
“Kau sudah mencoba menelfonnya?”
“Sudah Hyung, tapi tiba-tiba saja sambungan kami terputus. Sepertinya baterai handphone Hye Rim habis. Aku bahkan belum sempat mengatakan kalau ada artikel kami disana.”
“Hye Rim belum tahu tentang ini semua?”
Pemuda yang berdiri di depan panggung besar itu hanya mengangguk. Ia tahu kalau orang diseberang sana tidak tahu kalau ia baru saja mengiyakan pernyataan itu. Tapi, saat ini ia tidak bisa berkata apa-apa, bahkan untuk melindungi gadis itu ia tidak bisa. Gadis yang pada awalnya dititipkan padanya tapi entah kenapa lama kelamaan, ia merasa satu perasaan aneh mulai merasuki hatinya.
“Aku minta maaf Hyung karena telah menyebabkan kekacauan besar ini terjadi.” Ucap pemuda itu sambil sesekali mengangguk dan tersenyum pada staf yang lewat.
“Dan sekarang, aku bahkan tidak dapat melindunginya. Seperti janjiku pada Hyung.” Katanya sembari berjalan meninggalkan bawah panggung menuju deretan kursi penonton yang masih kosong dan duduk.
“Tidak apa-apa. Aku yakin Hye Rim baik-baik saja. Kau tahu bagaimana cara gadis itu menghadapi masalah kan? Lagipula ia sudah mendapatkan sabuk hitam di sekolah taekwondonya. Jadi kurasa, semua akan baik-baik saja.”
“Tapi, tetap saja Hyung. Aku sangat merasa bersalah. Seharusnya waktu itu aku tidak mengajaknya pulang.” Kata pemuda itu sambil memperhatikan satu grup laki-laki yang sedang dry rehearsal di panggung.
“Eii, tidak apa-apa. Selama itu kau, aku tidak apa-apa.”
*
“Kurasa ini bukan de javu. Aku merasa telah mengenal baik daerah ini tapi, sejak kapan?” kata Tae Hyung sambil terus melangkah mengikuti hatinya yang sedari tadi memandunya dalam menyusuri jalanan bercabang dan sepi di depannya.
“Eoh! bukankah itu Tae Hyung Oppa!”
Sontak langkahnya terhenti. Perlahan di tolehkannya kepalanya ke asal suara. Kini ia melihat dua orang siswi tengah mengarahkan kamera handphone mereka ke arahnya.
‘Hh, kumohon jangan sekarang.’ Batinnya sambil mengangguk singkat dan tersenyum ke arah gadis-gadis itu. Perlahan ia mulai membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan kedua gadis itu. Kali ini ia tidak berlari, ia hanya mempercepat langkahnya. Karena lingkungan ini tidak seramai jalanan Apgujeong sebelumnya, kurasa semuanya akan baik-baik saja, pikirnya.
Dengan terus melangkah sembari merapatkan topi dan hoodie nya, sesekali ia menoleh ke belakang. Gadis-gadis itu ternyata masih ada disana, mereka mengikutinya. Tentu ini adalah hal yang wajar, tidak apa jika mereka mengikutinya asalkan mereka tidak memanggil kawanan mereka untuk ‘menangkap’ dirinya.
Sebentar! Menangkap dirinya?
Tiba-tiba Tae Hyung berhenti. Ya! Ia ingat sekarang! Ia tahu alasan kenapa ia merasa seperti pernah berada di lingkungan ini sebelumnya. Matanya berputar mengikuti badannya yang reflek berputar perlahan memperhatikan daerah di sekitarnya kini. Tapi tiba-tiba matanya berhenti menatap satu buah lampu jalan yang berada di sebelah kanannya. Dengan perlahan pandangannya berjalan menelusuri tiang tinggi lampu jalan itu dan berhenti di sebuah lampu yang memancarkan pendar gading yang indah, tepat diatas kepalanya.
“Ternyata ini yang membuatku bingung.” Gumamnya lirih sambil tersenyum.
“Ah! Gadis itu! Apa ia masih tinggal di lingkungan ini? Aku jadi penasar-,”
“Heii!!”
Sontak Tae Hyung terkejut, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja sebuah suara yang terdengar setengah berteriak memenuhi telinganya. Diputarkannya kepalanya dan ternyata bukan hanya ia yang terkejut, bahkan kedua gadis yang sedari tadi mengikutinya telah menurunkan kamera handphone mereka yang telah memfotonya atau mungkin merekamnya dari tadi. Kini semuanya terpusat pada sebuah gang kecil yang berada tepat disebelah kiri mereka.
“Ya! Kau berani berteriak pada kami?!”
Tae Hyung sadar seseorang kini tengah berada dalam masalah, bergegas ia melangkah menuju jalan yang sangat sepi dan cukup gelap itu. Ia tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi disana dan ia tidak perduli apa orang-orang itu akan mengenalinya jika ia mendatangi dan menyelamatkan orang itu.
“Kalian, bukankah aku sudah bilang sebelumnya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan sekarang.” Ucap seorang gadis yang hanya bisa menatap menghadapi kelima gadis di depannya. Tidak ada jalan yang bisa ambil sekarang, dibelakangnya tembok dan tinggi dan didepannya, gadis-gadis mengerikan itu.
Tae Hyung mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia mengenal suara itu. Dengan terus melangkah dan menajamkan pandangannya ia mulai masuk ke jalan kecil itu. Perlahan demi perlahan ia mulai bisa melihat mereka, keenam gadis yang tengah berdiri di ujung jalan ini. Lima gadis yang berseragam sama tengah berdiri menghadang satu gadis berseragam coklat dan kuning, berbeda dari kelima gadis itu yang terjebak dengan adanya tembok di belakangnya.
“Astaga! Hye Rim!” sontak pemuda itu terkejut melihat sesuatu yang sedang terjadi didepannya sekarang. Sepertinya Hye Rim tengah menjadi sasaran kelima gadis itu, pikirnya.
“Kau pikir kami bodoh? Cepat katakan kalau tidak-,”
“Chagiya !!”
Tanpa berpikir panjang entah kenapa ia langsung meneriakkan kata itu. Dengan senyuman dan sebuah skenario yang baru saja muncul di kepalanya ia mulai bergegas menuju kumpulan gadis yang berjarak kurang lebih sepuluh meter didepannya itu. Bersiap untuk membawakan peran yang seharusnya ia lakukan sekarang untuk gadis itu.
**
“Chagiya!!”
Sontak keenam gadis itu tersentak. Reflek semuanya kini menolehkan kepala mereka, mencari seseorang yang baru saja ’mengintervensi’ sesuatu yang harus mereka selesaikan kini.
“Yaa, kau kemana saja? kucari-cari dari tadi ternyata kau disini?. Eh? kau kenapa?”
__ADS_1
Perlahan tapi pasti bayangan seseorang yang baru saja menganggu mereka mulai terlihat jelas. Kini seorang pemuda terlihat tengah berjalan menuju mereka, siluet pemuda tinggi dengan baseball hat hitam dan jumper mocca.
Hye Rim menyipitkan matanya. Ia sedang berpikir keras sekarang. Ia merasa seperti kenal baik dengan siluet dan cara jalan pemuda bertopi itu tapi ia tidak yakin kalau pemuda itu akan berada di tempat ini sekarang. Mustahil. Tapi sayangnya, semakin lama ia memperhatikan siluet itu pikiran logisnya mulai terkalahkan oleh perasaan pekanya, jantungnya mulai berdebar memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Eoh! Eonni, bukankah itu Tae Hyung??” seru seorang gadis yang berada tepat di depan Hye Rim sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya.
Seketika Hye Rim langsung membuka kedua matanya. Apa?
Dan saat itu juga siluet pemuda tinggi itu mulai terlihat jelas.
‘Tae Hyung?’ jantung Hye Rim semakin berdebar kencang, pandangannya langsung ia alihkan dari pemuda yang terlihat khawatir menatap dirinya itu.
“Yaa, kau kenapa? Ini-, ini apa?” tanya pemuda itu sambil menyeruak masuk kedalam kumpulan gadis itu dan memegang sesuatu yang lengket dan basah yang menempel di rambut Hye Rim. Hye Rim terdiam. Kepalanya terus menunduk, ia tidak berani menatap pemuda itu.
“Kau-, Tae Hyung? Kim Tae Hyung?” tanya seorang gadis yang berjalan mendekati Tae Hyung dan mencoba menyentuh lengan pemuda itu. Perhatian Tae Hyung sontak berpindah. Kini ia menatap tajam satu persatu dari kelima gadis yang berada di depannya.
Tiba-tiba pemuda itu melepas hoodie yang sedari tadi menyembunyikan wajah tampannya. Serentak kelima gadis yang berada di depan pemuda itu langsung berteriak kecil memanggil namanya, bahkan salah satu gadis itu hampir saja pingsan melihat siapa yang tengah berdiri di depan mereka kini.
“Kalian sedang apa dengan kekasihku?” pelan ia menolehkan kepalanya ke Hye Rim, dipandanganya gadis itu lamat-lamat dan tiba-tiba saja ia merangkul Hye Rim, erat.
Hye Rim tersentak, reflek kepalanya langsung terangkat dan menatap pemuda yang tengah menatap kelima gadis mengerikan di depannya dengan tajam. Untuk kedua kalinya kelima gadis itu tersentak kaget. Semuanya benar-benar terlihat terkejut sekarang mendengar fakta pahit yang langsung diucapkan dari salah satu Hallyu Star yang sedang berada di atas daun akhir-akhir ini.
“Kekasih? Yaa, kau pikir ini seperti di drama-drama itu? Kau dapat dengan mudah mnegucapkan kekasih lalu pergi begitu saja? Kau-,”
“Memangnya kenapa kalau gadis ini memang kekasihku? Dan siapapun yang berani berbuat macam-macam dengan gadis ini, akan berurusan denganku. Kalian juga, aku bisa melaporkan kalian ke kantor polisi dengan tuduhan penyerangan.” Potong Tae Hyung. Tiba-tiba ia merasa jumper nya tengah ditarik pelan oleh gadis di sebelahnya. Pelan Tae Hyung menoleh ke gadis yang berada dalam pelukannya dan tersenyum.
Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa.
“Kau. Kau tidak takut kami akan memfotomu dan akan memostingnya ke laman kami? Kurasa kau tidak tahu kalau kami ini adalah anti fanmu.” Ucap salah seorang gadis yang bersiap mengeluarkan smartphone nya dari tasnya.
Tae Hyung sedikit tersentak, begitu juga dengan Hye Rim. Tapi sesaat kemudian pemuda itu tersenyum.
“Silahkan. Aku tidak takut. Sama sekali.” Katanya.
Apa ia serius dengan apa yang diucapkannya sekarang?
“Ayo kita pergi!” ajak Tae Hyung sambil menggenggam tangan kiri Hye Rim erat. Mengajak gadis itu meninggalkan tempat mengerikan itu.
Hye Rim terdiam. Saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar bertanya alasan pemuda itu bisa sampai di tempat ini ia tidak bisa. Ia hanya bisa diam sambil terus memandang pemuda tinggi dan tampan itu dengan tatapan bingung, heran dan bahagia. Jujur saja, walaupun ia sedikit terkejut dan marah dengan keberadaan pemuda itu dengan tiba-tiba, tapi hatinya tidak bisa berbohong, ia senang sekarang. Ia tidak tahu pasti kenapa hatinya bisa merasa bahagia seperti ini tapi sepertinya ini karena ia bisa terbebas dari teror mengerikan gadis-gadis tadi, sepertinya.
Dan tidak bisa dielakkan lagi, semua mata kini terbelalak kaget melihat adegan yang sangat mendadak itu. Seorang idola yang tiba-tiba datang dan menarik gadis yang seharusnya sudah ‘habis’ ditangan mereka.
“Wahh,, aku seperti melihat drama disini.” Bisik salah seorang gadis dari dua gadis yang sedari tadi telah mengikuti Tae Hyung. Dengan pandangan yang masih mengikuti Tae Hyung ia langsung mengangkat smartphone nya, mengaktifkan kameranya, mengarahkannya ke pasangan itu dan,
KLIK!
Satu buah gambar seorang gadis dan seorang pemuda yang tengah bergandengan tangan kini telah tergambar jelas di layar smartphone nya.
**
“Kau bisa melepas tanganku sekarang.” Ucap Hye Rim lirih sambil menunduk dan menarik tangannya dari genggaman Tae Hyung. Tae Hyung tersenyum. Matanya kemudian memperhatikan sebuah rumah sederhana di sebelah kanannya.
“Ini rumahmu?” tanyanya sambil terus mengamati rumah bercat putih gading itu. Setelah puas mengamati rumah itu kini perhatiannya kembali ke gadis di depannya.
“Ahh, apa yang harus kita lakukan dengan ini? Jika ibumu tahu bisa bahaya.” katanya sambil mengambil satu buah saputangan dari kantong celananya dan mengusapkannya perlahan ke rambut Hye Rim, menghapus sisa telur yang menempel di rambut indah gadis itu.
“Kau-, apa kau sudah-,” potong Hye Rim tiba-tiba. Kedua bola mata hitam mungil gadis itu langsung menatap tajam mata Tae Hyung. Tae Hyung tersentak, sontak tangannya terhenti dan matanya menatap bingung ke gadis itu.
“Kau tidak tahu apa konsekuensi dari apa yang telah kau lakukan tadi?”
Ekspresi Tae Hyung seketika berubah menjadi serius.
“Tanpa kau tanyakan aku sudah tahu itu.” Jawabnya sambil menunduk sejenak dan kembali menatap Hye Rim dalam.
Hye Rim mengernyitkan dahinya. Kalau memang sudah tahu tapi kenapa,,
__ADS_1
“Aku tahu. Aku tahu cara mengatasinya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Kata Tae Hyung sambil kembali tersenyum dan mengusap sisa telur itu. Kini tinggal noda kuning telur yang harus ia bersihkan. Perlahan ia mengusap rambut Hye Rim sambil sesekali tersenyum menatap Hye Rim yang sepertinya masih terlihat marah.
“Hei, tidak bisakah kau tersenyum kepadaku? Kau membuatku takut. Lagi pula, aku telah menyelamatkanmu dari gadis-gadis mengerikan itu, apa kau tidak berniat untuk mengucapkan terima kasih kepadaku? Tapi, bukan berarti aku mengharapkannya, hanya saja bukankah itu salah satu aturan manusia yang harus ia lakukan jika telah menerima sesuatu yang membahagiakan dari manusia lain?” kata Tae Hyung sambil tersenyum manis.
“Kau bilang kau bisa mengatasinya, jadi kau pasti merasa bahwa kau akan baik-baik saja. Lalu aku?” tanya Hye Rim yang sontak menghentikan aktifitas tangan Tae Hyung. Perlahan ditariknya tangan dan saputangan itu dari rambut Hye Rim, melipatnya dan meletakkannya di bangku kayu yang berada di sebelah kanan mereka.
“Ahh, aku tidak memikirkan itu sebelumnya.” Katanya sambil menunduk dan tersenyum. Menyadari satu kesalahan yang memang tidak pernah terpikirkan oleh pemuda itu sebelumnya.
“Maaf telah berbuat egois, tapi apa aku tidak boleh melakukan itu?” tanyanya sambil kembali menatap Hye Rim yang kini tengah menghidari tatapannya. Gadis itu kini tengah menatap jalan dibawahnya, entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu sekarang.
“Ketika seseorang tengah berada dalam kesulitan, tidak bolehkah aku membantunya? terlebih orang itu adalah seseorang yang sangat aku kenal.” Lanjutnya sambil tersenyum.
Hye Rim mengangkat kepalanya, kini matanya tengah menatap mata Tae Hyung dalam.
“Kau tahu bukan itu maksudku. Tidak ada yang menyalahkanmu ketika kau ingin menolong seseorang hanya saja,” Hye Rim menghentikan kalimatnya, menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
“Kita berbeda.”
Hye Rim terhenti, matanya kembali menatap arah lain dan sesekali mengangkat kepalanya untuk menahan sesuatu yang sebentar lagi akan keluar dari kedua matanya. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluarkan ini.
Tae Hyung sedikit terkejut dengan kalimat terakhir Hye Rim. Diaturnya nafasnya dan direndahkannya badannya sehingga wajahnya kini berada tepat di depan wajah Hye Rim.
“Haruskah aku membuatmu berada dalam status yang sama denganku?” tanyanya sambil tersenyum manis. Memandang gadis yang untuk beberapa menit menatap dirinya dengan ekspresi bingung dan mata sedikit terbelalak karena tak lama kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya.
“Hhh, sudahlah!” tiba-tiba saja gadis itu berbalik badan dan melangkah meninggalkan Tae Hyung yang masih merendahkan badannya. Seakan terbangun dari tidurnya, seketika Tae Hyung berdiri, sadar ada satu hal penting yang tertinggal sekarang.
“Hye Rim sebentar!” panggilnya sembari berlari kecil mendekati Hye Rim yang sudah berada di depan pagar rumahnya. Gadis itu pun berhenti dan membalikkan badannya.
Perlahan Tae Hyung melepas jumper yang sejak tadi dipakainya untuk melindunginya dari orang-orang yang mungkin mengenalinya, mengibaskannya sebentar dan memakaikannya ke tubuh gadis itu.
“Pakailah ini sementara,”
“Kau pasti tidak ingin orang tuamu melihat ini kan?” lanjutnya sambil menutupkan hoodie nya di kepala Hye Rim. Hye Rim hanya bisa terdiam melihat pemuda itu dengan pelan memakaikan jumper mocca itu ke tubuhnya dan menarik hoodie itu menutupi rambut indahnya.
“Untungnya besok hari minggu. Kau mempunyai waktu yang banyak untuk membersihkan ini semua.” Gumamnya pelan.
Beberapa kali Hye Rim melihat Tae Hyung dan kemudian melempar pandangannya lagi dari pemuda itu, hatinya terasa aneh setiap matanya bertabrakan dengan mata Tae Hyung yang terus memandangnya dengan tersenyum. Sebenarnya ia ingin membantah dan mengembalikan jumper itu tapi kalau ia tidak memakainya mungkin ibunya akan menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari anak gadis satu-satunya ini. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
“Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?” tanya Tae Hyung sambil tersenyum.
Hye Rim mendesah kesal. Sekilas ia menatap Tae Hyung dengan ekspresi cemberutnya, dengan kesal ia kemudian membalikkan badannya, membuka gerbang pagar rumahnya, masuk dan menutupnya. Meninggalkan Tae Hyung yang masih tersenyum geli karena gadis itu.
CKLEK!
Seketika Tae Hyung terhenti. Siapa yang membuka gerbang sekarang?
Perlahan ia membalikkan badannya dan menurunkan topinya. Menutupi wajahnya.
“Mana saputanganmu?”
Seketika Tae Hyung tersenyum. Tersenyum menatap gadis yang tengah menatapnya dengan cemberut sekarang.
***
“Iya Hyung, aku sekarang dalam perjalanan pulang. Mungkin dalam sepuluh menit kedepan aku akan sampai di restoran, maaf Hyung sudah merepotkan. Ah! apa yang lain juga menyadari kepergianku?” langkah Tae Hyung seketika terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di ingatannya. Satu toko yang terdapat di sebelah kirinya, tepat di depan lampu jalan yang memancarkan sinar ivory.
“Jangan khawatir Hyung. Ia baik-baik saja, untungnya.” Kata Tae Hyung sambil melangkah mendekati toko itu dan mengamatinya. “Apa? Tentu Hyung. Tentu aku melakukannya. Aku sudah melakukan tugasku sebagai seorang pria. Menyelamatkannya dan mengantarnya pulang, ya, walaupun ia terlihat tidak terlalu bahagia dengan kedatanganku tadi.”
Untuk sejenak ia memperhatikan dengan dalam toko yang sudah tutup didepannya. Seketika ia tersenyum. Semua ingatannya tentang malam itu mendadak memaksa masuk ke dalam pikirannya. Tentang malam ajaib dengan seorang gadis yang tiba-tiba pingsan sampai dengan ketika ia menghabiskan waktunya yang sangat berharga bersama dengan gadis itu di bangku panjang yang terdapat di depan toko itu.
***
__ADS_1