Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 7 – Sarangeun,, - ‘Slowly, Step by Step and Surely’


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Hye Rim sambil melihat Se Na yang tengah menutup matanya dan menghirup udara segar disekitarnya. Disekitar tempat duduk mereka. Gadis itu mulai membuka matanya dan kembali menatap Hye Rim sambil tersenyum.


“Mm, ada yang ingin kukatakan kepadamu,” katanya, ragu-ragu. “Ah bukan! aku ingin kau membantuku.” Lanjutnya tiba-tiba.


‘Membantu? Tentang apa? Kurasa bukan karena pelajaran.’ Batin Hye Rim bingung. Sepertinya memang bukan karena pelajaran, Se Na peringkat pertama di kelasnya dan ia hanya peringkat ketiga.


Se Na terdiam dan matanya melihat kebawah. Ia tampak ragu-ragu, sesekali ia melirik Hye Rim yang sedang menatapnya, menunggu apa yang akan dikatakan Se Na, tapi Se Na masih saja diam. “Ada apa? Katakanlah, mungkin aku bisa membantumu.” Pinta Hye Rim. Se Na mengangkat kepalanya dan menatap Hye Rim.


“Bukan mungkin tapi, kau memang bisa membantuku sekarang.” Katanya yang membuat Hye Rim mengernyitkan dahinya, bingung.


“Mm, kulihat akhir-akhir ini kau dekat dengan Tae Hyung.” Ucap Se Na tiba-tiba.


Hye Rim sontak terkejut. Tae Hyung? Ahh


“Kami tidak sedekat itu,”


“Tidak, kalian memang dekat. Bahkan sering kulihat Tae Hyung menatapmu.” Bantah Se Na cepat. Kini ganti Hye Rim yang pandangannya hanya bisa ia arahkan ke bawah, memikirkan apa tengah dimaksud Se Na sekarang.


“Kali ini aku memintamu untuk membuat kami dekat. Sedikit klise memang, tapi aku menginginkan itu. ” Ucap Se Na akhirnya. Hye Rim sontak terkejut dan perlahan menatap Se Na yang sedang tersenyum penuh harap kepada dirinya. Tiba-tiba saja Se Na meraih kedua tangannya dan menggenggamnya, erat.


“Kumohon, aku tahu ini sedikit memalukan tapi, sebenarnya aku telah menyukainya sejak pertama kali ia debut dan akhirnya aku masuk ke sekolah ini.” Kata Se Na sembari menatap tepat ke kedua mata Hye Rim dengan penuh harapan dan terus menggenggam tangan gadis yang juga tengah menatapnya itu.


Hye Rim terdiam kaku. Satu pernyataan bahwa Se Na menyukai pemuda yang sempat ia sukai, sangat ia sukai itu seakan telah membuat dunia sekitarnya terhenti, otaknya tidak bisa berpikir dengan benar dan nafasnya sedikit sesak. Ia tidak tahu kenapa ia bisa merasakan hal ini, bukankah ia sudah melupakannya dan beralih ke bintang lain? Tae Hyung hanyalah seorang bintang bersinar yang kini sudah tidak ada dunianya lagi, jadi seharusnya ia tidak boleh bersikap seperti ini.


“Bagaimana?”


**


Hye Rim menelusuri salah satu trotoar di daechi-dong dengan langkah yang sedikit gontai. Pikirannya dari tadi berkecamuk, haruskah ia menolong Se Na? atau tidak?


Jujur saja, ketika ia mendengar pernyataan cinta Se Na yang secara tidak langsung tiga jam yang lalu, ia terkejut, sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau teman perempuan yang selalu berada di sisinya ketika ketiga pemuda itu berkumpul ternyata telah menyukai seseorang dari mereka, ketiga pemuda itu. Tapi, kenapa harus pemuda itu? tidak bisakah Se Na menyukai pemuda lain?


“Kumohon jangan berpikir seperti  ini Han Hye Rim.” Gumamnya pelan sambil menepuk-nepuk pipinya, pelan. Dihentikannya langkah kakinya yang berat itu dan perlahan ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus menatap jalan di bawahnya, diedarkannya pandangannya dan sontak pandangannya terhenti pada satu videotron besar yang sedang menayangkan iklan salah satu produk kecantikan yang terkenal di negeri ginseng itu.


“Kenapa kau selalu ada dimanapun aku berada?” gumamnya sambil menatap lekat-lekat pemuda yang tengah bernyanyi sambil memegang satu krim kecantikan itu. Tak lama kemudian ia pun melangkah meninggalkan tempat itu, meninggalkan Tae Hyung yang sedang tersenyum di dalam videotron itu dan meninggalkan satu berita penting yang tiba-tiba tayang setelah iklan Tae Hyung selesai.


**


“Tae Hyung-ah!” seorang pemuda tiba-tiba saja muncul dan duduk di depan Tae Hyung. Sontak Tae Hyung terkejut dan langsung menatap pemuda itu, pemuda yang telah mengalihkannya  keramaian di bawah.


“Kau sedang apa?” tanya pemuda itu sambil mengikuti pandangan Tae Hyung dan memperhatikan jalanan dibawah yang cukup padat. Tae Hyung menggeleng. Perlahan ia mengambil segelas air putih dan meminumnya.


“Tidak ada Baek Hyun Hyung.”


“Tidak ada yang kupikirkan Hyung.” Katanya sekali lagi, mencoba untuk menghilangkan ekspresi curiga dan kebingungan yang tergambar di wajah pemuda 23 tahun didepannya.


“Hyung tidak ikut memesan seperti yang lain?” tanyanya sambil melempar pandangannya ke sekumpulan pemuda yang tengah berdiri di depan service desk, sibuk memilih menu apa yang harus ia masukkan ke lambung mereka malam ini.


Baek Hyun menggeleng sambil meraih satu komik yang memang disediakan oleh restoran tersebut di setiap mejanya, membukanya dan sekilas membacanya. “Aku nanti saja. Kau sendiri?” tanyanya sambil terus melihat isi komik itu.


“Sudah, Henry Hyung sudah memesankanku.”


Baek Hyun hanya mengangguk sambil terus membolak-balik halaman komik yang sedang dipegangnya sekarang. Tae Hyung  kembali terdiam, untuk sekali lagi ia memikirkannya, memikirkan seseorang yang telah membuat otaknya harus berpikir beberapa kali setiap ia melihat atau bertemu orang itu. Apa yang seharusnya ia katakan dan ia perbuat didepan orang itu. Seseorang yang membuatnya selalu merasa gugup setiap ia berada di samping orang itu, melebihi gugup yang sering dirasakannya ketika ia berada di panggung.


Sejujurnya, ini cukup membuatnya pusing.


Dengan Baek Hyun yang masih fokus dengan komiknya, Tae Hyung kembali melemparkan pandangannya ke bawah lewat jendela besar yang berada di sebelah kanannya. Dari lantai dua ini semuanya terlihat jelas, jalanan yang dipenuhi dengan mobil, trotoar yang dipenuhi para pekerja yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju rumah masing-masing, beberapa kekasih yang tengah bahagia di bawah siraman hangat sinar rembulan malam dan beberapa siswa yang sedang berlari menuju halte bis yang terletak di seberang restoran ini. Ia bisa melihat semuanya, termasuk kumpulan orang yang tengah keluar dari bis yang baru saja tiba di halte itu.


“Eoh!” sedikit ia terkejut melihat seseorang yang keluar dari bis itu.


Perlahan ia mulai menggeserkan badannya ke kanan. Lebih mendekat ke jendela besar itu, matanya sesekali mengawasi Baek Hyun yang masih terdiam membaca komik itu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Sepertinya ini aman, pikirnya. Dengan terus sesekali melihat  Baek Hyun ia terus menggeser badannya mendekati kaca itu, tubuhnya mulai mendapat posisi yang sempurna sekarang. Tepat berada bahkan tubuhnya sedikit menempel kaca, posisinya yang sangat tepat untuk mengamati seseorang yang tengah berjalan dengan sedikit lemas itu.


Perlahan ia mulai melempar pandangannya ke bawah.


“Tae Hyung!”


Sontak Tae Hyung  terkejut. Baru saja ia ingin melihat kemana orang itu akan pergi, seorang pemuda kini tengah berdiri di samping mejanya sambil menggenggam satu buah tablet besar berwarna merah di tangan kirinya. Dengan tergesa-gesa ia mulai menegakkan badannya kembali, dan tersenyum ke arah pemuda itu. Mencoba bersikap biasa.


“Eoh-, Hyun Joon Hyung!” kata Baek Hyun sambil menutup dan meletakkan kembali komik yang sedari tadi dipegangnya. Perlahan ia mulai menggeser badannya, memberi tempat kepada salah satu member tertua di boyband mereka.


“Eoh? Kenapa kau sudah duduk disitu?” pandangannya kini teralih pada Tae Hyung yang baru saja ingin mencoba menggeser badannya kembali. Kembali ke posisi semula.


“Kurasa, lima menit yang lalu kau masih di depanku tapi kenapa tiba-tiba kau sudah ada di samping jendela itu?” tanyanya lagi. Tae Hyung terdiam. Berulang kali ia melihat Baek Hyun dan  Hyun Joon secara bergantian. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang sekarang.


“Eh? Aku, aku hanya ingin melihat apa yang ada dibawah.” Jawabnya sembari tersenyum ke kedua Hyungnya itu. Baek Hyun masih terdiam sambil terus mengamatinya dengan dalam, sesekali ia menggelengkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya. Tae Hyung masih saja tersenyum sambil berusaha mengendalikan jantung dan ekspresinya karena sepertinya sekarang, insting tajam salah satu Hyung nya itu mulai aktif, insting yang dapat menguak semua rahasia yang bahkan tidak ada orang yang memberitahunya.


“Kau-, kurasa ada yang aneh dengan dirimu sekarang, Kim Tae Hyungg.” Kata Baek Hyun sambil menyipitkan matanya dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Tae Hyung. Tae Hyung sedikit tersentak. Kini ia hanya bisa terdiam.


“Kau-,”


“Hei lihatlah ini, bukankah ini temanmu?” seru Hyun Joon tiba-tiba.Dengan kedua jarinya ia mulai memperbesar foto yang terdapat di dalam artikel yang tidak sengaja di bukanya sekarang. Sontak Baek Hyun menghentikan ‘penyelidikannya’, tatapannya kini beralih ke pemuda yang duduk tepat disebelahnya. Pemuda yang masih fokus dengan apa yang dibacanya sekarang.


“Temanku Hyung?” tanya Baek Hyun sambil menggeser badannya mendekati Hyun Joon. Mencoba melihat siapa teman yang sedang dimaksudkan Hyun Joon sekarang.

__ADS_1


“Bukan kau tapi Tae Hyung.” Jawab Hyun Joon sambil perlahan menyerahkan tablet itu ke Tae Hyung. Tae Hyung menerima tablet itu dengan pikiran yang sedikit bingung. Perlahan ia mulai membaca artikel yang telah membuatnya kehilangan kesempatan mengamati ‘orang itu’.


Eoh? kenapa ia bisa ada disini?


“Itu temanmu kan?”


**


“Hei, kau kenapa? Apa yang kau baca sehingga harus membuatmu terpusat seperti itu pada handphone mu?” tanya Tae Min yang tiba-tiba duduk disebelah pemuda dengan smartphone putih ditangan kanannya. “Kau tidak ada schedule malam ini? Harusnya seseorang yang baru saja debut seperti kau ini akan sangat sibuk di awal debutnya.” Tanyanya lagi.


“Atau paling tidak, kalau kau memang tidak memiliki schedule malam ini, tidakkah kau harus melatih dance atau suaramu? Baru saja kulihat Sang Hyuk sedang sibuk di ruang piano sebelah. Tapi kenapa kau-,”


“Ssst.” Seketika Tae Min terdiam. Jari telunjuk Seun Ho kini telah menempel di bibirnya. “Aku sedang menyelidiki sesuatu sekarang.” Katanya sambil mengambil kembali jarinya dan menggeser touch screen itu. Tae Min mengernyitkan dahinya.


Menyelidiki sesuatu?


Langsung saja Tae Min menggeser badannya dan melongokkan kepalanya ke smartphone Seun Ho, mengecek siapa atau apa yang tengah diselidiki oleh Seun Ho sekarang, karena jarang sekali ia melihat temannya yang satu ini bisa fokus dalam satu hal seperti ini. Jadi ini pastilah sesuatu yang penting.


“Eoh? Bukankah itu Joo Won Sunbae? Kau penasaran dengan Joo Won Sunbae?”


Seun Ho menggelengkan kepalanya dan menunjukkan telunjuknya pada foto gadis yang terhalanng oleh badan Joo Won, gadis yang tengah membawa payung transparan, tepat di sebelah mobil.


“Sepertinya aku pernah melihat sepatu dan tas itu sebelumnya.” Gumam Seun Ho.


Tae Min memperhatikan foto itu dengan lamat-lamat, konsentrasinya kini tertuju pada satu foto yang membuat teman yang selalu heboh itu menjadi terdiam sekarang. Tangan Tae Min mulai menyentuh foto itu dan membesarkannya.


“Eoh? Bukankah ini Hye Rim?” sontak Tae Min terkejut melihat siapa gadis yang sebenarnya berada dalam artikel skandal terbaru dan terpanas minggu ini. Seun Ho seketika terkejut, dialihkannya kedua bola matanya ke Tae Min, melihat apa temannya ini sedang serius atau tidak. Tapi sepertinya iya, mata Tae Min kini terpusat pada foto itu.


“Tapi kenapa Hye Rim bisa ada disini? Maksudku, kenapa ia bisa bersama dengan Joo Won Sunbae?” gumam Tae Min sambil terus memikirkan kemungkinan lain, kemungkinan bahwa ada perempuan lain yang mungkin saja bersama dengan Joo Won pada waktu itu, bukan Hye Rim. Tapi sayangnya, semakin ia perhatikan, semakin ia yakin kalau perempuan yang berada dalam artikel itu adalah Hye Rim. Ia mengenal tas dan sepatu itu. Sangat.


Sontak ia langsung mengambil smartphone nya dari dalam saku celananya dan menekan angka satu pada panggilan cepat. Reflek ia berdiri dan kakinya tidak bisa diam. Ia terus berjalan kesana dan kemari. Ia sangat cemas sekarang.


“Ayo Hye Rim, angkatlah, kumohon.” Gumamnya sambil sesekali melihat artikel itu. Artikel yang mulai dipenuhi oleh komentar-komentar negatif yang ditujukan untuk perempuan yang tengah bersama dengan aktor muda berbakat.


“Halo! Kau dimana sekarang? Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terjadi padamu kan?” serbu Tae Min dengan setumpuk pertanyaan yang sudah mengendap di otaknya yang mungkin akan segera membusuk sekarang.


“Hei, pelan-pelan. Aku bahkan belum sempat mengatakan halo.”


“Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Maksudku, kau dimana sekarang? Ah! Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sambil terus berjalan kesana dan kemari tanpa memperhatikan Seun Ho yang tengah mengamatinya dengan bingung dan heran.


“Yaa, kurasa kau yang tidak sedang baik sekarang. Bisakah kau menanyakannya satu persatu Lee Tae Min?”


“Maaf, mm, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau, baik-baik saja kan?”


“Jawab saja. Apa kau baik-baik saja sekarang?” tanya Tae Min sekali lagi.


“I, iya, aku baik-baik saja sekarang. Ada yang aneh denganmu. Kau, kenapa?”


“Kau dimana sekarang?”


“Eh? Aku ada di persimpanga-, eoh! Tae Min-ah, nanti kuhubungi lagi, ada telfon masuk sekarang. Maaf.”


Tae Min sontak terkejut. Gadis itu langsung memutus sambungan telefon begitu saja tanpa menunggunya mengatakan sesuatu. Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi gadis itu tapi tetap saja saluran sibuk yang ia terima. Dilemparkannya tubuhnya ke sofa putih dan duduk disebelah Seun Ho yang hanya bisa terdiam melihat tingkah temannya yang tidak seperti biasanya.


“Kenapa?” tanya Seun Ho sambil menatap lamat-lamat pemuda disebelahnya yang masih terus memandangi  smatrphonenya itu.


“Kurasa ia masih belum tahu. Bahkan setelah aku menanyakan keadaannya.” Jawabnya lemas. Disandarkan kepalanya ke sofa itu dan perlahan mentup matanya.


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Bahaya jika seseorang dapat mengenalinya di jalanan. Hhh, lagi pula siapa yang menelfonnya sekarang? Tepat sebelum aku menjelaskan semuanya.” Gumam Tae Min sambil terus memejamkan matanya, mencari satu solusi untuk menangani ini semua.


“Tae Min-ah. Kau menyukainya?” tanya Seun Ho tiba-tiba.


Sontak Tae Min membuka matanya dan menegakkan badannya. Menatap kedua mata Seun Ho yang sedang menatapanya dalam. Mata yang seperti sedang menggali sesuatu tentang apa yang baru saja ditanyakannya.


“Kau-, menyukainya kan? Han Hye Rim.”


*


“Jawab saja. Apa kau baik-baik saja sekarang?”


Hye Rim tersentak. Apa yang terjadi dengan Tae Min sekarang? Kenapa pemuda itu menjadi sedikit aneh? Bahkan untuk menanyakan pertanyaan dengan baik dan benar saja tidak bisa.


“I, iya, aku baik-baik saja sekarang. Ada yang aneh denganmu. Kau, kenapa?” tanyanya sambil terus berjalan menuju persimpangan di depannya. Sedikit ia mempercepat langkahnya, melihat lampu hijau untuk pejalan kaki baru saja menyala.


“Kau dimana sekarang?”


“Eh? Aku ada di persimpanga-, eoh! Tae Min-ah, nanti kuhubungi lagi, ada telfon masuk sekarang. Maaf.” Katanya yang langsung menutup sambungannya dengan Tae Min. Dilihatnya layar smartphone nya dan satu nomor yang tidak dikenalinya tengah mencoba menghubunginya sekarang.


“Halo.”


“Hye Rim-ah, kau dimana sekarang?”


Hye Rim terkejut. Dilihatnya layar smartphone nya itu sekali lagi. Benar, aku tidak mengenal nomor ini, tapi kenapa ia sudah tahu namaku bahkan menanyakan keadaanku? Apakah nomorku sudah menyebar begitu luas sehingga semua orang yang sama sekali tidak kukenal bisa menelfonku begitu saja?

__ADS_1


“Maaf. Pasti kau terkejut sekarang. Aku Joo Won, Im Joo Won.”  Hye Rim terkejut. Untuk kedua kalinya hampir saja ia menabrak seseorang dan sekarang adalah kumpulan wanita yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


“Oh, Oppa. Ada apa?” tanyanya sambil mencoba memusatkan perhatian ke jalanan didepannya, setelah untuk sekian detik yang lalu tercuri oleh nama itu. Im Joo Won.


“Kau dimana sekarang? Kau tidak bertemu dengan orang yang aneh kan?”


Orang aneh? Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang? Kenapa semua orang menanyakan keadaannya? Pertama Tae Hyung dengan pesan yang menyuruhnya untuk melepas nametag nya, kemudian Tae Min yang menyerbunya dengan pertanyaan yang tidak beraturan dan kini, Joo Won?


“Coba lihat sekitarmu. Apa ada yang aneh dengan orang-orang disekitarmu? Atau mungkin mereka terus memperhatikanmu?” belum sempat Hye Rim mendengar alasan Joo Won menelfonnya, pemuda itu sudah menyuruhnya untuk mengecek sekitarnya. Tanpa tahu apa alasan Joo Won menyuuhnya untuk melakukan itu, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, depan, kanan, kiri dan belakang.


‘Eoh? Bukankah mereka yang turun bersamaku di halte Apgujeong?’ pikirnya setelah melihat lima orang siswi yang berjalan beberapa meter di belakangnya. “Tidak ada. Tidak ada yang aneh disini.” Jawabnya kemudian. Matanya sesekali melihat ke belakang, ke lima orang siswi yang bahkan sedang tidak melihatnya sekarang.


“Benar? tapi apa kau sudah melihat-,.”


Tut-


“Eoh?” sontak Hye Rim terkejut. Dilihatnya smartphone putih itu dan benar saja, baterainya habis.


“Aigoo, mati? Sudahlah, yang terpenting aku harus sampai di rumah secepatnya. Udara dingin ini membuat kakiku semakin tidak bisa bergerak.” Katanya sambil mempercepat langkahnya. Ia terus mengelus-elus kedua telapak tangannya dan sesekali menempelkannya ke kedua telinganya. Mencoba menghangatkan badannya yang hanya dilapisi oleh seragam sekolah, tanpa jaket ataupun sweater.


**


“Kau sedang apa Tae Hyung?” tanya seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.


Reflek Tae Hyung mematikan telefonnya.


“Eoh, Hyun Joon Hyung?”


“Kau tidak memakan makananmu? Siapa yang kau telfon? Kau terlihat cemas sekarang.” Tanya Hyun Joon sambil berjalan mendekati member termudanya. Pemuda yang sudah berada di pojok ruangan ini sejak lima menit yang lalu. Tae Hyung terdiam. Kepalanya menunduk dan sesekali ia melihat smartphone nya yang baru saja mengirimkan pesan kepada gadis itu. Tak lama kemudian, ia mengangkat kepalanya. Ia telah memutuskan sesuatu. Ditatapnya mata Hyun Joon dengan dalam.


“Mm, Hyung, bisakah kau menolongku?”


*


“Ada apa dengan mereka?” tanya Hye Rim pada dirinya sendiri. Pikirannya yang sedari tadi sudah rumit karena masalah Se Na dan Tae Hyung kini menjadi semakin rumit, setelah kedua pemuda itu menanyakan hal yang sama.


Dengan terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar atau bahkan belakang, ia berusaha untuk mencari jawaban tentang alasan apa yang membuat kedua pemuda itu khawatir pada dirinya. Ini aneh mengingat keadaannya baik-baik saja tapi tiba-tiba kedua pemuda yang berbeda menelfonnya dan menanyakan hal yang sama. Ahh, andai saja telfonnya tidak kehabisan baterai sekarang. Seketika langkahnya terhenti. Tepat di depan sebuah toko kelontong kecil. Ditolehkannya kepalannya perlahan, memperhatikan toko kelontong yang tetap sama sejak setahun yang lalu. Tidak ada yang berubah, bahkan bangku panjang itu juga masih ada disana. Seketika segurat senyuman getir tergambar di bibirnya.


Ia hanya masa lalumu Hye Rim, lagi pula kalau Hyun Woo Oppa mengetahui ini semua, bukan hanya kau yang dalam masalah. Ia juga pasti akan terseret masuk ke masalahmu.


“Permisi!”


Sontak Hye Rim tersadar. Matanya dengan awas memperhatikan lingkungan sekitarnya yang sudah sepi itu. Tidak ada siapapun disini, batinnya. Dengan santai ia langsung melenggang dari tempat itu.


“Iya! Kau! Gadis berambut panjang dengan tas merah dan sepatu putih!”


Sontak Hye Rim menghentikan langkah kakinya yang baru ia mulai. Tas merah dan sepatu putih? Sontak ia melihat tas dan sepatunya. Iya itu dirinya dan untuk sekali lagi ia mengamati sekitarnya, benar tidak ada siapapun disini. Perlahan ia membalikkan badannya. Dalam keremangan cahaya gading dari lampu jalan di sebelah kirinya ia melihat lima gadis tengah berjejer di depannya, lima sampai tujuh meter di depannya.


“Siapa kalian? Apa aku mengenal kalian?” tanyanya sambil berusaha memperhatikan satu persatu dari kelima gadis itu. Seragam mereka berbeda, pasti mereka dari sekolah lain, tapi kenapa mereka memanggilku?


Seorang gadis berambut pendek yang berdiri di tengah kelima gadis itu hanya tersenyum, sinis. Pelan tapi pasti gadis itu berjalan mendekati Hye Rim yang serentak diikuti oleh keempat gadis dibelakangnya. “Mungkin kau tidak mengenal kami, tapi, kami mengenal kau. Ya, walaupun tidak jelas, tapi kami yakin kalau itu kau. Siapa namamu?” kata gadis itu kemudian.


Hye Rim terdiam. Perasaannya mulai memperingatkan sesuatu yang membahayakannya akan terjadi sekarang. Perlahan ia mundur, mencoba menjauhi kelima gadis aneh yang berada didepannya kini.


“Kau mau kemana? Santai saja. Jangan khawatir, kami tidak akan mencelakaimu. Asal kau menjelaskan semuanya pada kami. Mm, siapa namamu?” tiba-tiba saja salah satu gadis telah berdiri dibelakangnya yang sontak menghentikan langkahnya.


“Kenapa aku harus menyebutkan namaku ketika aku bahkan tidak mengenal kalian?” jawabnya tiba-tiba. Jujur saja, sebenarnya bukan kalimat ini yang ada di dalam pikirannya sekarang, tapi kenapa ia malah berkata seperti ini?


Kelima gadis itu hanya tersenyum, sinis.


“Ternyata kau cukup berani.”


“Siapa kalian? Kalau kalian macam-macam aku akan-,”


“Apa? Menelfon polisi? Keluarga? Atau Joo Won Oppa?” sahut seorang gadis yang berada disebelahnya. Salah satu gadis yang sedang membawa satu bungkus plastik hitam yang entah apa yang ada didalamnya sekarang.


“Joo Won Oppa?” tanyanya bingung. Tangannya masih erat menggenggam tasnya.


“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu seperti itu. Itu kau kan? Seragam ini menandakan kalau kau memang satu sekolah dengan Joo Won Oppa.” Jelas satu gadis sambil memegang jas coklat Hye Rim. Reflek Hye Rim mengibaskan tangan gadis itu dan menatapnya dalam.


“ Apa maksud kalian menyerangku seperti ini?”


“Apa? Sudahlah Eonni, kita mulai saja sekarang!” sahut seorang gadis yang melengkah maju mendekati Hye Rim tapi sontak terhenti karena terhalang oleh lengan gadis lain yang sengaja menghentikannya.


“Sebentar. Tahan dulu. Tidak akan menyenangkan jika kita langsung melakukannya. Mana plastik itu.” Tahan gadis itu sambil menarik kembali tangannya dan mengambil satu buah kantong plastik hitam dari temannya. Dengan tetap tersenyum sinis gadis itu mengangkat kantong plastik itu tepat di depan wajah Hye Rim.


“Kau tahu apa isi kantong plastik ini? Kalau kau mau menjelaskannya dengan jelas dan tentu saja jika kami dapat menerima penjelasanmu itu. Kantong plastik ini tidak akan kosong.” Ucap gadis itu sambil sesekali melihat kedalam plastik itu. Hye Rim gemetar. Jantungnya berdebar kencang dan matanya mulai awas memperhatikan satu persatu gadis yang ada di depannya.


“Kalian-, apa maksud kalian?”


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2