Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
bab 19. Terus Berjuang


__ADS_3

Jalan yang mereka lewati mulai menanjak, semakin menjauhi Kampung Ciaul, di samping kanan kiri jalan terlihat rumpun bambu, ditambah pohon Johar, kebun kopi, di selang-selang dengan Kebun singkong, kadang pula diselang dengan rerumpunan rumput Ilalang dan tebu timbarau atau kaso.


Kira-kira waktu menunjukkan pukul 09.00 Mereka pun sampai di atas bukit, dari tempat itu pemandangan mereka sangat leluasa, bahkan bisa melihat kedua belah sisinya yang dihiasi oleh pemandangan yang sangat indah. Galih terlihat berhenti sambil menarik nafas, sambil mengusap keringat yang keluar di dahi. sama seperti galih, Saiful pun mengikuti berdiri, dia pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Galih. Dia merasakan kelelahan yang lebih, maklum sudah hampir sebulan lebih mereka terus berjalan.


"Kira-kira masih jauh ke kampung Sukaraja itu, jang?" tanya Saipul sambil mengatur nafas yang memburu, matanya menatap ke arah lembah yang akan mereka lewati.


"Masih jauh Mang, mungkin kalau berjalan kita sejam lagi, baru kita sampai di sana. Tapi Mama nggak usah khawatir karena jalan yang akan kita lalui sekarang tinggal turunan jadi tidak harus memerlukan tenaga ekstra.


"Waduh...! ternyata masih jauh Jang," ujar Saiful sambil membulatkan mata seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Galih.


"Yah, karena kita berjalannya sangat lambat, kita sudah kehabisan tenaga, mungkin kalau berlari Kita akan bisa lebih cepat sampai ke kampung Sukaraja."


"Lah, lah, kok Ujang ngebodor segala, males lah....! kalau harus berlari, karena itu akan cepat menguras tenaga."


"Hahaha," jawab Galih sambil mengulum senyum.


"Ya sudah kita beristirahat dulu saja Jang," saran Saipul sambil mendudukkan tubuhnya di atas batu, kancing bajunya dia buka semua, sehingga menunjukkan dada yang terlihat hanya tinggal tulang, rasanya sangat dingin karena tertiup oleh angin pegunungan.


Galih tidak menjawab, matanya terus memindai ke arah Lembah, kearah jalan jalan yang akan dia lalui. daun bambu yang terlihat bergoyang seperti orang yang melambai-lambaikan tangan, daun Ilalang yang tertiup oleh angin seperti orang yang sedang menyambut kedatangannya, agar pemuda itu cepat melanjutkan perjalanan supaya cepat sampai ke kampung Sukaraja.


Didalam khayalan Galih, terlihat ada seekor babi yang sangat aneh, di telinganya memakai anting, matanya terlihat dipenuhi dengan kasih sayang. khayalannya pun berganti membayangkan wajah Ranti, seorang gadis yang pernah tinggal dan masih tetap berada di dalam hatinya, gadis yang pernah singgah di dalam kalbunya, sudah pernah menjalin hubungan untuk menyatukan rasa dan jiwa.

__ADS_1


Galih terlihat menarik nafas dalam, semakin lama dipikirkan Galih semakin mengingat buah hatinya yang sudah lama mengganggu pikiran, gadis yang menjadi teman terjaga siang malam. lama kelamaan akhirnya Galih pun duduk sambil memeluk dengkulnya.


"Jang.....!" Panggil Saipul, namun orang yang dipanggil tetap melamun tidak memberikan respon.


"Jang...!" Panggil Saiful sambil menepuk tangan galih yang sedang memeluk dengkulnya.


"Aduh....., ada apa Mang, pakai ngagetin segala!" jawab Galih yang terkejut, karena dia sedang asik mengantar lamunannya bersama Ranti.


"Halah Ujang Kenapa melamun terus, dipanggil-panggil kok gak nyaut."


"Saya Teringat sama Ranti Mang, dan saya ingat sama babi jadi-jadian, babi beranting itu, kalau dulu tidak kerebut kembali sama Surya Jaya, mungkin sekarang saya sudah bersanding hidup berbahagia bersama Ranti." Keluh Galih.


"Sabar Ujang, Sabar....!  jangan melamun seperti itu, kita harus terus berusaha jangan sampai putus asa, karena kalau sudah kita dapatkan, pasti babi itu menjadi milik kita." ujar Saipul seolah tidak bosan terus menasehati anak muda itu.


"Yah kenapa Ujang bertanya seperti itu, emang sekarang kita lagi ngapain, Kita kan lagi mencari babi ngepet, lagi menjalankan usaha sekuat tenaga kita  yang terpenting Ujang Tetap sabar dan tidak pernah putus asa, jangan sampai berkecil hati, ditambah Jangan sombong, Karena manusia itu hanya diberikan wewenang untuk berikhtiar, karena yang mengabulkan hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala."


"Benar juga Mang." jawab Galih sambil manggut-manggut seolah membenarkan apa yang disampaikan oleh Saiful. matanya terus menatap ke arah Lembah melihat pemandangan yang terhampar seluas mata memandang, semilir angin menerpa dedaunan mengeluarkan suara kemirisik dan kemerosok, burung-burung terdengar terus berkicau saling bersahutan dengan teman-temannya, seperti di dalam hidup mereka tidak ada sedikitpun kesusahan.


Namun ketika sedang asik mengantar Lamunan masing-masing, dari arah Lembah terlihat ada orang yang sedang menggotong tandu, membuat Galih terperanjat penasaran. dengan cepat dia pun membangkitkan tubuh kemudian berdiri seperti ingin melihat lebih jelas ke arah orang yang sedang menggotong. Sementara waktu Galih hanya menatap tanpa bergerak sedikitpun, dia ingin tahu siapa orang yang menggotong itu.


"Ada apa Jang?" tanya Saipul sambil menatap ke arah wajah Galih yang sudah berdiri.

__ADS_1


"Ada orang yang menggotong tandu, tapi belum jelas tandu Apa itu?" jawab Galih.


"Ah yang benar Jang.....!" tanggap Saiful seolah tidak percaya.


"Benar Mang, coba lihat ke sebelah lembah."


Saiful pun membangkitkan tubuh, namun dia tidak melihat apa-apa, hanya hamparan rumpun rerumputan dan rumpun pohon-pohon bambu yang terlihat.


"Mana Jang?" tanya Saipul yang tidak menangkap apa-apa.


"Tuh itu mang, terhalang rumpun bambu."


"Oh iya benar. sebentar, sebentar, kita pastikan terlebih dahulu, mereka sedang menggotong apa."


Kedua orang itu terus menatap ke arah orang yang sedang menggotong tanpa mengedipkan Mata, seolah ingin melihat jelas apa yang sedang dibawa oleh kedua orang itu. semakin lama semakin jelas karena orang yang menggotong itu semakin mendekat ke arah Galih dan Saiful, yang akhirnya mereka pun bisa melihat dengan jelas, bahwa orang itu sedang menggotong tandu babi.


"Nah, nah, kayaknya orang itu yang sedang membawa babi," ucap Galih yang terlihat sangat bahagia, soalnya dia sudah bisa melihat dengan teliti dan lebih jelas bahwa kedua orang itu membawa babi.


Mendengar penjelasan dari galih, Saipul pun memfokuskan pandangan seperti orang yang ingin lebih jelas melihat, setelah agak lama dia pun berbicara.


"Sebentar, sebentar Jang. Iya kayaknya orang itu sedang menggotong babi. tapi Apa keuntungan buat kita, siapa tahu saja babi itu adalah babi jarah, bukan babi yang sedang kita cari."

__ADS_1


"Tapi saya memiliki perasaan lain Mang," ujar Galih mengungkapkan penemuannya.


"Sebentar, sebentar! kita buktikan dulu Jang." Tahan Saiful yang selalu memiliki kewaspadaan Karena dia sudah banyak memakan asam manis kehidupan, dia tidak cepat menyimpulkan sesuatu kalau belum melihat secara langsung.


__ADS_2