
“Yaa, ayo cepat! Sebenarnya apa yang sedang kau tulis?”
Hye Rim menoleh sebentar kemudian berfokus pada selembar kertas yang akan ia tempelkan di pohon sakura didepannya. Tangannya memainkan satu pena merah muda yang ia pegang dengan mata yang sibuk memperhatikan sekitarnya. Beberapa pasangan disana juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.
“Gadis ini-,”
“Tae Hyung Oppa.” Sontak langkah Tae Hyung terhenti. Ia menolehkan kepalanya. Dibelakangnya kini berdiri lima gadis berusia tujuh belas tahunan yang menyodorkan lima kertas dengan penanya. Tae Hyung terlihat ragu-ragu. Matanya sekilas memandang Hye Rim. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu tapi gadis itu masih berpikir. Kemudian matanya kembali menatap lima gadis di depannya dan ia tersenyum.
“Baiklah. Namamu?” Tae Hyung mengambil satu persatu kertas dan menuliskan nama kelima gadis itu masing-masing, membubuhkan tanda tangannya dan kemudian menyerahkannya kembali. Ketika ia akan berbalik tiba-tiba seorang gadis menahannya sambil menunjukkan kameranya. Ia mengangguk.
“Tapi maaf sebelumnya, aku tidak mempunyai waktu yang lebih disini, jadi bagaimana kalau kita langsung berlima saja?” tanyanya pada kelima gadis yang langsung menjawabnya dengan anggukan. Satu gadis meminta salah satu staf yang berdiri di sana, meminta untuk memfoto mereka.
Kelima gadis itu langsung mengambil posisi dengan berbagai pose yang mereka keluarkan. Dan Tae Hyung tepat berada di tengah kelima gadis itu dengan senyumnya yang terkenal sebagai senyuman tampan yang lembut.
Hye Rim sekali lagi menghentikan menulisnya. Tinggal satu kalimat yang harus ia tulis sekarang. Matanya kembali sibuk memperhatikan sekitar, tiba-tiba ia tersenyum. Matanya menangkap sosok pemuda yang tengah berpose bersama lima gadis yang berada sekitar tujuh meter darinya. Matanya memperhatikan pemuda itu dengan dalam.
Ah!
Tiba-tiba saja satu kalimat indah muncul di pikirannya. Segera ia menuliskannya diatas post note nya. Sebentar ia membaca tiga kalimat yang berusaha ia tulis dengan baik kemudian ia menempelkannya di dahan sakura yang cukup tinggi diantara yang lain.
“Kamsahamnida!” kata lima gadis itu secara serentak tepat setelah mereka selesai melakukan sesi foto dengan idola mereka.
“Iya. Kalian bersenang-senanglah!” jawab Tae Hyung. Kelima gadis itu pun pergi, Tae Hyung tersenyum, ia memperhatikan lima gadis yang berjalan dengan sesekali tertawa sambil melihat kertas berisi tanda tangannya dan foto mereka.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba pemuda itu tersadar, ia langsung membalikkan badannya.
“Ayo pergi.”
Tae Hyung sontak terkejut melihat Hye Rim sudah berada di belakangnya.
“Kau sudah selesai?” tanyanya. Hye Rim mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi aku ingin melihatnya, kau tempelkan dimana kertasnya?” Tae Hyung mulai melangkah tapi tiba-tiba Hye Rim menahan tangannya. Tae Hyung menoleh.
“Tidak perlu. Ayo kita pergi, kau bilang kau akan membawaku ke rumah makan yang spesial? Ayo, eung?” kata Hye Rim sambil bergelayut manja di lengan kanan Tae Hyung.
Tae Hyung mengernyitkan dahinya. Menatap Hye Rim dengan bingung.
“Kalau iya? Sudahlah, aku lapar. Kau lupa kalau nanti malam aku sudah harus bersiap untuk pergi ke Indonesia?” balas Hye Rim. Besok ia memiliki satu jadwal yang harus ia selesaikan di Indonesia dan malam ini mau tidak mau ia sudah harus sampai di negri Khatulistiwa itu.
“Mm, baiklah, baiklah. Aku mengaku kalah. Oke! Karena dua hari kedepan aku tidak akan bisa bertemu denganmu, maka hari ini aku akan melakukan semua yang kau mau. Ayo!” jawabnya sambil tersenyum menatap Hye Rim dan mencubit pipi gadis itu. Hye Rim tersenyum, genggaman tangannya semakin erat. Perlahan mereka mulai melangkah melewati orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka, beberapa dari mereka mengambil foto dan memanggil mereka. Dengan senyuman yang terukir di bibir mereka, mereka terus melangkah meninggalkan taman yang di penuhi oleh bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran indah. Sesekali mereka menganggukkan kepalanya kepada orang-orang di sekitarnya yang terus memanggil nama mereka.
Di lain tempat, tepat di sekitar satu pohon sakura terbesar disana, dimana masih banyak pasangan yang terlihat saling berdiskusi sambil membawa satu postnote dan pena. Kertas itu tertempel. Kertas merah muda yang sengaja ditempelkan oleh Hye Rim di ranting terbesar pohon itu, kertas yang tetap tertempel bahkan ketika angin meniupnya beberapa kali.
__ADS_1
‘Melakukan semua hal yang kusuka
Mewujudkan semua mimpi yang membuat jantungku berdegub lebih kencang
Membuat semua orang disekitarku selalu tersenyum bahagia ‘
Tiga kalimat yang membuatku sangat berterima kasih telah diizinkan untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dan satu hal terakhir yang benar-benar aku syukuri sekarang,,
Terima kasih Tuhan telah mengizinkanku untuk mencintainya dan dicintainya.
Musim Semi 2022
Tae Hyung & Hye Rim
__ADS_1