
‘2020 Artemisia High School of Arts Performing Charity Showcase’.
Satu buah spanduk yang berukuran cukup besar terpasang tepat diatas pintu lobi sekolah itu. Beberapa van hitam dan putih telah terparkir rapi didepan ketiga gedung sekolah dan para murid yang berpartisipasi tahun ini tengah berbaris rapi di lapangan hijau yang terletak di depan deretan van. Mereka tengah fokus mendengarkan seorang guru yang menjadi penanggung jawab Charity Showcase tahun ini.
“Baiklah. Kurasa kalian sudah mengerti. Sekarang masuklah ke dalam van kalian masing-masing.” Kata seorang guru pria yang masih berusia kepala tiga kepada murid-muridnya. Setelah menjawab ‘Ya’ dengan serentak, para murid itu pun langsung masuk ke dalam van masing-masing dengan dihujani pandangan-pandangan iri dan sedih dari para murid yang tidak beruntung dari ketiga gedung yang dilapisi kaca di belakang mereka.
Perlahan Hye Rim memasuki van putihnya yang diikuti oleh dua rekan sekelompoknya. Kim Cha Hee dan Shin Woo Hyun. Seharusnya mereka berempat tapi, karena satu orang lainnya harus terbang ke Indonesia untuk menggelar konser disana hari ini, jadi mereka hanya bertiga.
“Annyeong!” kata seorang pemuda yang tiba-tiba duduk di sebelah Hye Rim.
“Annyeong, Han Hye Rim! Iya aku Seun Ho. Tidak perlu terkejut seperti itu.” Kata pemuda itu sambil tersenyum ke arah Hye Rim, kemudian Cha Hee dan Woo Hyun yang duduk di belakang mereka.
Tiba-tiba Seun Ho menunjuk pipi kanan Hye Rim, “Tidak apa-apa?” tanyanya.
Hye Rim mengangguk dan tersenyum ke arah Seun Ho.
“Ah iya! Tae Min-,”
“Aku sudah tahu. Tadi malam ia menelfonku. Jika kau ingin bertanya apa aku akan baik-baik saja disana sendirian, kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”
“Hh, kau ini. Kenapa kau bertanya dan menjawabnya sendiri? Padahal aku ingin bersikap seperti seorang pemuda yang mengkhawatirkan seorang gadis.” Katanya sambil mengedipkan mata kanannya ke Hye Rim.
“Hei, jangan khawatir, kami akan mengajaknya bermain disana. Kalau perlu, kami tidak akan tidur malam ini.” Sahut Cha Hee sambil tersenyum.
“Siapa yang tidak tidur? Nanti setibanya kalian di hotel, kalian harus istirahat penuh agar penampilan kalian besok luar biasa. Eoh? Jung Seun Ho? Kenapa kau disini?” seorang guru perempuan yang menjadi pembimbing di van Hye Rim tiba-tiba masuk dan duduk di sebelah sopir yang sudah memanaskan mesinnya dari lima menit yang lalu.
Seun Ho tersenyum, “Tidak Saem. Saya hanya memastikan apakah anak ayam yang kehilangan induknya ini masih baik-baik saja.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Anak ayam? Kau-,” bisik Hye Rim.
“Kalau begitu saya keluar Saem. Joshimhaseyo !” katanya kepada gurunya dan sedikit wink yang ia tujukan kepada Hye Rim. Pelan pemuda itu keluar dan menutup pintu van. Ketika baru saja ia berbalik, tiba-tiba smartphone nya berbunyi, segera ia mengambil smartphone nya dari dalam sakunya dan mengangkatnya.
“Tae Hyung-ah, ada apa? Apa? Hari ini? Baiklah akan kusampaikan ke Se Na. Eoh.” Katanya sambil berjalan menuju van dimana teman sekelompoknya telah menunggu, Se Na.
**
“Apa semuanya sudah siap??” tanya manajer Kim sambil mengecek ke setiap kamar.
“Sun-ah, tolong kau bawa semua obat-obatanmu dan member yang lain. Masukkan ke dalam tas ini.” Pinta manajer Kim pada Sun, salah satu member TheBoys yang tidak sengaja lewat didepan dirinya. Sun langsung menerima tas itu dan berjalan menuju dapur, tempat dimana obat-obatan dan suplemen member TheBoys disimpan.
Tiba-tiba matanya terpaku pada seorang pemuda yang duduk terdiam di salah satu kursi meja makan. Matanya terlihat sedikit kecewa dan sedih menatap ponsel yang dipegangnya. Sepertinya ia baru saja menghubungi seseorang.
“Dae Ho-yah, ada apa dengan maknae mu?” tanya manajer Kim pada Dae Ho yang berdiri di sampingnya. Merapikan baju-baju yang akan dibawanya ke dalam koper.
Seketika Dae Ho melongokkan kepalanya keluar kamarnya, pelan sebuah senyuman tergurat di bibirnya, “Kurasa ia sedang sedih Hyung. Hyung tahu kan? Karena Charity Showcase itu.” Jawab Dae Ho sambil kembali berfokus pada –baju mana yang bagus untuk kupakai disana?-
Tanpa menanggapi jawaban Dae Ho baru saja, manajer Kim melangkah mendekati Maknae TheBoys yang sedang sedih itu. Dan kini ia telah duduk disebelah Tae Hyung.
“Maaf. Seharusnya aku memberitahumu sebulan sebelumnya. Ini salahku.”
Tae Hyung menggeleng, “Tidak Hyung. Kalaupun Hyung memberitahuku sebulan sebelumnya, ini semua juga tidak akan berubah.” Jawab Tae Hyung. Kim Oh Hoon tersenyum dan tiba-tiba tangannya menepuk pundak Tae Hyung, keras.
“Ayo! Semangat! Jangan khawatir, kau akan bersenang-senang disana. Aku jamin.”
Tae Hyung tersenyum dan mengangguk.
“Kurasa kau belum tahu betapa indahnya bunga sakura yang akan menyambutmu di Jinhae. Keindahannya bahkan melebihi sakura yang pernah kau lihat di Samcheong-dong. Kuyakin kau akan memiliki kenangan yang indah disana. Percayalah padaku.”
**
Sebuah van hitam memasuki pelataran salah satu hotel terbaik yang terdapat di Jinhae. Satu persatu pemuda terlihat turun dari van itu dengan membawa tas masing-masing. Pemuda-pemuda yang terlihat sangat kelelahan karena perjalanan hari ini. Dari dalam lobi hotel, seorang pria tiga puluh tahunan datang sambil membawa beberapa kunci kamar hotel dan memberikannya kepada masing-masing dari ke sembilan pemuda itu.
“Istirahatlah. Malam ini kita tidak akan melakukan rehearsal. Jadi buatlah diri kalian benar-benar beristirahat malam ini.” Katanya.
Kesembilan pemuda itu hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam hotel untuk kemudian menuju kamar mereka masing-masing. Semuanya terlihat begitu lelah dan mengantuk kecuali satu orang. Seorang pemuda yang sedang memikirkan satu hal yang dilihatnya, tepatnya dilewatinya dalam perjalanan menuju hotel ini. Satu rumah sakit anak yang memasang satu buah spanduk yang telah menarik fokusnya.
Charity Showcase? Siapa yang bertugas di Jinhae?
Tangannya mulai mengeluarkan handphonenya dan mengetikkan satu nama.
**
“Anak-anak. Kali ini kalian beruntung. Dua idol kenamaan Korea Selatan bersedia membantu kalian dalam mempersiapkan Showcase esok hari. Tiga tahun yang lalu mereka juga seperti kalian, sama-sama terpilih untuk menjadi partisipan di Charity Showcase. Dan kali ini mereka akan membantu kalian mempersiapkan segalanya. Jadi, tanyakanlah semua yang ada dikepala kalian.”
“Lee Estelle dan Han Jun Hyung. Kalian sudah mengenal mereka bukan? Ah! Tapi kurasa Hye Rim belum. Hye Rim-ah, sapalah mereka, tidak perlu malu.” Lanjut guru perempuan itu sambil menatap Hye Rim yang masih sesekali tertunduk, malu.
Gadis itu menatap gurunya, guru itu membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Dengan sedikit ragu-ragu ia mulai berdiri. Matanya kini menatap kedua tamu di depannya.
“Annyeonghaseyo. Saya Hye Rim, Han Hye Rim.”.
**
Sudah lebih dari lima belas menit yang lalu mata Hye Rim masih memandang ke arah lain. Dari sejak dirinya dan Han Jun Hyung berangkat dari hotel untuk memulai showcase nya hari ini sampai saat ini, dimana mereka tengah berjalan menuju rumah sakit yang tinggal kurang dari sepuluh meter didepan, ia masih saja takut. Sebenarnya dalam hatinya, ia ingin sekali dapat memulai percakapan pemuda yang berjalan disampingnya tapi ia takut, ia takut kalau pemuda itu menanyakan hal itu kembali.
“Maafkan aku. Aku telah menanyakan hal yang seharusnya tidak aku tanyakan kepadamu. Aigoo, sepertinya karena sakura-sakura itu aku pikiranku jadi kurang waras semalam” Kata pemuda itu tiba-tiba.
Hye Rim menatap pemuda itu dan menggeleng, “Tidak apa-apa, Sunbae.” Jawabnya.
Mereka masih berjalan menuju pintu utama rumah sakit yang sudah didepan mata mereka. Rumah sakit yang mulai penuh dengan orang, entah karena sedang banyak pasien atau berita tentang seorang idol yang akan datang kesini –Han Jun Hyung- dan orang biasa yang akan bernyanyi disini –dirinya- telah menyebar, ia tidak tahu. Yang ia tahu sekarang adalah rumah sakit ini sudah seperti pusat perbelanjaan yang sering ia kunjungi di Seoul.
“Mungkin kau penasaran kenapa aku bisa tahu semua itu. Tentang Tae Min dan kau.”
Hye Rim membalasa tatapan Jun Hyung. Iya, sangat Sunbae
“Tae Min dan aku sudah seperti kakak dan adik. Dari masa Tae Min masih menjadi trainee sampai sekarang, ia sudah kuanggap sebagai adikku. Kami selalu menceritakan hal-hal yang tidak diketahui oleh publik. Maka dari itu aku tahu alasan sebenarnya wajah Tae Min tiba-tiba berubah seperti itu. Karena kau tahu? Tae Min berbohong kepada Presdir tentang kenapa ia berkelahi kemarin.”
“Berbohong?” tanya Hye Rim terkejut.
“Iya, ini memang salah, tapi jika Tae Min mengatakan yang sebenarnya kepada Presdir, kehidupanmu pasti akan terganggu. Pihak manajemen kami pasti akan mencari tahu siapa gadis penyebab wajah idola kesayangan mereka menjadi babak belur seperti itu dan jika mereka menemukanmu. Entah apa yang akan terjadi padamu.” Jelasnya.
Pikiran Hye Rim menerawang. Sepertinya memang begitu, ia sudah bisa membayangkan hal apa yang akan dilakukan oleh pihak manajemen Tae Min jika mereka tahu alasan yang sebenarnya. Sudah dipastikan ia akan menjadi sedikit terkekang dengan persyaratan yang mungkin diajukan oleh manajemen dan yang paling menyeramkan bisa saja ia dipaksa masuk manajemen mereka untuk menjadi trainee dan debut untuk melindungi idola kesayangan mereka. Dan jika itu terjadi, semua mimpi-mimpi yang telah ia tahan dalam beberapa tahun belakangan ini akan menjadi abu, semuanya akan hilang tertiup angin.
Tiba-tiba lamunannya tentang-seramnya mengganggu kehidupan bintang ternama- buyar. Satu buah nada panggilan masuk telah menyadarkannya kembali.
“Hye Rim-ah, kau masuklah dulu, nanti aku menyusul. Kau sudah tahu kan siapa yang harus kau temui didalam?” tanya Jun Hyung sambil memegang smartphone nya yang masih berbunyi. Hye Rim mengangguk. Setelah mengucap salam dan membungkukkan badannya, ia langsung melangkah pergi meninggalkan Jun Hyung yang baru saja mengangkat telefonnya.
“Iya, disini Han Jun Hyung. Maaf ini siapa?”
**
“Rapi sekali dandananmu pagi ini, Tae Hyung?” tanya J.E yang tiba-tiba masuk ke kamar Tae Hyung dengan masih memakai setelah piyama biru dan langsung melemparkan tubuhnya ke kasur yang berada di belakang Tae Hyung. Tae Hyung hanya tersenyum menatap J.E lewat cermin bundar di depannya. Beberapa member yang lain juga telah berkumpul di kamarnya sejak pukul delapan pagi ini.
“Eoh, eoh, jangan-jangan-, kau yakin ingin melakukan itu? Kau tahu kan apa konsekuensinya?” tanya J.E yang langsung bangun sambil menunjuk Tae Hyung.
Sekali lagi Tae Hyung hanya mengangguk dan tersenyum ke delapan member lainnya.
“Acaranya dimulai jam berapa?” tanya Henry yang tengah duduk di sofa kamar itu sambil memeluk satu bantal yang ia ambil dari tempat tidur Tae Hyung.
“Lima menit lagi Hyung, kalau aku tidak salah. Kami memulainya dalam waktu yang bersamaan, pukul delapan tepat.” Jawabnya sambil melihat jam tangannya.
“Kau sudah memberitahu Jun Hyung alamat hotel kita?” tanya Baek Hyun.
Tae Hyung mengangguk, “Sebentar lagi sampai katanya.” Jawabnya.
J.E memperhatikan ke tujuh membernya yang sedang duduk atau tiduran di sekitarnya. Ekspresi mereka benar-benar tenang, seakan-akan tidak ada hal membahayakan yang akan terjadi dengan Maknae nya ini.
“Yaa, kalian tidak khawatir dengan Tae Hyung? Kenapa kalian seakan-akan mengizinkannya begitu saja? Diluar sana banyak sekali penggemar yang bisa langsung mengenali Tae Hyung walau dengan mata terpejam.”
Tiba-tiba satu buah satu buah bantal sofa melayang dan tepat mengenai badan J.E.
“Eii, mata terpejam? Apa mereka pesulap? J.E Hyung ini.” Sahut Kang Dae yang dengan sigap menangkap bantal yang dilemparkan oleh J.E.
Tae Hyung tertawa geli, “Jangan khawatir leader Hyung. Aku berjanji akan bersembunyi dengan baik dan tentunya gadis itu juga akan kusembunyikan dengan baik. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah bantuan dari para Hyung semua. Aku harap jangan ada yang memberitahu Kim Manajer tentang ini, kalau ia sampai tahu-,”
“Tidak! Aku akan memberitahunya! ini bahaya, kalau tiba-tiba kau-,” potong J.E yang tiba-tiba memutus kalimatnya. Saat ini ketujuh member yang lain tengah menatapnya dengan dalam.
“Hh, baiklah. Aku akan bergabung dengan kalian. Aku tidak ingin mati muda.” Katanya akhirnya yang langsung disambut oleh senyuman puas ketujuh membernya dan pelukan hangat dari Henry, salah satu member yang terkenal dengan hobi memeluknya.
Tiba-tiba smartphone Tae Hyung berdering, segera ia mengangkatnya, menjawab sekilas dengan kata ‘Ya’ dan kemudian menutupnya.
“Perjuangkan cintamu!” teriak Baek Hyun sambil tersenyum lebar kepada Tae Hyung.
Tae Hyung mengangguk, mantap.
“Ah! Terima kasih telah memberiku nomor telepon Jun Hyung Sunbae, Baek Hyun Hyung.” Kata Tae Hyung tiba-tiba.
“Hei, kau tahu kan kalau aku mencintaimu?” canda Baek Hyun yang membalasnya dengan satu kedipan mata dan satu buah heart sign yang ia buat. Tiba-tiba satu bantal terlihat melayang dari tangan Sun yang tepat mengenai lengan Baek Hyun. Kesembilan pemuda itu pun sontak tertawa.
__ADS_1
“Aku pergi sekarang!” katanya sambil memakai ransel, mengambil hoodie dan baseball hat hitamnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Tanpa menunggu jawaban dari kedelapan Hyung-nya ia langsung berlari menuju pintu.
“Ingat, kau harus kembali tepat-,”
Tae Hyung terhenti tepat di depan pintu, dibalikkannya badannya.
“Tepat waktu. Pukul tiga siang karena pukul empat lima belas kita sudah harus berangkat ke tempat konser untuk melakukan rehearsal dan lain-lain sampai akhirnya konser dimulai pada pukul depalan malam.” Potongnya cepat. Para Hyung itu hanya tersenyum.
Dibalikkannya badannya lagi dan dibukanya pintu itu. Pelan ia melangkah keluar namun terhenti lagi. Kini ia menatap para Hyungnya yang juga tengah menatapnya.
“Aku akan kembali dengan selamat~.” Katanya yang kemudian menutup pintu itu.
**
Sorak riuh rendah dari penonton yang didominasi oleh pasien anak-anak itu seketika memenuhi lobi depan rumah sakit anak terbesar di Jinhae. Sorotan beberapa kamera yang datang dari beberapa stasiun televisi lokal maupun internasional masih terfokus pada seorang gadis dengan jins biru dan blouse sifon berwarna peach yang tengah tersenyum dan membungkukkan badannya.
“Wah! Bagus sekali penampilan tadi. Bukan begitu penonton??” kata seorang perawat wanita yang bertugas sebagai MC Charity showcase hari ini. Sontak para penonton serentak menjawab ya sambil terus bertepuk tangan. Termasuk Hye Rim yang tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
“Dimana Tae Min Oppa??” tanya seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang tiba-tiba berdiri dan menatap Hye Rim, penasaran. Sontak suasana menjadi senyap.
Senyum Hye Rim seketika menghilang. Pertanyaan anak perempuan yang duduk dibarisan paling depan itu sontak membuyarkan euforia bahagianya. Ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Karena sepertinya anak ini adalah salah satu penggemar Tae Min.
Tapi tiba-tiba ia tersenyum, direndahkannya badannya dan ditatapnya anak perempuan yang terlihat sangat lucu itu, “Bagaimana ini? Tae Min Oppa mendadak harus pergi ke Indonesia untuk bernyanyi disana. Eonni minta maaf ya karena harus bernyanyi sendiri tanpa Tae Min Oppa. Ah, siapa namamu? Aku akan menyampaikan kepada Tae Min Oppa bahwa ada salah satu penggemar kecilnya yang sangat ingin bertemu dengannya.” Katanya sambil mencubit pelan pipi chubby gadis kecil itu.
Dalam sekejap wajah anak itu berubah. Kini hanya senyuman, rasa tidak sabar dan penasaran yang terlukis di wajah anak perempuan itu.
“Ryu Hana! Apa Hye Rim Eonni akan menyampaikannya kepada Tae Min Oppa?” tanya Hana dengan mata yang berbinar-binar. Kepalanya terus-terusan menoleh kepada ibunya dan Hye Rim dengan senyuman yang sangat lebar.
Hye Rim mengangguk, “Tentu. Eonni akan menyampaikannya. Janji.”, katanya sambil membuat satu pinky promise dengan Hana yang masih tersenyum lebar kepadanya.
“Bisakah kami menggantikan posisi Tae Min untuk hari ini?”
Hye Rim sontak mengangkat wajahnya. Ekspresinya berubah. Pelan ia mulai berdiri.
Tae Hyung? Kenapa anak itu bisa ada disini?
“Tae Hyung Oppa?! Jun Hyung Oppa?!” seketika lobi itu dipenuhi oleh teriakan anak-anak yang –tentunya- sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang. Dua orang idol kenamaan Korea Selatan tengah berjalan di hadapan mereka, mengambil dua mikorofon dari MC dan berhenti tepat di panggung merah itu, berdiri di kanan dan kiri Hye Rim.
“Bisa?” tanya Tae Hyung sambil tersenyum kepada penonton. Senyum yang selalu diperlihatkannya di setiap iklan, drama, MV dan acara lainnya. Sontak semua penonton menjawab ya dengan sangat keras, bahkan mungkin terdengar sampai keluar rumah sakit karena perlahan lobi itu mulai terisi penuh oleh orang-orang yang berdatangan dari luar.
Hye Rim masih menatap arah lain dengan perasaan yang campur aduk. Bingung, heran, penasaran kenapa pemuda ini bisa ada disini dan satu perasaan, perasaan yang ia tidak sadari tapi telah mulai muncul walau masih sedikit sejak pemuda itu muncul dihadapannya beberapa menit yang lalu. Ini aneh tapi ia merasa ‘sedikit’ bahagia melihat Tae Hyung.
“Baiklah. Mulai saat ini sampai dua jam kedepan Hye Rim Eonni dan Tae Hyung Oppa akan menghibur kalian. Kalian boleh merequest beberapa lagu, bukan begitu Hye Rim?” tanya Jun Hyung sambil menatap Hye Rim yang masih terlihat sedikit terkejut.
Tae Hyung menyenggol lengan Hye Rim, pelan. Gadis itu sontak terkejut dan langsung menatap Tae Hyung. Mata Tae Hyung kemudian menatap Jun Hyung, Hye Rim langsung menoleh ke sebelah kiri, menatap Jun Hyung yang sedang tersenyum kepadanya.
“Ahh, sepertinya Hye Rim Eonni masih terkejut.” Sahut Jun Hyung.
“Baiklah! Dari pada membuang-buang waktu seperti ini, sebaiknya langsung kita mulai saja Showcase kali ini. Penonton, sambutlah idola Korea Selatan dan calon idola Korea Selatan. Kim Tae Hyung dan Han Hye Rim!!” seru Jun Hyung yang kemudian disambut oleh tepuk tangan meriah dan beberapa siulan dari para penonton. Perlahan pemuda itu mematikan mikrofonnya, memberikannya kepada perawat dan turun dari panggung menuju salah satu bangku kosong di barisan pertama dan duduk. Tersenyum melihat kedua remaja itu. Satu pemuda yang tersenyum sambil mengambil satu buah gitar disampingnya dan seorang gadis yang terlihat masih tidak percaya. Gadis itu tiba-tiba menatapnya dengan bingung dan terkejut. Ia hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil.
“Apa yang kau lakukan? Ayo!” bisik Tae Hyung kepada Hye Rim yang masih menatap Jun Hyung. Sontak Hye Rim langsung melihat Tae Hyung dengan tidak percaya.
Haruskah ia melakukannya?
**
“Turunlah disini. Jalan kecil ini akan langsung menuju Yeogwacheon, kau tahu kan, tempat yang indah untuk menikmati Jinhae Cherry Blossom Festival tahun ini. Ah, jangan lupa untuk mengunjungi Romance Bridge.” Kata Jun Hyung sembari memberhentikan mobil di sebuah persimpangan. Kepalanya kemudian menoleh kebelakang, melihat dua orang yang telah menjadi penumpangnya sejak Charity Showcase berakhir, lima belas menit yang lalu.
“Ah iya!” tiba-tiba Jun Hyung mengulurkan tangan kanannya.
“Selamat. Selamat untuk Charity Showcase yang mengagumkan hari ini!. Kudoakan agar ada seorang pemimpin agensi yang langsung merekrutmu menjadi anak asuhnya, Han Hye Rim.” Hye Rim menyambut uluran tangan Jun Hyung dengan senyuman lebar. Ia sendiri tidak tahu kalau akan sehebat ini, entah itu karena penampilannya yang memukau atau karena Tae Hyung yang mendadak muncul, seperti seorang secret guest yang tiba-tiba muncul di satu acara televisi dan menaikkan share acara itu, ia tidak tahu. Dan untuk kesempatan dari seorang presdir yang ingin merekrutnya untuk menjadi artisnya, mungkin bukan saat ini. Ia masih memiliki janji yang harus ia tepati kepada kakaknya.
“Baiklah, sekarang kuusir kalian. Turunlah dari mobilku.” Kata Jun Hyung sambil memasang raut wajah marah dan serius. Tapi kedua remaja itu tahu kalau Sunbae nya ini hanya bercanda.
“Terima kasih Sunbae telah mengantar kami sampai kesini dan terima kasih untuk hari ini, untuk semuanya. Kami turun sekarang Sunbae. Ah! Tapi Sunbae, apa aku harus membayar biaya bensinnya?”canda Tae Hyung sambil bersiap membuka pintu mobil.
“Pergilah. Kau lupa kalau aku sedang mengusirmu sekarang?” canda Jun Hyung.
Tae Hyung tersenyum sambil membungkuk, “Kamsahamnida Sunbae.”
Pelan Tae Hyung membuka pintu mobil dan turun. Tapi gadis itu tidak.
“Hye Rim, kau sedang apa? Ah! gitar dan Kim Saem? Jangan khawatir, aku akan mengatasi semuanya. Yang terpenting kau harus kembali pukul empat, itu saja.”
Hye Rim masih bergeming. Matanya menatap Jun Hyung, ragu.
“Tae Min telah mendapatkan kesempatan itu. Tidakkah kau juga harus memberikan kesempatan itu kepada Tae Hyung?” lanjut Jun Hyung sambil menatap Hye Rim, dalam.
**
Tae Min telah mendapatkan kesempatan itu. Tidakkah kau juga harus memberikan kesempatan itu kepada Tae Hyung?
Kesempatan? Kesempatan apa?
Dari dua puluh menit yang lalu Hye Rim masih terus memikirkan kalimat terakhir Jun Hyung tentang memberikan kesempatan pada Tae Hyung. Baiklah, kalau ia tahu kesempatan macam apa itu, mungkin ia bisa mempertimbangkannya dan memberi Tae Hyung kesempatan itu tapi ini? Ia bahkan tidak tahu kesempatan apa yang dimaksud oleh Jun Hyung tadi.
“Hye Rim-ah!” panggil Tae Hyung yang sudah berdiri didepan sebuah lapak yang menjual jajanan khas Korea Selatan. Satu jenis jajanan yang terbuat dari campuran gula dan baking soda. Gula-gula khas Korea Selatan. Bbopki.
Langkah Hye Rim seketika terhenti dan menoleh kebelakang. Dilihatnya pemuda itu sedang berjongkok di depan paman pembuat bbopki dengan mata yang berbinar-binar. Seperti seorang anak kecil yang menunggu ayahnya membuatkan mainan untuknya. Perlahan ia berjalan mendekati Tae Hyung sambil memegangi topi pantainya yang terus menerus bergoyang terkena hembusan angin musim semi. Topi yang baik untuk penyamaran di pagi hari seperti ini, itu kata Tae Hyung. Tapi apa ini bukan sebaliknya? Siapa yang akan menggunakan topi seperti ini di pusat kota yang bahkan ini bukan musim panas?
“Kau tidak sedang diet kan? Aa,,” kata Tae Hyung yang sudah berdiri dan menyuruh Hye Rim membuka mulutnya seperti yang ia contohkan sekarang. Hye Rim bergeming. Ia sudah melihat satu buah bbopki berada di tangan kanan Tae Hyung, ia tahu apa maksud pemuda ini dan ia tidak mau mengulang kejadian –Tae Hyung seperti ibunya- lagi.
“Hei!”
“Buka saja mulutmu Nona. Bbopki lebih nikmat jika masih hangat.” Sahut paman pembuat Bbopki sambil sesekali membolak-balik adonan bbopki yang berada di atas loyang yang dilapisi tepung, menekannya dengan satu alat yang membuat bbopki-bbopki itu berbentuk bulat pipih dan kemudian mengambil satu cetakan tembaga berbentuk hati dan menekannya diatas bbopki, kemudian meminggirkannya.
Hye Rim menatap Tae Hyung yang tersenyum lebar mendengar dukungan dari paman pembuat bbopki baru saja. Dengan ragu dan perlahan Hye Rim mulai membuka mulutnya, Tae Hyung mulai mengangkat tangannya dan memasukkan bbopki ke dalam mulut Hye Rim, tapi tiba-tiba Hye Rim berusaha mengambil bbopki itu dari tangan Tae Hyung tapi dengan cepat tangan Tae Hyung menghindar dan kemudian ia akhirnya bisa menyuapi gadis itu dengan jajanan kesukaannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa sangat bahagia, melebihi kesenangan ketika boyband nya memenangkan penghargaan.
“Kalian pasangan yang serasi. Aku sangat senang melihat pasangan seperti kalian menghabiskan waktu bersama di bawah kumpulan sakura merah muda yang begitu indah hari ini. Terimalah ini.” Kata paman itu sembari memberikan satu buah bbopki dengan gambar hati diatasnya. Tae Hyung menerimanya dengan hormat sambil mengucapkan terima kasih. Hye Rim sedikit terkejut. Pasangan? Untuk kesekian kalinya dalam hari ini hatinya mulai merasakan satu perasaan yang tidak boleh ia rasakan sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin tersenyum tapi ia langsung menahannya.
**
“Hh, seharusnya kau yang memakai topi ini, bukan aku.” Kata Hye Rim dengan cemberut. Matanya kemudian menatap deretan pohon sakura merah muda yang berada di sebelah kanannya. Tae Hyung hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.
“Dan juga, kenapa kau bisa mendadak muncul seperti itu di rumah sakit? Mereka yang mempunyai handphone mungkin saja akan menulis yang tidak-tidak di internet, hh, ah iya! Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau bertugas di Seoul dengan Se Na dan Seun Ho?” tanyanya kemudian.
“Kau tidak dengar apa yang dikatakan para gadis tadi? Aku ada konser disini dan tentang Seun Ho dan Se Na. Semuanya terkendali.” Jawab Tae Hyung.
Hye Rim menatap Tae Hyung dengan cemberut.
Terkendali? Kuharap begitu
“Kenapa tersenyum?” tanya Hye Rim melihat Tae Hyung yang tersenyum menatapnya.
“Kau lucu. Aigoo, aigoo, lucunya~.” Kata Tae Hyung sambil memegang kepala Hye Rim yang ditutupi topi pantai merah muda itu.
“Yaa! Tae Hyung-ah!”Seru Hye Rim yang mendadak membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh ke mereka. Hye Rim sontak sadar ia telah melakukan kesalahan.
“Yaa, Ka-, Kang Tae Hyung! Jangan seperti ini.” Katanya yang langsung merubah nama keluarga Tae Hyung dan memegang ujung lengan baju Tae Hyung, menyeretnya dari tatapan-tatapan penuh curiga yang menghujani mereka berdua. Baru beberapa langkah Hye Rim menyeret Tae Hyung dengan ibu jari dan telunjuknya tiba-tiba saja Tae Hyung melepas tangan Hye Rim dari bajunya dan menggenggamnya erat, membuat gadis itu hanya bisa terdiam dan tidak melakukan apapun selain merelakan tangannya berada dalam genggaman Tae Hyung. Berlari bersama pemuda itu.
**
“Duduklah. Kurasa tempat ini aman.”
Dengan langkah yang pelan ia berjalan ke Tae Hyung dan duduk di sebelah pemuda itu, di satu-satunya bangku kayu yang terdapat di taman ini. Untuk beberapa saat kedua remaja itu hanya terdiam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa cuaca dan kondisi di taman ini membuat perasaan yang sudah lama berada di hati mereka mulai menyebar, mengisi setiap sudut hati mereka. Terutama Hye Rim, gadis itu merasa sudah tidak bisa menahan perasaan yang sudah berusaha ia tahan untuk tidak muncul lagi dan membesar seperti ini sejak satu tahun yang lalu. Ketika ia mulai ‘menandatangani’ perjanjian dengan kakaknya, Han Hyun Woo.
Sekilas ia melirik Tae Hyung yang sedang tertunduk, sama sekali tidak terlihat ingin memulai percakapan atau semacamnya. Hal ini tidak boleh terjadi, ia tidak mau membuang-buang waktu yang langka dan berharga seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu.
“Yaa, kenapa kau mudah sekali menarik tanganku dan berlari ketika aku menyebut namamu tadi? Kau ingin mereka mengetahui kalau Tae Hyung tadi adalah Kim Tae Hyung? Ah, padahal aku sudah sengaja merubah nama keluargamu tadi. Semoga saja tidak ada yang mengikuti kita sampai kesini.” Katanya sambil berpura-pura mengecek sekitarnya.
Tae Hyung menatap Hye Rim
“Kenapa Hyun Woo Hyung melarangmu untuk debut? Dan kenapa ia melarangmu untuk berteman dengan orang-orang seperti kami?”
Hye Rim terkejut. Ia tidak tahu kalau pertanyaan yang sengaja tidak ia jawab beberapa hari yang lalu ternyata masih mengendap di benak Tae Hyung. Sontak ia menunduk, memikirkan apakah ia harus menjawab pertanyaan ini atau tidak, tapi sebentar, kenapa Tae Hyung tahu kalau ia dilarang untuk berteman dengan idol? seingatnya, waktu itu Tae Hyung hanya menunjukkannya dua dokumen penting mengenai rencana debutnya di Je Sang Entertainment. Tidak lebih.
“Sebenarnya aku dan Hyun Soo telah bertemu di malam dimana kau mendadak menghilang dari sekolah. Ia telah menceritakan semuanya, tentang hubunganmu dengan kakakmu, larangan berteman dengan idol dan Joo Won Sunbae. Tapi saat ini aku tidak akan mengungkit-ungkit tentang Joo Won Sunbae, aku hanya ingin mendapatkan jawaban pasti dari dua pertanyaanku baru saja.”
Hye Rim masih menunduk dan terdiam. Ia bingung apa yang harus ia jawab kini.
“Hye Rim-ah, jawablah.” Kata Tae Hyung sembari memutar badannya, menatap gadis yang bahkan tidak melihatnya sama sekali.
“Apa kau masih marah dengan insiden perkelahianku dengan Tae Min?”
Perlahan Hye Rim mengangkat kepalanya. Matanya dengan takut-takut menatap Tae Hyung, pemuda yang kini tengah menatapnya dalam tapi kemudian tersenyum lembut.
“Itu karena-,”
__ADS_1
“Eoh! Apa akan turun hujan?” potong Tae Hyung tiba-tiba. Pemuda itu kini terlihat menyentuh lengan kirinya yang sedikit basah. Diangkatnya wajahnya, menatap langit yang ternyata masih berwarna biru cerah. “Apa aku salah?” gumamnya kemudian.
Sontak saja Hye Rim terkejut. Baru saja pikiran dan hatinya sepakat untuk memberitahu Tae Hyung tentang rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, pemuda itu malah memotongnya dan sebagai imbasnya, semua keyakinan itu hilang. Dengan menyipitkan matanya dan mendesah pelan ia menatap Tae Hyung yang ternyata masih sibuk dengan bagian belakang jumper nya yang basah, tapi tiba-tiba Hye Rim melihat sesuatu yang perlahan tapi pasti berputar dan beberapa saat kemudian membesar.
“Astaga!!” pekik Hye Rim melihat satu alat yang berada sekitar lima meter dari tempatnya mulai berputar kencang dan tentunya mengeluarkan air, deras. Sontak Tae Hyung terkejut, matanya melihat Hye Rim yang terlihat sangat terkejut melihat sesuatu dibelakang dirinya, dengan perlahan ia memutar kepalanya, mengikuti kemana Hye Rim tengah memandang saat ini. Tapi sayangnya, belum sempat Tae Hyung menoleh dengan sempurna satu alat yang terpasang sekitar setengah meter dari tempat mereka duduk mulai berputar dan mengeluarkan airnya dengan deras. Sontak Tae Hyung berdiri dan langsung menarik Hye Rim dari bangku kayu itu, mengajaknya berlari menjauhi tempat yang telah dipenuhi oleh butiran-butiran deras air yang memancar dari alat-alat itu.
Entah untuk keberapa kalinya mereka saling bergandengan tangan dan berlari. Kali ini kedua remaja itu tengah berlari sedikit kencang menghindari siraman air sambil terus mengawasi sekitar, mencari tahu apakah ada satu ruangan beratap yang dapat menyelamatkan mereka di tengah taman yang dipenuhi oleh pohon sakura, bunga dan rumput hijau. Dan untungnya, mata pemuda itu menangkap satu tempat yang mungkin dapat mereka gunakan untuk berteduh. Satu petak tanah berukuran dua kali dua meter dengan ketiga sisi dan atapnya tertutup oleh lembaran kayu berwarna putih.
“Masuklah.” Kata Tae Hyung mendahulukan Hye Rim. Dengan cepat gadis itu memasuki ruang kecil itu dan berdiri bersandar pada dinding sebelah kiri. Kedua tangannya sibuk mengibas-ngibaskan bajunya yang sudah basah kuyup oleh guyuran air deras itu. Sesekali matanya menatap Tae Hyung yang ternyata juga sama dengan dirinya, bersandar pada dinding sebelah kanan sambil melepas hoodie nya yang juga basah kuyup.
“Kenapa alat-alat itu tiba-tiba menyala seperti itu?” ucap Hye Rim sembari mencoba mengeringkan rambutnya yang basah. “Padahal aku tidak membawa baju ganti, hh.” Gumamnya. Untuk beberapa detik suasana senyap, tepat setelah Hye Rim mengucapkan kalimat terakhirnya, ini sedikit aneh, kenapa Tae Hyung tidak membalas kalimatnya sama sekali? Perlahan Hye Rim mulai mengangkat wajahnya, dilihatnya kedua tangan Tae Hyung kini telah berada di samping badannya, terjatuh dengan lurus, diangkatnya lagi wajahnya, perlahan demi perlahan ia mulai melihat kaos pemuda itu yang basah, bibir, hidung dan,
Astaga? Kenapa ia melihatku seperti itu?
Sontak ia langsung menundukkan kepalanya lagi, menghindari tatapan Tae Hyung yang dalam, tajam dan tidak bisa terbaca. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pemuda itu.
“Han Hye Rim.” panggil Tae Hyung tiba-tiba.
Ya Tuhan, kuharap ia tidak akan mengatakan hal-hal yang aneh sekarang
“Hye Rim-ah. Lihatlah aku.”
“Ada yang ingin kukatakan kepadamu. Lihatlah mataku.” Lanjut Tae Hyung.
Saat ini sepertinya tidak ada pilihan bagi Hye Rim selain mengangkat wajah dan menatap kedua mata Tae Hyung. Dengan pikiran yang berusaha menenangkan jantungnya yang terus menerus berdetak kencang, ia mulai mengangkat wajahnya.
“A-, apa yang ingin kau katakan?”
“Aku sudah tahu kalau Tae Min telah menyatakan perasaannya kepadamu, waktu itu.”
Hye Rim tidak terkejut hal ini akan keluar dari mulut Tae Hyung, tapi bukan sekarang.
“Aku juga tahu kalau kau belum memberikan jawaban.” Tae Hyung menatap Hye Rim dengan serius. “Aku ingin, kau juga memberikan kesempatan itu padaku. Sekarang.”
Hye Rim mengangkat sedikit wajahnya dengan takut untuk menatap Tae Hyung. Ia mungkin tidak mengira situasi seperti ini akan datang kepadanya, tapi berkat perkataan Se Na beberapa hari yang lalu tentang ketiga pemuda yang menyukainya, jantungnya bisa sedikit tidak terlalu terkejut. Walaupun sebenarnya ia tidak percaya.
Dengan senyuman lembut yang masih terukir di wajah tampan Tae Hyung, pemuda itu mulai mengangkat tangan kanannya dan perlahan mendekat ke wajah Hye Rim. Hye Rim hanya terdiam melihat jari-jari Tae Hyung mulai mendekat ke wajahnya dan akhirnya menyentuh lembut pipi kanan Hye Rim. Mengelusnya pelan.
“Aku menyukaimu.”
Tiba-tiba Tae Hyung mulai mendekatkan wajahnya dan memandang Hye Rim. Perlahan wajah pemuda tampan itu telah berada tepat di depan wajah Hye Rim, nafas pemuda itu mulai menyentuh hidung Hye Rim. Hye Rim yang tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang seketika memundurkan badannya dan menutup matanya, ia tidak berani untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan sialnya tubuhnya tidak bisa bergerak, sedikit pun.
Ya Tuhan!
Tak lama kemudian sebuah kecupan lembut menyentuh dahi gadis itu. Sebuah kecupan lembut dan dalam yang bertahan selama lima menit, kemudian pemuda itu melepasnya, pelan.
“Kenapa kau menutup matamu?”
Sontak Hye Rim membuka matanya. Kini Tae Hyung yang sudah ketiga kalinya menyentuhnya tanpa izinnya tengah tersenyum geli menatapnya.
“Kau tidak berpikiran macam-macam kan?”
Hye Rim terkejut mendengar pertanyaan Tae Hyung, tanpa menjawabnya ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan cepat menghindari Tae Hyung.
Ahh, kenapa aku harus menutup mataku? Apa yang kaupikirkan Hye Rim?
“Yaa! Han Hye Rim! Kau mau kemana dengan pakaian basah seperti itu?” teriak Tae Hyung sambil keluar dan berusaha mengejar gadis yang terus berjalan lurus didepannya. Sejenak Tae Hyung berhenti sejenak, memandang Hye Rim geli.
“Baiklah, kalau kau terus mengacuhkanku seperti ini, aku anggap ini hari pertama kita! Hei, kau mau kemana?!” teriaknya yang kemudian berlari kecil mengejar Hye Rim dan langsung merangkul gadis itu. Berjalan lurus tanpa memperdulikan sekitar mereka yang mulai menaruh perhatian kepada mereka. Dua remaja dengan pakaian basah di tengah hari musim semi yang terik.
**
“Astaga!”
Tiba-tiba saja Tae Hyun menarik Hye Rim memasuki salah satu toko pakaian sederhana yang terdapat di sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Selamat datang.” Sambut penjaga toko sembari tersenyum. Tae Hyun membalasnya dengan senyuman sambil masih menggenggam tangan Hye Rim. Pemuda itu berjalan perlahan menelusuri setiap pakaian didepannya, sesekali tangan kanannya memilah-milah pakaian mana yang akan dibelinya.
“Ehem.”
Tae Hyun seketika terhenti. Perlahan menoleh ke Hye Rim. Gadis yang tengah melihat tangan Tae Hyun yang masih menggenggam tangan kanannya.
“Ah, maaf. Aku lupa.” Senyumnya, tapi sayangnya Hye Rim malah cemberut.
“Apa? Aku serius.”
Hye Rim masih cemberut.
“Baiklah, aku kalah. Iya, aku memang sengaja. Bukankah ini hari pertama kita?” goda Tae Hyun yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya kedepan wajah Hye Rim. Sontak Hye Rim terkejut dan langsung menarik tangannya. Dengan langkahnya yang sedikit cepat ia mulai menjauh dari pemuda itu sambil sesekali tangannya memilah-milah deretan baju yang terdapat disekililingnya.
“Pilihlah yang kau suka.” Kata Tae Hyun yang juga mulai berjalan menuju deretan pakaian pria. Mulai memilih pakaian yang bisa ia pakai siang ini, menggantikan sepasang pakaian basah yang telah menempel dibadannya sejak setengah jam yang lalu. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya terpusat pada sepasang manekin yang memakai pakaian sama di depannya. Perlahan sebuah senyuman mulai terukir dibibirnya.
Hampir saja aku lupa
“Permisi, dimana aku bisa mendapat sepasang pakaian seperti yang dipakai manekin ini?” tanyanya kepada seorang penjaga toko yang lewat didepannya. Pelayan itu menunjuk dan menuntun Tae Hyun ke sebuah tempat yang terletak di dalam toko, dibalik deretan teddy bear yang menjadi simbol toko ini.
“Karena hari ini adalah hari pertama sakura-sakura itu berbunga, kami akan memberi diskon jika kalian membeli sepasang.” Kata penjaga toko sambil tersenyum. Tae Hyun mengangguk dan mulai memilih pakaian mana yang bisa ia pakai dan tentunya cocok dipakai oleh gadis itu, gadis yang dilihatnya tengah sibuk memilah, mengambil baju dan sesekali menempelkannya ke tubuhnya.
“Eoh! Sepertinya ini bagus.” Tae Hyun mengambil satu kaos putih ukuran pria dengan chibi seorang gadis dengan tangan kanan yang nampak tengah menggandeng seseorang. Seseorang yang berada pasangan kaos itu, untuk ukuran wanita. Dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya ia membawa sepasang kaos itu dan berjalan menuju Hye Rim yang masih berfokus pada deretan pakaian wanita di depannya.
“Aku berubah pikiran.”
Jelas terlihat Hye Rim sedikit terkejut dengan kedatangan Tae Hyun yang tiba-tiba. Tiba-tiba telah berdiri di belakangnya sambil membawa sepasang kaos lengkap dengan celana jeans dan satu chiffon flare midi skirt magenta di kedua tangannya.
“Karena hari ini aku yang traktir. Kau harus menuruti semua apa yang aku inginkan. Tinggalkan itu dan pakai ini.” Tae Hyun menarik satu buah floral dress dari tangan Hye Rim dan menggantinya dengan satu buah kaos dan rok itu. Hye Rim masih sedikit bingung sampai Tae Hyun menarik tangannya dan mendorongnya pelan kedalam ruang ganti.
“Aku juga akan mengganti pakaianku.”
Tak butuh waktu lama pemuda itu keluar dari dressing room dengan satu setel pakaian baru yang tentunya kering. Dengan terus mematut dirinya di depan cermin yang terletak di sebelah ruang ganti ia tersenyum dan sesekali ia menoleh ke ruang ganti di belakangnya, dimana seorang gadis yang diharapkannya akan segera keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba pintu ruang ganti itu terbuka, dengan pandangan yang terus menghindari Tae Hyun Hye Rim berjalan pelan menuju pemuda itu. Tae Hyun tersenyum, dilihatnya gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, sepertinya ukurannya pas. Dan tiba-tiba pandangannya terhenti pada pergelangan tangan Hye Rim, satu barang yang beberapa menit yang lalu sempat dilepas gadis itu kini telah terpasang kembali.
***
“Hye Rim kesini sebentar. Cobalah ini.” Kata Tae Hyung yang lagi-lagi berhenti di sebuah stand yang menjual berbagai macam aksesoris. Hye Rim berjalan mendekat tapi tiba-tiba saja pergelangan kanannya di tarik Tae Hyung, pelan Tae Hyung mulai memasangkan sebuah gelang cantik yang baru saja dipilihnya.
“Sebentar!” Potong bibi penjual aksesoris sambil memperhatikan sebuah gelang yang dipakai Hye Rim di pergelangan kirinya. Sontak Tae Hyung terhenti, kedua remaja itu kini melihat bibi penjual gelang dengan bingung.
“Gelang itu, kau yang membelikannya? Jika gelang itu masih utuh kau tidak boleh memasang gelang baru.” Kata bibi penjual sambil menunjuk gelang Hye Rim. Serentak Hye Rim dan Tae Hyung melihat pergelangan tangan kiri Hye Rim.
“Kalau kau memasangkan yang baru itu berarti, kau berharap hubungan kalian tidak akan berlangsung lama. Satu orang hanya boleh memakai satu gelang pasangan.” Lanjutnya.
Gelang pasangan?
Hye Rim memandang gelangnya dan seketika terlintas senyuman Joo Won sambil memasangkan gelang ini, beberapa waktu yang lalu.
“Gelang pasangan?” tanya Tae Hyung.
“Iya, gelang yang sedang kau pegang sekarang adalah gelang pasangan. Kau nanti juga akan dapat yang sama persis dengan yang kau pegang. Ah, apa kau belum tahu?”
Tae Hyung menggeleng dan langsung menatap Hye Rim dan gelangnya bergantian dengan penuh tanda tanya.
Darimana kau dapatkan gelang itu?
“Bukan kau yang membelikannya?”
“Bukan. Aku mendapatkannya dari temanku.” Jawab Hye Rim cepat tanpa menanggapi tatapan Tae Hyung yang penuh dengan tanda tanya.
“Temanmu?” tanya bibi penjual.
“Bibi tidak ingin mencampuri urusan kalian, tapi gelang itu adalah gelang yang tidak mungkin diberikan seseorang kepada sembarang orang. Kebanyakan si pemberi menyukai si penerima, dan jika kalian adalah pasangan, kau Nona, harus melepas gelang itu dan memakai gelang yang sekarang sedang berada dalam genggaman kekasihmu ini.” Jelasnya.
“Ah, kurasa bibi tahu darimana gelang itu berasal. Indonesia.”
Tae Hyung tersentak. Dengan masih menatap Hye Rim yang terlihat sedang menghindari tatapannya, otaknya mulai berpikir. Mencoba mencari seseorang yang baru-baru ini pergi ke negri khatulistiwa itu. Hyun Soo, adik Hye Rim bercerita bahwa semuanya anggota keluarganya adalah orang asli korea jadi tidak mungkin keluarga Hye Rim. Pikirannya mulai menyempit pada lingkungannya, para idol. Dan sontak ia teringat pada satu buah konser perdana seorang solois yang memang telah diselenggarakan di negeri itu.
Im Joo Won?
Tanpa berpikir untuk kedua kali, ia langsung meraih tangan kiri Hye Rim. Tentu saja gadis itu terkejut dan matanya langsung menatap Tae Hyung.
“Jadi, aku boleh melepasnya dan memasang ini?” tanya Tae Hyung kepada bibi penjual yang langsung menjawabnya dengan anggukan. Dengan sigap tangan pemuda tujuh belas tahun itu melepas gelang coklat dan memasangkan satu gelang yang sedari tadi dibawanya.
“Kembalikan gelang ini dan jagalah gelangku. Awas saja jika kau sampai melepasnya. Kau mengerti?” kata Tae Hyung sambil mencolek hidung Hye Rim, pelan.
***
__ADS_1