Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
Bab 15. Galih dan saepul


__ADS_3

Galih merasa sangat kecewa, karena dia sudah merasa bisa memiliki babi itu, ketika membawa kabur dari pertunjukan. sekarang harus terlunta-lunta kembali tanpa arah dan tujuan, hingga khayalannya pun terbang kembali ke rumahnya, kemudian pemuda Tampan itu menatap ke arah kaki yang disolonjorkan, menerka-nerka wajahnya yang sudah terlihat kusut dan dekil, Karena jarang sekali debersihkan.


Melihat kenyataan yang sangat menyedihkan, Galih pun terlihat menarik nafas dalam, kemudian mengusap wajah seperti sedang membuang rasa bingung yang hinggap di dalam dirinya. Pandangannya dialihkan menatap ke Jalan Setapak yang meliliti bukit, tapi berbeda dengan pikirannya yang terbang ke mana-mana, memutar kembali memori yang sudah berlalu.


"Mang Saiful...!" Panggil Galih memecah heningnya suasana.


"Yah, Ada apa Jang?"


"Bekal kita sudah mulai menipis, tapi yang kita kejar belum ada tanda-tanda keberhasilan, bahkan seperti semakin menjauh. kalau sudah begini, kita harus bagaimana?" Tanya Galih mengungkapkan kegelisahannya.


"Tidak harus bingung Jang, namanya juga usaha, ikhtiar memutarkan akal pikiran. awas jangan sampai berkecil hati, jangan sampai putus asa, soalnya kenapa. karena kita sudah terlanjur basah, kita sudah terlanjur tercebur Mengikuti alur cerita ini. biarkan saja terlebih dahulu, jangan sampai mengeluh. Siapa tahu saja kita bisa ketiban Durian Runtuh. hehehe," jawab Saiful yang terlihat masih memiliki semangat juang yang tinggi, namun tenaganya sudah berkurang, kakinya terasa kebas, bajunya sudah terlihat sangat dekil, badannya terlihat kurus karena makannya tidak selalu tepat waktu.


"Benar juga Mang, kalau dipikir memang seperti itu, tapi..!"


"Tapi apa Jang?" potong Mang Saipul.


"Tapi bagaimana kalau sudah begini, karena kita sudah mencari ke seluruh penjuru tempat, tapi hasilnya hanya gagal dan kegagalan."


"Itu namanya rintangan Jang, itu namanya ujian. Jangan sampai kita kalah begitu saja, Biarkan saja kita terus berusaha. selagi kita masih memiliki tenaga, kita harus terus berjuang, terus mencari. Siapa tahu saja ada milik kita, soalnya kalau kita berhenti di tengah jalan, rasanya itu sangat rugi, bahkan ruginya rugi banget Jang."


"Apa sebabnya?" tanya Galih sambil menatap lekat ke arah orang yang duduk di hadapannya.


"Apa Jang..?" jawab Saiful balik bertanya, Mungkin dia tidak mendengar jelas perkataan Galih.


"Apa sebabnya kita disebut orang yang sangat rugi."


"Karena kita sudah terlalu banyak mengeluarkan modal, baik tenaga maupun harta, baik moril maupun materil. semuanya sudah kita kerahkan untuk mendapatkan sayembara yang dibuat oleh Mbah Abun."

__ADS_1


"Terus kita harus bagaimana Mang?"


"Menurut Mamang kalau kita berhenti itu sangat disayangkan. coba Ujang gunakan akal sehat Ujang, orang lain saja yang tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Mbah Abun, mereka Sampai berani mengorbankan Pati, jiwa, raganya. hanya untuk mengikuti sayembara, karena tertarik dengan hadiahnya yang tidak sedikit."


"Lantas Mamang tertarik apa nggak?"


"Ya jelas Mamang sangat tertarik Jang, karena padi sekamar, domba sekandang dan uang satu karung itu bukan kekayaan yang sedikit. Intinya seperti ini jang, kalau kita berhasil menemukan babi aneh itu, uang dan padi buat Mamang, sedangkan Ranti itu bagian Ujang. bagaimana itu sangat adil bukan? hahaha," ujar Saiful yang diakhiri dengan tertawa, hatinya terus dipenuhi dengan kebahagiaan walaupun kenyataannya belum pasti. dia merasa bahwa hadiah yang akan diberikan oleh Mbah Abun sudah berada di genggaman tangannya.


"Setuju Mang. karena Tujuan saya mengikuti sayembara ini hanya satu yaitu Neng Ranti. silakan padi dan uang buat Mamang, karena saya masih bisa mencari dengan cara yang lain. Tapi kalau Ranti, itu sangat susah dicari, karena gadis secantik dirinya tidak ada duanya di dunia ini."


"Nah begitu Jang, Mamang suka dengan pemuda yang bersemangat. Ya sudah ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita, jangan terlalu banyak membuang waktu..!"  Ajak Saipul yang terlihat bersiap-siap.


"Sekarang ke mana Mang?"


"Apa Jang?" jawab Saiful balik bertanya.


"Ya kita terus berjalan sambil terus bertanya, Siapa tahu saja ada orang yang mengetahui tentang jejak babi itu."


"Ya sudah, ayo....!"


"Ayo....!"


Galih dan Saipul Mereka pun membangkitkan tubuh dari tempat duduk masing-masing, kemudian melanjutkan perjalanan pencarian babi ngepet yang sedang di sayembarakan. mereka berjalan menyusuri jalan desa yang lumayan besar, namun baru saja kira-kira berjalan lima belas meter Mereka pun bertemu dengan seseorang yang baru pulang dari sawah dengan membawa parang, dipundaknya terpikul cangkul, kepalanya memakai cetok untuk menghindari terik matahari.


"Mau pada pergi ke mana nih?" Tanya orang itu menandakan bahwa orang kampung selalu ramah, walaupun belum kenal, tapi mereka akan tetap menyapa.


Orang itu bertanya dengan sangat ramah kemudian berhenti sehingga membuat Galih dan Saiful bergegas menghampiri, lalu menyodorkan tangan untuk mengajaknya bersalaman, sambil memperkenalkan diri masing-masing.

__ADS_1


"Begini Mamang saya tidak punya tujuan pergi ke mana-mana, karena tidak ada yang dituju, tidak pasti yang didatangi, soalnya saya sedang mencari sesuatu. kalau boleh saya mau bertanya, Siapa tahu saja ada jodoh bisa bertemu dengan yang saya maksud. Maaf kalau saya mengganggu sebentar Mang," jawab Galih sambil manggut dia menjelaskan maksud dan tujuannya.


Sedangkan orang yang mendengar penjelasan Galih Dia terlihat menatap kaget penuh keheranan, karena melihat ada orang yang berjalan tapi tidak memiliki tujuan. Siapa orang itu ternyata itu adalah Dodo ayahnya Eman,.


"Oh, kayaknya serius banget kalau mendengar dari pembicaraan Ujang, kira-kira mau bertanya apa?" tanggap Dodo yang terlihat mengerutkan dahi.


"Begini Mang Dodo, Siapa tahu saja mamang sudah mendengar tentang sayembara yang dibuat oleh orang kampung Ciandam. Apakah di sini ada orang yang mengikuti sayembara?"


"Sayembara Apa itu Jang?"


"Sayembara mencari putri yang sangat cantik, putrinya Mbah Abun orang Ciandam."


"Oh sayembara mencari babi aneh bukan?"


"Nah, itu benar. tidak salah."


"Kalau hanya mendengar saya sering Jang, tapi bagaimana maksud Ujang sekarang?" tanya Dodo seolah ingin tahu ke mana arah pembicaraan pemuda itu.


"Begini Mang, Siapa tahu saja Mamang tahu kira-kira di mana yang ada babi aneh itu, karena saya sudah beberapa minggu bahkan bulan terus mencari keberadaannya, bahkan saya sudah pernah menemukannya tapi lepas kembali. babinya itu memakai anting, kalau makan dia seperti manusia,"


"Oh begitu, begini Ujang....! beberapa hari yang lalu, bahkan sebenarnya Mamang juga sedang mencari karena Mamang penasaran."


"Apa yang membuat Mamang penasaran?" tanya Galih yang semakin terlihat serius memperhatikan penyampaian dari Dodo.


"Soalnya kalau nggak salah dua atau tiga hari yang lalu ke kampung Sukamaju ada orang cipelang, namanya Surya Jaya. Dia sedang mencari babi yang tanda-tandanya sesuai dengan apa yang Ujang Terangkan barusan,"


"Oh begitu, Terus bagaimana Mang?"

__ADS_1


__ADS_2