
Dua minggu kemudian
“Bisa-bisanya kalian berpacaran pada jam-jam sibuk seperti ini.” Seorang pemuda berusia dua puluh tahun tiba-tiba masuk ke waiting room salah satu artis yang menjadi pendukung di konser musik kali ini. Dua orang remaja yang sedari tengah duduk di sofa sambil bercanda sontak terdiam, keduanya serentak menoleh, menatap pemuda yang telah duduk di samping mereka.
“Omo, Han Hye Rim. Kau sudah mulai berani sekarang ya? Mengingat sikapmu yang masih malu-malu waktu di sekolah dulu, aku masih tidak percaya. Waktu itu aku bahkan tidak yakin kalau kau ternyata juga menyukai Tae Hyung.” Ucapnya. “Haruskah aku melaporkannya kepada presdir kalian? Atau promotor? Bahwa dua artisnya bukannya sedang mempersiapkan pertunjukkannya nanti tapi malah sedang asyik berpacaran, Tae Hyung-ssi? Hye Rim-ssi?” lanjut pemuda itu yang reflek membuat hairstylist, wardrobe Nuna dan beberapa staf yang ada disana menoleh ke mereka bertiga.
“Yaa!” kata Tae Hyung sambil menepuk pelan mulut sahabatnya yang baru saja mengeluarkan satu kalimat mematikan.
“Kau sendiri? Kenapa kau tiba-tiba disini? Kau sengaja mengunjungi kami?” tanya Tae Hyung yang membuat pemuda itu terlihat terkejut dan kecewa. Tangannya kemudian menunjuk baju yang sedang dipakainya sekarang.
“Heii, aku juga sama seperti kalian. Walaupun urutanku sedikit di nomor belakang tapi aku-, ahh, ini mengecewakan, kalian tidak tahu? Dan kau Hye Rim! Bukankah kau seharusnya menyapa Sunbae mu ini? Seun Ho Sunbae.” Kata pemuda itu sambil kemudian tertawa geli. Hye Rim tertawa sambil reflek membungkukkan badannya dan memberi temannya itu salam dari junior ke senior. Tae Hyung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Permisi.”
Serentak semua orang yang berada di dalam ruangan menoleh ke pintu yang tengah terbuka. Seorang gadis berambut pendek tengah berdiri disana dan tersenyum.
“Se Na!!” Seru Hye Rim sambil melambaikan tangannya, menyuruh Se Na untuk masuk kedalam dan bergabung bersama mereka. Se Na melangkah masuk sambil menyalami beberapa orang yang berada disana. Ia pun meletakkan satu paper bag berisi makanan di atas meja dan duduk bergabung dengan tiga temannya yang masih melihatnya dengan terkejut.
“Kau sudah pulang dari Amerika? Bagaimana musikalmu disana?” tanya Tae Hyung sambil mengambil satu cup dari empat cup kopi yang dibawakan Se Na.
“Aku benar-benar merindukanmu!” kata Hye Rim sambil memeluk Se Na dan kemudian melepasnya.
“Wah, wah, ada apa ini? kalau kalian sedekat ini, lalu siapa yang sudah menghebohkan sekolah dengan adegan itu? Satu orang menampar dan satunya lagi-,“
“Yaa!!” kata dua gadis itu serentak sambil memukul lengan Seun Ho pelan.
“Kudengar kau berhasil disana.” Ucap Hye Rim mengubah topik pembicaraan.
“Tidak, ah maksudku belum. Aku hanya mendapatkan peran sebagai seorang adik dari kakak yang terkena gangguan jiwa, itu pun hanya sekali, setelah itu aku belum berakting di drama musikal lainnya. Lagi pula, aku juga masih dalam tahap pembelajaran.” Jawab Se Na sambil tertawa pelan. “Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa ada disini sekarang.”
Dua remaja diantara keempat remaja itu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Pertama, aku merindukan kalian, kedua, ayahku memintaku untuk pulang dan ketiga, ada seseorang yang sangat ingin kutemui disini.” Jawab Se Na sambil menghitung dengan jarinya. Tangannya kemudian membuka satu paper bag yang dibawanya. Tae Hyung menatap Hye Rim dengan bingung, sedangkan Seun Ho langsung mengambil satu kotak berisi sandwich dan memakannya.
“Kau-, seorang kekasih?” tanya Tae Hyung dengan hati-hati. Se Na tersenyum.
“Siapa? Idol? Aktor atau,” belum selesai Hye Rim bertanya, Se Na telah menjawabnya dengan menunjuknya dengan isyarat matanya. Serentak Tae Hyung dan Hye Rim mengedarkan pandangannya mengelilingi seluruh sudut waiting room ini, tapi disini hanya ada staf perempuan dan satu hairstylist laki-laki, mereka rasa tidak mungkin si hairstylist yang sedang merapikan peralatannya di meja rias adalah kekasih Se Na.
“Itu aku, aku. Jung Seun Ho.” Jawab Seun Ho sembari mengunyah sandwich nya. Sontak saja Tae Hyung dan Hye Rim tertawa keras, mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
“Hei, aku tahu kau memang kesepian, tapi bukankah ini berlebihan.” Sahut Tae Hyung.
“Tidak, yang dikatakan Seun Ho benar.” Kata Se Na yang sontak menghentikan tawa Tae Hyung. Kini Tae Hyung dan Hye Rim dengan mata yang sedikit melotot, menatap Cha Se Na, gadis cantik berambut pendek itu dengan bingung dan tidak percaya.
“Lihat ini.” Kata Seun Ho sambil menunjukkan gelang pasangan yang ia pakai dan Se Na pakai. Secara serentak Tae Hyung dan Hye Rim memandang dua orang yang terlihat sangat berbeda di depannya. Mereka benar-benar tidak percaya.
“Hei, jangan memandangku seperti itu. Kalau kalian terkejut itu wajar, aku bahkan tidak percaya kalau gadisku ini akan menerima cintaku.” Sahut Seun Ho sambil mengangkat tangannya, menanggapi perkataan Hye Rim.
Tiba-tiba Tae Hyung menggelengkan kepalanya.
“Se Na-yah, jauh-jauh kau pergi ke Amerika tapi, kenapa kau malah memilihnya? Maksudku,,” kata Tae Hyung sambil menunjuk Seun Ho dengan isyarat matanya.
Seun Ho terkejut, hampir saja ia tersedak sandwich yang tengah ia makan.
Se Na hanya tersenyum.
“Yaa, kau juga. Hye Rim juga pernah pergi ke Amerik, tapi kenapa jatuhnya malah denganmu? Kita sama.” Timpal Seun Ho.
Sontak kedua gadis yang sedang menikmati kopinya itu tertawa lepas. Masing-masing kekasih mereka sekarang sedang memperdebatkan sesuatu yang entah kenapa mereka mempunyai takdir yang sama dalam hal itu.
“Tapi, apa ada yang tahu keadaan Tae Min sekarang?” tanya Hye Rim.
“Kenapa? Kau merindukannya?” sahut Seun Ho yang langsung dibalas dengan anggukan kecil Hye Rim. Sekilas ia melihat Tae Hyung yang mengubah ekspresi wajahnya.
Hye Rim meletakkan gelas kopinya sambil masih tertawa kecil, ketika ia ingin mengambil satu macaroon yang dibawa Se Na tiba-tiba ia terhenti, seseorang yang baru saja melewati ruang tunggu mereka telah membuatnya merubah niatnya.
“Tae Hyung-ah, aku ingin keluar sebentar. Ada yang ingin kutemui.” Kata Hye Rim sambil menunjukkan gelang pemberian Tae Hyung. Untuk sejenak Tae Hyung mengernyitkan dahinya tapi kemudian ia mengerti kenapa gadis itu menunjukkan gelang pasangan mereka.
“Seun Ho-yah, Se Na-yah, aku keluar sebentar. Tunggulah disini.”
Setelah Hye Rim menghilang di balik pintu, Se Na mengambil satu macaroon, lalu menatap Tae Hyung dengan menyipitkan matanya.
“Aku sudah dengar semuanya dari ayahku. Kau yakin akan melakukannya hari ini?” tanya Se Na yang kemudian menggigit macaroon vanilla nya.
Tae Hyung tersenyum dan mengangguk, mantap. Seun Ho menatap Se Na dan Tae Hyung dengan bingung.
“Apa yang akan kau lakukan hari ini?”
**
“Oppa! Wonnie Oppa!”
Seketika langkah seorang pemuda dalam setelan hitam itu terhenti dan berbalik.
Hye Rim tersenyum sambil melangkah mendekat ke pemuda itu.
“Kau sudah mengingatku sekarang?”
Hye Rim tersenyum malu dan mengangguk pelan. Setelah kakaknya menceritakan semuanya, ia baru ingat bahwa anak laki-laki yang sering bermain dan dekat dengannya beberapa tahun yang lalu adalah pemuda ini, Im Joo Won. Dan itulah alasan kenapa Joo Won selalu mendekatinya dan beberapa kali terdengar seperti telah mengenal dirinya.
“Apa aku mengganggumu Oppa?” tanyanya sambil memperhatikan sekitar yang dipenuhi oleh staf dan beberapa penyanyi. Joo Won menggeleng. Pemuda itu kemudian mengajak Hye Rim untuk duduk di salah satu bangku yang terdapat di sebelah vending machine.
“Ada apa?” tanya Joo Won sambil melepas ear monitor yang terpasang di telinganya.
Hye Rim merogoh saku bajunya dan mengeluarkan satu benda berwarna coklat. “Aku ingin mengembalikan ini.” Katanya sambil menyerahkan benda itu.
Joo Won sontak tersenyum tipis melihat benda itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang sempat membuatnya berharap lebih ternyata selama ini menyimpan benda itu, benda yang sengaja ia belikan untuk gadis itu. Satu gelang yang sama dengan yang ia miliki.
“Kurasa, aku tidak boleh menyimpan ini lagi Oppa. Walaupun Tae Hyung tidak menyuruhku untuk mengembalikannya, tapi tetap saja, di dalam sini seperti ada yang mengganjal.” Kata Hye Rim sembari menepuk dadanya pelan. Hye Rim memandang Joo Won dengan sedikit khawatir. Ia takut Sunbae nya ini akan menolak dan menyuruhnya menyimpannya, saat rasa khawatir memenuhi benaknya, secara tak sengaja sepasang matanya menangkap sosok perempuan yang dikenalnya, perempuan yang tengah membaca satu buah majalah di dalam ruang tunggu Joo Won. Tepat di depan mereka.
“Dan sepertinya, Jin Hee Eonnie yang lebih pantas memakainya.” Lanjutnya sambil menunjuk gadis yang sedang membaca majalah itu dengan isyarat matanya. Salah satu kakak kelasnya saat ia berada di SMA dan seorang gadis yang akhir-akhir ini dikabarkan tengah dekat dengan Joo Won.
“Ah! Bagaiman dengan kakakmu? Kudengar Tae Hyung menemuinya.”
Hye Rim sedikit terkejut dan kemudian mengangguk.
“Ia baik-baik saja Oppa, walaupun ia sepertinya masih belum bisa menerima hubunganku dengan Tae Hyung, tapi kalau aku terus menerus berada di bawah bayang-bayang kakakku, aku mungkin tidak akan bisa menemukan kebahagiaanku sendiri. Kurasa Oppa tahu bagaimana sikap kakakku dan tentang Tae Hyung. Iya itu benar. Ia akhirnya dapat berbicara empat mata dengan kakakku.” kata Hye Rim sambil tiba-tiba tertawa kecil.
“Ada apa?”
“Ah, tidak Oppa, tidak ada apa-apa.” Jawab Hye Rim sambil masih tertawa kecil. Seketika ia teringat tentang bagaimana lucunya sikap Tae Hyung ketika ia menyuruhnya untuk menemui kakaknya. Pemuda itu sempat menolak tapi, ia memaksa dan ketika ‘pertemuan’ itu selesai, ia hampir tertawa lepas melihat ekspresi yang tergambar di wajah Tae Hyung.
“Joo Won-ah!” panggil manajer Joo Won dari dalam ruang tunggu. Joo Won menjawabnya dengan anggukan, saat ini ia harus bersiap-siap untuk naik ke atas panggung, tepat setelah seorang penyanyi solo wanita yang sedang bernyanyi sekarang.
“Sepertinya aku harus pergi Oppa. Terima kasih atas perhatian yang Oppa berikan kepadaku selama ini dan jangan memikirkanku lagi, aku pergi!” canda Hye Rim sambil menunjukkan jarinya kepada Joo Won. Gadis itu kemudian membungkukkan badannya, menyalaminya dan berjalan meninggalkan dirinya.
Joo Won tersenyum melihat gelang yang dipegangnya dan gadis yang telah mengembalikan gelang itu. Gadis yang hampir menabrak seorang staf tapi langsung berhenti, meminta maaf kepada staf itu dan kemudian menghilang di dalam kerumunan orang.
“Terima kasih telah mengizinkanku untuk menyukaimu. Han Hye Rim.”
*
Sebuah lagu pop yang merajai beberapa tangga musik dalam negeri dan menjadi urutan sepuluh besar di tangga lagu internasional tengah dimainkan. Sorak sorai penonton menambah ramai suasan stadion itu, tempat dimana satu panggung megah telah berdiri dengan dihiasi lampu-lampu indah dan modern. Teriakan penonton yang sebagian besar adalah penggemar si penyanyi lagu ini terus meneriakkan nama-nama personilnya, sesekali mengikuti liriknya dan meneriakkan fanchant mereka. Walaupun konser musik ini sudah dimulai sejak dua jam yang lalu tapi, seperti tidak merasa lelah sama sekali, teriakan para penggemar dan penonton lainnya terus memenuhi stadion ini.
Kini diatas panggung telah duduk dua orang pembawa acara malam ini, seorang aktris muda dan seorang penyanyi solo pria yang sangat terkenal di Korea Selatan. Kali ini mereka akan membawakan segment spesial yang khusus disiapkan hari ini. Mereka kini sedang menunggu seorang lead vocal dari grup yang membawakan lagu ini.
“Annyeonghaseyo.”
Seketika teriakan penonton semakin keras melihat seorang pemuda yang hanya memakai kaos putih, celana jeans dan sepatu merah yang terlihat sederhana, baru saja menaiki panggung dan muncul sambil membungkukkan badannya sekali dan sesekali melambaikan tangannya ke arah penonton.
__ADS_1
“Kim Tae Hyung! Kim Tae Hyungg! Kim Tae Hyung!” teriak para penggemar tiba-tiba.
Pemuda itu hanya tersenyum sambil terus melangkah dan kemudian memberi salam kepada kedua MC malam ini.
“Wah sepertinya mereka sangat merindukanmu, Tae Hyung-ssi.” Kata penyanyi solo pria yang memakai setelan jas berwarna hitam itu.
“Duduklah.” Kata MC wanita yang memakai gaun selutut berwarna kuning pastel. Tae Hyung pun duduk sambil memegang satu mic di tangannya.
“Kim Tae Hyung! Kim Tae Hyung! Waa!!”
Ketiga orang yang berada di panggung itu tersenyum melihat reaksi penggemar.
“Ramai sekali malam ini, bukan begitu Hye Jung-ssi?” tanya MC pria.
“Iya! Sangat ramai. Bahkan aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri, Soo Hyun-ssi. Haha.” Jawab MC wanita yang dibalas senyuman oleh Tae Hyung yang duduk diantara kedua MC tersebut.
“Baiklah kali ini kita akan segera memulai interview Tae Hyung, saya mohon para penonton bisa tenang sehingga kita bisa mendengar dengan jelas jawaban Tae Hyung nanti.” Kata Soo Hyun sambil menggerakkan tangan kanannya, menyuruh penonton untuk merendahkan suaranya. Tak butuh satu menit suara itu mendadak menghilang. Stadion itu kini terasa sunyi.
“Wah! Hebat sekali penonton kita kali ini. Baiklah, haruskah kita memulainya sekarang?” tanya Hye Jung sambil sesekali melihat cue card MC yang dipegangnya.
Soo Hyun mengangguk sambil mempersilahkan Hye Jung untuk memulai. “Kurasa Tae Hyung-ssi juga terlihat tidak sabar untuk menjawab.” Canda Soo Hyun.
Tae Hyung tertawa kecil.
“Sepertinya begitu Soo Hyun-ssi. Kalau begitu bagaimana kalau kita melihat sebuah tampilan yang akan muncul di layar besar belakang kita ini.” Secara serentak mereka bertiga membalikkan badannya sedikit dan berfokus pada layar besar yang sedang menampilkan beberapa artikel yang terdapat nama Tae Hyung disana. Para penggemar yang juga turut memperhatikan beberapa artikel itu seketika bereaksi. Kini stadion itu kembali ramai.
“Bagaimana Tae Hyung-ssi, ada tanggapan yang ingin disampaikan?” tanya Soo Hyun setelah artikel-artikel itu selesai.
Tae Hyung mengangguk pelan, diangkatnya mic nya dan ia pun mulai bicara.
“Mm, apa yang harus kukatakan sekarang?” katanya yang kemudian tertawa kecil. Ia bingung menanggapi artikel yang sudah hampir dua bulan yang lalu masih menjadi nomor satu di mesin pencari negeri itu.
“Apa saja! apapun yang ingin kaukatakan katakanlah! Tentang kebenaran berita itu atau mungkin kau ingin menyampaikan satu fakta tersembunyi lainnya? Karena segment ini juga khusus diadakan karena permintaan para netizen yang sangat penasaran dengan kebenaran berita-berita itu.” Jawab Soo Hyun.
Tae Hyung terlihat berpikir, sesekali ia tersenyum sambil melambaikan tangannya ke penggemar. Kemudian tersenyum ke kedua MC.
“Ah! Aku lupa! Bukankah salah satu rekan kita tengah berada di waiting room wanita itu sekarang? Bagaimana kalau kita langsung tersambung dengannya?” ucap Soo Hyun.
“Benar! Aku juga lupa, baiklah, Chan Mi-ssi, Chan Mi-ssi, apa kau sudah siap?”
Seketika layar besar dibelakang mereka menampilkan seorang MC wanita lainnya yang tengah berada di depan sebuah waiting room. MC itu mengangguk dan mengacungkan jempolnya, tanda ia sudah siap. Perlahan ia mulai membuka pintu waiting room itu.
**
“Sebenarnya apa yang sedang Tae Hyung lakukan sekarang? Kenapa sampai ada segment yang disiapkan khusus untuk dirinya?” tanya Hye Rim sambil terus membetulkan make up dan rambutnya dibantu oleh cordi nya di depan cermin. Ia bisa mendengar semuanya dari waiting room nya, semua percakapan antara dua MC dengan Tae Hyung.
“Bukankah ini sedikit aneh Eonni? kena-,”
“Permisi.” Salah satu pembawa acara yang cukup terkenal di Korea Selatan beserta satu kru yang membawa kamera sontak memotong kalimat Hye Rim. Gadis itu langsung menutup wajahnya dengan satu majalah yang terdapat di meja riasnya.
Astaga! Kenapa tiba-tiba ada kamera?
“Anda manajernya?” tanya Young Chan Mi, MC yang tiba-tiba masuk ke dalam waiting room Hye Rim kepada Jae Hwan. Jae Hwan langsung berdiri dan menyalaminya, tanpa mengatakan satu kata pun pemuda itu kemudian menunjuk gadis yang tengah menutupi wajahnya dengan majalah. Chan Mi tersenyum dan berterima kasih, kemudian berjalan dan langsung menarik majalah dari tangan Hye Rim.
“Annyeonghaseyo! Hye Rim-ssi!” salam Chan Mi sambil tersenyum lebar. Sontak saja Hye Rim terkejut, ia langsung menutup bagian bawah wajahnya dengan tangan kanannya.
“Ah, iya, an-, annyeonghaseyo.” Katanya terbata-bata. Ia masih berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih belum sempurna dengan make upnya. Perlahan cordi nya melangkah mundur dan meletakkan sisir dan hairspray di meja rias.
“Bisa ikut kami sebentar?” pinta Chan Mi. Hye Rim mengernyitkan dahinya.
Ikut kemana?
“Ayo! Waktu kita tidak banyak.” Ajak Chan Mi sambil menggandeng tangan Hye Rim. Gadis itu langsung berdiri dan dengan ekspresi wajah yang campur aduk hanya bisa terdiam sekarang, mengikuti Chan Mi menarik dirinya.
“Jae Hwan-ssi, kami pinjam Hye Rim dulu. Annyeonghaseyo.”
Jae Hwan hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Terlihat di wajahnya, ia sedang menahan tawanya melihat Hye Rim yang masih memakai kaos peach, jeans biru dan slipper putih hanya bisa terdiam dan terus memandangnya dengan penuh tanda tanya. Bahkan make up gadis itu belum selesai benar walaupun begitu gadis itu sudah terlihat cantik.
Saat ini ia benar-benar tidak tahu akan dibawa kemana dirinya. Dari tadi yang ia lihat hanyalah beberapa staf yang bersisipan dengannya, tersenyum menatapnya, sebagian mereka bingung tapi setelah bertanya kepada staf lain, staf yang bingung itu akhirnya tersenyum. Chan Mi terus menggandeng Hye Rim, kini mereka telah sampai di belakang panggung. Chan Mi terhenti dan seorang staf yang menjaga memberikan Hye Rim satu buah microphone.
Hye Rim reflek menerima mic itu dengan raut wajah tidak mengerti sama sekali.
Kenapa?
“Naiklah. Mereka sudah menunggumu diatas.” Kata Chan Mi sambil mendorong pelan gadis itu.
*
“Sepertinya ia sudah berada di backstage sekarang.” Kata Soo Hyun sambil terus memperhatikan salah satu pintu yang terhubung dengan backstage di belakangnya.
Tiba-tiba teriakan penonton mulai terdengar ramai. Satu spotlight kini terpusat pada seorang gadis yang baru saja memasuki stage dan tengah berjalan dengan canggung. Gadis yang melewati jalan yang sama dengan Tae Hyung. Hye Jung menjemput gadis itu dan menggandengnya, membawanya kepada dua pemuda yang tengah menunggunya. Setibanya, gadis itu sedikit terkejut mengetahui seorang pemuda yang sangat dikenalnya telah duduk disana dan tersenyum ke arahnya.
“Ah, jadi ini gadisnya. Duduklah disini.” Kata Soo Hyun, kini MC laki-laki itu berdiri.
Sontak perhatiannya teralih pada MC laki-laki yang menawarkan kursinya. Ia pun mengangguk dan duduk disana. Tepat berada di sebelah Tae Hyung. Matanya sekilas memandang Tae Hyung, pemuda itu juga tidak memakai kostum panggung seperti dirinya sekarang tapi, kenapa mereka berdua bisa berada disini dalam keadaan seperti ini?
“Oke, sekarang kita mulai darimana Soo Hyun-ssi, astaga! Sebentar.” Kata Hye Jung menyadari sesuatu, ia lalu mengambil satu benda yang masih melekat di rambut gadis itu dan menyerahkannya kepada staf yang baru saja memberikan satu kursi kepada Soo Hyun.
“Hye Jung-ssi, ini seperti satu reality show, sampai-sampai ia lupa melepas jepit rambutnya dan itu, selop yang dipakai Hye Rim.” Kata Soo Hyun sambil melirik pada gadis yang masih terlihat bingung. Sedangkan Tae Hyung hanya melihat Hye Rim sambil tersenyum.
“Hye Rim-ssi sepertinya masih terkejut, baiklah, kita langsung bertanya kepada Tae Hyung saja. Apa benar gadis ini Tae Hyung-ssi?” tanya Soo Hyun. Seketika Tae Hyung memandang Hye Rim dan mengangkat mic nya.
“Iya.” Jawab Tae Hyung mantap sambil tersenyum menatap Hye Rim.
Seketika penonton mulai bereaksi dan stadion kembali ramai.
“Ahh, jadi kau gadis yang tengah di beritakan dengan Tae Hyung-ssi? Jadi benar kalau kau ini, kekasih Tae Hyung-ssi?” tanya Hye Jung kemudian.
Sontak saja Hye Rim terkejut. Apa?
Matanya kemudian reflek menatap Tae Hyung. Apa ini?
“Apa? Jawablah!” ucap Tae Hyung pelan.
Hye Rim melihat Tae Hyung, kedua MC yang masih menatapnya dan penonton yang semakin ramai. Situasi ini membuatnya sedikit gemetar, ini adalah situasi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan tentunya manajernya tidak memberitahunya tentang bagaiman bersikap di situasi seperti ini. Sepertinya yang biasa manajernya lakukan ketika ia akan melakukan wawancara, bersikap dengan para staf dan lainnya.
“Hye Rim-ssi?” panggil Hye Jung sambil memegang bahu Hye Rim.
Hye Rim sontak mengangguk. Matanya ragu menatap ribuan penonton yang memenuhi tribun yang terdapat di dalam stadion ini.
Apa yang harus kukatakan sekarang?
Tiba-tiba Tae Hyung memegang tangannya, Hye Rim menatapnya dan pemuda itu tersenyum. Kini ia mulai merasa sedikit tenang dan ia akan mengatakannya.
“Mm, itu, iya. Iya itu benar.” Jawabnya dengan hati-hati. Matanya menatap Tae Hyung yang tersenyum lega ke arahnya dan kemudia kepada dua MC yang terlihat terkejut.
Kini stadion itu semakin terdengar ramai. Bahkan beberapa staf yang sedari tadi tidak perduli dan hanya terfokus pada pekerjaannya di balik panggung seketika terhenti, semuanya sontak melihat satu televisi yang terpasang di backstage. Termasuk beberapa penyanyi pendukung konser musik kali ini, mereka terpaku pada televisi yang terpasang di masing-masing ruang tunggu mereka.
“Soo Hyun-ssi, kenapa dengan ekspresi wajahmu?” tanya Hye Jung melihat Soo Hyun yang terdiam sambil menatap Tae Hyung dan Hye Rim
“Haruskah aku mencari pasangan juga? Sepertinya menyenangkan dapat bergandengan tangan seperti itu.” Kata Soo Hyun sambil melihat kedua tangan Hye Rim dan Tae Hyung yang saling bertautan.
“Dan juga ibuku yang dirumah sana pasti akan merasa senang.” Timpal Soo Hyun yang sontak mengundang tawa dari semua orang yang berada di stadion itu.
“Ah iya! Apa ini tidak apa-apa? Dengan melakukan konfirmasi yang sangat terbuka seperti ini apa presdir kalian-,” tanya Hye Jung.
“Iya. Beliau malah sangat mendukung kami.” Potong Tae Hyung. Pemuda itu kini menatap Hye Rim dan tangan kanannya mulai mengeratkan genggamannya pada tangan kiri Hye Rim. Kini mereka berdua saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Layar besar yang sejak tadi menayangkan semuanya yang terjadi di atas panggung itu kini tengah memperbesar tepat pada ekspresi satu pasang kekasih itu dan kemudian menuju kedua tangan mereka yang masih bergandengan tangan sekarang.
“Kudengar kau juga telah menciptakan lagu?” tanya Soo Hyun yang melihat script nya kemudian melihat Tae Hyung. Tae Hyung mengangguk. “Maukah kau menyanyikannya sekarang?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Iya. Kami akan melakukannya berdua.” Jawab Tae Hyung sambil menatap Hye Rim.
Berdua?
“Maka dari itu aku menyuruhmu untuk menyanyikan lagu itu sejak seminggu yang lalu.” Bisik Tae Hyung pada Hye Rim yang memandangnya dengan bingung. Tentu gadis itu tidak tahu apa-apa tentang ini tapi untuk mengatasinya, selama seminggu yang lalu ia selalu menyempatkan untuk menemui Hye Rim dan berlatih bersama menyanyikan lagu mereka.
Mereka berempat kini serentak berdiri. Tae Hyung dan Hye Rim yang masih memegang mic masing-masing melangkah kedepan mengikuti kedua MC yang sedang mengatakan tentang deskripsi lagu yang akan mereka bawakan sekarang. Hye Rim kemudian tersenyum menatap Tae Hyung, kini ia mengerti kenapa pemuda itu menyuruhnya berlatih lagu itu. Tiba-tiba Tae Hyung mendekatkan wajahnya ke Hye Rim.
“Kau sudah mengerti sekarang?” bisiknya kemudian. Penonton yang dapat menyaksikan adegan Tae Hyung dan Hye Rim lewat layar besar di belakang seketika membuat stadion itu kembali ramai.
“Aku suka dengan judulnya, Backstage. Ah tapi, apa lagu ini adalah salah satu lagu yang terdapat di albummu Tae Hyung-ssi?” tanya Hye Jung yang dijawab Tae Hyung dengan gelengan kepala.
“Lalu, Hye Rim-ssi?” Hye Rim juga menggelengkan kepalanya.
“Lagu ini, lagu yang spesial. Jadi kami akan menunjukkannya dengan cara yang spesial juga. Banyak hal yang terjadi ketika kami bersama-sama menciptakan lagu ini, walaupun sebenarnya ini hanyalah lagu yang kami ciptakan karena salah satu tugas yang kami terima di sekolah kami tapi lagu ini cukup, emosional.” Kata Tae Hyung sambil tersenyum. Kedua matanya kini menatap tiga orang yang ‘officially’ baru dikenalnya dua minggu yang lalu. Tiga orang yang sejak konser ini dimulai telah menyaksikan lewat deretan bangku VVIP tepat di depan stage besar itu.
Hye Rim tersenyum mendengar jawaban Tae Hyung. Ia menatap Tae Hyung dan sontak ia juga mengikuti kemana Tae Hyung sedang menatap sekarang. Kemudian ia tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Wah, emosional? Bagaimana kalau kita mendengarkannya sekarang penonton?” tanya Hye Jung yang ditanggapi oleh reaksi hebat dari penonton. “Kalian sudah siap?” Hye Rim dan Tae Hyung mengangguk.
“Baiklah. Ini dia, dengan satu lagu emosional yang belum kalian dengar sebelumnya, Kim Tae Hyung dan Han Hye Rim!” kedua MC itu kemudian berbalik dan keluar dari panggung. Kini diatas panggung itu hanya terdapat dua orang yang sesekali saling memandang sambil tersenyum. Satu melodi mulai terdengar, perlahan memenuhi setiap sudut stadion yang dipenuhi oleh ribuan penonton. Alunan melodi itu mulai mendominasi suara teriakan beberapa penonton, melodi yang dapat membuat seseorang tersenyum walau belum mendengar lirik apa yang akan mendampingin melodi itu.
Termasuk beberapa orang yang tiba-tiba sudah berkumpul di depan stage itu dan memandang ke arah Hye Rim dan Tae Hyung dengan senyuman di bibir mereka masing-masing. Tak terkecuali seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun yang tengah menyaksikan mereka dengan tersenyum, sebuah senyuman ikhlas yang dengan indahnya dan untuk pertama kalinya terukir di wajah pemuda itu.
**
“Lagu ini, lagu yang spesial. Jadi kami akan menunjukkannya dengan cara yang spesial juga. Banyak hal yang terjadi ketika kami bersama-sama menciptakan lagu ini, walaupun sebenarnya ini hanyalah lagu yang kami ciptakan karena salah satu tugas yang kami terima di sekolah kami tapi lagu ini cukup, emosional.”
Pandangan Hyun Woo dan Tae Hyung bertemu. Pemuda itu kemudian tersenyum.
“Annyeonghaseyo.” Dua remaja tiba-tiba datang dan langsung membungkukkan badannya menyalami tiga orang yang tengah duduk di bangku VVIP. Seorang ibu beserta dua anak laki-lakinya. Sontak ketiga orang itu menoleh ke dua remaja yang sedang tersenyum.
“Eh? Kau Se Na? Cha Se Na?” tanya ibu itu sambil menunjuk gadis muda yang seusia dengan putrinya. Gadis itu mengangguk.
“Iya, saya Se Na. Ini Seun Ho, kami berdua teman sekelas Hye Rim.” Jawab Se Na. Seun Ho tersenyum dan kemudian memperkenalkan dirinya.
“Iya, Hye Rim sudah cerita semuanya. Duduklah!” kata ibu itu. Se Na dan Seun Ho pun duduk tepat disebelah anak termuda ibu itu.
“Seun Ho Hyung, kau akan menyanyi juga nanti?” tanya Hyun Soo pada Seun Ho. Seun Ho mengangguk dan sekali lagi menunjuk baju yang sudah dipakainya.
“Tentu. Apa kau lupa kalau aku ini adalah seorang bintang besar?” candanya. Sontak keempat orang itu tersenyum dan tiba-tiba sekumpulan pemuda menghampiri mereka. Satu grup vokal laki-laki, manajer Hye Rim dan tentunya presdir manajemen artis tempat Tae Hyung dan Hye Rim bernaung sekarang.
“Annyeonghaseyo.” Salam anggota tertua dari grup itu. J.E. Kedatangan grup vokal laki-laki itu sontak mengundang komentar ramai dari beberapa penonton yang berada di belakang deretan VVIP. Mereka saling berbisik, mengambil foto, tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan idola mereka yang baru saja membawakan lagu terbarunya di atas panggung. TheBoys
“Eoh? Kalian? Kenapa ada disini?” tanya ibu itu yang sontak berdiri menatap kumpulan pemuda tampan dan berbakat itu dengan bingung.
“Saya yang menyuruhnya.” Sahut seorang pria berusia empat puluh tahunan yang berjalan dari belakang grup vokal laki-laki itu. Pria itu kemudian tersenyum dan membungkukkan badannya. Menyalami seorang ibu dari salah satu anak asuhnya yang tengah menyanyi diatas panggung.
“Bibi duduklah.” Pria itu kemudian duduk disebelah ibu itu. Serentak TheBoys dan Jae Hwan duduk di kursi VVIP yang masih kosong.
“Saya yang membawa mereka kesini, Bi. The Boys dan manajer Hye Rim. Kami ingin menyaksikan penampilan pertama Tae Hyung dan Hye Rim disini. Secara langsung,” lanjut Cha Je Sang yang kemudian tersenyum ke arah Hyun Woo dan Hyun Soo. “Dan tentunya, setelah konfirmasi mengenai skandal-skandal mereka.” Jawab Je Sang sambil tertawa kecil. Seketika Hyun Woo menatap Je Sang dengan penasaran.
“Ini pertama kalinya saya melakukan ini. Awalnya saya khawatir dengan tanggapan penonton nantinya, saya khawatir kalau mereka akan meninggalkan stadion ini setelah mendengar konfirmasi mengejutkan tentang skandal Tae Hyung dan Hye Rim. Tapi, syukurlah semua yang saya takutkan tidak terjadi, saya rasa mereka bisa menerimanya.”
Hyun Woo tersenyum, begitu juga dengan ibu Hye Rim. Wanita itu mengucapkan terima kasih sembari tersenyum lega. Kemudian menatap Hyun Woo, anak laki-lakinya yang sedang menyaksikan adiknya yang tengah menyanyi diatas panggung dengan bahagia. Segaris senyuman lega pun tergambar di wajahnya.
“Mereka melakukannya dengan sangat baik, bukan begitu Bi?”
**
“Syukurlah.” Ucap Hyun Joon tiba-tiba. Sontak beberapa member lainnya, Seun Ho, Se Na dan Hyun Soo menoleh kearahnya. Teriakan penggemar di belakang mereka masih memenuhi telinga mereka. Seorang member berambut coklat almond yang baru saja tersenyum ke penggemar mereka, membalikkan badannya dan tangan kanannya menepuk bahu Hyun Joon pelan.
“Hyung bersyukur karena ini semua kan? Aku juga Hyung, akhirnya aku tidak akan menjadi tempat curahan hati Tae Hyung yang seakan-akan tidak ada habisnya itu. Akhirnya waktu berhargaku yang walaupun hanya satu atau dua jam itu, yang seharusnya kuhabiskan untuk tidur itu tidak akan ada yang menganggu lagi,” sahutnya sambil tersenyum melihat Tae Hyung yang sedang menyanyikan bagiannya.
“Dan karena Baek Hyun Hyung sudah dalam keadaan damai sekarang. Aku juga bisa lebih tenang sekarang. Bayangkan saja Hyung, bagaimana bisa seorang yang baru saja mengatakan kalau dirinya adalah korban curahan hati Tae Hyung dan kekurangan tidur bisa sangat ribut ketika akan tidur. Ckckck.” Sahut Henry yang langsung ditanggapi Baek Hyun dengan pukulan pelan di lengan kiri Henry.
Hyun Joon hanya tersenyum mendengar kicauan dua membernya.
“Curahan hati? Tae Hyung??” tanya Se Na.
Se Hoon mengangguk.” Iya, kau tidak bisa membayangkan bagaimana semua cerita tentang dirinya dan Hye Rim mengalir begitu lancarnya ketika kita sedang berkumpul di asrama. Terlebih ketika Hye Rim meninggalkannya tiba-tiba.”
“Itu adalah waktu-waktu tersulit kami. Kami harus membangun kembali semangat, rasa percaya diri, dan jiwa Tae Hyung yang sebelumnya. Mungkin Cha Sajangnim pernah menceritakannya kepadamu, bagaimana kita harus berusaha keras mengembalikan jiwa Tae Hyung kembali dan senyum cerahnya yang menjadi ikon itu untuk bisa berjalan sejajar dengan deretan jadwal kita yang membutuhkan senyum bahagia kami di dalamnya.” Ucap Sun.
Se Na mengangguk. Ya , ayahnya memang telah menceritakan semuanya.
“Maafkan aku. Seharusnya aku menemui Tae Hyung Hyung waktu itu.” Kata Hyun Soo tiba-tiba. Ia merasa bersalah, ia tahu kalau Tae Hyung sering datang ke rumahnya, bahkan ke sekolahnya hanya untuk menemuinya. Tapi, ia harus menahannya, ia harus berani melakukannya untuk kebahagiaan kakaknya. Ia tidak ingin kakak laki-lakinya akan langsung mematikan mimpi-mimpi kakak perempuannya jika ia menemui Tae Hyung.
“Hei, jangan merasa bersalah begitu. Kau melakukan ini juga karena Hye Rim kan? Kau sudah melakukan yang terbaik. Masa-masa itu memang masa tersulit kami, tapi dengan begitu hubungan kami menjadi semakin dekat, karena Tae Hyung kami jadi sering bertukar pikiran, mengungkapkan masalah-masalah yang mungkin terpendam di lubuk hati masing-masing dan menyelesaikannya bersama. Termasuk belajar bagaimana menyemangati salah satu anggota keluarga yang tengah dalam keadaan terpuruk.” Sahut Baek Hyun.
“Yaa, Baek Hyun-ah, kau baik-baik saja kan? Darimana kau belajar mengucapkan kalimat sepanjang dan sarat dengan makna itu?” tanya Jae Hwan tiba-tiba. Sontak semuanya tertawa. Benar juga apa yang dikatakan oleh manajer Hye Rim, Baek Hyun bukanlah tipe orang yang dapat seserius ini hingga mengeluarkan pendapat yang berbobot seperti tadi.
“Ah iya! Ada apa dengan diriku?” tanyanya pada diri sendiri. Semua member masih tersenyum dan sebagian mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan kata Jae Hwan.
“Lalu, kakak laki-lakimu?” tanya Hyun Joon sambil melihat Hyun Woo yang sedang mengobrol dengan seorang pemuda sambil sesekali menunjuk Hye Rim dan Tae Hyung. Pemuda yang juga menjadi salah satu penyanyi di konser musik ini. Semuanya sontak melihat Hyun Woo, persis dengan apa yang dilakukan Hyun Joon, kemudian menatap Hyun Soo. Tapi pemuda delapan belas tahun itu hanya tersenyum.
**
Joo Won menatap Hyun Woo yang sedang fokus kepada adiknya yang tengah bernyanyi di atas panggung. Ia kemudian tersenyum.
“Kenapa?” tanya Hyun Woo yang menyadari senyuman Joo Won baru saja.
“Sepertinya perasaan Hyung sedang sangat baik sekarang. Apa aku benar?”
Hyun Woo tersenyum, lalu mengangguk.
“Kau-, kenapa dulu kau bersikap seakan-akan kau menyukai adikku? Karenamu aku sudah berharap terlalu banyak kepada adikku. Seharusnya kau katakan saja semuanya, kalau kau tidak mempunyai perasaan seperti itu terhadap adikku. Aku jadi seperti orang bodoh.” Katanya sambil melihat Joo Won.
Joo Won tersenyum lalu ia menundukkan wajahnya.
Tidak Hyung. Aku memang menyukainya. Aku sempat menyukainya
“Maaf Hyung.” Ucapnya kemudian. Ingatanya kemudian beralih pada dua bulan yang lalu. Ketika Hyun Woo menanyakan perasaannya kepada Hye Rim. Sebenarnya waktu itu ia ingin mengatakan semuanya, ia ingin mendapatkan kesempatan itu, tapi entah kenapa tiba-tiba hatinya berubah dan ia mengatakan kalau ia hanya menganggap Hye Rim sebagai adik tidak lebih. Ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam harapan besarnya untuk saling mencintai karena ia tahu, gadis itu tidak akan bahagia jika memang ia dan gadis itu bersama. Gadis yang tengah menyambut uluran tangan pemuda di atas panggung, gadis yang bernyanyi dengan bahagia.
“Tapi setelah kupikir-pikir, perkataanmu beberapa waktu yang lalu memang benar. Aku tidak seharusnya memaksakan kehendakku kepada Hye Rim. Menurutku, semua larangan dan peraturan yang kubuat untuk Hye Rim itu memang baik tapi belum tentu menurut si penerima, baik atau tidaknya tergantung pada diri penerima. Aku benar-benar merasa bersalah kepadanya.” Sesal Hyun Woo sambil melihat Hye Rim.
Joo Won tersenyum, “Jadi sekarang Hyung sudah menyerahkan Hye Rim kepada Tae Hyung?” candanya.
“Belum, jujur, sebenarnya aku masih sedikit tidak rela Hye Rim bersama dengan Tae Hyung, tapi melihat kegigihannya dengan menemuiku dan mengatakan semuanya kepadaku waktu itu, mungkin aku bisa menaruh sedikit harapan kepadanya. Kau tahu kan, semuanya harus pelan-pelan.” Joo Won hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Ah! Apa kita harus menyiapkan beberapa ‘ujian cinta’ untuk anak itu? Aku akan membantumu.” Katanya tiba-tiba sambil tersenyum melihat Tae Hyung yang tanpa sengaja juga tengah menatap mereka.
“Sepertinya Tae Hyung masih sedikit takut kepadamu Hyung, lihatlah, ia masih memperhatikanmu.” Lanjutnya sambil tertawa geli. Hyun Woo menganggukkan kepalanya.
“Baiklah! Aku setuju! Kita akan membicarakannya nanti. Omong-omong, bagaimana dengannya? Kau suka?” kata Hyun Woo sambil melirik gadis yang duduk tepat di sebelah Joo Won. Joo Won melihat Jin Hee dan kemudian mengangguk menatap Hyun Woo.
“Tentu Hyung! Ah seharusnya Hyung juga melakukan hal yang sama, lupakan Hye Rim sedikit dan mulailah mencari pasangan. Aku bisa membantu, banyak gadis cantik dan populer di sekitarku, Hyung tahu itu kan?”
Sontak Hyun Woo tertawa kecil. Kepalanya kemudian mengangguk-angguk kecil, sepertinya apa yang dikatakan Joo Won benar. Ia harus melupakan semua masa lalu dan memulai hidup baru yang lebih bahagia. Hyun Woo kemudian membisikkan satu nama gadis yang sudah lama ia incar, seorang gadis yang menjadi ikon gadis cantik dan sederhana negeri itu, gadis yang berasal dari dunia akting, dunia hiburan Korea Selatan. Sepertinya ini yang disebut karma, ia pernah mengatakan kalau ia tidak akan mengencani seseorang dari dunia entertainment tapi akhirnya malah berbeda. Ia malah jatuh cinta kepadanya.
Joo Won sedikit terkejut kemudian mengangguk-angguk, ia mengenalnya karena ia sempat berakting bersama dengannya dan jika itu yang Hyun Woo minta, ia bisa melakukannya. Hyun Woo tersenyum bahagia yang disadari oleh ibunya. Ibunya bertanya kepada Hyun Woo dan Joo Won terlihat membisikkan sesuatu kepada Jin Hee yang membuat gadis itu tersenyum. Sedangkan Se Na, Seun Ho dan sebagian member TheBoys masih membicarakan tentang semua yang terjadi pada Tae Hyung ketika Hye Rim pergi, mereka berfokus pada satu orang yang aktif menyampaikannya, Baek Hyun, sesekali mereka tertawa lepas mendengar cerita lucu yang Baek Hyun sampaikan dan melihat bagaimana ekspresifnya pemuda itu menyampaikan ceritanya.
Hye Rim tersenyum. Sejak tadi ia masih memperhatikan deretan kursi VVIP yang diisi oleh orang-orang yang ia sayangi. Dari atas panggung mereka terlihat begitu bahagia, Cha Sajangnim dan Jae Hwan yang mengacungkan jempol mereka, ibunya yang tersenyum, Baek Hyun yang sedang ‘menghibur’ teman-temannya dan member TheBoys, semuanya terlihat bahagia, bahkan sesekali member TheBoys melambaikan tangan kearahnya dan pemuda itu, kakak laki-laki yang selama ini menurutnya membenci dirinya juga melakukan hal yang sama sekarang, tersenyum kearahnya.
Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Inilah surganya. Melihat seseorang yang ia sayangi tersenyum dengan bahagia membuat hatinya merasa lega sekarang. Tidak akan ada pikiran-pikiran jahat yang mengganggu dirinya lagi. Kini ia bisa lebih berkonsentrasi kepada karirnya, mimpinya dan salah satunya adalah seseorang yang tengah menatapnya dengan lembut. Seseorang yang sedang menggenggam tangannya kini, seseorang yang sudah hidup di dalam mimpi-mimpinya. Kim Tae Hyung.
***
__ADS_1