
Eman mencoba mendekati Gadis itu, namun Entah kenapa dia sangat susah mencapai tempat gadis itu berdiri, banyak sekali rintangan yang menghalanginya, ditambah kakinya terasa susah untuk melangkah. akhirnya Eman hanya bisa memanggil manggil nama Gadis itu di dalam mimpinya, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah gadis itu.
Namanya di dalam impian tiba-tiba suasana sawah itu terlihat berubah seketika, angin besar mulai menerpa padi sampai terlihat berantakan bahkan rambut gadis itu terlihat acak-acakan tertiup oleh angin, roknya berkelebat seperti bendera yang berada di tiang.
Eman hanya menatap melongok tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menatap dari arah jauh sambil terus memanggil-manggil nama gadis itu, lama-kelamaan angin pun berubah dan suasana pun tiba-tiba menjadi gelap, langit terlihat mendung, awan hitam menggerumuni menutup cahaya matahari, membuat Eman terkejut hingga akhirnya dia berteriak dengan Memanggil nama Ranti, kemudian dia pun loncat dan berlari bermaksud untuk menolong Gadis itu, namun kakinya tiba-tiba terasa lemas hingga akhirnya dia pun jatuh tersungkur dengan posisi badan terlentang di atas rumput, di bawah pohon pendei, Eman jatuh dari batu yang dijadikan tempat tidur.
"Haduh.....! ini kenapa?" gerutu Eman sambil memindai keadaan sekitar yang terlihat masih gelap. "Oh Ternyata aku bermimpi lagi," kemudian dia pun membangkitkan tubuh, yang sudah basah oleh air embun dan rumput tempat ia jatuh pun terlihat basah oleh air hujan, hingga membuat pakaian Eman terlihat sangat kotor dan sangat basah
Eman pun naik kembali ke atas batu, kemudian dia terdiam kembali seperti sebelum tidur, sekarang pantat dan telapak kakinya terasa dingin, soalnya batu itu mengeluarkan keringat. tapi eman tidak memperdulikan hal itu, pikirannya terus melayang ke gadis yang bernama Ranti.
"Ternyata Ranti masih berada dalam bahaya, harus bagaimana aku menolongnya, kira-kira Siapa yang bisa dimintai jalan keluar. kalau aku pintar, kalau aku kuat, kalau aku bisa segalanya, pasti akan aku Hancurkan rumah si sarpu itu, sekalian aku akan menangkap pemiliknya." begitulah gumam Eman, amarahnya terus membara dia merasa dendam dengan Jana yang sudah membawa Ranti dengan paksa.
Waktu sudah mendekati subuh, dari upuk Timur terlihat sudah menguning kemerahan dengan Sang Fajar, disambut dengan kokok suara ayam jago. sayap malam sudah menutup, Terusir oleh sang surya yang sebentar lagi akan keluar.
Keadaan di sekitar Eman semakin lama semakin terang, hingga akhirnya cahaya mentari pun keluar memancarkan sinarnya yang sangat terang. pagi itu terlihat sangat segar dan sangat Asri, membuat betah siapapun orang yang tinggal di tempat itu. daun-daun terlihat hijau segar, di ujungnya terlihat air embun yang menggantung bak mutiara yang mengeluarkan kilau ketika tersinari oleh sinar mentari. bahkan rumput-rumput masih terlihat basah oleh air hujan semalam.
__ADS_1
Gunung-gunung terlihat menjulang tinggi, di selimuti oleh kabut yang menutupi puncaknya, dari sebelah timur semakin lama semakin terang, bahkan sedikit memberi kehangatan bagi jiwa-jiwa yang kedinginan.
Dari arah Kampung Sukaraja terdengar suara ayam yang berkokok, di sahuti dengan hewan-hewan yang lainnya. seperti domba, kerbau, sapi dan hewan sejenisnya, bahkan terdengar suara kodok seperti belum puas karena tadi malam aktivitasnya terganggu dengan hujan yang turun.
Dalam keadaan seperti itu eman masih terdiam dipenuhi dengan kebingungan, khayalannya terbang ke kampung Sukaraja, hingga dia pun mengingat kembali dengan babi yang bernama Ranti yang sudah pasti masih berada di Pendaringan padi, ditahan oleh Mang sarpu dan warga yang lainnya.
"Aduh Bagaimana denganku," ujar Eman yang semakin merasa bingung karena waktu siang akan lebih susah untuk bergerak, karena sudah bisa dipastikan Jana tidak akan tinggal Diam, tidak akan memberikan babinya kalau direbut. hingga akhirnya Eman pun turun dari batu, kemudian dia pun berjalan tanpa membawa tujuan yang pasti, karena kalau untuk pergi ke kampung Dia tidak memiliki keberanian, takut ada orang yang masih menganggap maling terhadap dirinya .
*****
Sedangkan Mang sarpu, dia berbeda dengan warga-warga yang lain. dia terlihat sibuk mengurus babi yang ditahan di Pendaringan padi, meski semalam suntuk mereka tidak tidur, karena takut Eman datang lagi dan mencuri babinya, tapi mereka tidak memperdulikan hal itu bahkan Mereka terlihat sangat bersemangat mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
"Sana cari bambu buat pikulan Jang, biarkan kalau untuk tandu Mamang mau minjam sama Pak RT" ujar Mang sarpu setelah mengecek pendaringan padi. ternyata babi itu masih berada di dalam, masih tengkurap di tempat yang kemarin.
"Siap Mang, tapi saya nitip senter saya Mang takut hilang," jawab Jana menyanggupi
__ADS_1
"Iya, nanti Mamang rapikan."
Akhirnya Jana pun pergi untuk mengambil pikulan, sedangkan Dadun diperintahkan Mang Sarpu untuk membuat tali karena dirinya mau menemui Pak RT untuk meminjam tandu untuk membawa babi ke kampung Ciandam.
Kira-kira pukul 07.00 semua yang dibutuhkan sudah selesai disiapkan, mulai dari tandu, pikulan dan tali buat pengikat pintu tandunya. tapi yang membuat jana merasa bingung, Bagaimana memasukkan babi ke dalam tandu, Jana merasa takut kalau Ranti mengamuk kemudian kabur.
"Kira-kira babinya nggak akan kenapa-kenapa Mang? soalnya saya takut kalau babi itu kabur," ujar Jana mengungkapkan kekhawatirannya.
"Itu urusan Mamang, ayo bawa grogolnya masuk ke dapur. kita masukkan babinya di dalam saja," jawab Mang Sarpu mengatur rencana.
"Siap Mang...!"
Akhirnya Jana dan Dadun pun menggotong tandu kosong masuk ke dalam dapur, agak sedikit susah karena pintunya sangat kecil. setelah berada di dalam, tandu itu di turunkan. sedangkan Mang Sarpu membuka pintu kamar padi, sehingga terlihatlah babi itu yang sedang tengkurap dengan kaki depan di selonjorkan, babi itu terlihat diam di tempatnya tidak bergerak sedikitpun, membuatnya terlihat sangat mengkhawatirkan.
"Hai Nyai....! Ayo masuk ke dalam tandu! Nyai harus sabar, harus ikhlas, jangan sampai berkecil hati, karena ini tidak akan lama," begitulah ujar Mang Sarpu dengan suara pelan, hanya terdengar oleh Ranti dan dirinya sendiri.
__ADS_1