
KLIK!
Seketika aktifitas pemuda itu terhenti, pelan ia menoleh ke belakang.
Ah, sepertinya ia sudah datang
Oh?
Walau hanya sekilas ia yakin apa yang baru saja dilihatnya adalah sesuatu yang sudah ia cari selama kurang lebih sepuluh menit ini. Saklar lampu.
‘Belakang pintu? Kenapa dari tadi aku tidak berpikir untuk mengecek daerah itu?’ dengan perlahan ia mulai melangkah menuju tempat dimana partner nya itu masih berdiri disana, tidak bergerak sedikit pun.
DUGH!
‘Astaga! Apa ini?’ kakinya tersandung sebuah benda besar yang berada tepat di depannya, ia pun mulai bergeser dan melangkah.
KLANG!
‘Hh, tidak bisakah aku berjalan dengan aman? Kepalaku.’ Kali ini giliran kepalanya yang menabrak entah benda apa itu, tapi yang terpenting benda itu tergantung di langit-langit. Tak membutuhkan waktu lama, pemuda itu kini teleh sampai tepat di sebelah partnernya, dengan perlahan ia mulai merapatkan tubuhnya ke arah gadis itu dan tangannya berusaha meraih saklar lampu yang terletak di belakang gadis itu.
“Permi-,”
“EOMMMAAAA!!!”
Pemuda itu tersentak kaget. Kenapa gadis ini berteriak? Ia hanya ingin meminta gadis ini untuk menggeser tubuhnya, ia ingin menyalakan lampu.
“Kumohon jangan ganggu aku, aku, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya melakukan tugas yang harus kuselesaikan malam ini, kumohon, kalau tidak,, aku tidak tahu entah jadi apa nantinya. Kumohon,, ahjussi eh, seonsaengnim ,”, suara gadis itu bergetar.
Pemuda itu sontak mengehentikan niatnya, sepertinya ini menarik.
“Hei, aku tidak setua itu.”
Gadis itu seketika terdiam, nafasnya mulai terdengar beraturan dan pelan ia membuka matanya.
“Bisakah kau menggeserkan badanmu sedikit? Aku ingin menyalakan lampu, gelap sekali disini.” Lanjut pemuda itu.
“Eh?” tanpa bertanya apapun gadis itu mulai menggeserkan tubuhnya dan ‘klik’, ruangan itu akhirnya terang juga. Serentak kedua orang itu menyipitkan matanya, mulai beradaptasi dengan cahaya lampu yang menyala terang di ruangan itu.
“Selesai.” Perlahan pemuda itu membalikkan tubuhnya ke arah gadis dibelakangnya.
“Kau partner ku kan?” tanyanya. Kini ia sudah berhadapan dengan gadis itu, memandang gadis berambut panjang yang tengah menatapnya tajam dengan kedua matanya yang besar itu. Apa gadis ini terkejut?
“Kau kenapa? Ah iya, aku Tae Hyung. Kim Tae Hyung. Senang bertemu denganmu.”
__ADS_1
‘Ya Tuhan, semoga ia tidak mengenaliku,’ batin gadis itu sambil terus memperhatikan satu music sheet yang baru saja diambilnya disalah satu meja yang terletak di ruangan ini.
Jantungku,, kenapa terus berdetak kencang seperti ini?
“Kau baik-baik saja? kau terlihat pucat.” Tanya Tae Hyung. Tangannya yang sibuk mencari kunci nada lagu ini di gitar yang sedang ia mainkan sontak terhenti melihat gadis yang duduk didepannya kini tengah terdiam. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan tanpa memandang pemuda yang duduk tepat di depannya.
“Ah! sebentar,” sontak pemuda itu berdiri, berjalan menuju tea table yang terletak di pojok belakang dan kembali menuju gadis itu. “Ini, minumlah. Kau terlihat pucat.” Ia mulai membuka satu botol air mineral baru yang memang sengaja ia bawa itu dan menyerahkannya ke gadis itu.
Gadis itu meraih botol air mineral itu dan meminumnya perlahan.
“Ah iya! Namamu siapa? Kau belum memberitahu namamu.”
Sontak gadis itu menghentikan minumnya dan menyerahkan air mineral itu ke Tae Hyung. “Terima kaih. Aku Hye Rim. Han Hye Rim.” Jawab Hye Rim sembari perlahan menatap Tae Hyung dan tersenyum.
“Hye Rim, kau bukan idol? Aku tidak pernah melihatmu.”
Tidak pernah melihatku?
“Eh? Iya, aku siswi biasa.” Jawab Hye Rim sambil kembali fokus ke music sheet yang sedari tadi dilihatnya itu, satu buah lagu yang ia sudah tahu betul kunci dan bagaimana cara menyanyikannya.
“Kau bicara apa, aku juga siswa biasa. Kita sama.” Kata Tae Hyung sambil tersenyum sambil mulai memainkan gitarnya, memainkan nada lagu yang harus ia bawakan malam ini. “Mm,, kau tahu lagu ini kan? bagaimana kalau kita mulai latihan sekarang. Waktu kita hanya dua puluh menit, itu pun belum dikurangi jarak ruangan ini ke dome.”
Hye Rim mengangguk sembari tersenyum, manis.
“Baiklah, kita mulai.”
**
Riuh rendah tepuk tangan mulai memenuhi dome besar itu, setelah dibuka –untuk kedua kalinya- oleh Joo Won, itu tandanya acara kali ini telah dimulai. Sebuah showcase sederhana yang dibawakan oleh setiap kelompok yang terdiri dari dua orang itu. Musik, tarian bahkan drama yang harus mereka pertunjukkan sekarang, tergantung dengan perintah apa yang tertulis pada kertas yang mereka temukan di ruangan mereka masing-masing.
“Apa kubilang, penerimaan siswa kali ini benar-benar heboh bukan?” kata seorang gadis yang berdiri tepat di sebelah stage besar itu, melihat temannya yang perlahan turun dan menuju dirinya.
“Siapa dulu ketuanya, kau tahu, setiap apa yang kusentuh, semuanya menjadi emas.” Katanya sambil duduk di deretan kursi tersebut, diikuti oleh teman perempuannya.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, emas? Emas apanya?
“Ah, iya Jin Hee! Anak bimbinganmu yang mendapatkan jatah ruang instrumental itu, apa sudah kembali?” tanya Joo Won tiba-tiba. Ia ingat dengan satu tanggung jawab yang harus ia lakukan kepada gadis itu.
“Kenapa?”
“Kenapa? Aku hanya menanyakan keadaannya, kau juga tahu kalau ruangan itu sedikit,”
Jin Hee terdiam, mengamati ekspresi pemuda yang duduk disebelahnya itu.
“Ternyata kau memang aktor yang hebat, aku bahkan tidak bisa mencari ekspresi itu.”
“Yaa, kau mengantuk? Kenapa kau malah membahas ekspresi?” tanya Joo Won.
__ADS_1
“Eii, memangnya aku tidak tahu? Kau tahu? Perlakuanmu kepada gadis itu berbeda. Sangat.” Jawab Jin Hee sambil mengamati MC yang tengah membawakan acara.
“Dari mulai aku memberi tahu kalau Hye Rim mendapat ruang keramat itu, kau mulai ‘aktif’ menanyakan keadaan gadis itu, padahal kau sudah melihatnya dengan jelas lewat CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan. Seakan-akan kau telah mengenalnya. Ah! Aku juga sudah tahu kalau gadis yang membuatmu lari dari percakapan kita tadi pagi, ternyata gadis yang sama. Kau,,”
“Eoh! mereka urutan nomor satu?” kata Jin Hee tiba-tiba. Sontak Joo Won melihat ke atas panggung itu dan benar saja, gadis itu disana. Dilihatnya dua orang siswa dan siswi tengah berjalan menaiki tangga stage itu dan salah satunya membawa gitar. Perlahan siswi itu mulai mengambil microfon yang disediakan di belakang panggung dan duduk di salah satu stool yang diikuti oleh siswa yang membawa gitar. Pelan tapi pasti siswa itu mulai memainkan gitarnya dan sebuah lagu pop romantis yang sedang berada di urutan tangga lagu teratas di beberapa music show di Korea Selatan mulai terdengar, indah.
Pandangan Joo Won kali ini terfokus pada kedua siswa dan siswi tersebut yang terlihat sangat serasi membawakan lagu itu, untuk kesekian kalinya ia bahkan tidak mendengar bahwa seseorang memanggilnya berkali-kali.
“Yaa!” tepuk Jin Hee, tepat pada bahu pemuda itu.
“Argh! Yaa, kau kenapa??” tanya Joo Won sambil mengelus bahunya.
“Kau yang kenapa, kupanggil dari tadi, kau tetap saja fokus pada gadis itu, Hye Rim.”
“Gadis itu? Tidak, aku tidak hanya fokus pada Hye Rim, aku sedang mengamati mereka, mereka-,”
“Eii, mengamati? Maksudmu cemburu?” potong Jin Hee.
Eung?
“Tidak! Aku tidak cemburu, aku hanya memperhatikan mereka.” Elaknya.
Jin Hee menggelengkan kepalanya sambil menikmati showcase itu. “Tidak. Kau menyukainya dan kau cemburu.” Kata gadis itu sambil menoleh dan menatap tajam tepat ke kedua bola mata Joo Won, yakin.
Joo Won terdiam, apa ia memang cemburu? Sebenarnya ia sudah pernah bertemu dengan gadis itu beberapa kali sebelumnya tapi, perasaan ini, satu perasaan asing yang sedang ia rasakan sekarang belum pernah muncul sama sekali, terlebih ketika ia menatap gadis itu di beberapa pertemuan sebelumnya dan juga kini, karena seseorang ia harus berada dekat dan senantiasa harus mengawasi gadis itu, seseorang yang sangat ia kenal, bahkan ketika ia masih di Sekolah Dasar. Pemuda itu mendesah, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, melanjutkan apa yang dirasakannya sekarang atau menyudahinya sampai disini saja? karena yang ia tahu, seseorang yang sangat ia kenal itu, yang memintanya untuk mengawasi Hye Rim, mungkin akan membencinya, karena perasaannya ini.
***
Untuk sejenak langkah Tae Hyung terhenti, tepat di depan tea table itu.
‘Kurasa aku pernah mengalami hal ini sebelumnya dan bertemu dengan gadis itu sebelumnya.’ Perlahan ia menoleh ke arah gadis yang masih sibuk dengan music sheet nya.
‘Apa ini de javu?’ ia mengernyitkan dahi, mencoba untuk mengingat apa ia memang pernah bertemu dengan gadis itu atau ini memang hanya de javu.
Pelan ia mulai melangkah dan mengambil satu botol air mineral dan kembali menuju gadis itu.
‘Sudahlah, kurasa ini hanya de javu. Ia bukan teman SD atau SMP ku dan jika aku memang pernah bertemu dengannya, urusan apa yang aku miliki sehingga aku harus bertemu dengannya?’
Ia pun memosisikan dirinya tepat di depan gadis itu.
“Ini, minumlah. Kau terlihat pucat.” Senyumnya.
Gadis itu pun meraih botol itu dan meminumnya. Kali ini Tae Hyung merasa kalau mereka memang telah bertemu sebelumnya.
‘Ini membuatku bingung.’ Dengan pandangan tajam Tae Hyung memperhatikan gadis yang tengah menikmati air segar itu, memperhatikan satu wajah, satu ekspresi dan satu keadaan yang ia merasa ia telah mengalami ini sebelumnya.
__ADS_1