
Baru saja Tae Hyung berhasil memejamkan matanya malam ini, tapi tiba-tiba nada dering smartphone nya berbunyi. Satu nada dering yang memecah keheningan malam pukul 01.00 KST dan hampir membangunkan tiga orang yang sedang tidur di dalam kamar itu.
“Mm, handphone siapa itu?” Baek Hyun seketika terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, ia melihat tempat tidur yang berada di bawah tempat tidurnya. Tempat tidur Tae Hyung, dimana suara itu berasal.
“Maafkan aku Hyung.” Tae Hyung langsung beringsut dari tempat tidurnya sambil membawa smartphone nya yang masih berbunyi keluar kamar. Ditutupnya pintu kamarnya dan ia langsung mengangkat telfonnya sembari berjalan menuju meja makan.
“Halo, siapa ini?” tanyanya sambil menggeser satu kursi dan duduk.
“Ah kau Hyun Soo, ada apa? Kenapa menelfon tengah malam begini?”
Tae Hyung terdiam sambil sesekali menguap mendengar jawaban Hyun Soo tapi sesaat kemudian ia terlihat terkejut. Kalimat terakhir yang disampaikan Hyun Soo baru saja membuatnya bangun dari alam bawah sadar.
“Iya, aku akan mencarinya! Tidak apa-apa.” Katanya yang langsung berdiri, berjalan menuju dressing room dan mengambil satu buah mantel hitam, syal cream dan satu baseball hat. Kurang dari tiga menit ia sudah berada di depan rak sepatu, tanpa berpikir terlalu lama ia mengambil satu pasang sepatu dan keluar dari apartemennya.
Dengan terus berbicara dengan Hyun Soo ia melangkah cepat menuju satu lift, memasukinya dan menekan tombol ground floor. Ia tahu ini salah, keluar tengah malam saja sudah sangat dilarang apalagi kalau seperti saat ini. Ia pergi tanpa memberitahu siapapun bahkan manajernya yang pasti sedang tertidur saat ini untuk menemui seseorang yang sebenarnya sangat tidak boleh ia temui. Tak sampai lima menit lift itu terbuka dan ia pun keluar. Sesekali ia berlari kecil menuju tempat parkir dan berjalan ke satu mobil berwarna merah, membukannya, menaikinya dan mobil itu pun mulai berjalan keluar dari gedung apartemennya.
*
Tae Hyung memelankan laju mobilnya. Ia ingat gadis itu pernah memberitahunya satu tempat dimana Hye Rim selalu datangi ketika hatinya sedang dalam keadaan buruk atau setelah bertengkar dengan kakaknya. Bahkan ia sering mendatangi tempat itu saat Hye Rim tengah berada di Amerika. Jadi ia tahu persis letak tempat itu.
Matanya terus mengawasi sekitarnya. Ia yakin ini daerahnya, tapi ia heran kenapa ia belum menemukan tempat itu. Satu taman yang terletak tepat di sebelah perpustakaan. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis berambut panjang yang sedang berjalan di depannya. Gadis itu terus berjalan sambil merapatkan mantel putihnya. Tae Hyung tersenyum, sengaja ia memelankan mobilnya dan mengikuti gadis itu dari belakang. Sesekali Tae Hyung tersenyum geli saat gadis itu beberapa kali menolehkan kepalanya ke belakang, atau tiba-tiba berhenti, melihat mobilnya sambil terdiam sesaat dan kemudian kembali berjalan. Mungkin di pikiran gadis itu, kenapa mobil ini tidak lewat mendahuluinya, padahal jalanan ini tidak terlalu kecil bahkan untuk di lewati dua mobil pun bisa.
Tapi sepertinya, gadis itu mulai ketakutan. Langkahnya semakin cepat dan untuk menghindari kemungkinan gadis itu berlari, Tae Hyung langsung mempercepat mobilnya dan berhenti tepat di depan gadis itu. Perlahan ia turun dari mobilnya.
“Kau sedang apa malam-malam begini?” tanya Tae Hyung sambil berjalan mendekati gadis itu. Gadis yang terlihat sangat terkejut ketika dirinya berdiri di depannya.
Dengan masih menundukkan kepalanya Hye Rim perlahan membalikkan badannya.
“Sudahlah, tidak perlu jual mahal seperti ini lagi.” Ucap Tae Hyung yang seketika menghentikan Hye Rim. Tangannya kemudian meraih tangan Hye Rim.
“Ayo pul-. Argh!!” tiba-tiba saja Hye Rim menarik tangannya dan satu tendangan mengenai kaki Tae Hyung. Otomatis Tae Hyung mengangkat kakinya dan mengelus-elusnya. Sejenak Hye Rim diam sambil terus memperhatikan Tae Hyung yang masih mengelus-elus kakinya yang sakit, kemudian berjalan menuju mobil Tae Hyung dan memasukinya.
“Kau tidak ingin pergi?” Hye Rim melongokkan kepalanya dari dalam jendela mobil. Tae Hyung terhenti, ia pun menegakkan badannya dan melihat Hye Rim yang sedang menatapnya datar. Segurat senyuman tipis pun terukir di wajah Tae Hyung.
__ADS_1
Gadis ini
**
“Kenapa berhenti?” tanya Hye Rim pada Tae Hyung yang tiba-tiba menghentikan mobil di depan toko kelontong tempat dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“Turunlah. Aku ingin bicara sebentar.” Jawab Tae Hyung yang kemudian keluar dari mobilnya. Hye Rim terdiam sambil mengikuti Tae Hyung yang telah duduk di sebuah bangku. Sekilas Hye Rim melihat Tae Hyung yang tampak serius. Tapi tiba-tiba Tae Hyung juga melakukan hal sama yang membuat Hye Rim menundukkan kepalanya.
“Hye Rim-ah, ayo kita akhiri semua ini.”
Reflek Hye Rim menatap Tae Hyung.
“Kita katakan semuanya kepada kakakmu.” Lanjutnya.
Hye Rim tersentak. Pemuda itu kemudian melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu hubungan kita memang tidak seperti hubungan kekasih pada umumnya. Aku bahkan tidak tahu apa itu disebut sebuah hubungan. Hanya sehari kita menikmatinya tapi kemudian salah satu diantara kita harus pergi jauh dan dalam waktu yang lama.” Tae Hyung terhenti, sebentar ia menundukkan kepalanya kemudian kembali menatap Hye Rim.
“Bahkan sekarang. Ketika aku sedang bersama orang itu, aku tidak yakin orang itu juga merasakan perasaan berdebar seperti yang sedang kurasakan.” Lanjutnya yang membuat Hye Rim langsung mengalihkan pandangannya ke jalanan sepi di depannya.
“Aku tidak tahu apa kau sekarang sedang memikirkan kakakmu atau diriku tapi, jangan khawatir. Aku sudah tahu semuanya, jadi kurasa ketika aku harus berhadapan dengan kakakmu aku bisa mengatasi semuanya.” Lanjut Tae Hyung sambil menatap Hye Rim yang masih terdiam di depannya. Tae Hyung terus menatap Hye Rim dalam, berharap gadis itu menoleh dan menatapnya kembali. Tapi sayangnya tidak.
“Yaa, kau tidak berniat untuk bicara?” tanyanya sambil mencolek hidung Hye Rim.
Sontak saja Hye Rim terkejut. Hye Rim menatap Tae Hyung dengan ragu, beberapa kali ia merapatkan bibirnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada pemuda itu, tapi ia takut untuk memulainya. Tapi kalau ia tidak mencobanya, bisa saja mereka akan tetap disini sampai esok hari.
“Ermm, tentang kakakku dan Joo Ni Sunbae,,” Hye Rim mulai memberanikan diri.
“Joo Won Hyung yang memberitahuku. Semuanya.” potong Tae Hyung cepat. “Kau juga sudah tahu kan?” tanya Tae Hyung tiba-tiba.
Hye Rim terdiam. Iya dirinya memang sudah tahu semuanya. Kakaknya yang memberi tahunya ketika gadis itu memergoki kakaknya waktu di Amerika.
“Apa kau tahu?” tiba-tiba saja Tae Hyung mendekatkan badannya ke Hye Rim yang membuat gadis itu terkejut dan sedikit memundurkan badannya. “Kurasa aku bisa meninggal karena rasa sesak yang terus kurasakan.” katanya sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
__ADS_1
“Awalnya aku sangat senang mendengar kau berada di bawah Je Sang Entertainment, ya walaupun aku sangat terkejut waktu itu, tapi kau tahu? Setelah mendengar hal itu aku sudah membayangkan banyak hal bahagia yang pasti akan aku lalui kedepannya. Kau, yang notabene adalah artis baru Je Sang ent., pasti memiliki beberapa jadwal latihan yang harus dilakukan di perusahaan dan itu artinya kau harus berada di perusahaan hampir setiap hari. Jika kau terus berada di perusahaan, aku akan lebih mudah melihatmu, berlatih bersama bahkan menghabiskan waktu bersama. Tapi apa? Kenyataannya malah berbalik 180 derajat.”
Tae Hyung menghentikan kalimatnya dan menarik nafas, pelan.
“Iya, kau memang berada di perusahaan dan aku memang melihatmu, tapi kau tahu betapa tatapanmu yang terkadang dingin ke arahku membuat jantungku berdetak kencang dan membuat niatanku untuk mendekatimu lenyap? Aku harus selalu menahan rasa sesak di dadaku ketika aku bersisipan denganmu, bahkan ketika kita berada dalam kelas akting yang sama, kau ingat hari itu? Ketika kau dan aku mendapat peran menjadi sepasang kekasih. Hari itu kau benar-benar berhasil menaklukanku.” Lanjut Tae Hyung.
Otak Hye Rim mulai mencari ingatan itu dan tiba-tiba saja ia tersenyum. Ia ingat hari itu. Tepat dua hari setelah pertemuan pertama mereka di MV Beautiful December. Hari dimana Tae Hyung terlihat sangat kaku dalam aktingnya sehingga membuatnya harus ke kamar mandi dan ia pun tertawa geli di sana. Dua minggu yang lalu.
“Eoh?” Tae Hyung menunjuk Hye Rim dengan tangannya, memergoki senyuman manis gadis itu yang sudah lama ia rindukan.
Sontak Hye Rim berdiri.
“Rumahku sudah dekat. Kau tidak perlu mengantarku lagi.” Katanya sambil mulai meninggalkan Tae Hyung.
Tae Hyung menatap Hye Rim yang hampir keluar dari halaman toko kelontong itu dengan tersenyum, perlahan Tae Hyung berdiri.
“Apa saat ini kau juga merasakan perasaan yang sama?”
Pertanyaan Tae Hyung berhasil menghentikan langkah Hye Rim. Gadis itu berhenti tepat sebelum ia meninggalkan halaman toko kelontong itu. Pertanyaan tadi mengejutkan dirinya. Tanpa membalikkan badannya ia masih berdiri disana.
“Tapi, melihat kau masih memakai gelang itu, kurasa aku masih mempunyai harapan.” Tae Hyung melihat gelang pemberiannya dua tahun lalu masih terpasang di lengan kiri Hye Rim. Gelang yang dapat menenangkan semua rasa sesak yang selama ini ia rasakan ketika ia tidak bisa bertemu dengan gadis yang kini berada di depannya. Perlahan ia mulai mendekati Hye Rim.
Hye Rim sedikit tersentak, matanya kini memandang gelang yang memang selama ini tidak pernah ia lepas sama sekali. Ia hanya melepasnya ketika menyelesaikan schedule, saat berlatih di perusahaan dan ketika ia tidur. Ia tidak ingin kehilangan gelang itu.
“Eh!”
Hye Rim tersentak. Kini dua lengan Tae Hyung tengah memeluknya dari belakang. Jantungnya mulai berdegub kencang tapi, rasa hangat yang ia rasakan di punggungnya membuat hati dan perasaannya menjadi tenang, debaran hebat jantungnya juga mulai mereda, walaupun ia masih gugup tapi rasa tenang sudah merasuki hatinya.
“Kuharap aku bisa melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.” Bisik Tae Hyung kemudian. Dua remaja itu kini terlihat begitu tenang. Perlahan Tae Hyung memejamkan matanya sambil tangannya masih memeluk Hye Rim dan gadis itu, ekspresi terkejut yang tergambar jelas di wajah Hye Rim mulai memudar tergantikan oleh senyuman hangat dan bahagia yang menghiasi wajah manisnya.
***
__ADS_1