Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 22- THE REASON - ‘Confess a reason is harder than make a reason’


__ADS_3

Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang sedang membawa dua cangkir kopi di kedua tangannya itu terus berjalan melewati satu lorong di backstage yang terlihat sibuk. Sesekali ia menyapa para staf yang berlalu lalang dan kemudian melihat salah satu cangkir kopi yang dipegangnya, ia tersenyum. Langkahnya terhenti di sebuah pintu yang terdapat nama salah satu penyanyi wanita  yang sedang naik daun saat ini. Satu-satunya anak asuhnya di manajemen artis tempat ia bekerja sekarang. Ia pun meletakkan satu cangkir kopi di deretan kursi yang berada di sebelah pintu itu, membuka pintu itu, mengambil kopinya dan masuk.


Kini di dalam ruangan itu tampak seorang gadis yang baru berusia sembilan belas tahun yang duduk menghadap cermin sambil berbicara dengan seseorang di telfonnya, tatapan mereka bertemu dan sontak gadis itu langsung menutup telfonnya.


“Ini caramel macchiato mu.” kata pemuda itu sambil meletakkan kopi itu di meja rias. Pemuda itu langsung mengambil satu kursi dan meletakkannya di sebelah kursi gadis itu. “Siapa?” tanya pemuda itu sembari duduk, kemudian menyeruput pelan kopinya.


Gadis itu menggeleng dan tersenyum.


“Bukan siapa-siapa Oppa. Omong-omong terima kasih.” Jawab gadis itu sambil menunjuk kopinya dan kemudian meminumnya.


“Jangan-jangan, apa kau sedang mengencani seseorang? Im Joo Ni, kau lupa kalau hal itu sangat membahayakan karirmu? Jangan sampai hanya karena pemuda itu karir-.”


“Tidak. Tentu tidak. Bukankah satu-satunya pemuda yang tengah dekat denganku, sangat dekat denganku sekarang adalah Oppa, manajer tercintaku, Hyun Woo Oppa.” jawab gadis itu sambil tersenyum manis.


Jantung Hyun Woo sedikit berdebar kencang.


“Ah! Kita pergi sekarang?” tanyanya tiba-tiba. Pemuda itu berusaha menghilangkan perasaan yang baru-baru ini memenuhi hati dan perasaannya.


“Iya Oppa. Aku ingin beristirahat sebelum pergi ke radio nanti sore.” Jawab Joo Ni.


“Baiklah. Ayo!”


**


Ini sudah larut malam tapi gadis itu belum berada di apartemennya. Sudah dari dua jam yang lalu Hyun Woo menunggunya sambil terus menghubunginya, tapi sayangnya selalu tidak bisa. Tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka sontak, Hyun Woo beringsut dari sofa dan langsung berjalan menuju pintu masuk.


“Kau dari mana? Kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?” tanyanya pada seorang gadis yang terlihat begitu lelah. Gadis yang melepas sepasang wedges nya.


“Kau bertemu siapa tadi? Adikmu menelfonku, menanyakan keadaanmu.”


“Kau tidak bertemu keluargamu tadi?” tanyanya lagi.


Joo Ni terdiam. Ekspresinya datar.


“Kau baik-baik saja?” tanya Hyun Woo sambil memperhatikan Joo Ni dalam.


Joo Ni mengangguk dan langsung masuk.


“Im Joo Ni. Kau bertemu siapa tadi? Jawab aku.” Tanya Hyun Woo sedikit mengeraskan suaranya.


Langkah Joo Ni terhenti, ia membalikkan badannya.


“Aku menemui temanku. Sudah Oppa, aku lelah, aku ingin istirahat. Oppa pulanglah.” Tanpa menoleh lagi gadis itu memasuki kamarnya dan meninggalkan Hyun Woo yang hanya terdiam tanpa bertanya lagi.


Akhir-akhir ini sikap anak asuhnya itu perlahan berubah. Joo Ni perlahan menjadi seorang gadis yang pemurung, pendiam dan satu-satunya hal yang tidak ia sukai adalah ini, ketika Joo Ni pergi tanpa memberitahunya kemana gadis itu akan pergi dan siapa yang ia temui. Hal ini berbeda sekali dengan satu tahun lalu, ketika pertama kali ia menjadi manajer Joo Ni. Waktu itu  gadis itu terlihat begitu ceria, selalu menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya dan yang terpenting selalu meminta izin setiap ingin pergi.


Baiklah, mungkin ini rahasia yang harus gadis itu simpan sendiri dan kalau Joo Ni memang tidak bisa menceritakannya kepadanya, bukankah ia bisa menceritakannya kepada Im Joo Won? Adik laki-laki Joo Ni yang baru berusia dua belas tahun. Bukankah mereka dekat satu sama  lain?


**


‘Permisi, anda harus menuju ruang kesehatan sekarang, Joo Ni-ssi tidak sadarkan diri!’


Satu kalimat itu yang membuat Hyun Woo harus berlari sekarang. Hari ini Joo Ni sedang melaksanakan jadwalnya menjadi bintang tamu di salah satu variety show dan ia sedang menunggunya di waiting room sambil sesekali memperhatikan Joo Ni dari televisi yang sengaja di letakkan di sana. Tapi entah kenapa satu berita di situs yang sedang ia buka lewat ponsel nya telah berhasil mengalihkannya dari televisi dan saat itu juga satu staf mendatanginya. Mengatakan kalau gadis itu tidak sadarkan diri.


“Joo Ni-yah!” ia langsung membelah kerumunan staf dan menepuk-nepuk pipi Joo Ni pelan. Berharap gadis itu akan bangun.


“Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang.” Katanya sambil menggendongnya keluar dari ruangan itu diikuti oleh beberapa staf di belakangnya.


**


Sudah lima belas menit berlalu dan Hyun Woo masih tetap dalam posisinya. Duduk di sebelah tempat tidur pasien sembari terus menatap Joo Ni yang masih belum sadarkan diri.


Pikirannya menerawang. Sedari tadi hatinya terus menolak satu fakta pahit yang harus ia terima hari ini. Ia yakin Joo Ni adalah gadis baik-baik yang datang dari keluarga baik. Ia yakin kalau gadis ini tidak mungkin melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Tapi sepertinya logikanya mengalahkan hatinya, semuanya jelas dan dokter sudah menyatakannya. Itu artinya ini semua benar.


‘Tolong jagalah keadaan Joo Ni-ssi. Baik mental atau fisiknya. Karena banyak wanita muda seperti Joo Ni-ssi yang mengalami hal seperti ini, tapi selalu berakhir tidak baik. Dan saya tidak ingin itu juga menimpa Joo Ni-ssi. Saya mohon dengan sangat.’


Dan satu permohonan yang dokter sampaikan sebelum ia meninggalkan ruang dokter telah membuatnya sadar, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membantah semua fakta ini. Saat ini yang harus ia lakukan adalah terus berada di sebelah gadis ini dan selalu bersedia untuk menghibur dan mendukungnya. Itu saja.


“Op-,,Oppa. Hyun Woo Oppa.”


Sontak lamunan Hyun Woo buyar mendengar gumaman Joo Ni yang sudah mulai sadarkan diri. Jari jemari lentik gadis itu mulai bergerak pelan. Langsung diraihnya tangan kanan Joo Ni dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


“Oppa ada disini.” Sahutnya.


Pelan gadis itu mulai membuka matanya. Mata sayunya seketika memutari ruangan tempat dirinya berada dengan gusar dan bingung dan sedetik kemudian menatap Hyun Woo.


“Ini rumah sakit. Kau pingsan tadi.”


Joo Ni mengernyitkan dahinya.


“Sudahlah, jangan memikirkan hal itu sekarang. Yang terpenting kau sudah sadar dan kau harus memulihkan dirimu. Ah! Air! Kau mau minum?”


**


Cahaya samar yang berasal dari satu standing lamp yang terdapat di sudut kamar itu memenuhi ruangan itu. Menyinari samar seorang gadis yang tengah terduduk memeluk lutut di atas tempat tidurnya dengan jarum infus yang menancap di tangan kirinya. Gadis yang terus menatap kedepan dengan kosong, sesekali menundukkan kepalanya sambil memeluk lututnya.


‘Apa anda tidak tahu kalau anda sedang hamil sekarang?’


Pertanyaan seorang perawat yang sepuluh menit yang lalu keluar dari kamarnya mengejutkan dirinya. Ia tahu konsekuensinya tapi ia tidak mengira kalau ia akan menerimanya secepat ini. Sudah ketiga kali ini tangan kananya menggenggam erat, terangkat ke udara dan hampir mendarat di perutnya yang telah berisi satu nyawa lain.


Tapi lagi-lagi ia menangis. Setelah menahan tangannya agar tidak menghantam nyawa tidak berdosa di dalam perutnya, ia menangis. Kemarahannya memuncak, hatinya seperti di penuhi oleh ratusan batu dan pikirannya tengah bertarung hebat tentang apa yang seharusnya ia lakukan kepada nyawa ini. Ingin rasanya ia berteriak kencang dan menghilangkan nyawa kecil yang tidak di inginkannya ini. Tapi kemudian ia sadar, itu tidak benar, si kecil yang tengah berjuang di perutnya tidak bersalah, ia yang bersalah. Ia yang telah membuat keputusan kotor itu hanya untuk mempertahankan posisinya sekarang.


Sekali lagi ia tertunduk sambil kedua tangannya menggenggam rambutnya erat. Tubuhnya bergetar hebat dan air matanya semakin mengalir deras. Tapi tiba-tiba ia mengangkat wajahnya. Menyadari satu hal penting yang telah ia lupakan.


Hyun Woo Oppa, apa ia juga sudah tahu?


**


“Joo Ni-yah, jangan seperti ini. Ayo turun sayang. Kau bisa jatuh kalau terus berdiri di sana. Ayo, kemari, ke pelukan Eomma.”


Seorang wanita yang masih berusia empat puluhan awal itu berusaha berjalan mendekati putrinya yang tengah berdiri di atas pagar beton yang menjadi pagar terluar dari lantai teratas rumah sakit ini. Tepat memutari rooftop rumah sakit. Tapi sayangnya gadis itu terdiam sambil sesekali melihat bawah, melihat jarak antara lantai dasar sampai lantai dua puluh tempat dimana ia berada sekarang.


“Nuna, turunlah! Kumohon,,” pinta seorang pemuda yang berdiri memeluk ibunya.


Gadis itu menggeleng sambil menatap ibunya dengan sedih, tapi sontak matanya menatap seorang pemuda yang berlari menuju arahnya. Pemuda yang terlihat marah.


“Yaa! Apa yang sedang kau lakukan disana? Ayo turun!” seru pemuda itu sembari berjalan mendekat ke arahnya. Joo Ni tersenyum tipis.


“Tidak Oppa. Keputusanku sudah bulat.” Jawabnya pelan. Sontak saja jawaban Joo Ni baru saja membuat ibunya menangis hebat di pelukan adiknya, beberapa perawat, dokter dan petugas keamanan juga terlihat menitikkan air mata.


“Joo Ni-yah!!” teriak ibunya sambil berusaha berlari menuju Joo Ni tapi lengan Joo Won masih menahannya.


“Yaa, apa maksudmu? Bukan hanya kau yang mengalami hal seperti ini, diluar sana banyak wanita muda yang juga berada di situasimu seperti ini, tapi mereka tetap kuat, mereka bisa membesarkan anak mereka dengan tabah dan senyuman. Dan juga, apanya kotor? Jiwamu masih bersih, kau hanya telah mengambil keputusan yang salah, kau lupa kalau kau ini juga manusia? Kita semua pasti pernah mengambil keputusan yang salah. Jadi, kumohon turunlah. Kau tidak kasihan dengan keluargamu? Apa kau tidak lihat keadaan ibumu sekarang?” kata Hyun Woo sambil melangkah mendekat dan mengulurkan tangan kanannya, mengajak gadis itu untuk turun.


“Kita hanya perlu memperbaikinya dan hidup lebih baik kedepannya!”


Gadis itu tiba-tiba tersenyum dan sekali lagi, ia menggelengkan kepalanya.


Hyun Woo tersentak. Perasaan takut untuk kehilangan mulai merasuki dirinya.


“Joo Ni-yah. Apa kau ingat ceritaku tentang gadis yang kusukai?” tanya Hyun Woo mencoba mengingatkan gadis itu tentang ceritanya dua bulan yang lalu.


“Itu kau. Kaulah gadis itu, gadis yang diam-diam kusukai.” Lanjutnya yang membuat Joo Ni terkejut, membuat tubuhnya bergetar dan hampir saja ia terjatuh.


“Maka dari itu, turunlah. Mari kita besarkan bayi itu bersama-sama, aku yang akan bertanggung jawab.” Kata Hyun Woo sambil mencoba meraih tangan Joo Ni.


“Ternyata aku gadis beruntung itu.” Gumam Joo Ni sambil tersenyum.


“Tapi, aku terlalu buruk untukmu Oppa. “ Lanjutnya dengan satu tetesan air mata.


“Aku tidak akan menyia-nyiakan hidup Oppa dengan menikahi orang sepertiku, padahal diluar sana masih banyak wanita baik yang lebih cocok dengan Oppa.” Kata gadis itu sambil menundukkan kepalanya, sesekali ia menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya karena terpaan angin di atap rumah sakit ini.


Ini waktunya! Perlahan Hyun Woo melangkah, mendekati Joo Ni yang tengah berbicara mengenai dirinya dan keluarganya. Diulurkannya tangan kanannya, sedikit demi sedikit mulai mendekati tangan kanan Joo Ni dan saat ia akan menangkap tangan Joo Ni dan menariknya turun tiba-tiba gadis itu mengibaskan tangannya. Dan menatap Hyun Woo dengan tulus, kemudian menatap ayah, ibu dan adiknya yang terlihat sangat takut.


“Appa, Eomma,, maafkan semua kesalahanku selama ini, aku bahkan belum pernah membuat kalian bangga dan kau Joo Won, jagalah ayah dan ibu. Awas saja jika kau membuat mereka sedih, kau mengerti?” kata Joo Ni sambil tersenyum.


Ibu Joo Ni menggeleng. Tidak, anaknya sudah membuatnya bangga.


“Nuna! Jangan berbicara seperti itu. Kumohon turunlah.” Pinta Joo Won.


“Hyun Woo Oppa, terima kasih telah menemaniku selama ini. Membuatku tertawa ketika aku merasa lelah dan bosan, memarahiku ketika aku melakukan hal yang tidak benar dan selalu membelikanku makanan enak tanpa sepengetahuan agensi.”


Tubuh Hyun Woo mulai bergetar. Ia merasa sangat takut sekarang.

__ADS_1


“Ah, agensi itu,,” gumam Joo Ni pelan. Sontak Hyun Woo melihat Joo Ni yang menampakkan ekspresi tidak suka di wajahnya. Ada apa ini? Sepertinya ada yang salah?


“Saranghae.”


Sedetik kemudian gadis itu sudah menjatuhkan dirinya ke belakang.


**


Hyun Woo berjalan dengan membawa surat pengunduran dirinya menuju ruang presdir yang terletak tidak jauh lagi. Ia telah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini. Kematian Joo Ni masih membuatnya sangat sedih dan akhirnya ia tidak fokus sama sekali dalam bekerja, disamping itu akhir-akhir ini suasana kantor manajemen artis tempatnya bekerja berubah, mungkin karena dua pemberitaann besar yang menyerang kantornya, gugatan dan kematian tidak wajar dari artisnya.


‘Iya. Tentu saja. Aku ini  juga manusia, memangnya kau? Kau bahkan tidak menghadiri upacara kematiannya sebulan yang lalu.’


Langkah Hyun Woo terhenti tepat di sebelah ruang latihan. Ia mengenal suara ini.


‘Aku sangat kasihan dengan gadis itu. Tapi kudengar, ia dalam keadaan hamil satu minggu ketika meninggal kemarin. Mm, apa itu kau?’


Hyun Woo berjalan mendekat ke pintu ruang latihan, dilihatnya dari satu kaca persegi panjang yang terdapat di pintu. presdirnya tengah duduk di salah satu kursi dengan masih memegang handphonenya. Sesekali tertawa lepas.


‘Hei! Kau lupa kalau kau yang terakhir bersama dengannya? Akhir-akhir ini aku tidak sempat memanggilnya untuk menemaniku. Istriku selalu mengejar-ngejarku. Sepertinya ia sudah mulai curiga.’ lanjut presdir itu.


Hyun Woo mulai berpikir. Semua kalimat yang  baru didengarnya ini seperti mengarah kepada satu topik. Im Joo Ni, tapi kemudian ia menepis pikiran itu, tidak  mungkin presdirnya yang melakukan hal kotor itu.


‘Joo Ni, Joo Ni. Kasihan ia, ia gadis yang baik dan cantik, tapi malah harus berakhir menyedihkan seperti ini.’


Hyun Woo terkejut. Setelah mendengar satu nama gadis, ia langsung membuka pintu itu dengan membantingnya, hingga membuat presdirnya bangun dari duduknya. Tanpa berkata apapun, ia langsung menuju presdirnya dan satu pukulan keras mendarat di wajah presdir itu yang membuatnya terjatuh dengan handphone yang terlempar jauh.


“YAA!!” teriak presdirnya sembari berusaha berdiri namun Hyun Woo langsung menahannya dan menjuruskan satu pukulannya ke wajah presdirnya. Saat ini emosinya memuncak, tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang.


Dengan mengelap darah yang keluar dari hidungnya, presdir itu berusaha  menjauhi Hyun Woo tapi sayangnya pemuda dua puluh tahun itu menggenggam kerah baju presdirnya dan menariknya berdiri.


“ITU KAU? KAU YANG MELAKUKANNYA?!” teriak Hyun Woo tepat di depan wajah presdirnya. Matanya melotot dan tangan kananya mengepal keras, tertahan tepat di depan wajah presdirnya. Presdir itu melengos, kemudian tertawa sinis menatap Hyun Woo.


“Lucu sekali. Jadi selama ini kau tidak mengetahui apa-apa? Bukankah kau ini manajernya? bagaimana mungkin.” Kata presdir itu kemudian. Emosi Hyun Woo kembali memuncak, satu pukulan keras kini mendarat lagi-lagi di wajah presdirnya yang lebam.


“Untuk apa aku membayarmu kalau bukan untuk menjaganya? Kau-.”


“KENAPA KAU MELAKUKANNYA?! KENAPA??” potong Hyun Woo.


Presdir itu tersenyum sambil berusaha melepas genggaman Hyun Woo.


“Aku tidak memaksanya, ia yang menyetujuinya. Jadi kurasa ini bukan salahku.”


Hyun Woo bertanya-tanya dan emosinya mulai menurun. Dilemaskannya kepalannya.


“Ayo duduk, akan kujelaskan semuanya.” Kata presdir sambil mulai berjalan.


“Cepat katakan.” Balas Hyun Woo sambil berusaha menahan emosinya.


Presdir itu terhenti dan berbalik menatap Hyun Woo.


“Baiklah. Tidak duduk juga tidak apa-apa. Cerita lengkap atau-.”


“CEPAT!!” bentak Hyun Woo. Saat ini ia sudah tidak menganggap orang dewasa didepannya ini adalah presdirnya. Ia merasa ia sudah tidak perlu menghormatinya lagi.


“Oke, kupersingkat saja. Kau tahu kan kalau perusahaan sedang mengalami saat yang buruk sekarang? Karena tuntutan dari dua artis yang tidak tahu berterima kasih itu dan beberapa lagu kita yang bahkan tidak dilirik oleh pasaran, beberapa penanam saham mulai menarik sahamnya dan itu bukan hanya membahayakan perusahaan tapi juga para artis yang tersisa di dalamnya. Termasuk Joo Ni.” Katanya sambil menatap tajam Hyun Woo.


Hyun Woo menatap presdirnya.


“Sudah kubilang kan kalau keadaan finansial kita buruk. Dan jika ingin menytabilkannya hanya ada satu cara, yaitu menarik kembali para penanam saham untuk kembali menanamkan sahamnya disini. Jadi,,” presdir itu terhenti.


“Kau mengerti maksudku kan?” tanyanya sambil tersenyum sinis.


Kepalan Hyun Woo mulai mengeras kembali. Dengan emosi yang tidak tertahan ia langsung menjawab pertanyaan presdirnya dengan satu hantaman keras yang tepat mengenai tulang rahang pria empat puluh tahun itu, yang membuatnya terjatuh menghantam lantai.


“YAA!!”


Tanpa memperdulikan teriakan presdirnya yang ditujukan kearahnya, ia berjalan cepat, membuka pintu, melangkah keluar dan membantingnya keras.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2