Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 12 – . . . - ‘A nightmare in the joyfull spring’


__ADS_3

“Tae Min-ssi, siapa gadis itu?”


“Apa benar kau bertemu dengannya pagi ini?”


“Mungkinkah ia adalah seorang gadis impian yang pernah kau ceritakan waktu itu?”


Malam ini, tepat pukul 22.30 KST, bandara Gimpo mendadak dipenuhi oleh sekumpulan wartawan yang haus akan berita skandal terbaru dan terpanas hari ini. Beberapa kali flashlight dari kamera mereka berkilauan menghujani seorang pemuda yang memakai celana jins krem, baju red velvet yang ditutupi oleh cardigan putih dan kacamata hitam. Pemuda yang terus menunduk dari pintu keluar hingga ke pelataran bandara, berlindung di balik beberapa petugas keamanan yang mengawal dirinya dan keempat anggota boyband nya .


“Jwesonghamnida, jwesonghamnida .”


Seorang pria yang terlihat tidak lebih muda dari anggora tertua Boyband itu terlihat menyibak kerumunan wartawan, mencari jalan untuk segera memasuki van putih yang baru saja terparkir di depan bandara itu. Dengan sigap petugas keamanan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu mulai membantu pria itu dan mendorong pelan kelima pemuda itu untuk memasuki van satu persatu. Dan menutup pintunya.


“Sebelumnya saya minta maaf, tapi mereka sedang sangat kelelahan sekarang, kalian pasti sudah tahu kalau mereka baru saja menyelesaikan konser mereka di pulau Jeju,” kata pria itu tepat di depan pintu mobil. “Oleh karena itu, untuk sekarang kami belum bisa memberikan komentar apa-apa terkait dengan skandal ini. Kedepannya kami akan mengundang para wartawan untuk sebuah Press Conference. Terima kasih karena telah datang jauh-jauh untuk meliput kami. Kamsahamnida.” Ucap pria itu sambil membungkuk dan kemudian langsung berjalan menuju pintu mobil sebelah kanan, membukanya dan menutupnya.


Perlahan tapi pasti van putih itu mulai meninggalkan pelataran bandara Gimpo dengan sangat hati-hati. Dengan terus mengawasi spion kanan-kiri dan memperhatikan belakang, supir van yang membawa Hallyu Star itu bertindak dengan sangat hati-hati. Jangan sampai kecerobohan sang supir menyebabkan salah seorang dari beberapa wartawan dan penggemar terluka.


Kini kelima pemuda itu ditambah satu manajer yang sedang berbicara dengan seseorang di telefonnya terjebak dalam suasana tegang yang dingin.


“Ne, langsung Sajangnim? Iya, baiklah. Akan kusampaikan padanya. Ne!”


Manajer itu pun menutup teleponnya dan menoleh ke belakang. “Tae Min-ah! Setelah ini Lee Sajangnim ingin menemuimu.” Katanya yang langsung membuat kelima pemuda itu sontak melihat ke arah manajernya, beralih dari smartphone dan tablet masing-masing.


Tae Min hanya mengangguk dan kemudian terdiam. Matanya menerawang jalanan diluar, pikirannya mengambang entah kemana. Kali ini semua rasa bercampur aduk, takut, khawatir, dan cemas, semuanya bergabung menjadi satu. Tiba-tiba ia merasa beberapa sebuah telapak tangan di bahu kanannya dan sontak ia menoleh.


Keempat pasang mata dari anggota boyband nya kini menatap dirinya dan tersenyum.


Semuanya akan baik-baik saja


**


Sinar matahari pagi menyeruak masuk lewat lace gorden putih yang menutupi dua french window besar kamar Hye Rim. Gadis itu sudah bangun dari dua puluh menit yang lalu dan telah mempersiapkan segalanya. Kini mulutnya menggumamkan satu lirik lagu yang tengah ia dengarkan sekarang. Satu buah single hasil kolaborasinya dan Tae Hyung yang mungkin Jang Saem akan menyuruh mereka untuk mempresentasikannya dan menyanyikannya hari ini. Satu buah lagu manis yang sangat cocok didengarkan di musim semi, lagu para kekasih.


“Sudah!” katanya sambil merapikan rambut, wajah dan seragamnya di depan sebuah cermin full body. Hari ini ia memutuskan  untuk mengucir rambutnya.


Sekilas ia melihat jam dindingnya. Sontak ia terkejut dan langsung mematikan smartphone nya yang sedari tadi terus memutar satu lagu, mengambil tasnya, sekilas mengecek rupanya di cermin bundar dan kemudian keluar dari kamar itu. Dengan sedikit terburu-buru ia menuruni tangga. Jam telah menunjukkan pukul 06.30 KST, itu berarti kurang dari tiga puluh menit gerbang sekolahnya akan ditutup. Bukan hanya gerbang sekolahnya tapi juga sekolah adiknya, Han Hyun Soo.


“Hyun Soo-yah!” teriaknya sambil berjalan cepat menuju dapur, meminum segelas susu dan mengambil satu buah sandwich daging di atas meja makan, menggigitnya.


“Ahyoh khitaa, phergi.” Katanya dengan mulut yang penuh dengan sandwich.


Hyun Soo masih mengunyah sandwich terakhir dan kemudian meminum habis segelas susu yang berada di sebelah sandwich itu, ia hanya terdiam melihat tingkah kakaknya yang semakin hari semakin tidak ia mengerti. Pelan pemuda itu langsung beranjak dari kursi makannya dan berjalan mengikuti Hye Rim yang sudah berada di depan lemari sepatu.


“Eoh! Sepatuku, kenapa tidak ada? Yaa! Han Hyun Soo, kau menyembunyikan sepatuku?” tanyanya sambil berjinjit, mengacak-ngacak lemari sepatu empat susun itu.


“Memangnya apa untungnya aku melakukan hal itu?” jawab Hyun Soo sambil mengambil sepatunya di rak paling atas, meletakkannya di lantai dan memakainya.


Benar juga tapi, apa  mungkin sebuah sepatu dapat menghilang  begitu saja?


“Jangan pergi ke sekolah.”


Sontak Hye Rim terhenti. Ia dan Hyun Soo serentak menoleh ke asal suara. Seorang pemuda dengan pakaian kasualnya tengah berdiri tepat di belakang mereka.


“Ne?” Hye Rim mengernyitkan dahinya. Apa ini?


“Kau jangan pergi ke sekolah dulu. Sepatumu baru saja selesai kucuci.” Lanjut pemuda itu sambil melangkah menuju ruang tamu dan duduk di salah satu sofa. Hyun Soo perlahan berdiri dan menatap kakak perempuannya yang terdiam di depan lemari sepatu sambil memandang kakak laki-lakinya yang tengah membaca sebuah buku.


“Mencuci sepatuku?” tanya Hye Rim mencoba berpikir positif sambil melangkah perlahan mendekati kakaknya yang terlihat sangat tenang itu.


“Hari ini kau tidak perlu pergi ke sekolah. Aku akan mengurus surat izinmu.” Jawab Hyun Woo tanpa memandang kedua adiknya yang tengah terdiam dan bingung.


Perlahan Hye Rim mulai mengerti, sepertinya ada yang aneh dengan ini semua. Tidak  mungkin kakaknya yang sangat ia kenal akan ‘kerasnya’ dalam hal pendidikan tiba-tiba melakukan ini. Hye Rim menundukkan kepalanya, menarik nafas dan mengangkatnya.


“Apa maksud semua ini? Kesalahan apa yang telah kulakukan dengan para idola itu?”


Hyun Soo mendesah, berat.


‘Seharusnya aku sudah menyadarinya dari awal. Tidak mungkin Hyung akan setenang ini setelah melihat semua berita itu tadi malam’ batinnya.


Laut tenang semalam ternyata adalah tanda kalau akan terjadi badai besar pagi ini.


Hyun Woo menutup bukunya dan berdiri.


“Mana smartphone mu,” pinta Hyun Woo. Tanpa berkata apa pun Hye Rim langsung menyerahkan smartphone putih miliknya. Hanya dalam hitungan detik Hyun Woo sudah mengembalikan smartphone itu dengan menunjukkan ratusan bahkan ribuan artikel yang sedang sangat ramai dibicarakan saat ini. “Bacalah, setelah itu masuklah ke kamarmu.” Katanya sambil duduk kembali.


Hye Rim menerima smartphone nya. Matanya sontak membelalak melihat ratusan artikel  dan foto tentang Tae Min yang tengah ‘bermesraan’ dengan seorang gadis kemarin pagi. Jantungnya mulai berdetak kencang melihat foto itu, apa ia memang tampak seperti itu?


Ah! Tapi,


“Ini, bukan hanya kami yang berada di sana. Ada Seun Ho yang tengah menelepon di depan kami dan juga aku tidak sengaja bertemu dengannya kemarin.” Bantah Hye Rim sambil masih memperhatikan foto dan artikel itu.


“Para wartawan, penggemar dan aku tidak perduli dengan semua itu. Kau tahu itu.” Jawab Hyun Woo sambil menatap Hye Rim tajam.

__ADS_1


“Kami hanya melihat dan mengerti dari apa yang kami lihat dan kami baca sekarang.”


Hye Rim tertunduk. Tapi aku mempunyai hal penting yang harus kulakukan hari ini.


“Hyung, tidak bisakah Hyung memaafkan Nuna kali ini?” pinta Hyun Soo sambil menatap penuh harap pada Hyun Woo.


Hyun Woo terdiam, tidak membalas pertanyaan Hyun Soo baru saja.


“Hyung, kurasa Nuna juga tidak tahu apa-apa. Ia hanya tidak sengaja bertemu dan,,”


“Dan apa? Melakukan adegan mesra di publik seperti ini?” potong Hyun Woo.


Hye Rim mengangkat kepalanya, dengan tatapan penuh harap ia melihat Hyun Woo.


“Oppa, aku  minta maaf, aku telah salah kali ini. Kumohon izinkanlah aku untuk pergi. Ada satu hal penting yang harus kulakukan hari ini dan jika aku tidak datang, semuanya akan berantakan.” Pinta Hye Rim sambil mencoba menahan air matanya.


“Tidak. Kalau kubilang tidak berarti tidak. Bukankah sudah kukatakan semalam? Kalau aku yang akan menggantikan peran ibu mulai hari ini sampai satu minggu kedepan. Masuklah ke kamarmu.”


“Oppa! Aku telah mengaku kalau aku memang salah dan aku telah meminta maaf kepada Oppa, tapi kenapa Oppa masih bersikap seperti ini? Aku tidak sengaja bertemu dengannya, ah bukan! Dengan mereka, lalu kami berbicara sebentar dan Seun Ho menerima telepon di depan kami. Dan juga, aku bukan perempuan seperti itu! Aku dan Tae Min tidak beradegan mesra seperti yang apa Oppa pikirkan sekarang, ia hanya berusaha menyingkirkan serangga yang tengah menempel di lenganku, itu saja! Apa itu salah?! Kenapa Oppa selalu bersikap seperti ini jika aku berhubungan bahkan hanya berteman dengan mereka? Apa alasan Oppa membatasiku berteman dengan para Idol itu??” Hye Rim mulai menitikkan air matanya. Emosinya membuncah kali ini. Ia tidak tahu kenapa kakak laki-lakinya selalu melarang dirinya untuk berdekatan dengan mereka.


“Kau lupa dengan apa yang telah kau janjikan sebelum masuk ke sekolah itu?”


Hye Rim tersentak. Tidak! Ia mengingatnya.


“Kurasa kau masih mengingatnya dengan jelas. Dengan bersekolah disana bukan berarti kau bisa bebas berteman begitu saja dengan mereka.” Lanjut Hyun Woo sambil mengambil smartphone Hye Rim dari genggaman gadis itu.


“Tapi, apa alasan Oppa yang sebenarnya?”


Hyun Woo terdiam.


Hye Rim tertawa sinis.


“Aku tahu Oppa tidak akan menjawabnya. Seperti biasa.” Ucapnya sambil memandang Hyun Woo dengan mata nanarnya.


“Ini.” Kata Hyun Woo tiba-tiba sambil menyerahkan smartphone tanpa baterai itu.


Hye Rim terkejut. Apa tidak cukup untuk mengurungnya di rumah?


“Hyung!” ucap Hyun Soo tiba-tiba. Ia sudah tidak tahan melihat sikap Hyun Woo.


“Apa? Tidak ada yang harus Hye Rim hubungi dan menghubungi Hye Rim hari ini. Sudah kubilang, aku akan mengurus surat izin Hye Rim, aku yang akan menjelaskan semuanya pada kepala sekolah. Dan kau Hyun Soo, bukankah kau sudah telat?” jawab Hyun Woo sambil melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 06.44 KST dan kemudian memandang Hyun Soo.


Hye Rim merebut smartphone nya dengan cepat.


Gadis itu kemudian berlari menuju kamarnya.


*


“Ini salahku. Tidak seharusnya aku meninggalkan mereka berdua. Sekarang aku harus bagaimana?” gumam Seun Ho sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Tae Hyung terdiam bingung melihat tingkah temannya kali ini. Walaupun tingkah Seun Ho memang selalu tidak bisa ditebak, tapi kali ini sedikit aneh. Seperti ada satu masalah berat.


“Yaa, kau kenapa? Meninggalkan siapa?” tanya Tae Hyung yang sontak membuat Se Na, gadis yang tengah sibuk dengan buku pelajaran disampingnya, tertarik untuk mendengarkan.


Seun Ho mengangkat kepalanya. Melihat Se Na dan Tae Hyung secara bergantian.


“Kalian sudah tahu tentang berita menggemparkan yang menyeret Tae Min semalam?” tanya Seun Ho dengan tatapan datar.


Kedua remaja itu mengangguk.


“Sebenarnya bukan hanya mereka berdua yang ada disana. Aku juga ada disana, tepat di depan mereka. Tapi sialnya yang terlihat di foto hanya mereka berdua,”


Kedua remaja itu kini terlihat bingung.


“Aku sudah mencoba menjelaskannya pada Lee Sajangnim pagi ini. Tapi sepertinya seberapapun kerasnya aku menjelaskan semuanya, Lee Sajangnim masih terlihat belum begitu percaya padaku, Tae Min diskors untuk tidak ikut dalam konser dan tidak masuk sekolah selama tiga hari. Hh, ini semua salahku, Tae Min menjadi seperti ini dan sekarang sepertinya aku juga harus menanggung kesalahan Hye Rim.” Lanjutnya sambil melihat bangku kosong di sebelahnya.


“Hye Rim?” tanya Se Na sambil mengernyitkan dahinya.


Seun Ho mengangguk, lemas.


“Jangan-jangan,” gumam Tae Hyung sambil menatap Seun Ho tajam.


Untuk sekali Seun Ho mengangguk, kemudian menutup wajahnya dengan tangannya.


**


“Benar kau akan baik-baik saja? Kau belum membuat janji dengannya kan?” tanya manajer Kim kepada Tae Hyung yang sudah siap dengan tas, jumper dan baseball hat putihnya.


Tae Hyung tersenyum dan mengangguk. Tangannya bersiap untuk membuka pintu mobil yang terdapat di sebelah kirinya.


“Benar?” tanya manajer Kim sekali lagi sambil memandang Tae Hyung serius.


“Iya Hyung. Hyung tidak usah khawatir, aku tidak akan menghilang lagi dan akan kembali dengan selamat, jasmani dan rohani, kujamin.” Jawabnya yang kemudian membuka pintu itu dan keluar, tentunya dengan diiringi tatapan khawatir dan cemas dari manajernya.

__ADS_1


“Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami, aku tidak mau kejadian satu tahun yang lalu terulang kembali,” kata Kim Oh Hoon dari balik setirnya.


Tae Hyung mengangguk.


“Kalau mereka tetap mengenalimu berusahalah bersikap setenang mungkin dan tetaplah berjalan,”


“Kalau-.”


“Hyung, ada berapa kalau lagi yang harus kudengarkan? Ini sudah malam Hyung.”


Kim Oh Hoon mendesah dan menggeleng-nggelengkan kepalanya.


“Kalau sudah selesai cepat kembali. Besok jadwalmu penuh.” Kata manajer Kim.


Tae Hyung mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


“Baiklah, aku pergi dulu. Tetaplah berhati-hati.”


“Ahh, kenapa aku bisa menuruti permintaannya semudah ini?” gumam manajer Kim sambil menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai fokus pada setir di depannya. Tak sampai satu menit, perlahan mobil itu berjalan, meninggalkan seorang pemuda yang masih berseragam lengkap yang tengah berdiri di depan sebuah toko kelontong.


Setelah mobil itu benar-benar menghilang di pertigaan, Tae Hyung mulai fokus pada lingkungan di sekitarnya, sebuah toko kelontong sederhana dengan seorang bibi yang terlihat  tengah menghitung sesuatu di balik meja kasir, di dalam toko kelontong.


“Haruskah kubeli sesuatu sembari menunggu?” gumamnya sambil melangkah masuk.


“Annyeonghaseyo.” Sapanya pada bibi penjaga toko yang menjawab salamnya tapi terlihat tidak perduli dengan dirinya. Dengan jeli matanya mulai mencari-cari satu makanan atau minuman yang dapat ia nikmati malam ini dan tak lama ia memutuskan untuk mengambil dua botol kopi dingin dari balik lemari es dan menyerahkannya kepada bibi itu.


“Semuanya 2.500 won.”


Tae Hyung mengeluarkan uang pecahan seribu won sebanyak tiga lembar dan menyerahkannya kepada bibi penjaga toko itu.


“Kamsahamnida.” Katanya sambil menerima kembalian lima ratus won. Perlahan ia mulai melangkah keluar dan duduk di satu-satunya bangku kayu yang terdapat di depan toko kelontong itu.


“Ah, kuharap ada yang lewat.” Gumamnya sambil terus memperhatikan jalanan sepi di depannya. Tangannya kemudian mengambil sebotol kopi, membukanya dan meminumnya.


Waktu terus berlalu. Sudah hampir dua puluh menit ia berada di depan toko kelontong ini dan kini jam sudah menunjukkan pukul 20.20 KST, itu artinya kurang dari dua jam lagi ia harus kembali ke asramanya. Ia sudah berjanji kepada para Hyung dan manajernya untuk kembali sebelum jam sepuluh malam.


“Kumohon, siapapun itu, cepatlah lewat didepanku.” Gumamnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan ke luar. Ditolehkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengecek apa ada seseorang yang ia tunggu, yang mungkin –semoga- lewat daerah ini. Tapi tiba-tiba ia langsung membalikkan badannya dan memajukan baseball hat nya, tepat menutupi sebagian wajahnya.


“Menyebalkan! Siapa perempuan tidak tahu malu ini? Jika aku bertemu dengannya, aku berjanji aku akan langsung menarik rambutnya dan, pokoknya ia akan habis ditanganku!” kata seorang perempuan yang lewat di belakang Tae Hyung.


“Uuh, kau menyeramkan. Yakin kau bisa melakukan hal itu jika kau bertemu dengan gadis itu?” sahut salah satu temannya yang berjalan di sebelahnya.


“Tentu! Tentu aku bisa melakukan semua itu! aku bisa melakukan semua hal itu bahkan lebih untuk seseorang yang mengancam keselamatan Tae Min Oppa-ku tercinta.”


Tae Hyung terdiam. Samar-samar suara kedua gadis itu mulai menjauh sedikit demi sedikit. Perlahan dibalikkannya badannya dan menoleh ke kiri, melihat dua orang gadis yang masih berseragam sekolah lengkap yang masih berjalan.


Gadis itu adalah salah satu dari sekian ribu bahkan juta gadis di luar sana yang menyukai, menggemari bahkan menggilai Lee Tae Min. Pastinya ada beberapa gadis lain yang juga seperti itu, para penggemar yang sangat mengagung-agungkan idolanya, rela untuk  melindunginya bahkan rela mengorbankan apapun untuk sekedar melihat dan bertemu idolanya. Ini memang sedikit mengerikan, tapi hal itu memang terjadi di negeri ginseng itu, bahkan para penggemar fanatik yang biasa disebut sasaeng fans  itu dapat melakukan hal-hal mengerikan seperti itu kepada para artis yang kebetulan mempunyai skandal dengan idola tercinta mereka.


Tae Hyung perlahan berbalik badan dan kembali ke tempat duduknya, baru saja ia akan memosisikan dirinya sontak ia berdiri.


“Han Hyun Soo?”  panggilnya tiba-tiba. Seorang pemuda yang masih berseragam sekolah lengkap tengah berjalan di depannya. Seperti telah ditakdirkan sebelumnya, pemuda itu tiba-tiba terhenti dan menoleh ke asal suara. Matanya menyipit, menatap seorang pemuda dengan seragam yang sangat ia kenal tengah berjalan ke arahnya.


“Eoh? Hyung?”


Tae Hyung tersenyum lega sembari menyerahkan satu botol kopi yang masih tersegel kepada pemuda yang lebih muda satu tahun darinya, Han Hyun Soo.


***


“Tidak! Ini tidak boleh terjadi! aku harus kebawah dan mengambil kembali baterai smartphoneku.” Sontak Hye Rim bangun dari tidurnya.


“Oppa memang kakakku, tapi kurasa ia tidak boleh melakukan hal semacam ini. Aku memang salah dan aku pantas dihukum, tapi apa aku tidak boleh untuk menghubungi teman-temanku?” katanya pada dirinya sendiri. Ia lalu beranjak dari tidurnya, membuka pintu kamarnya dan keluar. Dengan sedikit berlari ia berjalan menuju tangga, menuruni satu, dua anak tangga dan tiba-tiba langkahnya terhenti.


“Eoh, ia baik-baik saja. Jangan khawatir, hanya hari ini, besok ia sudah masuk kembali.” Kata Hyun Woo pada seseorang yang tengah menelefonnya sekarang.


Langkah Hye Rim reflek terhenti.


Eomma? Apa Oppa sedang berbicara pada Eomma sekarang?


“Iya, ia memang sangat ceroboh, bagaimana bisa ia menemui mereka ditaman? Walaupun mereka tengah bertiga tapi tetap saja itu sangat berbahaya.”


“Mungkin Eomma.” Hye Rim mulai melangkahkan kakinya.


“Kau sendiri? Bagaimana dengan sekolahmu? Semuanya baik-baik saja? Hyung minta maaf karena tidak memberitahumu tentang ini semua.”


Sontak langkah Hye Rim terhenti untuk yang kedua kalinya.


Hyung? Sekolah?


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2