
Groook! Grook! Groookk! Groookk!
Suara itu memecah konsentrasi Surya Jaya, sehingga dengan segera dia pun menoleh ke arah datangnya suara. terlihatlah babi yang sedang mengamuk menggerinjal ingin melepaskan diri.
Eman yang melihat kesempatan yang sangat baik, dia tidak membuang kesempatan itu walaupun Eman sangat bodoh, tapi kalau keselamatan dirinya terancam dia pun sudah mengerti bahwa keselamatannya lebih penting dari apapun. masalah Ranti bisa dipikirkan lain kali, sehingga dia pun berlari menggunakan seluruh sisa tenaganya menjauhhi Surya Jaya menghindari bahaya.
Eman terus berlari menerjang rerumpunan rumput yang sangat rimbun, menimbulkan suara kemerosok kemrusuk. agar Surya Jaya tidak mampu mengejarnya.
"Selamat tinggal Neng....! Semoga di lain waktu kita bisa bertemu kembali," begitulah gumam hati Eman sambil terus berlari terbirit-birit ingin segera terbebas dari ancaman bahaya Pati.
Eman memiliki niat kalau dia sudah bisa menyelamatkan dirinya, dia pun akan kembali untuk menyelamatkan Ranti, walaupun Eman belum tahu Ranti akan dibawa kemana, tapi dia sangat yakin kalau Allah sudah mentakdirkan untuk bertemu, maka tidak akan ada orang yang bisa menolak.
Sedangkan Surya Jaya. tadi ketika dia mendengar suara kemrosok dia pun terkejut, namun ketika dia melihat ke arah datangnya suara, Eman yang tadi berdiri sudah tidak terlihat lagi. sudah kabur menyelamatkan dirinya, hingga Surya Jaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, tangannya yang menggenggam erat pisau terkulai lemas, sambil menarik nafas dalam menyembunyikan kekecewaan yang baru saja dia alami.
__ADS_1
"Halah dasar sial.....! Dasar kurang ajar....! ternyata dia sangat pintar dalam melarikan diri kalau dia tidak kabur, mungkin sudah aku Keluarkan jantungnya untuk makanan sigogi....!" begitulah sesumbarnya Surya Jaya, sambil memasukkan kembali pisau belati ke dalam serangkanya.
Setelah melihat musuhnya kabur tanpa meninggalkan jejak, Surya Jaya pun menarik nafas dalam kemudian menjatuhkan tubuh untuk mengistirahatkan rasa capek yang memenuhi jiwa. tubuh itu dipenuhi dengan keringat, Tapi walau seperti itu hati Surya Jaya tetap merasa bahagia, karena babi miliknya yang dilepaskan oleh istrinya yang bernama Hamidah, sudah kembali lagi ke dalam genggamannya.
"Hahaha, ternyata kalau sudah waktunya perjuangan itu akan membuahkan hasil. tidak disangka tidak diduga, si Gogi babi kesayanganku bisa tertangkap kembali, Mungkin memang benar kalau si Gogi ini adalah milikku, Karena untuk mendapatkannya terasa sangat mudah. hahaha," ujar Surya Jaya yang terlihat sangat sombong, merasa dirinya adalah orang yang paling unggul dan paling beruntung.
Matanya melirik ke arah Ranti yang sedang terbaring dengan kaki yang diikat, khayalan Surya Jaya kembali mengingat tentang sayembara yang dibuat oleh Mbah Abun, membuat kedua sudut bibir aki-aki itu terangkat, karena di dalam khayalannya sudah tergambar dengan jelas, kalau dia sudah berhasil menjadi pemenang sayembara. dia akan memiliki banyak uang, banyak padi, banyak hewan ternak, ditambah dengan putri cantik anaknya Mbah Abun.
Ranti ketika mendengar perkataan Surya Jaya hatinya pun terasa lemas seketika, dipenuhi dengan kesedihan dan kesengsaraan, hingga dia pun mengingat terhadap orang tuanya yang bernama Mbah Abun yang baru saja disebutkan oleh Surya Jaya. kemudian babi itu mengingat ibunya yang bernama Ambu Yayah yang sangat menyayanginya, hingga Ranti pun tidak bisa menahan kesedihannya, dia menangis seperti anak kecil yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Ambu, Abah.....! kalian sangat tega.....! sampai-sampai aku dijadikan barang sayembara, sampai anakmu harus mengalami kejadian Sepahit ini? Kapan aku akan kembali ke wujud manusia, kembali normal seperti hari-hari sebelumnya. ya Allah, semoga Engkau menurunkan pertolongan terhadap diri hamba yang hina ini.....!" gumam hati Ranti karena hanya itulah yang bisa dia lakukan sekarang.
Clak.....! clak......! Clak.....!
__ADS_1
Air mata yang sudah membasahi pipi berjatuhan membasahi tanah, soalnya hanya air mata yang selalu setia menemani setiap kesedihan Ranti, setiap kesengsaraannya yang selalu menemani tanpa henti. Ranti pun memejamkan mata, khayalnya terbang menuju ke kampung Sukaraja, mengingat kembali ke masa-masa yang lalu ketika dia masih bersama Galih, Daus dan orang-orang yang berkecimpung dalam koprasi anyaman.
Hingga khayalan itu terus melaju Sampai akhirnya dia pun mengingat kembali ketika dia menemukan bambu Tamiang yang berada di lemari orang tuanya. Bambu Tamiang yang di dalamnya ada baju sutra yang sangat cantik, baju jimat yang mengantarkan dirinya masuk ke dalam jurang kesengsaraan.
Sedang asik mengantarkan lamunan, terasa telinganya ada yang menarik membuat mata Ranti terbuka lalu menatap ke arah orang yang menarik telinganya. terlihatlah Surya Jaya yang tersenyum penuh kebahagiaan, membiaskan lamunan yang sedang memenuhi leurung jiwanya. Ranti tidak bisa berbuat banyak karena dia merasa tidak memiliki kelebihan apapun, Hanya hatinya saja yang terus meronta-ronta ingin segera bebas dibarengi dengan derasnya air mata.
"Hai Gogi.....! sudah tiba dengan waktu yang ditentukan, sudah sampai dengan masa yang ditetapkan. akhirnya kita bisa bertemu kembali walaupun dalam keadaan yang tidak mengenakan, Tapi kamu jangan berperkecil hati karena Akang akan menjagamu dengan sepenuh hati, Nyai tidak akang akan telantarkan lagi....! sekarang Ayo ikuti Akang ke kampung Ciandam kita temui Bapak Abun untuk meresmikan hubungan kita. hahaha.....! awas jangan sampai tidak menurut, karena kalau tidak menurut kamu sudah bisa membayangkan akibatnya.....!" ujar Surya Jaya seperti psychopath, karena pembicaraannya sangat melantur bahkan diakhiri dengan ancaman.
Pawang babi itu bangkit, kemudian merapikan kembali tambang-tambang yang mengikat di kaki Ranti. Surya Jaya mulai melepaskan ikatan itu dengan penuh kehati-hatian namun ikatannya tidak dilepaskan dengan seutuhnya, dia hanya melonggarkan ikatan itu agar Ranti bisa melangkah. tapi hanya bisa melangkah, tidak bisa melarikan diri, karena kalau Ranti kabur tali itu akan menjadi pengganggunya, tidak menutup kemungkinan kalau hidup Ranti bisa terancam dengan tali itu, ketika dia terperosok masuk ke dalam jurang.
Selain dari itu, Surya Jaya pun mengikat mulut Ranti seperti kuda. agar Ranti semakin berpikir ulang ketika dia hendak melarikan diri, karena ketika Ranti menjauh dari Surya Jaya, pawang babi itu bisa menarik tambang, sehingga Ranti akan merasakan kesakitan.
"Ayo kita lanjutkan kembali perjalanannya Gogi.....!" ajak Surya Jaya sambil menarik tali kekang pengikat mulut Ranti, sehingga mau tidak mau babi ngepet itu membangkitkan tubuhnya dengan sedikit gontai, kepalanya terasa pening, penglihatannya terasa kabur. ketika dia mencoba melangkahkan kaki terasa sangat susah, karena kaki itu diikat dengan kuat.
__ADS_1