Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti

Babi Betanting Vol. 5 Sayembara Ranti
bab 22. Berebut


__ADS_3

Dadun dan Saipul Mereka terlihat saling memegang seperti sedang mengadu kekuatan, namun di sini pengalaman sangat diunggulkan. Saipul yang sudah berhasil menjatuhkan golok Dadun, dengan segera tangan yang tadi memegang pergelangan, dia pindahkan ke kerah baju lalu ditarik ke depan, disambut dengan satu tinjuan mengarah ke arah dahi.


Bugh!


"Haduh....! gil4 Kamu setan....!"


Teriak Dadun menjerit, kepalanya terasa mau pecah hingga dia Tak Sanggup menahan beban tubuhnya, dadun pun ambruk ke tanah dengan posisi duduk. namun ketika mau disusul dengan serangan selanjutnya, dengan segera dia pun menelentangkan tubuhnya sambil melayangkan tendangan ke arah perut, sehingga membuat Saiful menghentikan niatnya. namun Saipul tidak kehabisan akal, Serangan Dadun yang memakan angin dengan segera dia tangkap, lalu ditarik dengan kuat sehingga Dadun pun dengan segera bangkit, terbawa oleh kekuatan Saiful. namun perhitungannya salah ternyata ketika Dadun sudah berdiri kaki yang dipegangnya didorong ke arah belakang


Wala! wala....!   Blugh! Aduh, pret.....!


Teriak Dadun yang diakhiri dengan suara angin yang keluar dari pantat yang terbentur tanah.


"Halah, halah, dasar kurang ajar.....! Dasar setan....! dasar gobl0k....!" gerutu Dadun sambil meringis menahan sakit, matanya yang terasa berkunang-kunang menatap tajam ke arah Saiful yang terlihat tersenyum-senyum menertawakannya.


"Kamu yang gobl0k, kalau mau modol ke kamar mandi, jangan di tempat pertempuran. hahaha," ejek Saiful membuat Hati Jana yang sudah terluka, terbakar kembali semangatnya, karena melihat sahabatnya yang diperlakukan seperti itu.


Kebetulan Saipul sedang membelakanginya, sehingga Jana tidak memperdulikan kakinya yang berdarah, Karena setelah diperhatikan luka itu tidak terlalu dalam. dengan segera dia menyerang Saipul dari arah belakang.

__ADS_1


Orang yang diserangnya, sedang merasa berada di atas angin karena sudah mampu merobohkan Dadun, sehingga Saiful melonggarkan ke waspadaan, dia tidak sadar kalau jana sudah bangkit, kemudian mencekik lehernya dari arah belakang. membuat Saipul merasa kewalahan karena dia tidak menyangka dirinya akan diserang dari belakang, sehingga tangannya terlihat bergerak-gerak, meronta-ronta seperti meminta tolong, bahkan lidahnya terlihat menjulur tidak kuat menahan serangan Jana yang sudah terbakar emosi.


Galih yang melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu, dengan segera Ia pun loncat lalu memegang leher Jana dari belakang, dengan genggaman yang begitu erat, seperti kunci gembok yang tidak bisa dilepaskan. Ketiga orang itu mengantri saling mencekik, Saipul dicekik oleh Jana, sedangkan Jana dicekik oleh Galih.


Saipul mengerahkan seluruh tenaganya, menggerinjal ingin melepaskan cekikan itu, sehingga tubuhnya pun terjatuh membuat kedua orang yang di belakangnya ikut jatuh. Namun sayang genggaman di lehernya tidak terlepas, sehingga dia pun terus menggerinjal, menyerang menggunakan seluruh tubuhnya agar bisa terlepas. namun Jana tetap mengkunci lehernya, sambil membulatkan mata karena dia juga sedang dicekik oleh Galih.


Dadun yang tadi dirobohkan oleh Saipul, dia pun mulai sadar dengan kenyataan, karena melihat sahabatnya yang sedang berada di dalam bahaya. tidak memperdulikan rasa capek dan rasa sakit, dengan segera dia pun bangkit lalu loncat ke belakang Galih, dengan segera dia pun mencekik Pemuda Ciandam itu, sehingga cekik mencekik itu menjadi empat orang. yang paling sengsara adalah Saipul, karena dia tidak bisa membalas sama siapapun, dan yang paling beruntung adalah Dadun karena dia tidak ada yang menyakiti dari belakangnya.


Mata Saipul terlihat membulat sempurna, pipinya sudah berubah warna menjadi kemerahan, dia terus berusaha agar bisa terbebas dari cekikan Jana, hingga akhirnya tiga orang yang berada di belakang terbontang banting mengikuti tenaga Saipul.


"Mampus kau setan....!" ujar Dadun sambil terus menguatkan cekikannya, karena dia sangat bebas tidak ada orang yang mencekiknya. namun sayang tenaganya sudah lemah, karena tadi dia sangat kesusahan ketika disiksa oleh Saipul.


Galih mengeratkan gigi, dengan terpaksa dia melepaskan cekikan Jana, sehingga antrian cekikan itu menjadi dua bagian. Saipul dicekik oleh Jana, sedangkan Galih dicekik oleh Dadun. namun Galih masih memiliki banyak tenaga dia tidak kalah akal, dengan segera tangannya pun dijulurkan ke belakang, kemudian mencari benda yang menggantung di tubuh musuhnya. Setelah ketemu tanpa ampun lagi dia meremas dengan begitu kuat, kantung minyak milik Dadun.


"Wala......! Waduh......! gil4....."


"Mampus kau b4ngsat!"

__ADS_1


Dadun berteriak dengan sangat kencang, sambil melepaskan tangan yang mencekik leher Galih, sehingga Pemuda Ciandam itu berada di atas angin dengan segera dia pun menyelinap masuk ke belakang tubuh Dadun, lalu mencekik lehernya membuat orang itu terlihat matanya membulat dengan sempurna. nafasnya sangat memburu tenaganya yang sudah lemas, ditambah dengan kantung minyaknya yang baru saja diremas dengan kuat oleh Galih, membuatnya semakin terlihat tersiksa dan tak berdaya.


"Mang Saiful.....! Mang Saiful.....!" Panggil Galih sambil terus menghapit leher Dadun.


"Aaaaaaa, pppppppa,, jaaa," jawab Saipul yang tidak bisa mengeluarkan suara.


"Remas baksonya.....! remas dengan kuat.....!" ujar Galih memberitahu kelemahan musuhnya.


Saipul yang dikasih tahu dia sangat mengerti, dengan segera dia pun menyelipkan tangannya ke arah belakang. Namun sayang Jana yang mengerti maksud Saiful dengan segera dia menunggingkan pantatnya, menjauhi tangan Mang Saipul, agar kantong minyaknya tidak bisa dipegang, sehingga Saipul semakin kesusahan, lehernya semakin terasa sakit, tenaganya semakin berkurang, Bahkan dia tidak bisa menahan. beruntung Dadun yang sedang dicekik oleh Galih keadaannya semakin mengkhawatirkan, sehingga dia pun berteriak.


"Jaaaaaa, toooookk, long, Jaaaaa ng, Jang, Jang, uhek...! haduh, halah, haduh," suara Dadun yang tertahan, sambil menggerak-gerakan tangannya seperti terbawa aliran air. wajahnya terlihat pucat pasi, matanya membulat dengan sempurna, membuat Jana merasa kaget dan sangat kesal karena dia sudah hampir bisa melumpuhkan musuhnya. tapi ketika melihat temannya berada di ambang kecelakaan, membuat pikiran pemuda itu membagi dua pikiran, matanya melirik ke arah Dadun yang semakin lama semakin terlihat kepayahan, hingga akhirnya dia pun melepaskan cekikan yang melingkar di leher Saiful.


Setelah melepaskan cekikan di leher Saiful, dengan segera dia pun berlari menuju ke arah belakang tubuh Galih, tanpa berpikir panjang tangannya mulai menyekik tubuh Pemuda Ciandam itu. membuat Galih kembali Dalam keadaan susah, sedangkan Dadun seperti memiliki kekuatan tambahan, dengan segera dia pun mengerahkan sisa-sisa tenaga agar bisa terlepas dari cengkraman tangan Galih.


Sedangkan Saipul setelah terbebas dari cengkraman Jana, Dia terlihat mengatur nafas sebentar, sambil mengusap leher yang terasa nyeri dan keringat yang membasahi dahinya, matanya menatap ke arah Galih yang sedang dicekik oleh Jana.


"Kurang ajar....! ini tidak bisa dibiarkan, Awas kalian...!" ancam Saiful sambil berjalan mendekat ke arah orang yang saling mencekik, kemudian dia pun menyelinap ke belakang tubuh Jana. namun dia tidak mencekik leher pemuda itu tapi tangannya mengarah ke belahan sel4ngkangan Jana, dengan segera dia pun meremas kantong minyak Pemuda Sukaraja itu dengan begitu kuat, membuat Jana terlihat menggeliat kaget dan kesakitan. seketika tangannya yang sedang mencekik Galih terlepas, berpindah memegang tangan Saiful sambil berteriak-teriak kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2