Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 16 – Sacrifice - ‘It’s all about growing pains to get the best’


__ADS_3

“Aku pulang!!” teriak Hye Rim sambil melepas sepasang sepatunya dan melangkah masuk kedalam rumah yang terlihat sangat sepi itu. Ini sedikit aneh, ini pukul tujuh malam tapi kenapa adik dan ibunya yang seharusnya berada dirumah tidak ada?


“Eomma, aku pulang, Eomma memasak apa hari ini?” diletakkannya tas ranselnya di atas sofa dan langsung menuju dapur, mungkin saja ibunya tengah asyik mempersiapkan makan malam. Tapi sayangnya ia salah, dapur sepi dan bersih, bahkan saat ia memeriksa keluar, melewati pintu yang berada disebelah dapur, hasilnya sama, halaman belakang yang biasanya penuh dengan pakaian yang tengah dijemur juga sepi dari orang maupun pakaian.


“Hyun Soo-yah! Kau dimana?” teriaknya. Kali ini ia memanggil nama adiknya, mungkin saja ibunya tengah pergi dan adiknya yang bertugas menjaga rumah.


“Hyun Soo-yah! Han Hyun Soo!” teriaknya lagi sambil mengecek kamar adiknya dilantai dua yang ternyata juga kosong. Dengan menutup pintu kamar itu, ia mulai merasa aneh, ibu dan adiknya tidak sedang berada dirumah saat ini. Tapi biasanya jika orang terakhir meninggalkan rumah biasanya ia akan menulis sebuah pesan di post note dan menempelkannya di pintu lemari es. Tapi hari ini tidak, tidak ada pesan yang berkaitan dengan ‘hilangnya’ ibu dan adiknya di lemari es. Perlahan ia mulai menuruni tangga tapi tiba-tiba wajahnya terangkat. Ia mendengar sesuatu, sepertinya seseorang telah membuka pintu.


“Hyun-, eoh, Oppa.”


“Kau sudah datang?” kata pemuda itu sambil membuka pintu kamarnya, masuk dan keluar dengan membawa satu buah map kecil ditangan kanannya.


“Ikut Oppa sekarang! Eomma dan Hyun Soo sudah menunggumu.” Katanya tiba-tiba.


“Eomma dan Hyun Soo? Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Hye Rim sambil menatap Hyun Woo yang sudah berada didepan pintu yang terbuka.


“Ikut saja dulu, nanti Oppa jelaskan di jalan.”


“Sebentar, aku akan mengambil ponsel-,”


“Tidak perlu. Lebih baik kita berangkat sekarang. Ayo!” ajak Hyun Woo yang langsung diikuti Hye Rim. Perlahan pemuda itu menutup pintu dan beriringan berjalan keluar dari rumah, menutup gerbang dan satu persatu memasuki mobil.


**


Sudah lebih dari lima belas menit yang lalu perasaan Hye Rim tidak karuan. Berbagai pikiran, sialnya sebagian besar adalah pikiran buruk tengah berputar di otaknya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan adik dan ibunya sekarang, yang ia tahu sekarang hanyalah bahwa kakaknya kini tengah membawanya ke sebuah tempat yang jauh, melewati beberapa rumah sakit –pada awalnya ia kira mobil ini akan berhenti di salah satu rumah sakit itu- , menuju satu jalan besar dengan pemandangan sungai Han di kanan dan kirinya. Sebuah jalan yang ia rasa ia pernah melewatinya walaupun tidak setiap hari.


Sontak saja mata Hye Rim menjadi lebih awas. Matanya kini terfokus pada jalanan di depannya, sesekali ia melihat beberapa pesawat yang baru saja take off atau yang akan landing, sampai ia melihat sebuah bangunan modern dan sangat besar di depannya.


“Bandara?” tanyanya sambil menatap Hyun Woo yang sibuk mencari tempat parkir. Pemuda itu tidak mengindahkan pertanyaan dan tatapan adiknya sekarang. Segera setelah ia memarkir mobil, langsung dibukanya pintu mobilnya.


“Ayo turun. Eomma dan Hyun Soo sudah menunggumu didalam.” Katanya sambil mengambil map kecil yang sedari tadi berada di atas dashboard.


Tanpa berkata apa-apa Hye Rim menuruti perintah kakaknya. Dibukanya pintu mobilnya dan ia pun turun dari mobil itu. Dengan langkah cepat ia mengikuti kakaknya yang perlahan tapi pasti mulai memasuki bandara yang sangat luas dan ramai. Kini pikirannya berubah, dari ‘kemungkinan seseorang yang cedera’ menjadi ‘seseorang yang mungkin akan meninggalkan korea’, tak lama samar-samar ia mulai mendengar suara seorang wanita yang tengah memanggilnya.


“Eomma!” teriaknya sambil berlari kecil menuju dua orang yang tengah berdiri menyambut kedatangannya.


“Ada apa? Siapa yang akan pergi? Eomma? Hyun Soo?”


Tak ada jawaban. Ketiga orang itu terdiam. Ibunya hanya melihatnya dengan pandangan sedih sedangkan Hyun Soo terlihat kecewa dan kesal, anak itu sama sekali tidak melihat kakak laki-lakinya dari tadi.


“Eoh! Kenapa koporku bisa ada disini?” matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah kopor putih bermotif floral yang terdapat di belakang ibunya. Hye Rim mulai berpikir, dilihatnya sekitar, tidak ada kopor lain selain kopornya dan sebuah tas ransel milik kakaknya. Jika memang Ibu atau Hyun Soo yang akan pergi seharusnya bukan kopor miliknya yang berdiri disana. Jangan-jangan..


“Ada apa ini?” kini tatapannya tertuju pada salah satu ‘pelaku’ utama malam ini.


“Ikutlah dengan kakakmu, Hye Rim. Ini adalah satu-satunya jalan yang kau miliki agar kau dapat mewujudkan mimpi-mimpimu.” Sahut ibunya sambil berjalan perlahan mendekati anak gadis satu-satunya dan kemudian mengelus pelan rambut Hye Rim.


Hye Rim bergeming. Matanya masih menatap Hyun Woo tajam.

__ADS_1


“Oppa, kali ini siapa? Kemarin Lee Tae Min, sekarang siapa?”


“Ayo kita pergi. Jam keberangkatan sudah hampir tiba.” Sahut kakaknya sambil mengambil tas ranselnya dan memakainya. Perlahan Hye Rim menolehkan kepalanya ke papan informasi, matanya seketika terbelalak melihat satu pesawat yang akan berangkat dalam tiga puluh menit kedepan.


“Amerika? Oppa-, Oppa ingin membawaku ke Amerika?” tanyanya tidak percaya. Reflek tangannya langsung menggelayut di lengan ibunya, memohon agar kakaknya tidak membawanya pergi malam ini.


“Eomma, kumohon hentikan Oppa. Bagaimana bisa aku tiba-tiba pergi seperti ini?” sayangnya ibunya hanya terdiam sedih menatap putrinya yang mulai menitikkan air mata.


Sederet wajah yang sudah dikenalnya selama tiga bulan ini mulai memenuhi pikirannya. Senyuman, godaan bahkan kemarahan yang selama ini diterima mulai mengisi sudut pikirannya tak terkecuali pemuda itu. Pemuda yang baru saja membuat hidupnya benar-benar terasa seperti hidup, pemuda yang membuatnya tidak memikirkan kakak laki-lakinya ketika mereka sedang bersama, satu-satunya pemuda yang membuatnya berani membayangkan kehidupan bahagia yang akan dilaluinya, paling tidak pada masa sekolahnya. Pemuda yang kini tengah tersenyum di salah satu banner iklan yang terdapat di dalam bandara itu.


Tae Hyung. Kalau aku pergi, bagaimana dengannya?


“Lalu-, lalu sekolahku? Belum satu tahun aku bersekolah disana, tidak mungkin aku meninggalkan sekolah itu begitu saja bukan, Eomma? Hyun Soo bantulah aku.” Air matanya mulai deras mengalir bak hujan yang turun di musim semi. Matanya kini menatap adiknya yang sedari tadi hanya terdiam sambil sesekali menatapnya.


“Maafkan aku Nuna. Walaupun aku juga tidak suka dengan keputusan Hyun Woo Hyung, tapi kali ini Nuna harus menuruti Hyun Woo Hyung. Maafkan aku.” Katanya sambil tiba-tiba memeluk Hye Rim  untuk pertama kalinya.


Hye Rim menangis, deras. Dengan tubuh yang bergetar ia semakin menguatkan pelukannya. Sedih, kesal, marah dan benci, semuanya bercampur menjadi satu, kali ini, untuk pertama kalinya ia merasa marah, sangat marah.  Ingin rasanya ia berteriak kencang saat ini. Ia tidak tahu apa yang dikatakan oleh kakaknya sehingga Ibu dan adiknya yang biasanya selalu membelanya tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Ia marah.


“Ibu yang akan mengurus semuanya. Sekolahmu dan teman-temanmu.” Jawab kakaknya yang telah berdiri di belakangnya. Pelan ia menarik nafasnya, mencoba mengatur perasaan marah dan kesal yang sedang menguasainya. Tangannya mulai mengelap wajahnya yang penuh dengan air mata dan perlahan ia melepas pelukannya dari Hyun Soo, berbalik menatap kakaknya yang benar-benar tidak menunjukkan ekspresi apapun.


“Baiklah.” Perlahan ia mengambil kopornya dan berjalan menuju ibunya yang mulai meneteskan air mata. Memeluknya perlahan. “Jangan menangis Eomma. Aku akan baik-baik saja.”, katanya sambil menepuk-nepuk punggung ibunya, pelan. Tak lama ia kemudian melepaskan pelukannya dan berjalan menuju adiknya, Han Hyun Soo. Memeluknya pelan.


“Aku sudah dengar semua tentangmu dari Tae Hyung. Terima kasih.”, bisiknya sambil tersenyum tipis. Ia kemudian melepas pelukannya. Segurat senyum terukir di bibirnya melihat adik laki-lakinya menangis di depannya, perlahan ia mengelap air mata pemuda itu dan mengangguk, memberi tanda bahwa ia akan baik-baik saja.


“Aku pergi dulu. Eomma, Hyun Soo.” Katanya sambil menarik kopornya dan mulai meninggalkan kedua orang tersayangnya yang sedang mengadakan perpisahan dengan kakak laki-lakinya. Tapi tiba-tiba ia terhenti dan menoleh, menatap Hyun Woo.


“Oppa, mungkin ini terakhir kalinya aku akan menuruti semua perkataan Oppa. Aku minta maaf, tapi sekembalinya ke Korea nanti aku tidak bisa berjanji akan tetap menjadi Han Hye Rim yang sama seperti sebelum aku pergi ke Amerika.”


**


“Ini aneh, tiga kali pertama aku mencoba menghubungi, masih terdengar nada sambung, tapi sekarang tidak. Sepertinya seseorang telah mematikan teleponnya.” Sahut Seun Ho sambil terus mencoba menelefon satu nomor sama yang juga tengah dihubungi pemuda di depannya. Kedua pemuda itu terhenti, saling menatap satu sama lain. Sesekali Seun Ho menatap bangku kosong disebelahnya, di periksanya loker bangku itu, mungkin ada sesuatu yang ditinggalkan oleh gadis itu, gadis yang tiba-tiba diumumkan telah pindah dari sekolah ini. Tapi sayangnya tidak, harapannya telah menjadi sebuah harapan kosong, benar-benar tidak ada sesuatu yang mungkin tertinggal di loker gadis itu. Dialihkannya pandangannya dan dilihatnya seorang gadis tengah berjalan ke arahnya.


“Kau datang? Bukankah kau ada schedule hari ini?” tanyanya pada seorang gadis yang berdiri di belakang Tae Hyung. Seketika Tae Hyung menoleh. Melihat gadis yang terlihat menghindari pandangannya. Sejak pernyataan cinta yang terlalu mendadak kemarin hubungannya dengan Tae Hyung terasa seperti sebuah balok es yang selalu melingkupinya kapanpun ia bertemu dengan Tae Hyung. Dingin.


“Eoh? Iya, tapi nanti malam. Sebuah pemotretan.” Jawabnya sambil menatap Seun Ho, tanpa menatap ke arah pemuda yang berada di sebelah kanannya. Pemuda yang juga tampak tidak terlalu berfokus kepada dirinya sekarang. Saat ia akan berjalan menuju bangkunya tiba-tiba pemuda itu berdiri.


“Seun Ho-yah, aku akan keluar sebentar, jika Lee Saem bertanya kemana aku pergi, katakan saja aku sedang tidak enak badan. Terima kasih!” katanya yang langsung berjalan cepat sambil menekan sebuah kontak di ponselnya dan menelfonnya. Kedua remaja itu hanya bisa terdiam melihat Tae Hyung yang baru saja menghilang di balik pintu keluar.


Se Na mengernyitkan dahinya. Perlahan ia menarik kursinya dan duduk. Suasana apa ini? Kenapa semuanya terlihat begitu khawatir?


“Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu khawatir?” tanyanya kemudian.


Seun Ho mengangkat wajahnya, menatap Se Na dengan lemas.


“Hye Rim pindah.”


Se Na mengernyitkan dahinya. Pindah?

__ADS_1


“Apa maksudmu? Baru saja kemarin kita telah menyelesaikan Charity Showca-,”


“Kuharap kau tidak seperti seorang gadis antagonis di drama-drama itu. Ia akan sangat senang ketika seseorang yang dibencinya telah keluar dari kehidupannya.” Potong Seun Ho. Se Na terbelalak. Untuk sesaat ia pikir Seun Ho hanya bercanda.


“Kau serius?” tanyanya sambil menggeser kursinya kearah Seun Ho.


Seun Ho mengangguk.


“Kenapa?”


Seun Ho menggeleng lemas. Kepalanya kemudian ia letakkan diatas meja.


Se Na terdiam. Seorang gadis biasa yang telah membangkitkan ‘semangat’ untuk memiliki apa yang ia inginkan telah meninggalkan dirinya. Karena gadis itu, ia menjadi seseorang yang tidak memikirkan terlalu lama tentang satu hal yang sangat diinginkannya. Gadis itu telah membuatnya menciptakan kehebohan dimana-mana, sekolah, perusahaan ayahnya dan negara ini dengan keputusannya bernaung di bawah agensi artis ayahnya, bahkan karena gadis itu ia akhirnya dapat mengungkapkan perasaannya kepada pemuda yang telah diam-diam ia cintai selama tiga tahun yang lalu. Dan apa? Sekarang gadis itu telah pergi?


Yaa, Han Hye Rim, bagaimana bisa kau pergi mendadak seperti ini? Aku tidak tahu apa aku bisa melanjutkan semua hal yang telah kuputuskan karena dirimu dan juga sepertinya Tae Hyung telah memilihmu. Aku tidak tahu apakah aku bisa merebut hati Tae Hyung ketika kau telah pergi dari sekolah ini. Kau pasti tahu aku benar-benar ingin membuktikan kepadamu kalau aku dapat merebut semua yang kau miliki karena ada kau, kau yang anehnya dapat menyemangatiku seperti ini. Tapi sekarang apa? Baiklah mungkin, ah tidak! Sepertinya tidak ada hal yang bisa kuperbuat lagi tentang Tae Hyung dan kau, sepertinya aku benar-benar tidak dapat memisahkan kalian berdua, lalu masalah lainnya? Idol?? Kau juga tahu kan kalau aku memutuskan untuk debut dibawah naungan manajemen ayahku karena aku tidak ingin nantinya Tae Hyung hanya berdua saja denganmu di dunia entertainment, aku ingin menjadi penengah di antara kalian berdua .Seperti yang kukatakan sebelumnya aku benar-benar tidak tertarik dengan dunia Idol Korea Selatan, aku serius tentang hal itu. Sekarang apa yang harus kulakukan? Bahkan aku telah mempunyai tim manajer dan jadwalku sudah mulai penuh. Tidakkah kau merasa kau harus bertanggung jawab?


Dan Sent!


Satu buah pesan panjang itu kini telah terkirim menuju satu nomor sama yang sedari tadi telah dihubungi oleh kedua temannya.


**


Hyun Woo memasukkan sebuah kata sandi di sebuah alat pengaman pengganti kunci sebuah apartemen yang telah dibelinya satu bulan yang lalu. Apartemen yang terletak di depan sebuah taman di  Kota Washington. Setelah menekan tombol OK pintu itu pun terbuka secara otomatis. Pemuda itu pun melangkah masuk yang kemudian diikuti oleh seorang gadis yang sejak 12 jam yang lalu tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kamarmu di sebelah ruang televisi. Bereskan semua barangmu, aku akan pergi sebentar.” Katanya yang hanya dibalas dengan diam oleh adik perempuannya itu. Sama seperti adiknya, ia juga terdiam, benar-benar tidak mengatakan apapun kecuali jika itu sesuatu yang penting. Perlahan ia berbalik, bersiap untuk pergi.


“Kurasa mendiang ayah tidak akan senang melihat ini. Cara Oppa memperlakukanku seperti seorang boneka kayu yang harus patuh pada perintah tuannya.” Kata Hye Rim sambil menatap Hyun Woo datar.


Hyun Woo terhenti, matanya membalas tatapan Hye Rim dengan datar dan tajam.


“Tidak perlu membawa-bawa mendiang ayah. Karena kau telah disini, turuti semua perkataanku, lagi pula ini semua demi kebaikanmu. Kau bilang kau akan melakukan apapun yang aku katakan selama itu berhubungan dengan mimpimu. Dunia Idol yang menjijikkan itu.”


Terserah apa yang kau katakan tentang mimpiku. Aku sudah lelah, Oppa.


“Jangan khawatir, walaupun sebenarnya aku sangat menentang mimpimu dan kurasa kau sudah sangat mengetahuinya, aku akan tetap memberikan yang terbaik untukmu. Mulai besok kau akan bersekolah di sebuah sekolah seni terbaik di negara ini, mereka telah melihat video performance mu pada waktu upacara penerimaan siswa baru di sekolahmu sebelumnya dan mereka menyukainya, tanpa memintamu untuk datang audisi langsung, mereka telah memberikan satu buah kursi untukmu. Bukankah kau sangat beruntung?” lanjut Hyun Woo.


Hye Rim terdiam. Ya, mungkin perkataan kakaknya benar, ia tidak perlu membawa-bawa nama mendiang ayahnya yang telah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit kanker otak akut yang dideritanya. Hal ini sudah membuatnya sakit, ia tidak ingin menambah rasa sakit di hatinya dengan mengingat kembali kenangan- kenangan indah ketika ayahnya masih hidup. Ketika ayahnya mendukung 101 persen tentang mimpinya, itu yang dikatakan ayahnya waktu itu.


“Ah! Aku akan membelikanmu sebuah ponsel. Tapi aku tidak akan memberikannya kepadamu jika kau akan menggunakannya untuk berhubungan dengan teman-temanmu di Korea. Kau hanya bisa menggunakannya di sini dan untuk menghubungi Eomma dan Hyun Soo di sana. Aku pergi sekarang. Ah! Satu lagi, kau ingin makan apa malam ini?” tanya Hyun Woo pada Hye Rim yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gadis itu lalu menyeret kopernya dan membuka pintu kamarnya, perlahan dan tanpa melihat bahkan membalas pertanyaan kakaknya baru saja, ia masuk dan menutup pintu kamarnya.


“Hm, baiklah kalau kau memang tidak ingin menjawab. Ketika aku pergi jangan membuka pintu kepada siapapun yang membunyikan bel.”


Tidak ada jawaban. Sepi.


“Aku pergi dulu!” Hyun Woo pun melangkah membuka pintu, keluar dan pintu itu pun tertutup.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2