Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 6 – SCHOOL LOVE AFFAIR - ‘A complicated Thought which is only can be solved with a Sign fro


__ADS_3

Dengan sangat hati-hati Hye Rim melangkahkan kakinya melewati lobi gedung sekolahnya dan kemudian memasuki salah satu lorong yang dihiasi oleh vertical garden di sebelah kirinya. Tangan kanannya dari tadi memegang beberapa helai rambutnya yang sengaja ia letakkan di depannya wajahnya, menutupi sebagian mata kananya yang ditutupi oleh kacamata hitam. Hari ini adalah hari terpaginya ia datang ke sekolah sejak menjadi siswa baru disini, dua minggu yang lalu. Ia tidak tahu tepatnya jam berapa ia meninggalkan rumahnya pagi ini, tapi yang ia tahu, sekarang masih belum terlihat siswa atau siswi yang melintas di hadapannya, di lorong kelas ini. Itu tanda baik, karena ia memang sengaja datang pagi-pagi sekali supaya mereka tidak dapat melihat dirinya yang tengah memakai kacamata hitam, menutupi kedua matanya yang bengkak.


Seharusnya ia mendengar nasihat ibunya semalam, agar tidak tidur di ruang TV. Ibunya mengatakan kalau di musim semi seperti ini, banyak serangga berkeliaran. Tapi ia tidak mengindahkan perkataan ibunya dan hasilnya menjadi seperti ini, ia digigit serangga.


“Astaga! Ada apa dengan kedua matamu ibu ketua kelas?”


Sekarang apakah ia harus menghadapi satu masalah lagi? Jung Seun Ho, ya, pemuda itu masalah. Tanpa memperdulikan pertanyaan Seun Ho ia berjalan masuk dan duduk di bangkunya. Langsung ia mengeluarkan buku paket bahasa inggris dan membolak-baliknya, berpura-pura untuk tidak mendengar celotehan Seun Ho yang langsung kembali ke bangkunya setelah melihat dirinya tadi.


“Hye Rim-ah, kau baik-baik saja?” untuk seketika kesadaran Hye Rim kembali, ia menutup buku bahasa inggrisnya dan mengangkat kepalanya.


Tae Hyung?


Ia menundukkan kepalanya dan membuka buku itu lagi. Menghindari tatapan Tae Hyung untuk kesekian kalinya.


“Ibu ketua kelas! Apa kau sedang menghindari penggemarmu dengan memakai kacamata hitam super stylish itu?” tanya Seun Ho sambil mendekat ke dirinya, menatap matanya, dalam.


Hye Rim terdiam, tidak ada gunannya menjawab pertanyaan Seun Ho barusan, jika ia meladeninya, entah sampai kapan pertanyaan-pertanyaan konyol lain akan keluar dari bibir Seun Ho. Hye Rim terus membaca bukunya, ia tidak perduli dengan Seun Ho, bahkan ia lupa untuk menjawab pertanyaan Tae Hyung. Yang ia harapkan sekarang adalah, semoga kelas segera dimulai dan keributan kecil ini akan bisa segera diakhiri.


*


“Hye Rim-ah! Kau tidak ikut kami ke kantin?” tanya Se Na yang telah berdiri, bersiap untuk menyusul Seun Ho dan Tae Hyung yang telah berada di depan pintu.


Hye Rim menggeleng,” Tidak, kalian pergilah, aku disini saja.” Jawabnya.


“Mau titip sesuatu?” tanya Tae Hyung tiba-tiba.


Hye Rim menggeleng, “Pergilah.”


“Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu.” Kata Se Na sambil tersenyum yang kemudian berjalan menuju kedua pemuda itu. Mereka pun pergi ke kantin, mengisi perut mereka yang sudah mulai memberontak, meminta untuk diisi makanan, secepatnya.


Ia menatap punggung Se Na yang perlahan menghilang di belokan pintu masuk itu dan kemudian mengamati sekitarnya, mengedarkan pandangannya di kelas yang terlihat kosong itu.Semua orang sedang keluar sekarang dan hari ini sebagian dari murid kelas itu yang memang idol sedang tidak masuk sekolah karena harus mengisi satu pertunjukkan musik yang dilakukan di luar negeri, secara bersamaan mereka penjadi pengisi acara itu. Termasuk pemuda itu, seseorang yang menempati bangku tepat di depannya, Lee Tae Min.


“Tae Min. Hh, kenapa akhir-akhir ini ia bersikap seperti itu kepadaku?” gumamnya sambil kedua tangannya menopang dagunya, memandang bangku Tae Min yang kosong. Memang, akhir-akhir ini ada yang aneh dengan Tae Min, Tae Min banyak sekali membantunya, dalam hal apapun itu, terlebih jika masalah kelas, semua hal yang seharusnya dikerjakan oleh dirinya, malah Tae Min yang menyelesaikannya. Ah, mungkin itu wajar, tapi ada satu hal yang masih membuatnya bingung. Tentang perkataan Tae Min tadi malam, ketika Tae Min tiba-tiba menelfonnya, yang harus membuatnya langsung beranjak dari depan televisi, masuk kamar dan menguncinya, rapat.


“Ah, sudahlah. Kurasa aku tidak harus menganggapnya serius. Ah, aku lapar.”


Sejujurnya Hye Rim sedang lapar sekarang, sangat lapar. Tadi pagi ia lupa untuk membawa makanan yang telah disiapkan oleh ibunya di atas meja makan, tapi seharusnya Hyun Soo mengantarkannya, paling tidak ibunya sadar bahwa anak perempuannya ini telah melupakan kotak bekal dan meminta Hyun Soo membawakan untuk dirinya. Tapi, anak itu memang susah, entah kenapa ia susah sekali untuk berbuat kebaikan seperti itu untuk dirinya, hanya untuk dirinya. Tapi walaupun begitu ia bersyukur Hyun Soo tidak memperlakukan dirinya seperti kakak laki-lakinya memperlakukan dirinya.


“Hye Rim.” Seorang pemuda terlihat tengah berjalan masuk menuju dirinya sambil membawa satu tempat makanan yang sangat dikenalnya.


“Eoh? itu kan,” Hye Rim reflek melepas tangannya dari dagunya dan duduk tegap, melihat Tae Hyung membawa kotak makanan yang biasa ia bawa ketika SMP.


Tae Hyung meletakkannya di meja Hye Rim dan tersenyum,”Adikmu tadi kesini. Ia menitipkan ini kepadaku.”, katanya sambil menarik kursi Seun Ho dan duduk tepat disamping Hye Rim. “Ia mengatakan kalau kau pasti sangat kelaparan sekarang, ia menyuruhku untuk segera memberikannya kepadamu. Tapi sepertinya adikmu mengenalku dengan baik, dari beberapa siswa yang berada di lobi tadi, ia menghampiriku, memberi salam dan memberikan ini.” Lanjutnya sambil tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dan mengambil tas ranselnya, mengeluarka sesuatu dari salah satu kantong tas itu.


Hyun Soo? Aku harap anak itu tidak berkata macam-macam kepada Tae Hyung.


“Dan juga, ini. Aku lupa kalau aku mempunyai ini.” Katanya sambil meletakkan satu obat  kedepan Hye Rim. Hye Rim membaca tulisan yang tertera di label obat itu. Obat mata? Ia tidak sakit mata sekarang, matanya hanya bengkak sedikit.


“Ah, kau pasti bingung, kenapa aku memberikanmu obat mata sedangkan kau sedang tidak sakit mata. Ini bukan obat mata, ini hanya untuk meredakan mata yang bengkak. Aku selalu membawanya kemana-mana, jadwalku sangat padat sehingga aku harus tidur dimana pun aku berada saat itu dan bahkan tidak tidur sampai berhari-hari. Karena itulah mataku jadi sering bengkak dan aku terlihat sangat sipit. Tapi ketika manajer Hyung menyarankanku untuk memakai obat ini, mataku langsung kembali seperti semula, hanya dalam beberapa menit, hebat kan?” jelasnya panjang lebar yang kemudian tersenyum melihat Hye Rim.


Hye Rim mengangguk-angguk dengan terus melihat Tae Hyung dari tadi. Baru kali ini ia berani menatap Tae Hyung untuk waktu yang lama, karena kacamata hitamnya ini. Ternyata Tae Hyung masih sama dengan Tae Hyung satu tahun  yang lalu. Ia masih tampan dan penuh pesona.


“Mau pakai sekarang?” tanya Tae Hyung tiba-tiba. Hye Rim sontak tersadar dari lamunannya dan langsung menganggukkan kepalanya. Ia pun meraih obat itu dari tangan Tae Hyung dan berbalik badan.


“Kenapa?” tanya Tae Hyung bingung melihat Hye Rim tiba tiba membelakanginya.


“Aku malu. Mataku benar-benar besar sekarang.” Jawabnya yang membuat Tae Hyung tertawa kecil. Gadis ini lucu.


“Baiklah. Aku juga akan membalikkan badanku.” Tae Hyung pun membalikkan badannya mengikuti apa yang baru saja dilakukan oleh Hye Rim. Untuk beberapa saat mereka berdua saling membelakangi satu sama lain. Hye Rim perlahan melepas kacamatanya dan terus memegang obat itu sedangkan Tae Hyung sibuk memainkan buku Seun Ho yang berada di meja. Tapi tiba-tiba Hye Rim membalikkan badannya sambil memakai kacamatanya lagi.


“Em, tapi, bagaimana cara memakainya?” tanyanya tiba-tiba. Sontak Tae Hyung langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Ternyata Hye Rim telah menghadap dirinya sekarang. Ia pun langsung meletakkan buku itu dan membalikkan badannya.


“Aku tidak pernah memakai obat seperti ini sebelumnya.” Lanjutnya.


Tae Hyung tertawa kecil melihat tingkah Hye Rim yang seperti anak kecil itu. Ia pun meraih obat yang tengah dipegang Hye Rim, “Buka kacamatamu.” Katanya kemudian. Hye Rim ragu, tapi mau tidak mau ia harus membuka kacamatanya. Pelan ia membuka kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.


“Wah, ternyata matamu memang bengkak.” Tae Hyung mengamati kedua mata Hye Rim yang memang membesar itu. “Kau digigit serangga?” tanyanya yang hanya dijawab Hye Rim dengan anggukan kecil.


“Baiklah.” Tae Hyung berdiri dan siap meneteskan obat mata itu. “Buka kedua matamu sebisamu. Aku akan meneteskannya sekarang.” Ia mulai mengangkat tangan kanannya dan mulai meneteskannya pada kedua mata Hye Rim, satu persatu. Ia lihat gadis itu langsung menutup matanya setelah obat itu masuk ke matanya.


Tae Hyung kembali duduk dan menutup obat itu. Ia melihat Hye Rim terlihat menahan sedikit rasa perih yang ditimbulkan oleh obat itu, “Sakit?” tanyanya khawatir.


“Mm, sedikit.” Jawab gadis itu sambil terus memejamkan matanya dan tangannya menggenggam erat roknya, menahan rasa sakit.


“Maukah aku membantumu? Manajer Hyung selalu melakukan ini setelah aku meneteskan obat mata ini.” Ia pun mencari sesuatu di dalam ranselnya yang bisa dipakainya untuk meringankan rasa sakit Hye Rim, ia mengambil satu buah kipas yang diberikan oleh penggemarnya kepadanya dan langsung mengipaskannya ke mata Hye Rim dengan perlahan.

__ADS_1


“Bagaimana? Merasa lebih baik?” tanyanya setelah melihat Hye Rim mulai melepaskan genggamannya dari roknya. Hye Rim mengangguk dan Tae Hyung tersenyum sambil terus mengipaskan kipas itu, berharap gadis itu tidak merasakan perih di matanya.


“Tae Hyung-ah.” Panggil Hye Rim tiba-tiba. “Sebelumnya aku minta maaf telah membuatmu melakukan ini semua.” Tae Hyung diam, menunggu pernyataan selanjutnya dari Hye Rim.


“Erm, sebagai rasa terima kasihku, maukah kau memakan bekal ini bersama?” tanya Hye Rim ragu. Ia malu sekali ini mengatakan ini sekarang, ia merasa ia telah baru saja menyatakan rasa cintanya pada seorang pemuda. Tapi bagaimanapun ia harus membalas kebaikan Tae Hyung dan ini adalah satu-satunya cara yang ia miliki sekarang.


Tae Hyung tersenyum sambil terus menggerakkan kipas itu, “Mm, baiklah. Aku terima tawaranmu.” Jawabnya. “Tapi, kita tunggu dulu sampai kau bisa membuka kedua matamu lagi. Tidak mungkin kan kau makan dengan kedua mata tertutup seperti ini?” candanya. Gadis itu tersenyum dan entah kenapa Tae Hyung merasa sangat baik melihat senyuman gadis itu. Melihat senyum manis gadis yang masih menutup kedua matanya itu.


*


Dari tadi Hye Rim terus tersenyum sambil melihat kotak bekal makanan yang sedang dibawanya sekarang, ia tidak menyangka bahwa hari ini akan menjadi seperti ini, selega ini. Hanya karena kotak bekal makanan ia akhirnya bisa lebih sedikit nyaman dengan Tae Hyung, ah bukan! sepertinya karena Hyun Soo. Coba kalau Hyun Soo tidak datang dan tidak menyuruh Tae Hyung memberikan kotak bekal ini pada dirinya, mungkin tidak akan berakhir selega ini.


“Oh? Kenapa tiba-tiba turun hujan?” tiba-tiba saja, tepat setelah ia sampai di lobi sekolahnya, hujan turun dengan begitu derasnya sampai-sampai beberapa murid yang sudah berjalan keluar terpaksa harus berlari masuk kembali. Berlindung dari hujan deras itu. Sebentar ini menurunkan kacamata hitamnya dan memakainya lagi.


“Aku bahkan tidak membawa payung sekarang. Hh, sempurna” Ia akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku panjang yang terletak tepat di tengah lobi luas itu, berharap hujan akan segera reda, ia dapat pulang dan istirahat tentunya.


Matanya memutar ke seluruh ruangan yang terlihat ramai itu. Ruangan yang jarang sekali seramai ini, bisa menjadi seramai ini hanya karena hujan. Saat ini semua siswa berkumpul di lobi utama ini memenuhi bangku-bangku yang ditata secara asimetris dengan beberapa penerangan minimalis tapi dapat menerangi seluruh ruangan. Siswa biasa, artis bahkan idol, semuanya berkumpul disini. Tapi anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang saling meminta tanda tangan atau foto, semuanya bersikap biasa, seakan tidak ada pembeda diantara mereka. Mungkin bagi penggemar yang biasanya berkumpul di depan pintu masuk sekolah ini, penggemar yang selalu memenuhi trotoar depan sekolah yang membuat pihak sekolah membuat keputusan bagi semua idol dan entertainer untuk tidak melewati pintu gerbang sekolah kecuali dengan van mereka, situasi ini sangat menguntungkan mereka, tidak perlu repot-repot untuk mencari idol atau artis yang mereka sukai, mereka hanya perlu menyiapkan buku kecil dan pena.


Hye Rim mendesah, matanya kini menatap kotak bekal makan yang berada di pangkuannya. “Sudahlah, yang penting, hari ini aku sudah membuat semuanya sedikit lebih mudah.” katanya sambil tersenyum, mengingat apa yang telah terjadi tadi dengan Tae Hyung.


“Kau tidak dijemput?” lamunanya buyar, sontak Hye Rim menolehkan kepalanya.


Tae Hyung?


Hye Rim menggeleng dan kembali seperti semula, mengalihkan pandangan dari Tae Hyung, “Sepertinya tidak.” jawabnya yang kemudian menatap hujan yang terlihat semakin deras.


Tae Hyung melihat Hye Rim dan halaman sekolah secara bergantian, “Deras sekali.” Gumamnya, ” Kau pasti tidak membawa payung. Mau kupinjamkan? Akan kuambilkan di van.” tanyanya yang kemudian langsung berlari keluar tanpa menunggu jawaban Hye Rim.


Hye Rim mendesah. Sebenarnya Hye Rim tidak ingin merepotkan Tae Hyung, tapi apa boleh buat, Tae Hyung sudah pergi untuk mengambil payungnya. Tidak ada pilihan lain sekarang kecuali menunggu Tae Hyung kembali dan meminjam payungnya.


“Han Hye Rim!” panggil seseorang yang berlari kecil. Mendekat ke arahnya.


Joo Won Oppa?


“Ayo pulang. Akan kuantar kau pulang.” Katanya tiba-tiba.


“Eh?”


“Ayo, hari sudah mulai gelap dan sepertinya hujan ini tidak akan berakhir cepat.” Tiba-tiba saja Joo Won mengambil kotak bekal Hye Rim dan berjalan menuju tempat parkir. Namun, langkah pemuda itu terhenti, menyadari seseorang yang seharusnya mengikutinya malah belum beranjak dari tempat duduknya.  Ia lalu menolehkan kepalanya, “Ayo! ku bawa mobil.” Ajaknya. Dengan ragu Hye Rim akhirnya berdiri, memutuskan untuk mengikuti apa yang baru saja ia dengar. Mengikuti Joo Won berjalan keluar, menunggunya tepat di depan lobi -Joo Won yang menyuruhnya- dan masuk ke dalam mobil tepat setelah Joo Won menghentikan mobilnya di depan lobi.


**


Hye Rim menatap dalam Joo Won yang sedang konsentrasi dengan setirnya. Beberapa kali pemuda itu berceloteh tentang hujan hari ini yang turun secara mendadak, tapi Hye Rim sama sekali tidak menghiraukannya, dipikirannya sekarang adalah, kenapa Joo Won bisa mengajaknya pulang bersama, bahkan belum lama setelah mentraktirnya tadi, di kantin.


“Hei, kau tidak berniat untuk mengomentari celotehanku?” tanya Joo Won yang tiba-tiba menatap dirinya. Sontak Hye Rim mengalihkan matanya, mencoba mencari sesuatu yang bisa dilihatnya sekarang.


Joo Won tersenyum, “Kau ini, apa kau akan membiarkanku berbicara sendiri seperti ini? seperti sedang menghafalkan naskah drama?” lanjutnya sambil sesekali melihat Hye Rim yang sepertinya takut sekali untuk menatapnya. Dari tadi gadis itu hanya menatap jalanan di depan atau deretan toko yang telah mereka lewati.


“Baiklah, kalau kau memang tidak ingin berbicara tidak apa-apa. Tapi, paling tidak tataplah aku. Aku tidak akan marah.” Katanya. Dilihatnya gadis itu mulai menggerakkan kepalanya walaupun terlihat ragu-ragu tapi akhirnya gadis itu menatap dirinya dan tersenyum.


“Begini lebih baik.” Senyum Joo Won. “Oh iya! kau selalu membawa bekal ke sekolah?” tanyanya sambil melirik ke kotak bekal yang tengah dipangku Hye Rim.


“Eoh? Tidak Oppa. Hyun Soo yang mengantarkannya ke sekolah tadi.” Jawabnya.


“Adikmu yang mengantarkannya?” balas Joo Won sambil sekilas melirik Hye Rim dan kembali fokus ke jalanan di depannya yang sedikit ramai. Hye Rim mengangguk. Iya, adiknya yang mengantarkannya, seseorang yang tidak ia kira akan melakukan hal seperti ini untuk dirinya. Adik lelakinya, Han Hyun Soo. Cukup lama ia menatap kotak bekal itu sampai kemudian ia baru sadar akan satu hal penting yang hampir saja ia lewati.


Hye Rim sontak menatap Joo Won, “Tapi Oppa, bagaimana Oppa tahu kalau Hyun Soo itu adikku?” tanyanya tiba-tiba yang sontak membuat pemuda disampingnya terlihat sedikit terkejut.


Joo Won mendadak menghentikan mobilnya. Untung saja lampu merah itu menyala pada waktu yang tepat. Ia lalu melepaskan kedua tangannya dari setirnya, perlahan ia mengatur detak jantungnya yang baru saja dikagetkan oleh kecerobohan yang baru saja ia lakukan dan balas menatap Hye Rim yang kini sedang menatapnya dengan bingung.


“Eoh? Aku hanya menebak.” Jawabnya, singkat sambil kemudian mengalihkan pandangannya ke para penyeberang yang tengah berjalan dengan terburu-buru di depannya.


“Oh iya! Rumahmu dimana? Kau belum memberitahu dimana rumahmu.”


“Kau sedang mencari siapa, Tae Hyung?” tanya seseorang yang tiba-tiba berada di belakangnya, Cha Se Na.


Tae Hyung membalikkan badannya dan tersenyum menatap gadis yang berdiri di depannya, “Kau lihat Hye Rim? Tadi ia disini, menungguku mengambil payung. Tapi sekarang, mendadak ia menghilang.” Kata Tae Hyung yang matanya masih mencari keberadaan Hye Rim.


Se Na melihat sebuah payung yang kini tengah berada di genggaman Tae Hyung. Pikirannya menerawang, beberapa kemungkinan yang tengah terjadi diantara Tae Hyung dan Hye Rim kini mulai mengganggu perasaannya.


“Hei,kau kenapa? Kau lihat Hye Rim?” sontak lamunannya buyar. Matanya langsung menatap Tae Hyung yang sedang tersenyum kepadanya.


“Ah! tidak. Kurasa tadi aku melihatnya berjalan dengan Joo Won Sunbae ke depan lobi dan masuk ke sebuah mobil.” Jawabnya sambil menunjuk pintu masuk lobi.


“Mobil?”

__ADS_1


Se Na mengangguk sambil berusaha tersenyum menatap pemuda yang sedikit terlihat kecewa itu. Tae Hyung menundukkan kepalanya, menatap payung yang dari tadi ia bawa. Sepertinya ia terlambat, pikirnya.


“Ah begitu.” Tiba-tiba saja Tae Hyung berbalik badan dan melangkah pergi.


Dalam diam ia masih menatap punggung Tae Hyung yang berjalan keluar. Pikiran-pikiran yang tadi menganggunya seketika muncul lagi, tentang Tae Hyung dan Hye Rim. Tapi tiba-tiba ia melihat Tae Hyung berhenti dan membalikkan badannya.


“Eoh? Kenapa ia kembali kesini?” dilihatnya pemuda itu berjalan menuju ke arahnya. Se Na menatap Tae Hyung bingung dan Tae Hyung membalasnya dengan senyuman.


“Jangan menatapku seperti itu. Kau mau pinjam payung?” Tae Hyung menyodorkan payung yang dari tadi di genggamnya. Se Na sontak mengangguk, cepat.


“Pakailah. Kalau begitu aku pulang dulu. Kau berhati-hatilah, hujan masih sangat deras.” Kata Tae Hyung yang kemudian benar-benar pergi meninggalkan dirinya.


Se Na mengangguk. Ia terdiam mendengar apa yang baru saja Tae Hyung katakan pada dirinya. Apa benar Tae Hyung telah mengkhawatirkannya tadi?. Seketika ia tersenyum, sambil menatap payung itu ia tersenyum. Perlahan ia mulai beranjak dari tempat itu, mengikuti Tae Hyung yang telah menghilang di belokan pintu masuk lobi.


***


“Musim semi ini banyak sekali serangga yang berkeliaran dimana-mana, kau tidak takut digigit serangga nanti?” wanita itu sekilas menatap putrinya yang masih saja memeluk erat bantal beruang besarnya itu, sesekali membenamkan wajahnya ke bantal beruang kesayangannya.


“Jangan khawatir Eomma, aku akan menyemprotkan obat pembasmi serangga nanti, sebelum aku tidur.” Jawab Hye Rim sambil memejamkan matanya sebentar, mengistirahatkan matanya setelah lelah mengganti channel tapi belum ada satu acara bagus yang dapat ia tonton.


“Nuna, apa kau sengaja meninggalkan handphonemu di kamarku? Karena ini aku tidak bisa belajar.” Kata seorang pemuda tampan yang tengah menuruni tangga dengan wajah cemberut.


“Aigoo, kau ini,, sikapmu seperti seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian akhir kelulusannya. Tapi terima kasih.” Kata Hye Rim sambil mengambil handphone nya dan melihat nomor yang tertera di layar handphone nya. Eoh? Nomor baru?


Seperti biasa pemuda itu hanya terdiam sambil berbalik dan berjalan menuju ibunya yang sedang sibuk mencuci tumpukan piring di dapur. Hye Rim hanya tersenyum pendek dan kemudian mengangkat telfonnya.


“Halo, ini siapa?”


“Tae Min.”


Sontak Hye Rim terkejut, dengan buru-buru ia langsung meletakkan remote televisi dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Tae Min? ia harus segera sembunyi sekarang sebelum ada yang tahu kalau seseorang yang sedang menelfonnya kini adalah Tae Min.


“Jangan berlari Hye Rim!” katanya sambil memperhatikan anak gadisnya yang tengah berlari menaiki tangga. Dengan menggeleng-nggelengkan kepalanya, ia kembali menuju dapur yang masih menyisakan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


“Ada apa dengan kakakmu?” tanyanya pada Hyun Soo yang tangannya dari tadi sibuk mencari sesuatu di dalam lemari es.


“Entahlah bu. Oh iya! Ibu lihat snack ku?”


*


Hye Rim langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia langsung menuju depan jendela dan mendekatkan smartphone ke telinganya, smartphone yang dari tadi ia tutup dengan telapak tangannya.


“Kenapa kau tiba-tiba menelfonku?” tanyanya sembari membuka korden jendelanya, melihat hujan deras yang tengah mengguyur Seoul.


“Kenapa? Apa tidak boleh?”


“Ah, bukan begitu. Hanya saja, ini sedikit tiba-tiba.” Jawabnya. Bukan sedikit sebenarnya tapi terlalu tiba-tiba. Untung saja kakaknya tidak berada di rumah sekarang.


“Hahaha, maaf untuk itu. Kau pasti terkejut, aku hanya ingin menyampaikan kalau aku besok tidak bisa masuk, ada konser yang harus kuhadiri di Jepang, mungkin untuk tiga hari kedepan kau harus mengurus kelas sendiri. Tidak apa-apa?”


“Hei, memangnya aku anak kecil? Jangan khawatir, ibu ketua kelas ini pasti akan baik-baik saja tanpa wakilnya. Tapi, kau harus membawakanku oleh-oleh dari sana sebagai gantinya.” katanya sambil tersenyum.


“Oleh-oleh? apa yang kau inginkan? aku akan memberikanmu semuanya.”


“Semuanya?” tanya Hye Rim


“Iya. Semuanya. Hatiku juga boleh kau minta.” Ujar Tae Min tiba-tiba.


Hye Rim tertawa kecil menanggapi candaan Tae Min.


“Yaa, memang itu oleh-oleh? Dijual bebas yaa?” sindir Hye Rim.


Tae Min tertawa renyah.


“Limited edition. Tapi jika kau memintanya, aku akan menjualnya kepadamu.”


Hye Rim tertawa samar.


“Oke, kalau begitu aku minta hatimu saja. Boleh?” goda Hye Rim.


“Tentu! Tapi, sekali kau purchase, kau harus menyimpannya. Tidak boleh dijual ke orang lain, apalagi membuangnya. Kau setuju?”


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2