
Tae Hyung?!
“Kau tahu siapa pemuda ini? Karena pemuda ini, aku harus berlari bersama Apple hanya untuk mencarimu. Kau sempat bersekolah di sekolah yang sama dengannya bukan?” tanya Manda sambil sekilas melihat Apple yang tampak sangat berharap. Hye Rim masih terdiam. Dengan sangat fokus dibacanya artikel yang tertulis di bawah foto Tae Hyung.
Sudah dua minggu Tae Hyung berada di rumah sakit? Bagaimana bisa aku baru tahu sekarang?
“Anak ini bahkan menangis ketika mengetahui idolanya tercinta tengah dirawat di rumah sakit dan boyband idolanya, TheBoys sedang tidak dalam keadaan yang baik karena Maknae nya, Kim Tae Hyung dirawat di rumah sakit. Kau kenal ia bukan? Hye Rim?”
Hye Rim bergeming. Hatinya mulai membuat satu kesepakatan dengan pikirannya.
“Han Hye Rim!” panggil Manda yang sontak saja menyadarkan Hye Rim.
“Eoh! Ah! Maaf aku harus pergi sekarang. Thank’s for showing me this article, we’ll talk later. I promise. Bye!”
Hye Rim pun mengembalikan komputer genggam itu ke genggaman Manda dan langsung berlari meninggalkan kedua temannya yang hanya bisa terdiam melihat teman koreanya tiba-tiba terlihat begitu cemas dan berlari seperti itu.
**
Sebuah sedan putih berhenti tepat di depan sebuah rumah tingkat dua bercat putih gading yang terlihat sepi. Saat ini pukul 22.00 KST, keadaan di sekitar juga mulai sepi.
“Kau tunggulah disini. Aku yang akan keluar dan membunyikan belnya.” Kata Hyun Joon kepada satu pemuda yang terlihat lemas di sampingnya. Dilepasnya seat belt nya dan ia pun keluar.
Pemuda lemas itu menatap satu pemuda yang berdiri di depan gerbang dan berkali-kali membunyikan bel tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Tapi tiba-tiba seorang bibi berusia lima puluh tahunan mendekati pemuda itu dan memberi tahu sesuatu yang membuat pemuda itu terlihat terkejut sesaat, mengangguk-angguk dan kemudian membungkuk sambil mengucapkan terima kasih dan kembali ke mobilnya.
“Bagaimana Hyun Joon Hyung?” tanya pemuda itu sambil menatap pemuda yang memasang seatbelt nya dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Hyun Joon menolehkan kepalanya dan menatap pemuda lemas itu.
“Bibi tadi memberitahuku kalau sudah hampir satu minggu rumah itu kosong. Pemilik rumah itu sedang berada di Gyeonggi sekarang. Sedangkan anak tertuanya telah satu tahun tinggal di Amerika dengan adik perempuannya yang juga bersekolah disana. Han Hye Rim.” Jelasnya. Seketika ekspresi pemuda lemas itu berubah. Entah itu terkejut, sedih atau terluka.
“Kau baik-baik saja Tae Hyung?” tanya Hyun Joon.
“Amerika,,” ucapnya lirih sambil tertunduk, lemas. Mungkin kalau ia bisa menangis ia akan menangis sekarang, tapi sayangnya ia merasa sudah tidak memiliki energi lagi untuk bersedih. Sejak menghilangnya gadis itu satu tahun yang lalu, kehidupannya menjadi sedikit berantakan. Deretan jadwal yang biasanya selalu ia selesaikan dengan sempurna, bahkan sering ia mendapatkan pujian dari para staf, kini menjadi sedikit berubah. Beberapa kali ia terlihat tidak fokus dalam menjalani jadwal-jadwal itu yang berujung dengan beberapa teguran karena ketidak fokusannya, entah itu dalam variety atau reality show, pemotretan, pengambilan gambar untuk beberapa drama dan film hingga dalam latihan dance dan menyanyi yang selalu ia lakukan setiap hari di perusahaannya. Sampai manajer dan Presdir Cha juga turut andil dalam menegurnya. Dan puncaknya sekitar satu bulan yang lalu, ketika tubunya merasa sangat lemas dan tiba-tiba ia jatuh pingsan, saat itu juga ia dilarikan ke rumah sakit dan dokter mengatakan kalau keadaannya sedang sangat tidak sehat sehingga ia harus beristirahat kurang lebih satu bulan.
“Kita kembali ke rumah sakit atau kau ingin pergi ke sebuah tempat?”
__ADS_1
Tae Hyung terdiam sesaat, kemudian mulutnya lirih menggumamkan sesuatu.
“Aku ingin pulang Hyung.”
**
Setelah membuka kamarnya, masuk dan melemparkan tasnya di atas tempat tidurnya, Hye Rim langsung mengambil laptop putih miliknya dan tak lama satu buah situs pencarian terkenal telah terpampang di layarnya. Tangannya mulai mengetik nama pemuda itu di kotak pencarian dan benar saja tidak sampai setengah menit ratusan ribu artikel yang terdapat nama pemuda itu muncul. Sebagian besar merupakan artikel tentang dirawatnya pemuda itu di sebuah rumah sakit dan TheBoys yang telah beberapa kali membatalkan konser di beberapa negara. Dibukanya satu artikel yang dimuat oleh satu situs entertainment terkenal di Korea Selatan. Artikel yang menampilkan gambar Tae Hyung yang sedang terbaring lemas di ranjang rumah sakit dan personil TheBoys yang sedang membungkuk bersama.
‘TheBoys: Kami akan menunggu proses penyembuhan Tae Hyung selesai. Setelah itu kami baru akan memulai rentetan konser yang tertunda. Kami benar-benar minta maaf sebelumnya dan terima kasih atas pengertiannya.’
Dibacanya dengan seksama artikel yang tertulis dalam hangeul itu. Hatinya mulai bergetar sejak paragraf pertama yang sudah dilewatinya beberapa detik yang lalu dan kini ia mulai memasuki paragraf ke lima dari tujuh paragraf di artikel itu. Paragraf yang menjelaskan dengan detail tentang keadaan Tae Hyung di rumah sakit. Mulai dari alasan pemuda itu bisa berada di rumah sakit sampai komentar Sun, salah satu member yang mengatakan kalau ini adalah pertama kalinya Maknae nya berada dalam situasi seperti ini. Tak terasa tiba-tiba air matanya menetes. Satu persatu sampai membasahi bantal yang ia peluk dari tadi. Terus menerus tangannya mengelap air mata yang sudah membasahi wajah, baju dan bantalnya, sampai ia melihat satu buah video di bawah paragraf-paragraf itu. Video yang telah di upload sejak dua bulan yang lalu. Di kliknya video itu.
‘Annyeonghaseyo, saya Lee Hyun Joon, leader TheBoys. Saat ini kami sedang berada bersama Tae Hyung yang masih belum tersadar sejak tiga hari yang lalu. Dalam video yang singkat ini, kami mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua orang dan penggemar yang pastinya telah sangat kecewa di luar sana. Beberapa konser yang telah terjadwal telah kami tunda, baik di dalam maupun di luar negeri. Kami berjanji kami akan membayar semuanya dengan konser-konser yang hebat setelah Tae Hyung sembuh.’ Hyun Joon sejenak terdiam sambil sesekali memandang Tae Hyung yang sedang tertidur dibelakangnya dan kemudian kembali menghadap ke kamera di depannya.
‘Kami berterima kasih atas semua dukungan dan do’a yang telah kami terima. Kami berharap semua orang dan penggemar diluar sana untuk terus mendo’akan kesembuhan Tae Hyung.’ ucap Hyun Joon sambil membungkuk 90o dan selesai.
Hye Rim tersentak. Tiga hari tidak sadarkan diri? Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemuda itu? Air matanya langsung mewakili perubahan suasana hatinya yang mendadak dan terasa sangat sakit sekarang. Tiba-tiba samar-samar ia mendengar seseorang yang tengah berbicara di depan kamarnya.
Sontak ia berdiri dan membuka pintu kamarnya.
“Iya. Aku sudah mendengar berita tentang anak itu, Tae Hyung. Terima kasih telah memberitahuku semuanya selama ini, tentang sekolah Hye Rim, hubungannya dengan teman-temannya dan tentunya hubungannya dengan Tae Hyung. Kuharap sepulangnya dari Amerika kau masih bersedia memberitahuku semuanya. Karenamu aku jadi lebih tenang, terima kasih, Joo Won.” Kata Hyun Woo sambil tersenyum sambil memandang ke luar jendela.
Hye Rim tersentak. Ia rasa kali ini telingannya tidak salah dengar.
“Joo Won? Joo Won Oppa? Im Joo Won Oppa??” sahutnya tiba-tiba.
Sontak Hyun Woo menoleh kebelakang. Dilihatnya seorang gadis yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya tengah menatapnya dengan tajam, tepat ke kedua matanya. Gadis dengan tatapan yang sangat menginginkan sebuah jawaban.
“Hye Rim-, sejak kapan kau sampai di rumah? Kau pulang awal hari ini?” tanya Hyun Woo sambil mematikan sambungan telefonnya dan berjalan menuju adiknya.
Hye Rim memajukan tangannya, menyuruh kakaknya untuk berhenti.
“Maukah Oppa menjelaskan semuanya sekarang?”
__ADS_1
***
Seoul, enam bulan setelah kepergian Hye Rim
Tae Hyung menatap kosong kedepan. Matanya sesekali menatap satu gelang yang menggantung di pergelangan tangan kirinya. Menatapnya sedih.
Apa yang kau lakukan sekarang Hye Rim? Apa kau juga merindukanku?
Tatapannya terlihat begitu sedih. Beberapa kali ia mendesah berat.
“Tae Hyung-ah, kumohon sadarlah. Aku sudah dengar semuanya dari ayahku.” Kata Se Na sembari duduk disebelah Tae Hyung yang diikuti oleh Seun Ho.
“Hei, teman. Berhentilah melakukan hal-hal tidak berguna seperti ini. Apa kau pikir Hye Rim akan senang melihatmu seperti ini? Dengan kondisi terpuruk seperti ini?. Jangan khawatir, Hye Rim pasti akan kembali. Jika semua pikiranmu tentang Joo Won Sunbae dan kakak Hye Rim itu benar. Aku jamin, Hye Rim akan kembali ke Seoul.” Sahut Seun Ho.
Tae Hyung menatap Seun Ho dan Se Na.
“Aku juga yakin, Hye Rim pasti terus memantau keadaanmu dari sana. Ia pasti mengecek apa yang terjadi denganmu lewat internet. Jadi kumohon sadarlah. Kembalilah menjadi Tae Hyung yang baik, sempurna dan professional.” Ucap Se Na akhirnya.
Tae Hyung menatap Se Na dan tersenyum. Dua bulan terakhir hubungannya dengan Se Na sudah mulai membaik. Perlahan rasa canggung itu mulai menghilang.
“Yaa! Memangnya hanya kau yang sedih? hanya kau yang mengharapkannya kembali?. Masih ada aku, Se Na, Tae Min dan aku yakin orang-orang yang mengenal Hye Rim dengan baik juga pasti merindukannya. Apa kau lupa?” kata Seun Ho tiba-tiba.
Se Na mengangguk mantap dan tersenyum.
“Hei, kau pikir ini dunia kalian? Hanya kalian yang hidup disini? kau ini, ayolah teman sadarlah. Kau mengerti?!” tiba-tiba saja Seun Ho menepuk punggung Tae Hyung agak keras. Tentu saja pemuda itu terkejut dan mengelus punggungnya.
“Yaa,, sakit.”
Seun Ho dan Se Na hanya tersenyum geli melihat kelakuan salah satu teman baik mereka yang sedang dilanda ‘badai besar’ saat ini. Mereka berdua harus terus melakukan ini, kalau tidak temannya itu bisa sangat terpuruk.
__ADS_1