
Kini dome berukuran besar itu dipenuhi oleh siswa dan siswi baru yang duduk tenang mendengarkan beberapa kata sambutan dari pihak yayasan, sekolah, beberapa alumnus dari sekolah menengah atas itu-pastinya artis atau penyanyi- , tentang betapa beruntungnya para murid baru itu dapat menjadi bagian dari sekolah ini, mengingat sulitnya ujian masuk yang diikuti oleh ribuan pendaftar dari seluruh negeri bahkan tidak jarang dari mereka berasal dari luar negeri, luar Korea Selatan dan tentunya tentang bagaimana mereka harus berkompetisi di sekolah ini untuk mendapatkan sebuah agensi artis yang bagus dan terpandang, bagaimana mereka harus selalu mengasah kemampuan mereka, baik itu menyanyi, menari, drama atau bahkan musikal, disamping mata pelajaran umum lainnya yang biasanya diajarkan di sekolah menengah atas pada umumnya.
Setelah kurang lebih satu jam dihabiskan oleh pidato para petinggi sekolah itu dan beberapa alumnus, kini tiba waktunya para Sunbae untuk melanjutkan acara penerimaan siswa baru ini, perlahan satu orang perwakilan dari para Sunbae tersebut melangkah maju ke satu-satunya panggung besar yang terdapat di dalam dome ini, meraih microphone yang terdapat di depannya dan memulai upacara penerimaan murid baru versi para Sunbae atau para murid lama tersebut.
“Selamat pagi dan selamat datang di Artemisia International School of Art Performing.”
Sontak suara tepuk tangan memenuhi dome itu, dan siswa tersebut mulai melanjutkan pidatonya.
“Mungkin aku tidak akan lama berada disini, kalian pasti sudah mendengar dan mengerti semua peraturan dan apa yang harus dilakukan ketika kalian adalah salah satu murid dari sekolah ini.”
“Aku Im Joo Won, ketua panitia orientasi penerimaan murid baru tahun 2020/2021, salam kenal.” Lanjut Joo Won sembari sedikit menundukkan kepalanya.
“Boleh kita berkenalan?”
Sontak fokus Hye Rim teralih, ia menolehkan kepalanya ke kanan.
“Cha Se Na.” Kata seorang gadis sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Eh? Han Hye Rim.” Balas Hye Rim dengan menyambut uluran tangan gadis itu.
Kedua gadis itu pun kembali memusatkan perhatiannya ke Joo Won, ketua panitia orientasi murid baru tahun ini.Banyak hal yang disampaikan pemuda itu, tentang daftar kegiatan masa orientasi-yang sebenarnya hanya dilakukan dalam satu hari-, bagaimana cara bersikap, bahkan sebuah showcase kecil yang nantinya akan diadakan di akhir masa orientasi.
“Mm, baiklah kalau begitu, sekarang aku akan membagi kalian menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok akan mendapatkan satu pembimbing yang untuk hari ini mereka akan membagikan satu buah kertas yang akan sangat berguna nanti ketika upacara penutupan masa orientasi ini. Kita mulai, kelompok satu, Park Hyung Shik, Kang Seung Hyun,,”
Joo Won mulai membagi mereka menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga puluh orang yang dibimbing oleh satu orang siswa. Dan kini semua siswa dan siswi terlihat mulai sadar, mereka mulai membuka mata dan pikirannya setelah satu jam yang lalu terlena oleh barisan kata sambutan yang terus menerus memenuhi telinga mereka dan tentunya menunggu kapan nama mereka akan dipanggil.
“Kelompok tiga, Han Hye Rim, Lee Tae Min, Jung Seun Ho.” Reflek Joo Won melihat ke gadis itu, gadis yang tengah memperhatikannya itu, Hye Rim.
Dan untuk sejenak Joo Won terhenti. Tatapannya bertabrakan dengan tatapan seorang gadis berambut panjang yang juga tengah memandangnya dengan fokus.
‘Bodoh? kenapa aku harus tiba-tiba melihatnya?’ batinnya yang kemudian langsung membalik lembar selanjutnya, melanjutkan pembagian kelompok kali ini.
“Kelompok lima, Cha Se Na,,”
**
“Apa??” tubuh Hye Rim seakan disambar petir di siang bolong, apa benar apa yang baru ia dengar baru saja? malam hari?
“Jin Hee Sunbae, kenapa harus malam hari?” tanya salah satu murid yang berada di kelompok itu, kelompok tiga. Pembimbing kelompok itu hanya tersenyum mendengar para hoobae nya protes, tepat seperti dirinya tahun lalu, ketika ia dan teman-temannya menolak untuk melakukan itu.
“Kalian tidak perlu khawatir, aku juga seperti kalian tahun lalu, tepat di hari ini juga, lagi pula sekolah ini tidak memiliki hantu sama sekali, tenang saja. Ah! dan juga, karena acaranya nanti akan dimulai pada malam hari, setelah briefing ini, kalian bisa pulang, istirahat.” Jawab Jin Hee mencoba menenangkan para hoobae nya yang terlihat lesu.
“Memangnya sekolah mana yang ingin memiliki hantu?” gumam Hye Rim, pelan.
“Hahaha! kau benar! haha.”
Hye Rim terkejut, reflek ia menoleh ke seorang pemuda tampan yang tertawa terbahak-bahak tepat di sebelahnya. “Kau-, kenapa? siapa kau?” tanya Hye Rim.
“Hahaha, aku suka comment mu baru saja, hahaha. Ah, maaf.” Tiba-tiba pemuda itu menghentikan tawanya dan menyodorkan tangan kanannya.
“Aku Seun Ho, Jung Seun Ho, aku juga sekelompok denganmu.” Senyum pemuda itu.
“Aku Hye Rim, Han Hye Rim.” Jawabnya sambil membalas uluran tangan Seun Ho.
“Salam kenal. Ah! memangnya kenapa kalau kita melakukannya di malam hari?”tanya Seun Ho tiba-tiba.
“Memangnya kau tidak takut melakukannya malam hari? berjalan sendirian untuk mencari selembar music sheet di sekolah sebesar ini?” kata Hye Rim menghindar, bisa gawat kalau Seun Ho tahu kalau ia adalah gadis yang sangat penakut, bisa-bisa ia dipermainkan seperti waktu ia di sekolah menengah pertama tiga tahun lalu.
“Tidak, aku tidak takut.”
“Tapi, tetap saja, coba kau bayangkan ketika kau harus berjalan sendirian untuk mencari ruang instrumental di sekolah yang baru saja kau masuk di dalamnya dan-, ah! sudahlah! sepertinya tidak ada gunanya jika aku melanjutkannya.”
Seun Ho hanya tersenyum.
“Kenapa?”
Seun Ho masih tersenyum dan kali ini menatap Hye Rim, dalam.
“Yaa , kau benar-benar membuatku takut sekarang.”
“Tidakkah ini aneh? kita baru kenal dan sepertinya kau sudah nyaman denganku.”
Seketika Hye Rim terdiam.
“Nya-, nyaman? apanya yang nyaman?” tanya Hye Rim sambil berdiri dari tempat duduknya. Seun Ho hanya tersenyum melihat Hye Rim yang terlihat salah tingkah.
**
Tepat pukul 21.30 KST, perlahan satu persatu dari siswa dan siswi baru itu memasuki dome yang telah dipenuhi oleh beberapa panitia yang sibuk mempersiapkan peralatan untuk malam nanti. Lampu senter, baseball hat coklat untuk laki-laki dan vedora kuning tua untuk perempuan, sweater kuning dan coklat yang nantinya akan dibagikan secara gratis dan tentunya sebuah peta, penunjuk jalan mereka nanti ketika mereka harus mencari di ruangan mana mereka akan menemukan partner mereka, terlihat tertata rapi di sebuah meja panjang yang memecah dome itu menjadi dua bagian.
__ADS_1
Kini, entah perasaan apa yang tengah dirasakan oleh siswa dan siswi baru itu, beberapa dari mereka hanya terdiam dengan pandangan yang tidak lepas dari beberapa peralatan itu, ada juga yang terlihat biasa saja yang terus saja mengobrol tentang keseruan seperti apa yang akan mereka dapatkan nanti malam –termasuk Seun Ho-, dan sebagian dari mereka hanya bisa berdoa agar semuanya berjalan tanpa ada masalah apapun- Hye Rim juga melakukan ini-, terutama masalah itu,, hantu.
“Oke! kumohon semuanya berbaris sesuai dengan kelompoknya masing-masing.” Kata Joo Won memulai membuka acara malam ini. Serentak para murid baru itu langsung membentuk beberapa baris sesuai dengan kelompok masing-masing, tentunya dengan masing-masing pembimbing yang berdiri di depan baris-baris itu.
“Semua sudah mendapat kertas masing-masing?” tanya Joo Won.
“Iya,,” jawab mereka, lemas.
“Aku tidak dengar, ulangi!”
“IYAA!!”
Sekilas Joo Won tersenyum melihat para hoobaenya kini, ia pikir pasti ekspresinya juga seperti ini ketika ia menghadapi malam seperti ini, tahun lalu.
“Bagus! aku suka semangat kalian, itu baru murid Artemisia International High School of Art Performing, pertahankan semangat kalian! Kupikir kalian sudah mengetahui kalau malam ini bukan hanya melatih mental kalian, tapi juga melatih kemampuan kalian untuk mencari satu hal penting yang harus kalian lakukan walaupun kalian sedang tidak dalam keadaan baik, walaupun keadaan sepertinya tidak berpihak pada kalian, mau tidak mau kalian harus melakukan itu, satu hal yang harus kalian lakukan untuk kelangsungan hidup kalian, yang itu akan berdampak pada kehidupan kalian kedepannya nantinya. Kurasa sebagian besar ah tidak! mungkin kalian semua mempunyai mimpi yang sama di dunia entertainment, sama-sama berharap menjadi yang terbaik, the one and the only, dan menjadi seorang entertainer multitalenta yang dapat mengangkat nama keluarga, tentunya nama Korea Selatan di dunia internasional bukan?”
“Dan juga kegiatan malam ini melatih kemampuan sebenarnya yang kalian miliki, apakah kalian masih bisa berpikir dengan ‘sehat dan bersih’ setelah kalian melalui hal yang sangat sulit dengan harus mementaskan satu music sheet dengan memakai satu buah alat musik yang sudah kami letakkan di ruangan kalian masing-masing. Kami tidak mengatur siapa yang harus bernyanyi, apa boleh ada tarian dan lain-lainnya, kami hanya berharap kalian dapat mementaskan dengan baik nanti ketika showcase pertama dimulai.” Lanjutnya.
“Pada intinya, kami hanya melihat hasil akhirnya. Bukankah itu yang selama ini dilakukan di dunia entertainment kita? sebagian besar dari penggemar kita tidak terlalu memperhatikan apa yang telah terjadi di masa lalu kita, baik itu suatu yang baik atau bahkan buruk, mereka hanya menilai dengan apa yang mereka lihat sekarang dan apa yang mereka harapkan kedepannya bagi idola mereka, bukan sesuatu yang telah berlalu.”
Untuk sejenak Joo Won berhenti dan menatap para hoobae yang tengah berdiri dengan berbagai macam ekspresi yang membuatnya tersenyum tipis.
“Baiklah, aku tidak akan banyak bicara lagi. Kalian siap?”
“IYAA!!” jawab mereka, serentak.
“Bagus! aku suka semangat kalian. Kalau begitu, kuharap kalian lancar dalam menemukan ruangan kalian dan segera kembali ke sini. Baiklah, mari kita mulai!” Joo Won mengakhiri pidatonya dan mulai meninggalkan podium itu.
“Ahh iya!” tiba-tiba ia terhenti, kembali ke podium dan menyalakan microphone. “Tadi ada yang bertanya pada Sunbae tentang baseball hat dan vedora itu,”
Secara otomatis semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam.
“Tentang alasan memakai baseball hat dan vedora. Itu karena,” ia terhenti sejenak.
“Begini saja, aku langsung mengatakannya kepada kalian saja. Baseball hat dan vedora itu berguna untuk mengenali satu sama lain, jadi intinya jika kalian melihat seseorang yang tidak memakai baseball hat atau vedora ketika kalian berjalan nanti, itu artinya ia bukanlah murid dari sekolah ini, atau bahkan yang lebih buruk,,” ia sengaja menggantungkan kalimatnya, ia ingin melihat bagaimana ekspresi para hoobae nye sekarang.
“Ia,”
“Bukan manusia.” Setelah itu Joo Won langsung mematikan microphone nya dan turun menemui teman-temannya yang menatapnya dengan berbagai ekspresi sekarang.
Seketika dome itu terdengar begitu ramai, suara-suara protes dan takut langsung keluar dari bibir para hoobae itu. Semuanya benar-benar mengeluarkan semua ‘uneg-uneg’nya sekarang, terutama tentang alasan kenapa Joo Won Sunbae harus mengatakan itu semua. Dan para Sunbae, teman-teman Joo Won juga tengah menatap Joo Won dengan bingung, apa yang dikatakan Joo Won benar? kenapa ia tiba-tiba mengatakan itu? bukankah Joo Won tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya? bahkan ketika rapat ia tidak mengatakan apapun, ia serius? Semua pikiran-pikiran itu kini memenuhi otak teman-temannya. Begitu hebatnya kemampuan berakting pemuda itu sehingga ia bahkan membuat teman-temannya berpikiran seperti itu.
“Habislah aku,” gumam Hye Rim.
*01.00 KST...
“Sempurna, aku benar-benar tidak bisa melihat apapun yang ada di depanku sekarang.” Dengan sangat hati-hati gadis itu melangkah menyusuri lorong yang bahkan ia belum pernah lewati pada siang hari. Dan kini ia harus melewati lorong itu untuk mencari ruangan yang ia tidak tahu dimana letak ruangan itu pada saat yang benar-benar tidak tepat, tengah malam
Dengan hanya berbekal satu buah senter dan peta tempat dimana ruangan itu berada, ia melangkah maju dengan beberapa pikiran yang sedari tadi terus menerus berputar di dalam otaknya. Perlahan tapi pasti ia mulai melewati beberapa kelas –yang tentunya gelap gulita-, ruangan-ruangan yang ia tidak tahu ruangan apa itu –ia tidak tertarik untuk membaca papan yang tergantung di depan ruangan itu masing-masing- dan, eoh! Studio rekaman?
‘Kalian tahu tentang gosip yang beredar di kalangan para penyanyi jika mereka tengah melakukan rekaman di studio? Tentang jika mereka mendengar atau melihat ‘sesuatu’, album atau single mereka akan menjadi sangat hits? Hal seperti itu juga terjadi di studio rekaman kita.’
“Kenapa aku harus mengingat itu?”
Untuk menenangkan dirinya ia mencoba untuk bersenandung kecil dan mengarahkan senternya ke segala penjuru, berharap ia akan bertemu seseorang selain dirinya disana.
“Ahh, sudahlah, daripada aku terus berdiam diri tidak jelas disini, sebaiknya aku pergi sekarang, lagipula semakin lama aku berdiam diri sambil terus memandangi ruangan itu, itu bisa menambah rasa takutku. Baiklah,,” Dengan langkah yang mantap, gadis itu pun perlahan meninggalkan tempat itu. Walaupun jauntungnya masih berdetak kencang tidak karuan, ia telah memutuskan untuk segera pergi dan bertemu dengan partnernya yang sekarang mungkin telah menunggunya di ruang instrumen. Tapi, tiba-tiba,
KLAK!
Seketika langkahnya terhenti dan sialnya tepat di depan pintu studio rekaman itu.
Suara apa itu?
Ia rasa ia telah mendengar satu suara benda jatuh, entah apa itu. Dengan sangat hati-hati dan pelan ia menolehkan kepalanya, melihat apa yang telah terjadi di dalam ruangan itu melalui kaca persegi panjang yang di pasang secara vertikal di pintu studio rekaman itu. Sejujurnya, saat ini, ia sangat takut, tapi entah kenapa rasa penasarannya mengalahkan itu semua. Ingin rasanya ia mendekat, tapi setelah ia pikir, sebaiknya ia melihat dari tempatnya berdiri sekarang, melihat ke dalam ruangan yang gelap dengan sedikit cahaya lampu dari down light yang ada di dalam ruangan itu. Tapi tiba-tiba, nafasnya tercekat, tangannya sontak menggenggam senter lebih kuat, tubuhnya sedikit gemetar dan ia merasa jantungnya hampir saja keluar dari tempatnya. A,, apa itu?
Sekelebat bayangan seorang pria berpostur tinggi terlihat tengah berjalan di dalam ruangan itu, tepat didepannya, hanya dipisahkan oleh pintu ruangan itu.
Si-, siapa itu?
Untuk beberapa detik tubuhnya terdiam kaku dengan mata yang masih memperhatikan ruangan itu, ia terhipnotis dengan apa yang baru saja dilihatnya dan,
“EOMMAAA‼”
Tanpa melihat kebelakang –khususnya ke ruangan itu- ia langsung berlari meninggalkan tempat itu, ia tidak tahu jalan mana yang sedang ia ambil sekarang tapi secepat mungkin ia pergi, secepat mungkin ia bisa menghindari ‘makhluk’ itu, pikirnya. Tapi, sayangnya ada satu hal ia lewatkan. Lampu yang menyala hijau yang terletak tepat diatas pintu ruangan itu. Karena rasa takutnya, ia bahkan sampai tidak memperhatikan kalau lampu itu telah berwarna hijau, bukan merah.
**
Seorang pemuda terlihat berjalan santai dengan sesekali melihat ke peta yang tengah dipegangnya. Ia tidak ingin mengulanginya lagi, tersesat di bangunan sebesar ini dan hanya berbekal senter dan peta. Itu menyusahkan.
__ADS_1
“Mmm,, kurasa ini jalannya.” Ucapnya sembari mencoba mencari sebuah papan petunjuk jalan yang memang telah di pasang di sekolah ini. Karena bangunan sekolah ini besar, yang tentunya memiliki banyak ruangan, tak jarang dari beberapa murid bahkan guru yang mengajar di sekolah ini hampir pernah tersesat ketika mencari satu ruangan, jadi untuk menghindari itu smeua terulang kembali, pihak sekolah memutuskan untuk menyebar papan penunjuk jalan yang sekarang menjadi sangat bermanfaat bagi para hoobae tentunya selain peta yang mereka sekarang tengah bawa masing-masing.
Instrument Lab. II – Indoor Swimming Pool
“Hh, akhirnya.” Senyumnya.
Akhirnya, setelah kurang lebih tiga puluh menit lebih berjalan tidak jelas, ia menemukan ruangan itu, walaupun hanya papan penunjuknya saja, ia sangat bersyukur. Dengan langkah mantap dan tanpa rasa takut sedikit pun, pemuda itu pun berjalan ke lorong kiri yang berbatasan langsung dengan vertical indoor garden yang cukup besar, ia bersyukur, lorong yang ia lalui sekarang tidak terlalu gelap karena ada beberapa uplight yang terpasang tepat di vertical indoor garden tersebut, tentunya ini membuatnya semakin mudah dalam menemukan ruangan itu, dan, tentang apapun yang telah dikatakan pembimbing kelompoknya tentang ‘sesuatu’ yang sering terjadi di ruang instrumen, ia tidak perduli semua itu, baik itu memang kenyataan atau hanya kebohongan yang memang sengaja diatur oleh para Sunbae itu. Ia bukan seorang penakut.
Seketika ia terhenti, tepat didepan pintu kaca itu. Perlahan dibacanya satu buah papan yang menggantung di atas pintu itu, ‘Instrumental Laboratory II’. Ia tersenyum.
“Akhirnya sampai juga.” Pemuda itu pun mengeluarkan id card nya, menggosoknya ke alat yang terletak tepat di sebelah kanan pintu itu dan pintu itu pun terbuka.
“Eh? sepertinya aku yang pertama.” Pelan ia mulai memasuki ruangan gelap yang cukup besar tersebut. Dengan hati-hati dan terus menyalakan senternya ia mulai melangkah.
“Gelap sekali disini, kurasa aku harus segera menyalakan lampunya.”
**
‘Kurasa ini tempatnya, tapi kenapa masih gelap?’
Dengan sedikit ragu-ragu ia mulai menggosokkan id card nya dan untuk kedua kalinya pintu terbuka, perlahan ia mulai melangkah memasuki ruangan yang benar-benar gelap tersebut dan secara otomatis semua ingatan tentang ‘sejarah’ ruangan itu mulai muncul, memenuhi pikirannya dan hampir mempengaruhinya.
Ayolah Hye Rim, jangan memikirkan itu sekarang.
“Tenang, pikirkan kau sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh dengan lampu-lampu besar.” Gadis itu mulai mensugesti dirinya. Karena sebenarnya, kali ini ia benar-benar berada dalam rasa takut yang amat sangat, ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya dan ia penakut, sangat penakut.
“Sekarang, yang harus aku lakukan hanyalah berjalan dengan hati-hati. Ingat, Jin Hee Sunbae berbohong, semua cerita itu tidak benar. Ruangan ini ama-,”
DUGH!
Hye Rim sontak terhenti mendengar suara yang ia dengar tepat di depan dirinya. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang, kalau boleh pingsan, ia pasti sudah pingsan sekarang.
KLANG!
Jantung Hye Rim berdetak sangat kencang dan sampai sekarang ia masih belum bisa menggerakkan badannya. Berpikir apa atau siapa yang telah menyebabkan alat-alat musik itu berbunyi seperti itu. Sampai tiba-tiba, ia mendengar satu langkah yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya dan ia merasa suara desahan nafas pria di telinga kirinya, tepat di telinga kirinya.
‘I-, ini,,’ tangan Hye Rim bergetar hebat, senter yang tengah di pegangnya pun terjatuh.
“EOMMMAAAA!!!”
***
‘EOMMMAAAA!!!’
Langkah pemuda itu terhenti, perlahan ia berbalik menghadap seorang pemuda yang tengah duduk di belakangnya.
“Suara siapa itu?” tanya pemuda yang tengah duduk di satu-satunya sofa yang terdapat di dalam ruangan ini. Sontak ia menoleh ke arah kaca vertikal yang terdapat di pintu masuk ruangan ini. Pemuda yang terhenti langkahnya itu hanya menaikkan kedua bahunya, tanda kalau ia tidak tahu. Perlahan ia mulai berjalan menuju pintu itu dan membukanya, mengecek apa yang sedang terjadi diluar.
“Eoh? siapa itu?” gumam pemuda itu melihat seorang perempuan sedang berlari dengan terus memegang vedoranya. Dan, tanpa menoleh kebelakang sekali pun. Dengan berbagai macam pertanyaan yang terus muncul di kepalanya, ia akhirnya memutuskan untuk menutup pintu dan kembali masuk, melanjutkan pekerjaan awalnya tadi. Mencari saklar lampu ruangan ini.
“Kau lihat siapa Seun Ho?”
“Tidak tahu, ia tidak menolehkan wajahnya. Lagi pula diluar sana gelap gulita, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi aku yakin kalau ia perempuan.”
“Kau yakin ia manusia??”
“Yaa,, Kang Seung Hyeon, kalau bukan manusia apa lagi? memangnya kau pernah mendengar hantu yang berlari ketakutan sambil memanggil ibunya seperti itu?” jawab Seun Ho yang masih mencari saklar lampu itu.
“Hahaha! kurasa kau benar. Eomma?” pemuda yang bernama Seung Hyeon kini hanya bisa tertawa sambil memegangi perutnya. Ini lucu sekali, pikirnya.
“Tapi, Seun Ho-yah,, kurasa aku tahu alasan kenapa ia berlari.”
Seketika Seun Ho menoleh ke arah Seung Hyeon yang juga tengah mencari di bagian belakang. Dilihatnya, perlahan partnernya itu kini menolehkan kepalanya ke arahnya dan tersenyum.
“Kau.” katanya tiba-tiba.
“Aku??”
“Mungkin, ia melihatmu ketika kau berjalan melewati pintu itu, lewat kaca itu.”
“Tapi, kenapa ia berlari kalau ia melihatku? aku tidak terlihat seperti,,”
Seun Ho tiba-tiba menghentikan kalimatnya, sepertinya ia perlahan mengerti apa yang tengah terjadi saat ini.
“Kau mengerti kan? di dalam keadaan gelap gulita dengan hanya down light yang berada di belakangmu, semua orang bisa saja salah mengiramu sebagai,, ‘bayangan pria yang berjalan dalam kegelapan’.” Kata Seung Hyeon sambil membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya.
Seseorang yang penakut? apa ia mengenalnya? pikir Sun Ho sambil menoleh sekilas ke arah pintu itu.
__ADS_1