Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 18 - ‘When everything goes back to the right place’


__ADS_3

“Nuna!!” teriak Hyun Soo yang kini telah beranjak tujuh belas tahun. Pemuda tampan yang tiba-tiba memeluk kakak perempuannya yang terlihat sekali sangat terkejut.


“Astaga!” pekik gadis yang bahkan belum sempat melepas kopornya.


Seorang wanita yang sedari tadi terus tersenyum melihat kedua anak tertuanya keluar dari pintu bandara di depannya perlahan melangkah mendekati mereka. Di elusnya lengan kanan anak tertuanya yang tiba-tiba memeluknya.


“Akhirnya hari ini tiba. Eomma sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama kalian bertiga.” Dilepasnya pelukan anaknya. Tak terasa satu bulir air mata menetes dari matanya. “Ayo pulang.” Lanjutnya.


“Ya, Han Hyun Soo, apa kau tidak berniat melepas pelukanmu dariku? Aku tidak akan terbang kemana-mana.” Sahut Hye Rim. Gadis delapan belas tahun yang langsung di tanggapi adiknya dengan melepas pelukannya dan tersenyum manis di depannya.


“Yaa, apa kau sedang memamerkan ketampananmu didepanku sekarang? Asal kau tahu aku tidak akan berkomentar apa-apa. Senyumanmu tetap sama dengan dua tahun yang lalu. Tidak ada yang spesial. Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini? Kau membuatku takut. Ah, pasti kau sangat merindukanku selama ini. Benar buk-, ah!” tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari kakaknya tiba-tiba Hyun Soo menarik lengan kanan Hye Rim dan membuatnya berjalan mengikutinya. Reflek Hye Rim berkali-kali menoleh ke arah ibunya –yang bahkan belum sempat ia peluk- agar menghentikan adiknya tapi sayangnya ibunya hanya tersenyum sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.


“Ayo kita pulang Eomma. Aku sudah ingin memakan masakan Eomma.” kata Hyun Woo sambil merangkul ibunya. Dengan hati bahagia keempat orang itu melangkah keluar dari bandara. Seorang pemuda yang terlihat sangat bahagia dengan kedatangan kakak perempuannya sampai-sampai ia terus menggandeng lengan kakaknya erat dan seorang ibu yang tersenyum bahagia melihat anak tertuanya disebelahnya dan dua anaknya di depannya. Seorang ibu yang tiba-tiba menintikkan air matanya, air mata bahagia.


**


Seorang gadis terlihat tengah menundukkan kepalanya, matanya terus melihat kosong pada satu mangkuk nasi yang sedari tadi hanya ia sentuh sesekali dengan sumpitnya. Malam ini ia harus berani, ini menyangkut masa depannya. Mau tidak mau ia harus mengatakannya kepada ayahnya. Ia rasa kali ini ia benar-benar tidak ada harapan lagi. Satu minggu yang lalu ia telah menerima jawaban sebenarnya atas usahanya yang telah ia lakukan selama ini. Pemuda itu telah mengatakan semuanya. Penolakan atas usahanya yang terus berusaha mendekati dan mengambil hati pemuda itu dan pernyataan pemuda itu tentang hubungannya dengan gadis yang masih berada di hatinya.


“Aku hargai usahamu selama ini. Tapi, aku minta maaf, aku tidak bisa menerima semua usaha dan semua perhatianmu lagi. Jika aku terus menerima perhatianmu seperti ini, aku merasa telah menjadi seorang pemuda jahat yang menerima dan menanggapi perhatian lebih dari seorang gadis yang menyukainya padahal pemuda itu tengah menyukai gadis lain. Jadi kurasa ini saatnya kau menghentikan ini semua. Mungkin saat ini aku bukanlah pemuda yang tepat untukmu. Kau gadis yang baik, aku yakin ada seseorang baik hati di luar sana yang lebih pantas menjadi seseorang yang selalu menyayangimu dengan tulus. Kau bisa menerimanya kan? Aku benar-benar meminta maaf tapi kurasa lebih baik kita berteman. Karena aku tahu kau adalah teman yang baik.”


Itulah satu rangkaian paragraf yang membuatnya kembali ke bumi dan sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan ia dengan bodohnya ia telah mempertaruhkan mimpinya dengan mimpi orang lain yang telah dua tahun ia jalani. Jadi malam ini ia telah memutuskan. Ia akan mengejar mimpinya yang sebenarnya. Ia akan mengatakannya. Sekarang.


“Appa .” Panggilnya lirih. Matanya melirik ayahnya yang sedang menikmati makanannya. Pria itu hanya menjawabnya dengan deheman.


“Ada yang ingin kukatakan.” Ayahnya perlahan mengangkat kepalanya. Menatapnya.


Diletakkannya sumpitnya di tempat sumpit yang terletak di sebelah mangkuknya. Ibunya yang tengah duduk didepannya juga sontak menghentikan makannya. Kedua orang tua itu menatap putrinya dengan bingung. “Ada apa Se Na? Apa ini hal yang serius sayang?” tanya ibunya.


Ditariknya nafasnya perlahan. Jantungnya berdegub sangat kencang sekarang, ia belum tahu konsekuensi apa yang harus diterimanya kali ini, tapi yang ia tahu pasti adalah ayahnya pasti akan marah.

__ADS_1


“Appa, aku ingin berhenti.” Katanya akhirnya. Kedua orang tuanya terlihat bingung. Berhenti? Berhenti dari apa? Itulah yang tergambar di wajah ayah dan ibunya sekarang.


“Aku ingin berhenti menjadi seorang penyanyi dan memulai lagi di dunia musikal.”


Mendadak suasana ruang makan itu terasa senyap.


“Apa sayang?” tanya ibunya yang mulai tidak fokus dengan makannya.


“Aku ingin menghentikan ini. Appa, Eomma. Ini bukan mimpiku. Mimpiku yang sebenarnya adalah bisa berdiri di panggung musikal Broadway. Bukan seperti yang kulakukan sekarang.” Katanya sambil menatap ayah dan ibunya bergantian dengan yakin. Baik, ia telah mengatakan semuanya, itu artinya sekarang ia siap menerima tanggapan orang tuanya. Apapun itu.


Dilihatnya, ayahnya sontak meletakkan sumpitnya dengan sedikit keras yang cukup mengejutkan dirinya dan ibunya. Ayahnya adalah seseorang yang lembut, ia tidak tahu kalau ayahnya akan bereaksi seperti ini.


“Lalu kenapa dua tahun yang lalu kau ingin debut sebagai penyanyi di bawah label ayah?” tatapan tajam ayahnya menembus mata dan hatinya yang mulai bergetar.


“Sayang, kalau memang mimpimu adalah menjadi aktris musikal bukankah kau juga membutuhkan kemampuan beryanyi yang bagus? Kau bisa melanjutkan karirmu di menyanyi dan sedikit demi sedikit mengejar mimpimu di dunia musikal.”Timpal ibunya.


“Tidak Eomma. Kompetisi menjadi seorang aktris musikal broadway sangat ketat, aku hanya ingin fokus di dunia musikal. Jadi setamatnya aku dari sekolahku, aku ingin pergi ke Amerika untuk mempelajari semuanya. Aku benar-benar ingin melakukannya.” Jawabnya.


“Aku akan berusaha melakukan kontrak iklanku sampai habis. Dan tentang kontrak menyanyi aku hanya akan melakukannya sampai aku lulus. Maafkan aku Appa, Eomma”


“Kau, kau benar-benar ingin melakukan ini? Kau tidak tahu apa yang akan ditanggung perusahaan karena ulahmu ini? Ini bahkan dapat mempengaruhi para artis kita yang lain. Kau lupa siapa kau sebenarnya? Kau adalah anak satu-satunya presdir manajemen artis terbesar di Korea Selatan! kau ini Cha Se Na! Cha Se Na! Putri satu-satunya Cha Je Sang.”


Se Na menunduk. Sesekali ia melihat ibunya yang mencoba menenangkan ayahnya yang menatapnya tajam.


“Sebenarnya apa alasanmu sayang? Kenapa waktu itu kau memutuskan untuk menjadi seorang penyanyi padahal mimpimu bukan didunia itu?” tanya ibunya.


“Kau-, kau ingin mempermalukan ayahmu ini?”


“Sayang, cobalah tenangkan dirimu. Kita dengarkan alasan Se Na dulu.” Kata ibunya.

__ADS_1


Perlahan Se Na mengangkat wajahnya. Dengan takut ia menatap ayahnya yang tampak marah dan ibunya yang tampak sedih. Untuk sejenak ia terlihatt ragu, ia bahkan sudah mempersiapkan satu kebohongan yang akan ia katakan saat ini. Tapi tiba-tiba hatinya berkata lain. Ia ingin memulai kehidupan yang lebih baik dengan mimpinya yang sebenarnya, jadi ia rasa akan buruk sekali jika ia memulainya dengan sebuah kebohongan.


Dengan terbata-bata ia mengatakan alasan sebenarnya ia memilih menjadi seorang penyanyi waktu itu. Semuanya ia katakan, tentang Hye Rim, Tae Hyung dan semua kejadian-kejadian buruk yang bahkan ia tidak menyangka kalau dirinya dapat berubah menjadi sejahat itu. Dengan masih diselimuti rasa takut yang cukup kuat ia memberanikan menatap ayahnya yang terlihat sangat kecewa di sampingnya. “Appa, maafkan aku. Aku akan membantu ayah dalam mengurus semuanya. Aku janji.” Katanya sambil menundukkan kepalanya lagi.


“Ya Tuhan!  Kuatkanlah hatiku yang telah terluka karena putriku satu-satunya ini.”


**


“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Seun Ho pada Tae Min yang terus menatap Tae Hyung dari atas panggung.  Ini adalah kali pertama Boybandnya dan TheBoys berada dalam satu acara yang sama. Tentunya setelah kesembuhan Tae Hyung dua minggu yang lalu.


“Kurasa aku akan mengakhiri semua ini. Tae Hyung sangat mencintai Hye Rim dan sepertinya Hye Rim juga begitu.” Jawabnya sambil melangkah turun.


Seun Ho menatap Tae Min dengan sedih, “Tapi kau akan baik-baik saja kan?”


Tae Min mengangguk. “Lagipula,  bulan depan aku sudah harus berangkat ke Jerman.”


“Kau akan mengatakannya kepada Hye Rim?” tanya Seun Ho yang memotong langkah Tae Min. Ia terkejut dan mendadak berhenti didepan Tae Min. Tae Min seketika terhenti. Ia menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku tidak ingin mengatakannya.  Hei, kau lupa kalau tidak seorang pun dari kita yang memiliki nomor teleponnya? Aku ingin kau yang menyampaikannya. Aku dengar dari Tae Hyung kalau Hye Rim akan kembali  setamatnya ia dari sekolahnya disana. Aku yakin gadis itu, entah bagaimana caranya akan bertemu dengan kalian. Pada saat itu, katakanlah kepadanya. Semuanya.”


“Semuanya? Tentang alasan kepergianmu yang disebabkan oleh Hye Rim? Bahwa kau sangat sedih ketika Hye Rim lebih memilih Tae Hyung dari pada kau-,” tiba-tiba Tae Min menutup mulut Seun Ho dengan tangannya. Seorang staf baru saja lewat dan melihat ke arah mereka. Ia tidak ingin sebuah artikel yang tidak diinginkan akan terbit esok hari.


“Yaa, bagaimana bisa kau mengatakannya disini?” ia melepaskan tangannya. “Sampaikan saja kalau aku harus meneruskan pendidikanku disana dan akan  kembali dalam waktu tiga tahun.” Kata Tae Min sambil kembali melangkah yang diikuti oleh Seun Ho.


“Baiklah. Aku akan mengatakannya seperti itu, teman.”


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2