandaran kepala. Eman tertidur dengan posisi duduk memeluk kedua kakinya, dia tidak memperdulikan nyamuk nyamuk yang menyerang, tidak memperdulikan air hujan yang jatuh dari daun pohon pendei.

__ADS_1


Ketika sedang nyenyak tidur matanya pun melihat seorang gadis yang sudah beberapa malam ini mengganggu tidur nyenyaknya. Gadis itu sedang berada di tengah sawah yang padinya sedang menguning. Gadis itu terus memanggil-manggil namanya seperti orang yang dipenuhi ketakutan, bahkan melambai-lambaikan agar Eman mendekat.


__ADS_2