Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 9- SCHOOL LOVE AFFAIR *Break Time - ‘The days when a cup of hot water taste like a cup of ho


__ADS_3

Hye Rim termenung. Dari tadi ia hanya menatap kosong ke luar jendela ketika Seun Ho bercerita tentang temannya yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan Hye Rim, menjadi seseorang yang tiba-tiba dibicarakan dalam semalam. Ia sama sekali tidak tertarik dengan cerita Seun Ho itu, terlalu menyeramkan, pikirnya. Bayangkan saja, hanya karena satu orang terkenal gadis yang berada dalam cerita Seun Ho telah dikirimi berbagai macam bangkai hewan kerumahnya dan akhirnya gadis itu-teman Seun Ho- tidak bisa beraktifitas diluar rumah, ia dikurung di rumah.


Hye Rim mendesah perlahan. Sebenarnya dari tadi ia memikirkan satu hal yang lebih mengkhawatirkan dari cerita Seun Ho. Kakaknya, Han Hyun Woo. Aneh sekali rasanya ketika kakaknya tidak bereaksi sama sekali pagi tadi. Padahal ia sudah menyiapkan jawaban sebelumnya jika kakaknya menanyakan hal-hal tidak terduga kepada dirinya, tapi ternyata, kakak laki-laki satu-satunya itu malah diam. Sama sekali tidak menyinggung tentang berita yang membuat para penggemar Im Joo Won ‘panas’.


“Yaa, Han Hye Rim! Handphone mu berbunyi.”


Seun Ho menepukkan tangannya tepat di depan wajah Hye Rim, menyadarkan gadis manis itu yang entah jiwanya sedang berada dimana sekarang.


Hye Rim tersentak, langsung ia mengambil handphone nya dan menjawabnya.


“Eoh? Iya, sekarang? Baiklah. Aku akan segera kesana.”


Hye Rim memasukkan handphone nya ke saku jas seragamnya dan berdiri.


“Kau mau kemana?” tanya Seun Ho yang langsung menghentikan ceritanya.


“Hm? Eh, aku keluar dulu. Ada urusan mendadak.” Jawab Hye Rim sembari berjalan meninggalkan kedua pemuda yang hanya diam dan termangu.


“Hye Rim mau kemana? Bertemu Joo Won Sunbae?” tanya Tae Hyung yang matanya tidak terlepas dari Hye Rim yang terus melangkah dan menghilang di balik pintu.


“Kurasa bukan. Kudengar Joo Won Sunbae tidak masuk hari ini. Ia masih berada di Indonesia, menyelesaikan konsernya.” Jawab Seun Ho sambil melihat jam dinding sekilas.


“Sudah jam delapan, tapi kenapa pelajaran belum dimulai?” gumamnya.


Tae Hyung terdiam. Sebenarnya dari tadi ia juga sama seperti Hye Rim. Sama sekali tidak memperhatikan cerita Seun Ho sepenuhnya. Pemuda itu terus memandang Hye Rim dengan berbagai macam pertanyaan di pikirannya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada gadis itu tapi sayangnya pandangan kosong gadis itu yang terus mengarah keluar menandakan bahwa gadis itu sepertinya juga tengah memiliki pikiran yang banyak. Ia akhirnya memutuskan untuk diam dan tetap memandang gadis itu. Tapi, jika waktunya tiba, ia akan segera menanyakan satu pertanyaan terpenting dari beberapa pertanyaan yang terus muncul di pikirannya.


Tentang toko kelontong kecil yang tidak sengaja di lewatinya sabtu malam kemarin.


*


“Ada apa? Kenapa kau tidak langsung bertanya saja di kelas tadi?”


Hye Rim berjalan mendekali seorang gadis berambut coklat almond yang tengah berdiri membelakanginya dan memegang selembar foto di tangan kanannya.


Gadis itu membalikkan badannya dan menyerahkan satu lembar foto itu.


“Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau sudah berjanji untuk membantuku?”


Hye Rim terkejut melihat apa yang tergambar dalam selembar kertas foto itu. Tidak salah lagi, itu dirinya dan Tae Hyung ketika pemuda itu mencoba menyelamatkannya. Seketika ingatan tentang apa yang terjadi sabtu malam lalu menyeruak di pikirannya.


“Jawab Hye Rim.” Kata Se Na sambil mengambil kembali foto itu dari Hye Rim.


Hye Rim mengangkat kepalanya. Dengan jantung yang masih berdetak kencang ia mencoba menatap Se Na yang terlihat sangat penasaran di depannya.


“Ini semua ada alasannya.” Jawabnya kemudian.


“Tapi sebelumnya, dari mana kau dapatkan foto itu?” tanyanya sambil berusaha menyunggingkan bibirnya, tersenyum samar-samar.


Sekilas Se Na tersenyum tipis dan kembali menatap Hye Rim, tajam.


“Ceritanya panjang, tapi intinya, hanya karena foto ini perusahaan ayahku hampir kehilangan sepuluh juta won.” Kata Se Na sambil mengangkat foto itu.


Perusahaan ayah Se Na?


“Tapi untungnya, Tae Hyung dan Kang Dae Oppa datang untuk menghibur mereka, dua gadis itu. Ahh! Aku tadi tidak memberitahumu tentang siapa yang membawa foto itu ya? Ada dua gadis yang kurasa berumuran sama dengan kita datang dan langsung memaksa untuk bertemu ayahku. Mereka mengancam akan menjual foto ini kepada para wartawan skandal jika kami tidak menuruti kemauan mereka.”


Se Na terhenti. Matanya tetap menatap Hye Rim yang masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya sekarang. Benar, semua yang diramalkannya sabtu malam kemarin telah benar-benar terjadi sekarang. Dua gadis yang mengikuti Tae Hyung itu.


“Kurasa, kau tidak perlu khawatir. Itu tidak sengaja. Ada hal yang terjadi pada malam itu dan aku juga tidak tahu kalau pemuda yang menyelamatkanku malam itu adalah Tae Hyung.” Jelas Hye Rim.


“Tapi karena ketidak tahuanmu itu, Tae Hyung berada dalam masalah!” bentak Se Na tiba-tiba. Sontak Hye Rim membelalakkan matanya, ia tidak tahu bahwa Se Na akan membentak dirinya seperti ini. Perlahan ia melangkah mundur.


“Se Na-yah,”


“Ah! Sudahlah!” kata Se Na sambil mengacak-ngacak rambutnya pelan, kesal dengan apa yang baru saja ia dengar dari Hye Rim.


Hye Rim tercekat. Ingatannya langsung menayangkan kejadian sabtu malam lalu yang telah mengukir ketakutan di dalam perasaannya. Perasaan yang sama persis dengan yang ia rasakan sekarang. Se Na menatap Hye Rim sekilas dan langsung melangkah meninggalkan Hye Rim. Sengaja ia menabrak bahu kanan Hye Rim sembari melangkah. Ia kesal. Ia rasa ia tidak bisa berlama-lama dengan gadis yang telah berjanji untuk membantunya dengan pemuda yang telah ia sukai dari dua tahun yang lalu itu, jauh sebelum pemuda itu debut.


Tapi tiba-tiba langkah Se Na terhenti.


“Mulai sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu.” Katanya tanpa menoleh sedikit pun ke Hye Rim.


Hye Rim sedikit terkejut, perlahan ia membalikkan badannya.


“Karena aku sudah memutuskan akan melakukannya sendiri.” Lanjut Se Na yang kemudian pergi dari tempat itu, meninggalkan Hye Rim yang masih berdiri di tempatnya, memandangi seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa meninggalkan taman itu.


**


Ada apa ini? Kenapa restoran bisa mendadak ramai seperti ini?


Perlahan Hye Rim berjalan mendekati kerumunan murid itu, dengan hati-hati ia berjalan melewati beberapa siswa dan siswi yang menghalangi jalannya, sembari sesekali melihat ke televisi-televisi itu. Secara perlahan pula gambar seorang gadis dan seorang pria paruh baya yang terpampang di ketiga televisi LED itu terlihat.


“Maaf.” Katanya sambil memecah kerumunan dan berdiri tepat di depan salah satu televisi yang berada di tengah. Pelan ia mengangkat wajahnya dan membaca headline dari dua foto yang berada dalam artikel itu.


‘Cha Je Sang & Cha Se Na: Pasangan Ayah dan Anak yang Diramalkan akan Menguasai Dunia Hiburan Korea Selatan dengan Agensi Artisnya yang Sudah Mendunia’.


Sontak Hye Rim menutup mulutnya yang ternganga dengan tanganya. Apa ini? Ayah Se Na adalah Cha Je Sang?


Seolah masih tidak mempercayai dengan apa yang baru saja dibacanya, ia langsung menggeser badannya ke televisi pertama, ketiga, keempat dan kelima.


‘Cha Je Sang: Kami akan terus berusaha membawa dunia entertainment di Korea Selatan lebih bersinar dari pada Hollywood’.


‘Alasan Cha Se Na, Anak Semata Wayang CEO JeSang Entertainment, Cha Je Sang, Menolak untuk Bersekolah di Luar Negeri: Aku lebih mencintai Korea Selatan.’


‘Profil Anak Cha Je Sang yang Telah Lama Disembunyikan.’


‘Cha Se Na: Aku akan Segera Debut dibawah Label Ayahku.’


Hye Rim terhenti. Tepat di depan televisi terakhir yang menampilkan foto full body Se Na yang sedang tersenyum manis sambil membawa satu buket bunga mawar putih. Perlahan ia berbalik dan kembali berusaha memecah kerumunan yang masih memenuhi area depan televisi-televisi itu. Jadi kalau Cha Je Sang adalah ayah Cha Se Na, TheBoys berada di bawah naungan JeSang Entertainment, itu berarti Tae Hyung adalah anak didik ayah Se Na?


Dengan lemas ia berjalan keluar dari restoran itu. Lagi-lagi ia menundukkan kepalanya sambil terus berjalan. Pikirannya melayang ke beberapa fakta-fakta penting yang dengan bodohnya ia lewatkan begitu saja. Se Na yang selalu membicarakan kehebatan Tae Hyung didepannya, kehebatan yang bahkan para wartawan pun tidak mengetahuinya, deretan jadwal Tae Hyung yang dihafal oleh gadis itu, bagaimana Tae Hyung waktu audisi tiga tahun yang lalu, dan


“Sudah lama aku menyukai Tae Hyung,,.”.


Pengakuan cinta Se Na kepada Tae Hyung yang dikatakan gadis itu beberapa hari yang lalu.


**


“Han Hye Rim?”


Hye Rim sontak tersadar. Matanya reflek memutari sekelilingnya, memperhatikan teman-temannya yang ternyata juga tengah memperhatikan dirinya. Tapi tiba-tiba ia terhenti dan langsung melempar pandangannya setelah melihat seorang pemuda yang sangat tidak ia harapkan berada di kelas pagi ini tengah duduk didepannya.


Sekilas Seun Ho tersenyum melihat Tae Hyung yang tengah memperhatikan Hye Rim dengan dalam itu. Entah kenapa ia merasakan ada yang sedikit aneh dengan pemuda itu, satu perasaan sama ketika ia bersama dengan Tae Min dua hari yang lalu, waktu mereka baru saja mengetahui skandal besar itu.


“Ah! Aku hampir lupa. Ini.” Kata Seun Ho tiba-tiba sambil mengambil sebuah paper bag berukuran sedang dan memberikannya kepada Hye Rim.


Hye Rim mengernyitkan dahinya. Apa ini?


“Dari Tae Min, ia tidak bisa masuk hari ini, ada pemotretan yang harus ia lakukan di Pulau Jeju.” Lanjut Seun Ho.


Hye Rim menerimanya dan membukanya. Kacamata hitam, baseball hat putih dan syal putih?


“Ia bilang ini untuk keamananmu. Saat ini bukanlah waktu yang bagus untuk kau keluar rumah begitu saja. Pasti ada banyak wartawan, paparazzi bahkan fans yang akan mengikutimu. Jadi menurut pengalaman kami, beberapa benda yang sangat membantu dalam situasi seperti ini, ya itu, benda-benda itu. Benar kan Tae Hyung?”


Tae Hyung hanya mengangguk dan tersenyum.


“Ah, seharusnya ia tidak perlu melakukan ini untukku. Oh iya! Bukankah kau ada schedule pagi ini?” tanya Hye Rim kepada Seun Ho yang mencoba baseball hat putih pemberian Tae Min.


“Eoh? Seharusnya begitu tapi, karena satu alasan PD acara itu mengundurnya sampai nanti, sekitar jam 12 siang.” Jawabnya sambil kemudian melepas topi itu dan memakaikannya pada Hye Rim.


“Omo, kau cantik. Pantas saja Joo Won Sunbae menyukaimu.” Celetuk Seun Ho.


“Yaa, Seun Ho-yah,” ucap Hye Rim perlahan sambil melepas kembali topi itu.


“Haha, maaf. Apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terjadi padamu?”


Reflek mata Hye Rim langsung beralih pada Tae Hyung dan tanpa disangka Tae Hyung juga melakukan hal yang sama. Untuk sekian detik pandangan mereka bertemu sampai akhirnya senyuman Tae Hyung yang tiba-tiba menyadarkan Hye Rim dan gadis itu langsung menolehkan kepalanya.

__ADS_1


“Ah? Tidak. Tidak ada yang terjadi.”


Kuharap,,


“Semuanya baik-baik saja.” Lanjutnya.


**


“Apa kau sudah dengar tentang Charity Showcase?” seorang siswi yang baru saja masuk langsung bergabung dalam kumpulan siswi yang sedang asyik bercengkrama.


“Charity Showcase? Ah! Kumpulan siswa terpilih yang akan menampilkan beberapa di lagu beberapa tempat berbeda itu? Seperti di rumah sakit dan panti asuhan itu?”


Gadis itu mengangguk.


“Kudengar para guru sudah menetapkan siapa saja yang terpilih untuk melaksanakan tugas mulia itu.” Lanjutnya kemudian.


Hye Rim yang sedang sibuk mengerjakan beberapa soal matematika sontak terhenti. Kepalanya seketika menoleh ke arah kumpulan gadis yang tepat berada di bangku sebelahnya. Perhatiannya kini teralih pada berita mengejutkan yang dibawa oleh salah satu temannya.


“Secepat itu?” tanya satu siswi yang langsung memajukan badannya.


Gadis pembawa berita itu mengangguk.


“Dan kalian tahu apa yang lebih mengejutkan?” tanyanya sambil memajukan badannya. “Charity Showcase akan digelar dalam satu bulan kedepan.” Bisiknya yang langsung mendapatkan berbagai macam reaksi dari teman-temannya.


“Bulan depan??”


Bulan depan?


Hye Rim masih memperhatikan kumpulan gadis itu. Ia sangat tahu apa Charity Showcase itu, satu showcase yang sangat diharapkan oleh para siswa baru untuk menunjukkan kebolehan mereka, terlebih bagi mereka yang sangat ingin menjadi seorang idol tapi masih belum menjadi seorang trainee di sebuah agensi. Karena lewat showcase ini para petinggi beberapa agensi besar di Korea Selatan dapat dipastikan akan melirik mereka dan pada akhirnya salah satu dari agensi tersebut akan merekrut mereka.


“Kudengar hanya lima siswa biasa yang akan terpilih. Sisanya ‘mereka’.”


Hye Rim sedikit terkejut, ia tahu kalau Charity Showcase memang sangat penting tapi ia tidak tahu kalau siswa yang akan menjadi partisipan dalam showcase ini hanya sesedikit itu. Mungkin sekolah memang mencari yang terbaik diantara yang terbaik di sekolah ini, padahal untuk masuk sekolah ini saja sudah sangat susah, mengingat beberapa kriteria yang harus dipenuhi dan juga dilengkapi bakat yang harus dimiliki jika ingin diterima di sekolah ini. Jadi, siapa saja yang akan terpilih nantinya pasti mereka sangat hebat.


“Para penyanyi, aktor atau artis yang memang memiliki bakat hebat dan sudah menjalani training di agensi mereka masing-masing.”


“Eoh! Jang Saem !” seru seorang siswi sambil menunjuk seorang wanita muda berusia awal tiga puluh tahun memasuki kelas itu. Serentak semua siswa dan siswi langsung berlari dan duduk di tempat masing-masing, termasuk Tae Hyung dan Se Na yang seketika menghentikan percakapannya


“Sebelum kita masuk ke pelajaran kita, ada yang harus bu guru sampaikan pada kalian.” Kata wanita itu sambil membuka laptopnya dan menyambungkannya dengan proyektor. “Kalian pasti sudah tahu apa itu Charity Showcase.”, lanjutnya sambil menyalakan laptopnya dan fokus kepada murid-murid di depannya yang terlihat menunggu dan penasaran.


“Iya!!” jawab semua murid yang ada didalam kelas itu.


“Baiklah, kalau begitu Ibu tidak perlu menjelaskannya dengan detil lagi kepada kalian.” Wanita paruh baya itu perlahan berjalan ke sebelah kiri. Bersandar pada dinding yang berada di sebelah LCD yang tengah menampilkan sebuah power point sambil membawa satu remote control yang mengatur pergerakan slide. Sesekali melihat muridnya yang terlihat serius.


“Ada apa dengan wajah kalian? Santailah sedikit.” Kata guru itu sambil tersenyum.


“Oke, kita mulai!” seru guru itu sambil menekan tombol start yang terdapat di remote control itu. Satu persatu slide bergantian menampilkan beberapa penjelasan singkat tentang sejarah Charity Showcase, visi dan misi Charity Showcase dan beberapa foto yang menggambarkan acara Charity Showcase beberapa tahun terakhir.


“Sekarang, kita  masuk ke bagian pentingnya. Primadona penjelasan Charity showcase hari ini.”Ucapnya sambil menekan tombol next dan kemudian muncul satu buah slide kosong.


‘Daftar Pengisi Acara Charity showcase 2020’


Serentak semua pasang mata terbuka lebar. Tertuju pada slide kosong dengan hanya judul yang tertulis di dalamnya yang perlahan mulai menghilang dan muncul satu slide berwarna keemasan.


“Kalian siap??” tanya guru itu sambil tersenyum ke muridnya.


Akhirnya satu persatu nama muncul di slide berwarna keemasan dengan itu. Suasana mendadak senyap. Semua perhatian terpusat pada slide itu. Semua siswa yang berada di dalam kelas itu mempunyai satu keinginan yang sama. Berharap nama mereka akan tertulis di slide itu. Termasuk Hye Rim. Dengan lamat-lamat Hye Rim menelusuri satu persatu nama yang terpampang di slide


Beberapa ekspresi mulai ditunjukkan oleh murid kelas 10-1 itu. Sedih, kecewa, terkejut, bahagia, semuanya tergambar di masing-masing wajah para murid yang tengah memperhatikan slide terakhir. Delapan dari tiga belas nama itu sudah tidak asing lagi bagi mereka, ya,  karena mereka sering mendengar bahkan melihat pemilik sang nama di televisi, tabloid dan internet. Bahkan beberapa dari delapan nama itu telah memperkenalkan budaya Korea ke luar negeri dan tentunya membuat bangga negeri ginseng tersebut. Tapi, bukan itu yang mereka permasalahkan sekarang, yang mereka sedang pikirkan sekarang adalah betapa beruntungnya kelima orang ‘biasa’ yang terpilih menjadi salah satu pengisi acara di Charity Showcase tahun ini.


Tae Hyung terkejut melihat namanya berada di urutan ketiga dari kesebelas nama itu tapi ia lebih terkejut lagi membaca satu nama yang berada di urutan kesepuluh. Nama yang selalu mengisi pikirannya akhir-akhir ini. Sekilas ia melihat ke pemilik nama itu dan tersenyum.


“Baiklah. Ini adalah daftar nama dari murid baru yang akan berpartisipasi dalam Charity Showcase tahun ini. Bagi yang belum terpilih, bukan berarti kemampuan kalian tidak hebat hanya saja kalian masih harus berusaha untuk menyamai bahkan melebihi kemampuan teman-teman kalian yang terpilih, jadi tidak perlu bersedih. Lagi pula masih ada tahun depan dan beberapa kontes dan showcase yang akan kami adakan. Kalian masih memiliki kesempatan lain.” Kata guru itu sambil menatap sebagian besar muridnya yang terlihat kecewa dan kemudian menutup laptopnya.


“Dan bagi yang terpilih, ibu ucapkan selamat tapi, kalian tidak boleh berbangga hati dulu. Ini memang acara besar yang akan diliput oleh beberapa stasiun televisi di Korea Selatan dan beberapa dari luar negeri tapi, ini bukanlah sebuah titik puncak yang bisa kalian banggakan. Kalian boleh bahagia telah mengalahkan murid lainnya tapi kalian juga harus ingat bahwa acara ini bukanlah acara yang dapat kalian sepelekan, sebuah amanat yang besar akan kami letakkan di pundak kalian untuk menjadikan acara ini lebih, lebih dan lebih baik dari tahun kemarin. Yang kalian butuhkan adalah niat yang murni, usaha yang sungguh-sungguh dan berdoa tentunya. Berdoa agar Showcase tahun ini akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.”.


Semua murid yang berada dalam kelas tersebut terdiam.


“Jadi, fighthing!!” lanjut guru itu sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya yang telah dikepalkannya ke udara. Menyemangati semua murid, baik yang lolos atau tidak.


“Kalian akan pulang lebih awal. Kami para guru akan mengadakan rapat tentang persiapan showcase yang akan diadakan tanggal enam, bulan depan.” Sontak ekspresi wajah para murid langsung berubah menjadi lebih cerah. Bahkan dari mereka mulai memasukkan semua buku-bukunya kedalam tas masing-masing.


“Tapi,” wanita itu mulai membuka buku pelajarannya dan berhenti pada satu halaman.


“Buka halaman 87. Pelajari bab delapan tentang penyelarasan nada dan lirik dalam pembuatan sebuah lagu dan buatlah satu buah lagu sederhana.” Lanjutnya.


“Buuuu,, ” protes sebagian murid yang berada dalam kelas tersebut sambil menunjukkan ekspresi kecewa. Hari ini benar-benar berat, setelah sebagian besar nama murid di kelas itu tidak tercantum di daftar Charity showcase sekarang mereka harus membuat lagu.


“Hye Rim-ah, bu guru sudah memindah daftar kelompok tugas kali ini ke komputer kelas. Tolong kau beritahu ke teman-temanmu nanti.” Kata guru itu sambil mengambil flashdisk nya dari komputer dan memasukkannya kedalam tasnya kembali.


“Iya saem!” sahutnya sambil mengangguk pelan.


“Baiklah, ketua kelas!”


Sontak Hye Rim berdiri dari tempat duduknya.


“Perhatian!” kata Hye Rim mengomando semua teman-temannya.


“Salam!” lanjutnya.


“Kamsahamnida !!”


 


 


Dengan langkah yang sedikit bersemangat Hye Rim melangkah menuju pintu keluar lobi. Ia bahagia karena jam pulang sudah tiba, paling tidak untuk hari ini, ia bisa meninggalkan sekolah, pulang dan bergemul dengan tumpukan bantal dan boneka di kasurnya. Hari ini melelahkan, sangat melelahkan. Beberapa berita sangat penting yang membuat seisi sekolah heboh –tapi sayangnya membuatnya semakin depresi- memenuhi hari ini. Oleh karena itu ia sangat bersyukur bisa berjalan keluar dari kelas, melewati lobi dan menuju pintu keluar saat ini.


“Hei, apakah barang-barang itu hanya akan kau bawa begitu saja?” tanya seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berjalan di sebelahnya.


Hye Rim terkejut, reflek ia menoleh ke asal suara.


Tae Hyung?


“Kalau aku jadi Tae Min, aku pasti akan sedih.” Lanjut Tae Hyung sambil berhenti di depan Hye Rim yang secara otomatis menghentikan langkah Hye Rim.


Tiba-tiba saja Tae Hyung mengambil paper bag yang dari tadi dibawa gadis itu, meletakkannya di lantai dan mengeluarkan satu syal putih panjang.


“Diam, jangan bergerak.” Dengan terampil pemuda itu memakaikan syal itu di leher Hye Rim, melilitkannya dan terlihat sempurna menutupi leher Hye Rim.


“Baiklah, selanjutnya,” katanya sambil mengambil satu buah baseball hat putih. “Angkat wajahmu, tidak perlu malu.” Katanya sambil tersenyum kecil melihat Hye Rim yang terus menunduk dari tadi.


“Yaa! Aku tidak malu, aku-,”


“Sstt, kubilang diam.” Katanya sambil mengangkat tangannya di depan wajah Hye Rim, menghentikan gadis itu untuk menyela. Lalu dengan terampil tangan Tae Hyung menyibakkan beberapa helai rambut Hye Rim yang menutupi wajah manis gadis itu.


“Kau harus memakai ini. Tae Min memberikanmu ini pasti ada tujuannya. Lagi pula apa kau pikir dengan adanya berita Se Na dan Cha Je Sang Sajangnim , beritamu dan Joo Won Sunbae akan tenggelam begitu saja?” katanya sambil memakaikan baseball hat putih itu menutupi rambut indah Hye Rim.


Eoh? Tae Hyung juga sudah mengetahuinya?


Tae Hyung tersenyum manis sembari menatap Hye Rim dengan baseball hat putih itu.


Cantik.


“Terakhir, ini.” Katanya sambil mengambil satu buah kacamata tanpa lensa dengan bingkai berwarna coklat almond dari paper bag itu.


“Tutup matamu.”


Sebenarnya dari tadi Hye Rim ingin sekali merebut barang-barang itu dan memakainya sendiri. Ia bukanlah seorang anak berumur tiga tahun yang semuanya harus dibantu oleh orang lain. Tapi entah kenapa perasaannya mengatakan untuk membiarkan Tae Hyung melakukannya untuknya.


“Selesai!” kata Tae Hyung sambil menepukkan tangannya dan menyuruh Hye Rim untuk berputar.


“Apa?” tanya Hye Rim bingung melihat isyarat tangan Tae Hyung.


“Berputar, aku ingin melihat semuanya.” Jawab Tae Hyung.


Hye Rim menggelengkan kepalanya kencang, “Aku tidak mau!” bantahnya.

__ADS_1


“Sudah, berputarlah.” Ucap Tae Hyung sambil memutar badan Hye Rim pelan. Hye Rim akhirnya mau tidak mau memutar dirinya, seperti seorang gadis kecil yang memakai baju baru dan menunjukkannya ke ibunya.


“Sudah puas sekarang?” kata Hye Rim sedikit kesal. Tae Hyung mengangguk sambil tersenyum geli melihat ekspresi Hye Rim.


“Teman-teman memperhatikan kita dari tadi dan juga, mereka.” Tunjuk Hye Rim pada beberapa penggemar yang telah menunggu di luar sekolah. Tae Hyung memutarkan pandangannya. Benar saja, semua orang kini telah menatap dirinya dan Hye Rim dengan berbagai ekspresi, pandangannya kemudian terhenti tepat di area luar sekolah ini.


“Jangan khawatir. Mereka tidak akan mengambil foto kita jika kita sedang berada di sekolah. Dan kalau memang iya, sekolah kita akan melindungi kita. Kau lupa dengan daftar kewajiban yang harus dilakukan oleh dewan sekolah jika ada barang seperti foto, video dan berita yang seharusnya hanya tersebar di sekolah kita malah tersebar keluar? Mereka melarang keras hal-hal seperti itu. Sekolah juga sudah menekankan tentang hal itu bagi siapapun yang menjadi keluarga besar sekolah ini, bahkan alumni. Lagi pula apa kau tidak melihatnya? Para satpam itu mengawasi mereka dengan sangat teliti.” Kata Tae Hyung sambil menatap para penggemar itu dan melambaikan tangannya yang otomatis disambut riuh para penggemar itu.


“Ahh, berita tentangku dan Joo Won Oppa bahkan belum selesai dan sekarang, aku malah bermain denganmu?” gumamnya sambil menatap Tae Hyung dengan cemberut.


Tae Hyung hanya terdiam sambil mengangkat bahunya sedikit.


“Mereka akan menganggapku apa?” gumam Hye Rim pelan sambil menunduk.


Tae Hyung tersenyum lembut melihat tingkah laku Hye Rim yang menurutnya menggemaskan itu. Dari dulu, sejak pertama kali ia bertemu dengan gadis ini, ia merasa kehidupannya berubah, walaupun jadwalnya sepadat gunungan nasi yang diletakkan di mangkuk makanan, tapi sejak ada Hye Rim, ia merasa ia bisa bernafas lebih leluasa.


Ditambah kenyataan bahwa Hye Rim adalah teman sekelasnya sekarang.


“Aku senang melihatmu lunak seperti ini.” Kata Tae Hyung sambil tersenyum. Pemuda itu tidak memperdulikan sekitar yang kini mulai membicarakan tentang dirinya dan Hye Rim.


Hye Rim mengangkat wajahnya. Lunak?


“Kau tahu? Sikapmu yang dulu itu, benar-benar membuatku lelah. Badan dan pikiran.”


“Sikap dinginmu memaksa otakku harus mencari sikap apa, kalimat apa yang tepat untuk diucapkan kepadamu. Aigoo,,” kata Tae Hyung sambil menyentuh kepala Hye Rim.


“Tapi sekarang aku senang sekali. Akhirnya aku bisa membuatmu marah dan malu ketika melihatku. Bukankah itu adalah sebuah perkembangan? Melebihi kau yang tersenyum tanpa arti kepadaku, aku lebih suka kau marah apalagi malu. Itu berarti kau sudah nyaman berada di sampingku.” Lanjutnya sambil mengelus kepala Hye Rim berulang kali, pelan.


Hye Rim sontak terkejut. Apa Tae Hyung baru saja mengelus kepalanya?


“Kau-,” kata Hye Rim sambil menatap Tae Hyung tajam.


“Nuna!”


Serentak Tae Hyung dan Hye Rim menolehkan kepalanya ke asal suara. Seorang pemuda tampan yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama tengah berjalan ke arah mereka dan tersenyum melihat Hye Rim.


Hyun Soo?


“Kau-,  kenapa kau kemari?.”, tanya Hye Rim terkejut melihat Hyun Soo, adiknya yang sangat dingin itu, bahkan sikap dinginnya mungkin melebihi kutub selatan. Tapi kenapa tiba-tiba ia kemari? Ke sekolahnya?


“Eii pertanyaan macam apa itu. Tentu ia akan pulang bersamamu.” Kata Tae Hyung mencoba membantu pemuda tampan yang tersenyum ke arahnya.


“Anyyeo-.” Tiba-tiba saja Hye Rim langsung menutup mulut Hyun Soo yang baru saja akan memperkenalkan dirinya. Diseretnya adik laki-lakinya itu, menjauhi Tae Hyung.


“Aku pulang dulu. Tugas dari Jang Saem kita diskusikan nanti.” Kata Hye Rim sambil menggandeng erat tangan Hyun Soo. Dengan tergesa-gesa Hye Rim melangkah pergi sebelum sesuatu yang tidak boleh didengar Tae Hyung akan keluar dari mulut Hyun Soo.


***


TING!


Hye Rim mengambil handphonenya dari dalam sakunya dan membuka dua pesan yang secara serentak masuk ke dalam inbox pesannya.


Kau baik-baik saja? Maaf aku tidak bisa berada disampingmu untuk saat ini. Tapi aku berjanji akan kembali secepatnya dan melindungimu dari mereka. –Joo Won Sunbae


Kau tidak apa-apa? Apa Seun Ho sudah memberikan titipanku? Pakailah, paling tidak kau harus menyembunyikan wajahmu dari mereka. –Tae Min.


Hye Rim mendesah. Segar sekali disini. Diedarkannya pandangan ke seluruh area danau ini. Pohon hijau, bunga berwarna-warni dan beberapa angsa yang sedang asyik bermain di dalam danau memenuhi matanya. Sudah dari lima menit yang lalu ia duduk di pinggir danau ini sambil meluruskan kakinya. Menunggu seseorang yang akan menerima satu paper bag yang berada disampingnya.


TING!


Satu pesan lagi masuk.


Kau sendirian? Berhati-hatilah, walaupun di dalam area sekolah, kita tidak tahu siapa yang mungkin akan menyerangmu disini. Aku sudah hampir sampai. –unknown number.


Lagi-lagi Hye Rim mendesah. Iya, itu Tae Hyung, seseorang yang sedang ditunggunya dan yang mengirim pesan baru saja. Ia masih ragu untuk memberi nama pada nomornya, ia takut kalau keluarga atau bahkan kakaknya mengetahui kalau ternyata sekarang adik perempuannya yang dulu sangat menggemari Tae Hyung telah menjadi teman Tae Hyung.


Ia mengangkat wajahnya. Cuaca sangat indah hari ini, begitu juga langit yang berada diatasnya tampak sangat bersih. Tapi sayangnya perasaanya tidak seindah cuaca hari ini. Ia kemudian menundukkan kepalanya, Jari-jarinya terus membuka ketiga pesan itu berulang-ulang, memikirkan satu kalimat pertama dari ketiga pesan itu. Semuanya memiliki arti yang sama. Perasaan khawatir yang mungkin terlihat berlebihan jika hanya antar teman biasa.


Jarinya tidak sengaja menggeser pesan Tae Hyung baru saja kebawah, dan muncul satu pesan Tae Hyung yang diterimanya pada hari sabtu kemarin. Malam mengerikan itu.


Hye Rim-ah kau dimana? Kau baik-baik saja? Untuk saat ini bersikaplah biasa. Pandangan tetap lurus dan kalau bisa tundukkan wajahmu jika ada orang yang memperhatikanmu secara berlebihan. Satu lagi, lepas nametagmu dari jasmu dan masukkan kedalam tasmu. Aku akan kesana! Ini Tae Hyung. –Unknown Number


Pada hari itu, itu adalah pesan terakhir yang dapat diterima dan dibacanya sebelum handphonenya mati. Dan bodohnya ia, ia baru menyadarinya sekarang. Waktu ia langsung melepas nametagnya dan memasukkannya kedalam tas. Menuruti semua perkataan Tae Hyung.


Hye Rim menolehkan kepalanya. Dengan terus memandangi beberapa angsa yang sedang bermain di dalam danau, ia terus berpikir. Tentang satu kemungkinan dari semua pesan ini.


“Ah! Tidak! Tidak mungkin. Sadarlah Hye Rim!” gumamnya sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya pelan. Menyangkal apa yang sedang dipikirkannya sekarang.


“Kau kenapa? Melihat angsa-angsa itu sambil menggelengkan kepalamu?”


Sontak Hye Rim menoleh ke asal suara. Pemuda tampan yang sudah ditunggunya dari tadi ternyata telah berdiri di depannya. Hye Rim berdiri dan membersihkan roknya yang sedikit kotor karena rumput yang baru ia duduki.


“Ada apa?” tanya Tae Hyung sambil melangkah mendekati Hye Rim.


“Ini. Baseball hat, jumper dan saputanganmu. Terima kasih.” Kata Hye Rim sambil menyerahkan satu paper bag krem kepada Tae Hyung.


Tae Hyung menerima paper bag itu dan tersenyum melihat Hye Rim.


“Jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya tidak ingin anak-anak berpikiran tidak-tidak tentang aku, kau dan paper bag ini. Maka dari itu aku memanggilmu kesini.”


“Aku pergi dulu.” Kata Hye Rim sambil mulai melangkah pergi.


“Sebentar Hye Rim!” Tae Hyung berlari kecil menghampiri Hye Rim yang berhenti.


“Ada yang ingin kupastikan.” Kata pemuda itu kemudian.


Hye Rim mengernyitkan dahinya. Memastikan apa?


“Maaf.” kata Tae Hyung yang tiba-tiba meletakkan paper bag itu diatas bangku kayu dan langsung memeluk Hye Rim erat.


Sontak Hye Rim terkejut, sangat terkejut. Bahkan ia tidak bisa menggerakkan badannya untuk beberapa saat. Persis seperti kejadian satu tahun lalu, ketika Tae Hyung menariknya dan memeluknya di malam yang dingin itu.


“Ternyata benar.” Kata Tae Hyung sambil melepas Hye Rim pelan.


“Maafkan aku yang tidak mengenalimu Sampai saat ini.” Katanya sambil tersenyum manis kepada Hye Rim yang masih terlihat bingung dan kaget.


“Hei, kau baik-baik saja?” Tae Hyung menyentuh bahu gadis itu pelan.


Hye Rim sedikit tersentak dan langsung membuang pandangan ke arah lain.


“Itu kau kan? Seorang gadis yang berjalan sendirian di malam yang sangat dingin kemudian aku datang dan tiba-tiba memelukmu? Gadis yang ketika ia membuka matanya ia pingsan. Itu kau kan?” tanya Tae Hyung sambil terus memandang Hye Rim dengan lembut.


Iya itu benar, Tapi, tidak bisakah kau tidak mengungkit-ungkit tentang pingsan?


“Yaa!! Kau-, kenapa kau tiba-tiba memelukku tadi?” seakan baru tersadar dari sesuatu. Ekspresinya langsung berubah. Walaupun tidak lancar, ia mencoba bertanya sambil menunjuk telunjuknya ke Tae Hyung.


“Untuk memastikan.” Jawab Tae Hyung sambil tersenyum santai.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Katanya kemudian sambil tersenyum manis.


Jantung Hye Rim berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Sepertinya ia harus segera beranjak dari tempat ini, kalau tidak ia pasti akan jatuh ke dalam pesona pemuda itu.


“Aku pergi!” serunya sambil melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Sambil menundukkan kepalanya ia berjalan tanpa menoleh ke arah Tae Hyung lagi.


Tae Hyung hanya diam dan tersenyum melihat gadis itu begitu terburu-buru meninggalkan dirinya. Pelan ia mengambil paper bag yang masih berada di atas bangku dan membukanya. Eoh?


“Hye Rim-ah! Ini apa??” tanyanya sambil sedikit berteriak. Melihat sebuah bingkisan yang bukan milinya berada dalam paper bag itu bersama dengan barangnya.


“Itu untukmu!” balas Hye Rim tanpa menoleh, berbelok dan langsung berlari kecil.


Sekali lagi Tae Hyung tersenyum. Entah untuk keberapa kalinya Hye Rim membuatnya tersenyum seperti ini. Sekilas ia mengambil bingkisan itu, melihatnya dan memasukkannya lagi ke dalam paper bag.


“Terima kasih. Han Hye Rim.” Katanya sambil beranjak pergi dari tempat itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2