Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 14 – SECRET - ‘The Revealed Truth-Part. 01’


__ADS_3

“Semuanya 21.600 Won.” Kata seorang pelayan kepada seorang pemuda yang memakai baseball hat putih. Baseball hat yang sempurna menutupi setengah wajah tampannya. Pemuda itu kemudian  mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya dan menyerahkannya kepada pelayan itu.


“Silahkan tunggu sebentar.” Katanya sambil menyerahkan kartu kredit disertai struk pembelian dan satu alat yang digunakan untuk menunggu pesanan kepada pemuda itu.


Pemuda itu mengangguk sambil menerima struk dan alat berbentuk bundar kecil itu. Matanya kemudian mengitari ruangan, mencari satu bangku kosong yang bisa ia duduki. Tak lama ia menemukan satu bangku kosong yang terletak tepat di belakang bangku yang sedang diduduki oleh dua orang pemuda. Langsung ia berjalan menuju bangku itu dan duduk. Dikeluarkannya smartphone nya, mengecek apa ada panggilan atau pesan yang masuk.


“Kau ini, bagaimana bisa kau berkelahi seperti itu? Lalu bagaimana keadaan presdir agensimu? Kurasa ia pasti marah besar,” kata seorang pemuda yang memakai sweater hitam pada seorang pemuda di depannya, pemuda yang memakai baseball hat biru itu.


Seketika perhatian Tae Hyung tersedot oleh kalimat yang baru saja didengarnya.


Agensi? Apa ada seorang idol lain disini?


Perlahan ditolehkannya kepalanya ke jendela besar disampingnya. Lewat jendela itu ia bisa melihat sisi samping dari dua orang pemuda di belakangnya, tempat darimana ia baru saja mendengar kalimat itu, secara tidak sengaja tentunya.


Eoh? Bukankah itu Joo Won sunbae? Dengan siapa ia berbicara?


Iya, seorang pemuda dengan setelah celana jins hitam, kaos putih dan baseball hat biru itu adalah Joo Won. Seseorang yang tiba-tiba masuk dalam perkelahiannya dengan Tae Min dua  minggu yang lalu. Seseorang dengan keadaan yang sama seperti dirinya. Wajah dengan luka dan memar. Melalui jendela itu ia bisa dengan jelas melihat Joo Won mengambil segelas minumannya dan meminumnya, kemudian tersenyum menatap pria didepannya.


“Tapi, kenapa mereka berdua bisa tiba-tiba berkelahi seperti itu? Kurasa mereka bukan tipe laki-laki yang mudah membuang amarah mereka dengan berkelahi. Tae Min dan Tae Hyung, mereka terlihat baik dan damai.”


Apa mereka sedang membicarakanku sekarang?


Kini fokus Tae Hyung benar-benar terpusat kepada kedua pemuda itu dan ia berharap pesanannya tidak selesai terlalu cepat. Walaupun pastinya para Hyung dan manajernya yang berada di dalam van yang terparkir di depan kafe ini akan menunggu lama, tapi kali ini ia benar-benar penasaran. Hal apa yang akan kedua pemuda ini bicarakan tentang dirinya.


“Karena seorang perempuan Hyung dan Hyung tahu benar siapa perempuan itu.”


Pemuda yang dipanggil Hyung oleh Joo Won itu terlihat berpikir sejenak sambil menatap Joo Won. “Mungkinkah-, adikku? Han Hye Rim?” tanya pemuda itu tiba-tiba.


Joo Won mengangguk dan Tae Hyung tersentak. Hampir saja smartphone yang dipegangnya terjatuh. Untung tangannya bisa cepat menangkapnya.


Adik? laki-laki itu..


“Aku minta maaf Hyung karena tidak bisa mengendalikan mereka. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi antara Tae Hyung, Hye Rim dan Tae Min sampai kedua pemuda itu bisa berkelahi seperti itu karena Hye Rim. Padahal setiap hari aku terus memantau Hye Rim dan tentunya kedua pemuda itu. Maaf.”


Sontak saja Tae Hyung terkejut. Matanya langsung memperhatikan satu pemuda yang bernama Hyun Woo itu dengan tajam, tentunya masih lewat jendela itu.


Apa ini? Jadi selama ini Joo Won Sunbae terus memantau kami? Untuk apa?


Belum sempat ia berpikir alasan kenapa Joo Won melakukan itu tiba-tiba alat penunggu itu bergetar, tanda pesanannya telah selesai dan siap diambil. Dengan sedikit enggan ia berdiri, berjalan menuju service desk dan mengambil dua plastik penuh minuman dari pelayan itu. Setelah mengucapkan terima kasih, perlahan ia berjalan keluar sambil sesekali memerhatikan kedua pemuda itu. Tepatnya satu pemuda yang duduk menghadap pintu masuk kafe ini. Pemuda bernama Hyun Woo itu.


“Pantas saja, aku seperti pernah melihatnya. Tapi, apa hubungannya Joo Won Sunbae dengan kakak Hye Rim?” gumamnya sambil melangkah keluar dan berjalan menuju vannya.


*


“Tae Hyung-ah, ikut aku sebentar.” Ucap Hyun Joon sembari berjalan keluar dari ruang latihan. Langsung saja Tae Hyung berdiri dan berjalan mengikuti salah satu Hyung-nya, walaupun ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Hyun Joon mengajaknya keluar kali ini.


Perlahan kedua pemuda itu berjalan menuju salah satu ruang latihan vokal, tepat di sebelah dance practice room. Hyun Joon pun menggesekkan id card nya pada sebuah alat yang terdapat di sebelah kanan pintu ruangan ini, alat scan id card yang ada di setiap ruangan yang berada di Je Sang Entertainment. Secepat pintu otomatis itu terbuka, secepat itu juga Hyun Joon masuk yang kemudian diikuti oleh Tae Hyung.


“Bagaimana wajahmu? Sudah lebih baik?” tanya Hyun Joon sambil mengambil tas punggungnya yang berada di atas piano putih itu dan membukanya, mencari sesuatu.


Tae Hyung mengangguk sambil mengecek keadaan wajahnya di sebuah cermin persegi panjang besar yang tergantung tepat di belakang piano itu. “Sudah lebih baik dari dua minggu yang lalu Hyung.” Jawabnya sambil menyentuh satu plester yang masih tertempel manis di pelipis mata kanannya.


“Kau ini, kenapa kau tiba-tiba berkelahi seperti itu? Kau tahu? Selama ini kami menganggapmu sebagai Maknae yang tidak akan membuat keributan semacam ini, jadi kami benar-benar terkejut ketika mendengar berita itu dan melihat wajahmu yang sudah tidak berbentuk waktu itu. Bahkan kurasa, selama aku bergabung di agensi ini, waktu itu adalah pertama kalinya aku melihat Cha Sajangnim begitu marah.” Kata Hyun Joon sambil mengeluarkan satu map transparan dari tasnya dan menutup tasnya. Perlahan ia membalikkan badannya, menghadap Tae Hyung yang masih mengelus-elus luka memarnya di pipi kirinya.


Tae Hyung membalikkan badannya dan tersenyum.


“Tapi, sepertinya kau berbohong tentang alasanmu berkelahi dengan Tae Min.”


Sontak Tae Hyung terkejut. Apa Hyung tahu semuanya?


“Tidak apa-apa. Aku tidak akan memintamu untuk menjelaskannya sekarang. Untuk saat ini, bawa map ini, baca profil seseorang yang terdapat di dokumen ini dan pastikan untuk melihat apa yang ada di dalam flashdisk ini juga.” Ucap Hyun Joon sembari menyerahkan map yang berisi satu dokumen dan satu buah flashdisk.


“Ini apa Hyung?” tanya Tae Hyung sambil mengernyitkan dahinya.


“Sudah lihat saja. Ah! Jangan sampai member yang lain dan manajer Kim tahu tentang ini semua. Usaha yang telah kukeluarkan akan sia-sia nantinya.” Kata Hyun Joon yang bersiap keluar dari ruangan itu. Jarinya kemudian menyentuh salah satu tombol yang bertuliskan ‘open’ yang terdapat dalam touch screen tab yang dipasang di sebelah pintu ini.


Hyun Joon keluar dan Tae Hyung masih terdiam di tempatnya. Matanya bergantian memperhatikan map yang dipegangnya dan Hyun Joon yang menunggu di depan pintu. Tidak mengerti dengan sikap Hyun Joon kali ini.


“Tidak keluar?” tanya Hyun Joon sambil tersenyum


**


Dokumen apa ini?


Pelan tapi pasti ia membuka pintu kamarnya, menutupnya dan berjalan keluar. Matanya mengawasi sekitar, ruang tamu, dapur dan ruang makan kini terlihat sangat sepi. Ini bagus, kemudian ia melangkah menuju tiga kamar lainnya, membukanya satu persatu.


Sepertinya para Hyung sudah terlelap, kurasa aku harus melakukannya sekarang.


Setelah menutup kamar terakhir, kamar Kang Dae dan J.E, ia kembali melangkah menuju salah satu meja yang terletak di sebelah pantry dapur apartemen itu, menarik kursinya perlahan dan duduk. Ia pun meletakkan laptop dan map transparan itu diatas meja, tangannya menekan tombol power laptopnya dan  kemudian membetulkan kacamata tanpa lensa favoritnya yang tengah ia pakai sekarang.


Laptopnya sudah menyala sempurna dan ia pun memasukkan flashdisk dari Hyun Joon di salah satu usb port yang terdapat dalam laptopnya, tak perlu menunggu lama satu notifikasi tentang flashdisk nya pun keluar, di klik-nya notifikasi itu dan semua isi dari flashdisk itu pun terpampang di  layar laptopnya. Tapi sebentar, kenapa hanya ada satu file?


‘2017 Je Sang Entertainment Audition Participant’s List’


Dahi Tae Hyung mengernyit. Kenapa Hyung memberiku data audisi tahun 2017?


Dengan rasa penasaran yang mulai merasuki dirinya, ia pun membuka file itu. Ia sedikit terkejut melihat apa yang terpampang di layar laptopnya sekarang. Dalam satu file itu  berisi lengkap data tentang para peserta audisi tahun 2017. Mulai dari daftar peserta yang mendaftarkan diri lewat email dan website Je Sang Ent., lengkap dengan tempat, tanggal dan hal apa yang mereka lakukan ketika audisi, daftar para peserta yang lolos audisi pertama hingga ketiga, daftar kegiatan yang harus mereka lakukan dalam masa training, bahkan sampai daftar target para peserta itu dapat memulai debut. Semuanya lengkap.


Kini matanya mulai fokus pada setiap file-file itu. Tangannya mulai membuka satu persatu file, dimulai dari daftar para peserta yang mendaftar –termasuk dirinya-. Tahun 2017 adalah tahun pertamanya ia mengikuti audisi dan ia langsung diterima.


Tapi, apa yang harus kucari disini? Haruskah aku melihat data ke 5000 orang ini?


Jarinya sibuk menggulung cursor laptopnya. Baiklah pertama-tama ia mungkin bisa mengecek namanya terlebih dahulu. Tangan dan matanya mulai fokus mencari permulaan dari huruf K, huruf awal namanya.


Han Hae Woo, Han Hye Rim, Im Hyun Ki, Im Min Hee, Jeon Soo Min, Kim Tae Hyung. Seketika cursor nya terhenti tepat di namanya, dibukanya file tentang dirinya itu, tapi tiba-tiba ia terhenti. Sepertinya ia telah melwatkan satu nama penting. Segera ia kembali ke folder semula, dilihatnya daftar nama itu lagi dan ini dia.


Han Hye Rim?


Langsung ia membuka file itu dan muncul satu profil lengkap seorang gadis bernama Han Hye Rim beserta dengan fotonya.  Sontak mulutnya ternganga melihat foto itu. Matanya pun membaca semua isi profil dari gadis itu, dengan cepat ia langsung membuka folder lainnya, dari folder pendaftaran sampai dengan folder  tanggal dan tahun debut calon idol itu ia bisa menemukan nama itu, bahkan dari semua daftar itu, terdapat beberapa trainee yang ditandai dengan ‘prioritas untuk debut’, diantaranya dirinya dan gadis itu, Han Hye Rim.


Seketika ia teringat dengan map yang diberikan oleh Hyun Joon, tanpa berkata apa-apa ia langsung membuka map itu dan mengambil satu dokumen di dalamnya.


Surat Perjanjian Kontrak? Dan apa ini? Pernyataan penundaan kontrak?


Dibukanya satu persatu dari kedua surat itu. Benar saja surat perjanjian kontrak ini sama dengan apa yang diterimanya dua tahun yang lalu, yang berbeda hanya terdapat dalam kolom nama dan profil, karena di surat ini tertulis nama gadis itu, Han Hye Rim. Jantungnya mulai berdetak kencang sekarang, segera ia membuka dokumen kedua, tentang surat pernyataan penundaan kontrak untuk sementara waktu. Dalam surat ini tertulis alasan gadis itu menunda kontrak ini lengkap beserta tanda tangan gadis itu dan presdirnya, Cha Je Sang. Ia benar-benar tidak mengerti sekarang. Apa ini artinya kalau gadis itu seharusnya telah menjadi seorang idol sekarang? Bahkan ketika ia memperhatikan tanggal rencana debut Hye Rim di surat perjanjian kontrak itu, gadis itu debut dua bulan lebih awal dari dirinya. Tapi kenapa ia tiba-tiba membatalkannya?


“Kau terkejut? Aku juga.”


Sontak Tae Hyung mengangkat wajahnya. Dilihatnya kini seorang pemuda dengan kaos putih tanpa lengan dan celana ¾ itu berjalan mendekati dirinya.


“Darimana Hyung mendapatkan ini semua? Bukankah ini rahasia?”


Pemuda itu pun duduk dengan segelas air putih ditangannya.


“Hyun Shik Hyung yang membantuku. Kau tahu kan? Hyung yang bertugas dalam bagian penerimaan trainee baru hingga mempersiapkan dokumen tentang debut itu? Ketika kau dan aku kembali dari mengantar Hye Rim pulang malam itu, tiba-tiba saja ia menghampiriku dan bertanya tentang siapa gadis itu. Ya, aku hanya menjelaskan yang ku tahu saja bahwa gadis itu adalah Han Hye Rim, teman sekolahmu. Esoknya ia memanggilku dan menunjukkanku itu, dokumen yang tengah kau lihat sekarang. Dan saat itu juga aku teringat dirimu, aku rasa aku harus memberitahumu tentang ini semua. Jadi aku memohon untuk diberikan semua data lengkap tentang Hye Rim, pada awalnya Hyun Shik Hyung benar-benar menolak, tapi setelah aku berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, ia setuju. Ia kemudian memberiku flashdisk dan fotokopi dari kedua dokumen itu.” Jelasnya.


“Jadi, tanyakanlah kepadanya. Kau tidak ingin usaha kerasku menjadi sia-sia bukan?” lanjutnya sambil meminum segelas air putih itu. Tae Hyung terdiam, ia masih sedikit tidak percaya dengan ini semua.


“Ah! Ada satu lagi. Aku tidak tahu hubungan apa yang terjadi antara Cha Sajangnim dengan Hye Rim, tapi Cha Sajangnim memberikan gadis itu kesempatan emas yang bahkan baru aku dengar kemarin, ketika Hyung Shik Hyung mengatakannya padaku.”


Tae Hyung langsung menatap Hyun Joon penasaran. Kesempatan emas?


“Cha Sajangnim mengatakan kalau gadis itu bisa kembali ke Je Sang kapanpun ia mau. Cha Sajangnim akan langsung membantunya. Aneh bukan?”

__ADS_1


Tae Hyung terkejut.


“Jadi maksud Hyung, kapanpun Hye Rim mau, ia bisa datang ke agensi kita dan langsung debut? Begitu saja?”


**


Tiga orang pemuda berseragam maroon dan mocca itu tengah berjalan bersama menuju kelasnya. Mungkin bukan tiga orang pemuda biasa tapi dua orang pemuda yang masih dipenuhi oleh perasaan buruk setelah perkelahian itu dengan satu orang pemuda ‘penengah’ yang tepat berjalan di antara kedua pemuda itu. Jung Seun Ho.


“Yaa, Lee Tae Min, Kim Tae Hyung, jika kalian berkelahi lagi seperti dua minggu  yang lalu, kupastika kalian akan mati ditanganku.” Kata pemuda ‘penengah’ itu sambil menatap Tae Hyung dan Tae Min tajam.


Tae Min dan Tae Hyung serentak tersenyum. Ia tahu temannya ini hanya bercanda.


“Aku tahu, aku tahu. Lagi pula laki-laki tanpa berkelahi itu hambar.” Sahut Tae Min.


“Tae Min benar. Sekali-kali kau cobalah untuk berkelahi.” Kata Tae Hyung menanggapi pernyataan Tae Min, seseorang yang pernah menjadi ‘sparring partner’nya.


“Iyakah? Haruskah kulakukan sekarang? Karena kalian Lee Sajangnim juga memarahiku. Ia mengatakan kalau aku tidak bisa menjaga Tae Min dengan baik. Tapi karena kalian mengatakan itu, kurasa sekarang waktu yang tepat. Lee Tae Min, kau majulah dulu.”  Ucap Seun Ho. Sontak Tae Min dan Tae Hyung berlari menjauh dan langsung masuk ke kelas yang sudah ramai itu. Mata Tae Hyung tak sengaja menangkap siluet seorang gadis yang terlihat sedang mengajarkan sesuatu kepada temannya, seketika ia teringat tentang dokumen yang diberikan oleh Hyun Joon kemarin, dokumen yang membuat perasaannya campur aduk. Pelan ia mendekati gadis itu. Berdiri tepat di sebelahnya.


“Hye Rim-ah, ada yang ingin kubicarakan denganmu, bisakah kita keluar?”


Gadis itu hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada temannya.


“Tidak bisakah kita bicara disini saja?” tanya gadis itu, dingin.


Tae Hyung melihat sekitarnya dan menggeleng.


“Tidak bisa. Ayolah, sebentar saja.”


“Yaa, Hye Rim-ah, sepertinya ada hal penting yang ingin Tae Hyung sampaikan padamu. Kau pergilah, aku akan meminta Se Na untuk mengajariku.” Kata teman itu yang tiba-tiba  berdiri dan duduk di sebelah Se Na yang tengah memperhatikan Tae Hyung dan Hye Rim tajam. Jujur, ia tidak suka dengan pemandangan ini.


Hye Rim menarik nafasnya dan kemudian melangkah keluar. Segera Tae Hyung mengambil map transparan itu dari tasnya dan langsung menyusul Hye Rim yang baru saja melewati Tae Min dan Seun Ho. Seun Ho masih memperhatikan kedua temannya itu dan tiba-tiba matanya tidak sengaja menatap Tae Min yang ternyata juga tengah memandang Hye Rim dan Tae Hyung dengan tatapan tidak suka dan terganggu.


“Yaa, Tae Min-ah. Haruskah aku menraktirmu sekarang?” katanya sambil menyeret pemuda itu menjauh dari tempat itu. Menjauhi kemungkinan terburuk dari situasi sekarang.


**


“Kau tidak ingin duduk?” tanya Tae Hyung melihat Hye Rim yang masih berdiri.


Sekilas gadis itu melirikkan matanya dan kemudian ia pun duduk.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Hye Rim tanpa melihat Tae Hyung.


“Tentang ini. Bisakah kau menjelaskan ini semua?” kata Tae Hyung sambil menyerahkan satu dokumen dari dua dokumen yang didapatkannya dari Hyun Joon kemarin. Untuk sejenak Hye Rim menatap Tae Hyung tidak mengerti, kemudian matanya tertarik pada satu dokumen yang tengah dipegang pemuda itu, perlahan ia mengambilnya.


Surat Perjanjian Kontrak Je Sang Entertainment


Awalnya Hye Rim masih tidak mengerti dengan dokumen ini, tapi setelah matanya menelusuri setiap huruf yang terdapat dalam dokumen ini ia mulai menyadari sesuatu. Dokumen ini sama persis dengan apa yang dimilikinya di rumah, dokumen yang telah ia simpan selama tiga tahun lebih di laci meja riasnya, di kamarnya.


“Kau, bagaimana kau bisa,” belum sempat Hye Rim menyelesaikan kalimatnya, Tae Hyung merebut dokumen itu dari tangan Hye Rim.


“Kau. Bukankah kau seharusnya sudah menjadi Sunbae-ku sekarang? Tapi kenapa kau tiba-tiba keluar begitu saja waktu itu? Bukankah ini mimpimu yang sebenarnya?” serbu Tae Hyung dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mengganggunya dari semalam.


Hye Rim terdiam, matanya bahkan tidak berani menatap Tae Hyung.


“Bahkan Cha Sajangnim juga memberikanmu kesempatan emas itu, kau bisa langsung debut hanya dengan datang ke agensi kami dan memintanya dari Cha Sajangnim. Bukankah itu membuktikan kalau kau memang berbakat? Tapi kenapa kau malah tidak menggunakan kesempatan itu sama sekali? Apa kau tidak tahu kalau kesempatan itu masih berlaku hingga saat ini?” saat ini Tae Hyung sedang berusaha menahan emosinya di depan gadis yang bodoh ini. Bagaimana bisa gadis ini membuang kesempatan emas ini?


Hye Rim menunduk. Tidak, ia tahu. Ia tahu kalau kesempatan itu masih berlaku hingga sekarang. Dua minggu yang lalu ia menerima email dari Je Sang Ent. yang mengatakan kalau ia masih bisa menggunakan kesempatan itu.


“Kau tahu? Itu adalah pertama kaliku mendengar bahwa ada kesempata emas seperti itu. Selama ini Cha Sajangnim bahkan tidak berkata apapun tentang kesempatan seperti itu pada kami. Sebentar! Itu artinya, kau mengikuti semua proses trainee itu? Bersamaku?” tanya Tae Hyung yang tiba-tiba menyadari satu hal penting. Badannya kini menghadap gadis itu. Hye Rim terdiam. Ia masih belum mampu menjelaskan apa-apa sekarang.


Sepertinya kalimat yang pernah ia lontarkan kepada Tae Min tentang ia yang lebih dahulu bertemu dengan Hye Rim itu benar, bahkan ia sendiri tidak tahu kalau ia telah bertemu dengan gadis itu sejak tiga tahun yang lalu.


Hye Rim melirik sekilas Tae Hyung yang sedang menunduk.


“Baiklah. Sekarang coba kau jelaskan, kenapa kau keluar?”


Hye Rim masih terdiam dan menunduk. Bagaimana bisa ia mengatakan alasan ia keluar adalah kakak laki-lakinya, Han Hyun Woo?


“Kenapa kau terdiam? Jangan-jangan, apa itu benar? Ini semua juga karena kakakmu?” tanya Tae Hyung yang teringat dengan apa yang didengarnya dari Hyun Soo.


Hye Rim sontak mengangkat kepalanya. Bagaimana Tae Hyung bisa tahu tentang kakaknya? Siapa yang telah memberitahunya? Baru saja ia ingin bertanya tentang bagaimana pemuda ini bisa tahu soal kakaknya, tiba-tiba saja pemuda ini menyelanya.


“Ah! Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang berhubungan dengan kakakmu. Apa mungkin kau ah bukan! Maksudku keluargamu mengenal baik Joo Won Sunbae?” tanya Tae Hyung sambil menatap penasaran kedua mata gadis yang kini akhirnya menatap dirinya.


Hye Rim mengernyit. Apa lagi ini? Joo Won Sunbae?


“Apa maksudmu dengan keluargaku? Kurasa hanya aku yang mengenalnya.” Jawab Hye Rim dingin. Kini pemuda itu terlihat berpikir.


“Kau yakin? Kurasa kakakmu mengenalnya, lebih dari dirimu.”


“Hyun Soo juga mengatakan kepadaku kalau kakakmu tidak melakukan apa-apa ketika skandal Joo Won Sunbae dan kau tersebar?”


“Kau, sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan sekarang?” jujur ia bingung. Permasalahan tentang surat kontrak itu saja belum selesai dan kini Joo Won dan kakaknya?


“Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati dengan sikapmu di sekolah. Selama ini ternyata Joo Won Sunbae telah memata-mataimu dan melaporkan semuanya kepada kakakmu. ” Ucap Tae Hyung tiba-tiba. Sontak saja Hye Rim sangat terkejut mendengar pernyataan Tae Hyung baru saja. Pernyataan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.


“Mata-mata? Yaa,, apa kau sedang bercanda sekarang? Bagaimana mungkin Joo Won Sunbae mengenal kakakku? Bahkan aku saja baru mengenalnya disini.”


“Aku serius. Selama ini ia telah memata-mataimu dan melaporkannya ke kakakmu. Bahkan sekarang, aku dan Tae Min juga termasuk. Joo Won sunbae mulai mengawasiku dan Tae Min karena dekat denganmu. Maka dari itu, kau  harus lebih berhati-hati.” Lanjutnya.


Hye Rim menghela nafas keras dan tersenyum sinis. Mata-mata? Apa itu mungkin?


“Yaa, Kim Tae Hyung, apa hanya ini kalimat yang bisa kau katakan sekarang?”


Tae Hyung terdiam sambil menatap gadis itu bingung.


Apa? Aku hanya memberitahumu yang sebenarnya!


“Setelah Joo Won Sunbae meleraimu dari Tae Min, bahkan ia telah menerima pukulan itu. Kau hanya bisa mengatakan hal rendahan seperti ini?” tanya Hye Rim sekali lagi.


“Bukan itu maksudku. Kalau masalah itu aku benar-benar merasa bersalah karena tidak sengaja memukul Joo Won Sunbae. Tapi, masalah kali ini berbeda. Aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku tidak berbohong. Aku melihat mereka di-,”


Seketika Tae Hyung memotong kalimatnya melihat gadis itu tiba-tiba berdiri dan menatap dirinya dengan tidak suka.


“Kalau hanya hal rendahan seperti ini yang ingin kausampaikan, tidak seharusnya aku mengikutimu sampai kesini.” Kata Hye Rim yang langsung melangkah pergi dari tempat itu.


“Yaa! Hye Rim-ah! Han Hye Rim!” panggilnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Di depan matanya kini, gadis itu benar-benar melangkah pergi dan menghilang di belokan dekat kumpulan bunga yang bermekaran indah itu. Tae Hyung mendesah berat. Matanya kini teralih pada dokumen yang dari tadi dipegangnya.


“Bahkan aku belum mendapat jawaban darinya tentang ini.” Gumamnya pelan. Ia menyesal sekarang, seharusnya ia tidak mengungkit-ungkit masalah tentang Joo Won dan Hyun Woo dulu. Sepertinya ia akan lebih susah mendekati Hye Rim mulai dari sekarang.


Sekilas ia melihat jam tangannya, sudah pukul 11.45 KST, itu artinya lima belas menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


“Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku telah menyampaikannya dan juga aku telah mendapatkan satu jawaban pasti, kalau ternyata Hye Rim memang seharusnya telah menjadi Sunbae ku sekarang. Ahh, gadis bodoh itu.” Gumamnya sambil melangkah perlahan.


**


Saat ini, tepat disamping gedung sekolah itu berdiri dua orang siswi yang tengah saling memandang satu sama lain dengan dingin. Seorang gadis berambut panjang coklat almond itu terlihat begitu terganggu dengan pertanyaan gadis di depannya, gadis yang baru saja ia ‘seret’ ke tempat ini.


“Apa lagi yang ingin kau katakan sekarang?”


“Aku heran. Kenapa kau bisa memiliki begitu banyak malaikat pelindung? Tiga malaikat pelindung? Bukankah itu terlalu banyak?” kata Se Na tiba-tiba.


Hye Rim menatap Se Na bingung. Malaikat pelindung?

__ADS_1


“Dan hebatnya, ketiga malaikat pelindung itu rela melukai wajah mereka demi kau. Padahal wajah itu adalah salah satu aset penting mereka. Memangnya kau ini apa? Seorang dewi langit yang mengatur kehidupan mereka?”


Hye Rim mulai mengerti kemana arah pembicaraan Se Na kali ini. Ketiga pemuda itu.


“Kau benar-benar-, apa kau akan mempermainkan perasaan mereka seperti ini?”


“Apa maksudmu dengan perasaan mereka?” tanya Hye Rim akhirnya.


Se Na tersenyum tipis, “Baiklah. Mungkin kalau Tae Min, kau sudah tahu ia menyukaimu, tapi apa kau tahu kalau Joo Won Oppa dan-,” tiba-tiba kalimat gadis yang tengah menatap tajam Hye Rim itu terhenti. Matanya memandang Hye Rim penuh kebencian.


“Dan, pemuda itu, Kim Tae Hyung, juga menyukaimu?”


Hye Rim terkejut dengan apa yang didengarnya.


“Apa? Kau ingin mengatakan kalau mereka tidak menyukaimu? Begitu jelasnya sikap mereka yang seperti itu kepadamu, kau masih yakin ingin mengatakan dan meyakinkan logikamu kalau mereka tidak menyukaimu?” bantah Se Na.


Hye Rim terlihat bingung dan tidak percaya dengan perkataan Se Na.


“Aigoo, bagaimana kau bisa tidak melihat itu semua, Han Hye Rim? Bahkan seorang pemburu dapat menemukan lokasi seekor buruannya hanya dengan mendengar derap kaki hewan itu. Tapi kau, apa kau benar-benar tidak bisa melihat buruanmu yang sedang berjalan didepanmu dan bertingkah sangat manis itu, seakan-akan memintamu agar menangkapnya dan memeliharanya?”


Mana mungkin. Tidak mungkin Joo Won Oppa dan Tae Hyung juga,


“Menjauhlah dari Tae Hyung. Kali ini aku serius. Kalau tidak, aku akan menghancurkan karir Tae Hyung. Han Hye Rim.”


Hye Rim sedikit tersentak . Ia tersenyum sinis menatap gadis itu.


“Aigoo, kenapa hari ini aku terus mendengar kalimat rendahan seperti ini?”


“Apa?”


“Yaa, Cha Se Na. Kau ini kenapa? Kenapa kau tiba-tiba mengancamku seperti ini? Kalau kau memang menyukainya. Kenapa kau tidak nyatakan saja perasaanmu?”


“Dan juga, kau akan menghancurkan karirnya? Kau yakin kau bisa menghancurkannya? kurasa yang ada di pikiranmu sekarang adalah bukan kau tapi ayahmu dan aku yakin seratus persen Cha Sajangnim bukanlah orang seperti itu.”


“Aku bahkan tidak menyangka kalau kau adalah putri satu-satunya Cha Sajangnim. Sifatmu sangat berbeda dengan beliau.” Lanjut Hye Rim sembari menatap Se Na sinis.


Pernyataan Hye Rim baru saja membuat Se Na berfikir sejenak. Baiklah, mungkin sebagian besar orang juga berfikir kalau sikapnya sekarang terlihat sangat kekanak-kanakan dengan mengancam gadis itu dan orang-orang itu pasti berfikiran kalau orang tuanya tidak memiliki sifat seperti ini. Tapi anehnya, pernyataan Hye Rim baru saja terkesan berbeda dengan orang-orang itu, seakan-akan Hye Rim telah bertemu dan mengenal ayahnya.


“Aku bisa melakukannya dan juga kau, apa kau tidak merasa malu sedikit pun? Setelah kau menjadi alasan sebenarnya kenapa Tae Min dan Tae Hyung berkelahi seperti itu dua minggu yang lalu, sekarang kau masih mempunyai wajah untuk menemui Tae Hyung?”


Hye Rim mengangkat wajahnya.


“Se Na-yah, kumohon jangan seperti ini. Kau tahu? Sikapmu ini sangat kekanak-kanakan. Kau selalu menggangguku tanpa alasan yang jelas seperti ini. Kusarankan kau nyatakan dulu perasaanmu setelah itu kalau memang jawaban dari pernyataan cintamu tidak baik, kau boleh menggangguku. Paling tidak izinkan aku mengetahui alasan kau melakukan ini. Eoh?” kata Hye Rim yang masih menatap Se Na tajam. Tanpa rasa takut sedikit pun.


Se Na sedikit terkejut. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang.


“Kenapa? Ah, mungkinkah kau malu? Ragu-ragu atau bahkan tidak percaya diri?”


“Yaa, Han Hye Rim, jaga bicaramu!”


**


Tae Hyung mengangkat kepalanya, matanya menatap langit biru dan awan putih yang berada diatasnya. Perlahan sebuah senyuman terukir di bibirnya.


Apa yang sedang mereka lakukan disana?


“Kenapa? Kau tidak menyangka kalau aku bisa mengatakan hal seperti ini? Asal kau tahu, aku tidak akan diam saja menerima perlakuan seperti ini dari orang lain, Cha Se Na.”


Tiba-tiba terdengar suara bel masuk berbunyi.


“Ahh, sepertinya kita harus masuk sekarang. Kau ingat apa kataku bukan? Kalau kau memang menyukainya seperti itu, mencintainya seperti itu, nyatakan saja perasaanmu. Setelah itu, kau baru boleh menggangguku. Setelah aku mengetahui jawabannya.” Kata Hye Rim sambil berbalik, bersiap melangkah pergi.


Eoh?


Mata dan telinga Tae Hyung mulai fokus sekarang. Ia penasaran siapa yang tengah disukai Se Na sekarang. Tapi tiba-tiba, ketika Hye Rim berbalik dan mulai melangkah pergi, gadis itu, Cha Se Na terlihat aneh, tangannya mulai menggenggam erat dan seakan baru saja dikejutkan dengan sesuatu gadis itu melangkah cepat menghampiri Hye Rim dan memanggilnya. Belum sempat Tae Hyung memanggil Hye Rim, sebuah tamparan keras dari tangan Se Na telah mendarat tepat di pipi kiri Hye Rim yang terlihat sangat terkejut itu. Gadis itu hanya terdiam sambil memegang pipi kirinya, kepalanya menunduk tapi tak lama ia mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Se Na yang tajam itu.


“Yaa! Cha Se Na!” bentak Hye Rim yang tidak hanya mengejutkan Se Na tetapi juga beberapa murid yang berlalu lalang di sekitar mereka dan di dalam gedung itu. Kini semua mata tertuju kepada kedua gadis itu. Tanpa berpikir lagi sontak Tae Hyung berlari menghampiri kedua gadis itu. Ia tidak ingin perkelahian hebat dua minggu yang lalu akan terulang lagi kali ini.


“Sudah kukatakan, jaga bicaramu. Han Hye Rim.”


“Kenapa dengan bicaraku? Apa aku salah? Kau bilang kau menyukainya dan aku hanya menyarankanmu untuk segera menyatakan perasaanmu. Itu saja!” balas Hye Rim.


Se Na menundukkan kepalanya sejenak. Dan kemudian mengangkatnya. Sontak ia terkejut dengan seseorang yang dilihatnya tengah berada di belakang Hye Rim sekarang.


“Eoh. Kau memang benar Hye Rim. Aku memang menyukainya. Sangat menyukainya, bahkan sejak tiga tahun yang lalu. Sejak pertama kali aku melihatnya menari dan mendengar suaranya di audisi tahun itu, ia sudah mengambil hatiku. Dan ketika aku tahu ayahku menerimanya sebagai trainee di perusahaan kami, setiap hari aku berusaha untuk meluangkan waktuku untuk mampir di perusahaan ayahku  hanya untuk melihatnya berlatih.” Kata Se Na sambil tersenyum tipis menatap Hye Rim.


“Padahal, kau tahu? Mungkin kau akan berfikir kalau aku ini aneh. Sebenarnya aku tidak tertarik sama sekali dengan dunia idol di Korea Selatan. Walaupun ayahku adalah seorang presdir dari salah satu manajemen artis terbesar di Korea Selatan, yang mana semua orang berfikir bahwa aku bisa dengan mudahnya debut dibawah label ayahku, tapi sejujurnya aku tidak memiliki ambisi untuk menjadi idol sedikit pun. Tapi, semenjak pemuda itu masuk ke kehidupanku, semuanya berubah.”


Tae Hyung masih terdiam. Salah satu trainee di JS. Ent?


“Melihatnya berlatih begitu keras setiap hari, melihat senyumnya yang masih berkembang di bibirnya di tengah jadwal latihan yang begitu padat, membuat hatiku meminta logikaku untuk merubah keputusanku. Dan akhirnya, aku berada di sini sekarang. Di sekolah ini. Mungkin kalau pemuda itu tidak mendaftar, mengikuti audisi dan diterima di perusahaan ayahku, aku tidak akan berada disini dan pastinya aku tidak akan bertemu denganmu.”


Kini disekitar kedua gadis itu dipenuhi oleh kumpulan murid-murid yang terdiam mendengar pernyataan mengejutkan dari bibir Se Na. Entah mereka lupa atau mereka tidak perduli dengan bel masuk yang sudah berbunyi, mereka lebih memilih untuk tinggal disini.


“Maka dari itu. Izinkanlah aku untuk menyukainya.” Se Na meenghentikan bicaranya. Segurat senyum samar mulai terukir di wajahnya


“Izinkanlah perasaanku untuk mengenalmu lebih dalam, Kim Tae Hyung.” Kata Se Na tiba-tiba sambil perlahan mengangkat kepalanya dan menatap seorang pemuda yang berdiri terpaku di belakang Hye Rim, pemuda yang sangat terkejut dengan apa yang  baru didengarnya baru saja. Kim Tae Hyung.


***


Minggu, 24 Maret 2017


“Akhirnya, setelah dua tahun aku menjadi trainee, hari ini tiba juga.” Gumam seorang gadis empat belas tahun yang berjalan dengan riang dan senyuman yang terus tergurat di bibir mungilnya. Gadis yang tengah memandangi satu buah map yang berisi satu dokumen yang telah lama-lama ia impikan. Dokumen mimpinya.


Dalam kegelapan malam, ia terus berjalan menelusuri daerah tempat ia tinggal. Melewati satu buah lampu jalan yang sangat ia sukai. Lampu jalan berwarna keemasan yang terletak di depan toko kelontong itu. Entah kenapa setiap ia melewati tempat itu, ia merasa keajaiban-keajaiaban yang tidak terduga akan terjadi padanya. Seperti hari ini. Tiba-tiba saja presdir agensinya memanggilnya dan memberinya map yang tengah ia peluk erat sekarang.


Tak lama, akhirnya ia sampai ke rumahnya. Rumah kedua dari persimpangan pertama, rumah tingkat dua dengan cat gading itu. Perlahan ia membuka gerbang pagar rumahnya, berjalan cepat –dengan masih tersenyum dan memeluk map itu-, membuka pintu dan ketika mulutnya hendak mengucap salam tiba-tiba satu buah percakapan menghentikannya.


“Tidak Eomma. Aku tetap tidak setuju. Kumohon, mengertilah Eomma.” Kata seorang pemuda berusia dua puluhan kepada ibunya yang sedang menatapnya, dalam.


“Tapi, apa kau tidak tahu kalau selama dua tahun ini, adikmu telah berusaha keras?”


Pemuda itu mengangguk.


“Lalu kenapa? Kau ingin menghancurkan mimpi adikmu? Kumohon hentikan semua ini, Han Hyun Woo. Kau akan melukai perasaannya. Eomma mengerti maksudmu baik, tapi izinkanlah gadis itu melakukannya.” Pinta ibunya sambil duduk disebelah pemuda itu.


Hye Rim terdiam sambil menatap kedua orang itu dengan sedih. Lagi-lagi ini?


“Tidak Eomma. Mungkin bukan sekarang. Aku masih takut. Eomma tahu itu.” Kata Hyun Woo sambil menunduk. Kedua tangannya sempurna menutup wajahnya. Ibunya perlahan memeluk anak tertuanya sambil mengatakan sesuatu yang tidak didengar oleh Hye Rim. Sesuatu yang menenangkan pemuda itu, kakak laki-laki Hye Rim, Hyun Woo.


Hye Rim kini menatap map yang telah dipeluknya dari tadi dengan sedih. Tanpa disadarinya air matanya menetes. Pelan, pelan dan mulai deras. Ia sangat sedih saat ini.


Tapi aku sangat ingin melakukannya..


Sekali lagi ia melirik kakaknya dan ibunya yang tengah berpelukan itu. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa seperti tertusuk oleh serpihan porselen dari sebuah guci yang tidak sengaja ia pecahkan. Sebuah guci yang ia buat dengan kerja keranya sendiri selama dua tahun ini. Guci yang sangat ia sukai dan idam-idamkan selama ini.


“Haruskah aku berhenti saja?”


Hye Rim memeluk erat map putih yang telah basah oleh air matanya. Sebuah map yang berisi dokumen tentang perjanjian kontrak pertamanya sebagai seorang entertainer muda Korea Selatan dibawah salah satu manajemen artis terbesar di negeri ginseng itu. Je Sang Entertainment.


*** 


 

__ADS_1


 


__ADS_2