
Koridor yang berada di depan beberapa ruang tunggu untuk para artis itu terlihat sangat sibuk. Beberapa staf yang terlihat berlalu-lalang, keluar masuk dari satu ruang tunggu ke ruang tunggu lainnya untuk memberitahu kapan para artis itu untuk take, semakin membuatnya sempit, ditambah beberapa artis yang juga terlihat keluar masuk, sesekali saling memberi salam itu. Membuat suasana di pagi hari yang cerah ini menjadi sedikit tidak menyenangkan bagi orang-orang itu.
Seorang cordi dari sebuah boyband terlihat sangat kewalahan dengan beberapa stel baju yang berada dalam pelukannya. Dengan susah payah ia membawa semua itu melewati kerumunan orang-orang yang menghalangi jalannya, bahkan beberapa kali ia meminta maaf karena tidak sengaja menabrak beberapa orang didepannya. Perlahan tapi pasti ia mulai mendekati ruang tunggu artisnya, membuka pintunya, masuk dan meletakkan pakaian-pakaian itu di atas meja, tepat disebelah seorang pemuda yang tengah duduk manis didepan cermin sambil memperhatikan rambutnya yang tengah ditangani oleh seorang hair stylist.
“Bajunya sudah sampai!” teriaknya pada semua orang berada di dalam ruangan itu.
Sama seperti koridor depan yang ramai, sibuk dan penuh, ruangan ini juga sibuk, sangat sibuk. Semua orang bergerak, dari mulai mencoba baju, menghafal lirik lagu, mengulang koreografi dan bergantian menata rambut.
“In Young Nuna! Apa Nuna melihat Manajer Kim?” tanya seorang pemuda sambil melirikkan matanya ke atas sedikit. Melihat seseorang lewat cermin di depannya, Seon In Young, cordi boyband nya yang tengah berjalan menuju sofa.
In Young menoleh dan menggeleng.
“Hh.” Desahnya, kecewa.
“Ada apa Tae Hyung? Kenapa dari tadi kau mencari Manajer Kim?” tanya seorang pemuda yang juga sama seperti dirinya. Memperhatikan rambut yang sedang ditangani oleh seorang hair stylist lewat cermin didepannya.
“Ada yang ingin kutanyakan kepada Manajer Kim, Henry Hyung.” Jawab Tae Hyung.
Saat Henry baru saja ingin membalas ucapan Tae Hyung, pintu itu tiba-tiba terbuka.
“Tolong semuanya dipercepat ya!” teriak seorang laki-laki awal tiga puluhan sambil menepukkan tangannya. Meminta semua pekerjaan diselesaikan secepatnya.
Sontak Tae Hyung melirikkan matanya ke kanan.
“Hoon Hyung!” panggil Tae Hyung tanpa menoleh sedikit pun. Kim Oh Hoon, manajer dari TheBoys itu terhenti dan menoleh. Perlahan berjalan ke arah Tae Hyung.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
Kim Oh Hoon terdiam sejenak dan mengangguk-angguk pelan.
“Baiklah. Tapi setelah kau selesai dengan rambutmu.” Jawabnya singkat sambil menepuk bahu Tae Hyung pelan dan tersenyum.
**
‘Kurasa tidak ada yang mengenaliku.’ Batin Hye Rim sembari terus berlari kecil menyusuri jalan yang berada di taman sungai Han. Sesekali ia membuka sedikit hoodie nya dan memperhatikan sekitarnya yang juga dipenuhi oleh beberapa orang yang sedang berolahraga, sama seperti dirinya.
Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar pagi dengan sedikit leluasa
“Hye Rim-ah!”
Sontak ia memelankan larinya. Sepertinya ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ditolehkannya kepalanya, ke kanan dan ke kiri. Aneh, tidak ada seorang pun yang sedang menatapnya sekarang.
“Han Hye Rim!”
Kini ia berhenti. Ia yakin, seseorang baru saja memanggil namanya. Diputarkannya sekali lagi pandangannya ke seluruh taman ini. Dan akhirnya matanya terhenti pada dua orang pemuda yang tengah berjalan mendekatinya. Hye Rim menyipitkan matanya, melihat dua orang yang sama dengan dirinya. Seperti sedang menyamarkan wajahnya di balik hoodie masing-masing.
“Itu-,”
**
“Kenapa kalian bisa ada disini? Tidak ada schedule?” tanya Hye Rim sambil menerima satu cup kopi hangat yang diberikan oleh Seun Ho didepannya, meniupnya perlahan dan kemudian meminumnya.
Seun Ho menggeleng dan duduk disebelah Hye Rim, sedangkan Tae Min mengangguk dan kemudian meneguk kopi hangatnya perlahan.
“Jadi, Seun Ho-yah, kau membawa temanmu yang sibuk ini untuk meninggalkan kewajibannya?” tanya Hye Rim sambil menatap Seun Ho. Seun Ho menggeleng sambil perlahan meneguk kopinya. Matanya kemudian melirik Tae Min.
“Bukan sekarang Hye Rim, nanti jam sebelas.” Sahut Tae Min.
“Mmm..” Hye Rim mengangguk-angguk sambil menatap ke bawah.
“Tapi,” tiba-tiba ia mengangkat wajahnya. “Apa kita, eh maksudku, aku tidak apa-apa duduk disini bersama kalian berdua?” tanya Hye Rim sambil matanya mengawasi sekitar. Mencari seseorang atau mungkin kumpulan orang yang sedang memata-matai mereka bertiga.
“Hei, kenapa kau yang lebih khawatir dari kami?” kata Seun Ho sambil menyenggol siku Hye Rim pelan.
“Kalau kami tahu ini tidak boleh, kami tidak akan melakukannya. Kau ini.” Lanjutnya sambil kemudian meminum kopinya. Tiba-tiba handphone Seun Ho berbunyi. Sontak Seun Ho menghentikan aktifitasnya, ia langsung mengambil handphone nya dari saku jaketnya dan berdiri.
“Sebentar.” Katanya sambil menunjuk ke sebuah tempat yang tidak jauh dari mereka dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Hye Rim dan Tae Min.
__ADS_1
Sepeninggal Seun Ho yang kini sedang berbicara dengan seseorang lewat telfon, suasana diantara kedua remaja itu sedikit demi sedikit mulai menjadi aneh. Mereka terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Mereka hanya menunduk sambil mengusap cangkir kopi masing-masing yang masih hangat.
“Astaga!” pekik Hye Rim tiba-tiba. Memecah kesunyian.
Tae Min terkejut. Ia langsung mengangkat wajahnya dan seekor belalang yang cukup besar kini telah berdiri di atas pergelangan tangan kanan Hye Rim.
“Diam.” Kata Tae Min sambil berusaha mengusir belalang itu pergi dengan tangannya. Tapi sayangnya belalang itu kini malah berpindah ke kepala Hye Rim. Sekali lagi Tae Min mengibaskan tangannya dan lagi-lagi beruang itu berpindah tempat, kini di lengan kiri Hye Rim.
“Tetap tenang, aku akan mengambilnya.” Bisik Tae Min sambil menggeser badannya ke kiri, lebih mendekat ke Hye Rim. Tubuhnya merapat, perlahan ia memajukan badannya sedikit dan mengangkat tangan kanannya melewati Hye Rim. Hye Rim terdiam. Matanya masih tertutup rapat. Samar-samar ia merasakan nafas Tae Min mengenai kulit wajahnya. Kini perasaannya berubah, rasa takutnya terhadap belalang itu kini tergantikan oleh detak jantungnya yang mulai tidak karuan.
‘Ini-, kenapa sedekat ini?’ batinnya sambil terus menutup matanya.
Perlahan tapi pasti tangan Tae Min mendekat ke belalang yang sedang menggerak-nggerakkan antenanya itu dan hap! ia menangkapnya.
“Ini-,”
Tae Min terhenti sejenak. Kini jarak antara wajahnya dan wajah Hye Rim mungkin kurang dari lima belas senti. Sangat dekat. Tanpa sadar ia masih menggenggam belalang itu sambil mengamati wajah gadis manis di depannya ini dengan dalam.
Kau cantik Hye Rim. Sangat cantik.
Jantungnya berdebar kencang. Belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Walaupun beberapa kali ia pernah di rumorkan dekat dengan seorang gadis tapi tidak ada satupun di antara mereka yang mampu membuat perasaannya menjadi seperti ini.
“Kalian sedang apa?” tanya Seun Ho tiba-tiba.
Sontak Hye Rim membuka matanya dan ia sangat terkejut melihat wajah Tae Min berada tepat di depan wajahnya. Walaupun hanya sedetik, karena setelah itu Tae Min langsung berdiri dan menatap Seun Ho sambil tersenyum canggung.
“Eoh? Ini-, karena ini. Belalang.”
**
“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku karena baru bisa menemuimu sekarang.” Ucap Joo Won sambil bersandar pada pegangan yang terdapat di jembatan kayu itu dan memandang gadis dibawahnya. Satu-satunya jembatan kayu yang berada di atas kolam kecil yang dikelilingi taman hijau dengan bunga-bunga yang bermekaran dibawahnya. Gadis yang berdiri dibawah jembatan itu tersenyum dan mengangguk. Matanya kemudian terpusat pada sekumpulan bunga mawar putih yang tengah bermekaran indah.
“Aku serius. Katakan saja. Han Hye Rim.”
Hye Rim menoleh dan menggeleng. Tersenyum menatap Joo Won.
Hye Rim mengangguk mantap dan tetap tersenyum.
“Tapi sepertinya kau tidak mengkhawatirkanku.” Ucapnya tiba-tiba. Hye Rim sedikit terkejut. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Joo Won.
“Aku kecewa.” Lanjutnya sambil menundukkan wajahnya.
“Em, itu-,” Hye Rim mencoba mengatakan sesuatu.
“Tapi baiklah aku akan menceritakannya walaupun kau tidak menanyakannya.”
Hye Rim terdiam. Ia ingin berkomentar tentang ini tapi mungkin Joo Won akan menyelanya lagi, jadi lebih baik ia diam dan mendengarkan saja.
“Anehnya aku baik-baik saja.” Kata Joo Won sambil tersenyum.
Anehnya?
“Mungkin presdir manajemenku sudah terbiasa dengan skandal-skandal itu. Ia tidak terlalu menanggapinya, bahkan ia mengajakku makan malam di hari berita itu muncul. Anehkan? Tapi karena berita baik itu kau tidak perlu mengkhawatirkanku.” Kata pemuda itu sambil menatap Hye Rim dalam. Hye Rim sontak mengalihkan pandangannya dari tatapan dalam Joo Won. Perasaannya selalu aneh jika pemuda itu menatapnya seperti itu.
“Tidak ada komentar?” tanya Joo Won. Hye Rim terdiam. Bingung apa yang harus dikatakannya sekarang. Perasaan gugup mulai merasuki hati dan pikirannya. Dan ia tidak suka dengan perasaan seperti ini, perasaan yang membuatnya mulai tidak nyaman dengan orang yang sedang diajaknya berbicara kini.
“Kalau begitu kesinilah.”
Hye Rim menoleh dan menatap Joo Won dengan penuh tanda tanya. Joo Won hanya tersenyum sambil mengangguk dan melambaikan tangannya, menyuruh gadis itu untuk mendatanginya. Perlahan Hye Rim berjalan menaiki jembatan itu dan berdiri tepat di hadapan Joo Won. Dengan usaha yang tidak mudah ia berhasil men-stabil-kan perasaannya walaupun matanya masih menatap jembatan kayu di bawahnya.
“Aku mendapatkan ini dari penggemarku di Indonesia. “ Katanya sambil mengambil satu buah gelang kayu dari dalam saku jasnya. Pendirian Hye Rim mulai goyah. Rencananya ia akan terus menundukkan kepalanya sampai pemuda itu menyelesaikan pembicaraannya tapi karena tiba-tiba Joo Won mengeluarkan satu barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya, ia ingin sekali mengangkat wajahnya untuk melihat benda itu.
“Maaf.” Kata Joo Won sambil meraih tangan kanan Hye Rim. Sontak Hye Rim terkejut. Ia langsung mengangkat wajahnya.
“Pertahankan seperti itu.” Pinta Joo Won sambil melepas tangan Hye Rim dan mulai memaikaikan gelang itu ke tangan Hye Rim. Hye Rim terdiam sambil terus memperhatikan satu gelang sederhana yang terlihat sangat cantik itu. Perlahan pandangannya mulai beralih pada pemuda yang tengah fokus memakaikan gelang, pemuda yang tengah tersenyum itu. Dan tanpa disadarinya, sebuah sunggingan tipis di bibirnya mulai terbentuk, ia tersenyum.
“Ah, ada yang ingin kutanyakan.” Kata Joo Won yang masih sibuk dengan gelang itu. Hye Rim terperanjat. Senyum itu pun menghilang dari bibir Hye Rim.
__ADS_1
“Tapi kau harus menjawabnya dengan jujur.” Lanjutnya sambil menatap Hye Rim.
Hye Rim mengangguk dan tersenyum canggung.
“Kalau berita tentang skandal itu benar. Kalau aku memang menyukaimu dan kalau semua orang menyetujuinya,,” Joo Won memotong kalimatnya sambil mengangkat wajahnya dan menatap Hye Rim dalam. Ia sudah selesai dengan gelang itu.
“Apa kau mau menjadi kekasihku? Yeojachingu .”
**
Suara nada dering smartphone nya yang tiba-tiba dan sangat keras itu sontak memecah lamunannya dan memancing perhatian empat belas orang yang ada di kelas. Ya, hari ini sekolah menjadi seperti kursus, dari tiga puluh murid yang seharusnya mengisi kelas hanya empat belas orang yang datang. Dua puluh tujuh lainnya tengah sibuk dengan satu konser besar yang tengah diadakan di pusat Seoul, para idola itu.
Ia langsung mengalihkan tatapannya dari gelang yang terpasang manis di tangan kanannya dan membuka flip cover smartphone nya.
Unknown Number
‘Ahh, harusnya aku mengganti nada deringku.’ Gumamnya sambil melangkah pergi meninggalkan kelas. Tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan Se Na yang tengah menatapnya dengan dalam. Sekilas ia tersenyum dan pergi. Ia tahu akhir-akhir ini Se Na berubah sejak kejadian itu dan sepertinya Se Na juga mulai menjauhinya, tapi apa salahnya tersenyum? Walaupun nyatanya Se Na tidak membalasnya.
Hye Rim terus berjalan dan berhenti pada sebuah deretan kursi berwarna-warni yang terletak di sebuah koridor. Koridor panjang yang dikelilingi oleh jendela kaca besar dan satu sebuah lukisan abstrak yang cukup besar. Tepat di satu-satunya dinding yang terdapat di sisi kanan koridor itu. Tangannya membuka flip cover handphonenya dan menjawabnya.
“Kenapa?” tanya Hye Rim sambil duduk di kursi hijau sambil menatap luar.
“Kenapa nadamu seperti itu?”
Hye Rim terdiam.
“Oke, aku tidak mempunyai waktu yang banyak. Ramai sekali disini. Jadi dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya.”
Sepertinya pemuda itu tengah berada di sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang sibuk. Ramai sekali disana.
“Nanti ketika jam pulang, tunggulah di lobi. Jangan pulang dulu. Ada seseorang yang akan menjemputmu dan Se Na. Ah! Tolong beritahu Se Na juga.”
“Tidak bisakah kau memberitahu Se Na sendiri?”
Mana mungkin aku berbicara padanya pada saat seperti ini?
Tidak ada sahutan.
“Halo? Halo? Tae Hyung-ah? Kim Tae Hyung?” panggil Hye Rim sambil sesekali melihat layar smartphone nya. Masih tersambung tapi?
“Yaa,, aku tahu kau masih berada disana. Tae Hyung-ah, Kim-,“
TUT,,TUT,,TUT
Hye Rim melihat layar smartphone nya dan benar saja sambungannya telah terputus. Ia mendesah sambil berdiri dan berjalan kembali menuju kelas.
Bagaimana caraku mengatakannya pada Se Na?
**
“Tae Hyung-ah, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?” tanya J.E sembari duduk di sebelah Tae Hyung yang masih tertawa geli menatap layar handphonenya.
Tae Hyung menggeleng sambil tersenyum.
“Kulihat, sejak kau masuk ke sekolah barumu itu, kau terlihat lebih semangat. Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia disana?” tanya Dae Ho sambil menoleh ke kedua pemuda yang duduk disebelahnya. Sesekali ia menutup matanya, cordi nya tengah memperbaiki make upnya sekarang.
Tae Hyung melirik Dae Ho dan J.E sambil tersenyum misterius.
“Ada. Aku yakin.” Timpal J.E sambil terus menatap Maknaenya itu dalam.
“Yeoja ??”
Sekali lagi Tae Hyung hanya tersenyum sembari mengedikkan bahunya sedikit.
***
__ADS_1