Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 2 - THE SPRING DAY - ‘Too Cool for School’


__ADS_3

        “Kita sampai!” kata Hye Rim. Ia terlihat sangat bahagia sekarang.


                Tepat pukul 06.30 KST, Hye Rim dan Hyun Soo sampai di depan sekolah  itu. Sekolah yang cukup besar untuk ukuran Sekolah Menengah Atas di Korea Selatan dengan tiga gedung besar, dua lapanganbesar yang terdapat tepat di depan ketiga gedung, satu stage besar yang biasa digunakan untuk mengadakan showcase, satu dome besar, beberapa taman yang mengelilingi sekolah itu, dan satu lahan luas yang digunakan untuk tempat parkir kendaraan para staf disana, sekolah itu benar-benar terlihat besar dan mewah, terlebih desain bangunan sekolah itu sangat modern, berbeda dengan sekolah pada umumnya, ditambah sekarang beberapa mobil, mobil mewah bahkan van tertata rapi di dalam area sekolah itu dan bahkan sampai ke luar area sekolah.


                “Nuna[1], tidak bisakah Nuna menghentikan tatapan itu? Nuna tampak seperti seorang yang datang dari desa,” ucap Hyun Soo tiba-tiba. “Yang baru sekali datang ke kota dan melihat gedung-gedung megah berderetan dengan mata melotot dan mulut menganga.” Lanjut pemuda itu.


                Mata melotot dan mulut menganga?


                “Hei!


aku tidak seperti itu, mataku masih wajar dan ini, mulutku masih tertutup


rapat.” Balasnya dengan menunjukkan bibir mungilnya yang tertutup rapat.


                Hyun


Soo hanya terdiam, seperti biasanya. Pemuda itu terlalu sibuk untuk membalas


tanggapan Nuna nya baru saja, kini


matanya tengah sibuk memperhatikan beberapa mobil dan van yang bergantian


memasuki sekolah itu, tepat di depan mereka berdua. Dan tak ketinggalan


beberapa orang yang keluar dari van itu, orang-orang yang biasa ia lihat di TV.


                “Kenapa?


mereka cantik bukan?” tanya Hye Rim. Melihat adiknya tengah menatap dengan


tatapan ‘seperti itu’, ia mengerti apa yang tengah dipikirkan adiknya, kini.


“Jangan menatapnya seperti itu, kau tampak seperti seorang yang datang dari desa yang baru sekali datang ke kota dan


bertemu langsung dengan para member girlband itu.”


                Dilihatnya


Hyun Soo langsung mengalihkan matanya ke smartphone yang tengah


dipegangnya kini. Ia pasti malu, pikir Hye Rim.


                “Ahh,,


aku tidak menyangka kalau aku akan bersekolah disini Dengan mereka.” Godanya


sambil bergantian melirik Hyun Soo dan beberapa member girlband yang


mulai turun dari van mereka satu persatu. Berharap adiknya dapat mengeluarkan


satu ekspresi yang dapat dibuatnya menjadi bahan ejekan untuk adiknya, karena


selama ini, hanya ia yang selalu di ’bully’ dengan ejekan yang berbau


idola itu, ia tidak bisa menemukan siapa idola Hyun Soo, itu membuatnya lemah


dan hanya bisa menerima apa pun yang dikatakan Hyun Soo tanpa pernah bisa


membalasnya.


                ‘Kau


selalu mengejekku tentang idola-idolaku itu, nyatanya kau,’ batin Hye Rim yang


masih melihat adiknya, entah apa yang dilakukannya dengan smartphone itu, tapi tangan adiknya benar-benar terlihat sibuk.


                “Kau


ingin aku meminta tanda tangan mereka? siapa diantara mereka yang kau gemari? Nuna


dengan senang hati dan lapang dada akan membantumu. Jangan khawatir.” Katanya


sambil menepuk bahu adiknya, pelan.


                Tiba-tiba


saja terdengar satu pengumuman yang menyuruh dirinya- Hye Rim- dan murid-murid


baru lainnya untuk segera berkumpul di dome terbesar yang terletak di


tengah-tengah kompleks sekolah itu, sekarang. Sekilas ia melihat ke arah jam


tangannya.


                “Sepertinya


aku harus masuk sekarang.” Hye Rim mulai merapikan dirinya. Merapikan rambut,


seragam, merapikan segalanya. Ia tidak ingin di hari pertamanya ini, ia menjadi


seseorang yang ‘tidak terlihat’, itu karena ia harus bersaing dengan


gadis-gadis cantik itu, gadis-gadis yang bahkan bisa mencuri perhatian Han Hyun


Soo, adiknya yang selama ini seperti tidak perduli perempuan sama sekali itu.


                “Sepertinya


semua sudah sempurna, aku masuk dulu.”


                “Nuna,


jaga ekspresi wajah Nuna, jangan terus menerus tersenyum seperti itu, aku takut


teman-teman Nuna nanti akan menganggap Nuna aneh.” Kata Hyun Soo yang sontak


membuat ekspresi Hye Rim berubah sekertika.


                Cih


                “Dan


jangan pernah mencoba untuk menggoda pemuda-pemuda itu, fokus ke pelajaran Nuna.”


Lanjut pemuda itu.


                “Menggoda?


hei,, memangnya aku perempuan seperti apa?” jawabnya, reflek. Oke, ia memang


cantik –itu kata ibu dan mendiang ayahnya- tapi maaf ia bukan perempuan


murahan.


                “Baiklah, aku mengerti, aku akan


menurutimu,, tapi kalau memang mereka menyukaiku, aku tidak tanggung jawab, aku


pergi!”


                Tanpa


menunggu jawaban dari adiknya, ia langsung berlari masuk ke dalam area sekolah


itu, berjalan cepat melewati kumpulan orang tua yang mengantar anak-anaknya dan


tentunya para manajer yang menemani ‘anak asuh’ mereka, walaupun hanya sampai


di depan gerbang. Ia tahu hari ini memanglah hari terbaik baginya, hari ini ia


akhirnya dapat mewujudkan semua mimpinya sejak tiga tahun yang lalu, karena


sebelumnya mimpinya adalah menjadi seorang arsitek seperti mendiang ayahnya


yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Tapi semenjak ia mulai mengenal apa


itu musik, bagaimana cara bermain dan menikmati musik, ia mulai berpikir untuk


mengubah arah hidupnya.


                Tapi

__ADS_1


walaupun ini adalah hari terbaiknya, di sisi lain ia juga harus mulai


mempersiapkan diri untuk menghadapi satu masalah, masalah yang pasti akan


membesar jika ia bersekolah disini, tentang seseorang yang sebenarnya


benar-benar menentang semua ini, tentang sekolah ini, dirinya dan masa


depannya, orang itu Han Hyun Woo, kakak laki-lakinya.


*


                ‘Wah,,


bagaimana bisa gedung sekolah seperti ini?’


                Matanya


masih saja mengeilingi bangunan bertema modern futuristik itu. Tiga gedung


utama yang masing-masing terdiri dari lima tingkat berjejer rapi di depannya,


dengan dinding-dinding gedung itu yang 80% terdiri dari susunan jendela-jendela


kaca dan pintu kaca tentunya, membuat hampir seluruh aktifitas yang sedang


berlangsung di dalam terlihat dari luar Dari tempat berdirinya sekarang,


sekitar dua puluh meter dari deretan tiga gedung itu. Tiga gedung itu


dihubungkan oleh tiga buah jembatan yang masing-masing ‘tergantung’ manis


diantara gedung satu dan gedung dua, gedung dua dan gedung tiga dan terakhir


gedung satu dan gedung tiga. Jembatan itu memang tergantung karena desain dari


jembatan  itu sendiri adalah jembatan


gantung yang ‘berbahan utama’ bambu dan tentunya ditopang oleh beberapa bambu


besar kualitas terbaik yang berbaris rapi di kanan kiri jembatan itu ditambah


dengan beberapa tali besar yang sengaja diletakkan secara tidak beraturan tepat


di atas jembatan itu, berfungsi sebagai penahan jembatan tersebut disamping


bambu-bambu dibawahnya. Walaupun sedikit kontras dengan tiga gedung modern di


sekitarnya, itu masih terlihat bagus di mata Hye Rim, unik, pikir gadis itu.


                Taman-taman


berhiaskan beberapa bunga yang sedang bermekaran juga tersebar diantara ketiga


gedung dan sekitarnya, warna-warni bunga itu membuat taman itu tampak seperti


sebuah lukisan di atas kanvas hijau dengan warna-warna atraktif didalamnya.


Beberapa kolam dan gazebo-gazebo sedang juga ikut membuat taman-taman itu


semakin indah, dan tak ketinggalan pepohonan yang berjejer rapi juga ikut


menambah asri lingkungan sekolah ini, di taman, sekitar gedung-gedung itu


ataupun di halaman depan sekolah ini.


                “Aku


tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi, terima kasih telah


mengizinkanku untuk bersekolah disini. Terima kasih Tuhan.”


**


                Perlahan


tapi pasti, beberapa pemuda berusia 16 tahun itu mulai memasuki halaman


itu, walaupun mereka bukan berasal dari satu tempat yang sama, mereka berjalan


masuk sembari sesekali bercanda satu sama lain, berusaha menghilangkan rasa


canggung diantara mereka.


“Teman,


kata-kata itu, aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau aku akan berteman


dengan mereka, kukira aku akan selalu menonton mereka dari televisi. Terima


kasih Tuhan.” Gumam salah satu siswi baru.


                Ya,


mungkin para gadis’biasa’ yang tengah berdiri berhimpitan itu mempunyai pikiran


yang sama. Teman, mereka pasti tidak pernah membayangkan kalau kata itu akan


menghubungkan mereka dengan idola mereka masing-masing yang kebetulan juga


bersekolah disini. Satu Sekolah Menengah Atas yang terkenal akan pendidikannya


tentang ‘performing arts’, satu sekolah yang banyak mencetak aktor,


penyanyi atau entertainer berbakat di Korea Selatan, banyak dari


beberapa murid dari sekolah ini yang keluar dan debut menjadi member boyband atau girlband, bahkan beberapa dari mereka telah di kontrak oleh


beberapa manajemen artis raksasa di Korea Selatan sebelum mereka lulus dan


tentunya menjalani masa training mereka di manajemen masing-masing selain


mereka juga harus bersekolah di sini.


                Dan


beberapa pemuda yang tengah berjalan melewati kumpulan dan teriakan kecil para


gadis itu bukanlah seorang ‘newbie’ bagi gadis-gadis itu, walaupun para


pemuda itu memang newbie di sekolah ini, tapi mereka bukanlah newbie di dunia entertainment, beberapa dari


mereka bahkan menjadi hot rookie boyband tahun ini, yang itu artinya


mereka memang telah menyedot perhatian para penggemar mereka, khususnya para


gadis-gadis yang tengah memanggil nama mereka sekarang . Atau dengan kata lain,


mereka adalah penyanyi terkenal, bertalenta dan tentunya, tampan.


                “Aku


tidak mengira aku akan disambut seperti ini Min Hyuk-ah, ini bahkan melebihi


ketika kita akan memasuki stasiun televisi.” Kata salah satu pemuda dari


beberapa pemuda tampan bertalenta itu.


                “Ya!


haruskah kita melambaikan tangan kita? seperti yang selalu kita lakukan.” Kini


salah satu pemuda yang berjalan tepat di depan Min Hyuk mendadak berhenti.


                “Ide


yang bagus! baiklah!”


                Serentak


kedua tangan dari kedua pemuda itu mulai sibuk, melambai ke kanan dan ke kiri,

__ADS_1


sembari tersenyum manis,  mereka terus


melakukan itu.


                “Ckck,, kalian bahkan bukan Miss Korea, tapi kenapa melambai seperti


itu?” komentar Min Hyuk  melihat dua


pemuda yang berada di samping dan depannya itu melambai seakan-akan mereka


berdua telah memenangkan kontes kecantikan dunia.


                “Hahaha!


sudahlah, ini fan service,aku suka melihat para gadis itu tertawa.”


Jawab Ji Min yang tetap saja melambai seperti itu, ala Miss Korea.


                Keadaan


kini semakin riuh. Para siswi-siswi itu, baik baru atau bahkan lama, mulai


berdatangan memenuhi halaman hijau luas tepat di belakang gerbang pertama,


menyaksikan sebuah pertunjukkan‘catwalk’ yang menampilkan beberapa


pemuda dari berbagai idol group maupun solois yang berjalan perlahan-dan


tentunya dengan senyuman manis- menuju dome, tempat mereka-para siswa dan siswi


baru itu- harus berkumpul.


                “Kalian


ini,, “ ucap Min Hyuk sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.


***


                “Astaga,


astaga, astaga! Apa kalian melihat siapa yang baru saja lewat tadi?” tanya Baek


Hyun menatap kesembilan anggota TheBoys di depannya. “Yoo Min Ah! seorang


penyanyi, aktris, dan model yang sangat berbakat. Idolaku yang bahkan belum


pernah kutemui sebelumnya. Dan sekarang? ia bersekolah disini??”


                “Kau


benar! Bahkan walaupun kita sering bernyanyi pada satu acara yang sama, kita


masih belum pernah bisa menemuinya. Wah,, Tae Hyung-ah! kau beruntung sekali


bersekolah disini, kau memiliki Sunbae[2]yang


hebat, yaa,, walaupun ia lebih muda dariku.” Sahut seorang pemuda yang berada


di depan sembari menepuk pelan bahu pemuda berseragam kuning-coklat itu, tepat di


sampingnya.


                “Bisakah


kau cubit pipiku?” pinta Baek Hyun kepada Dae Hyung.


                “Ah!


Aku akan segera menemuinya dan memintanya untuk berfoto bersama!”


                “Kau


yakin bisa melakukannya Baek Hyun?”


                “Sebentar!


Jangan-jangan ia juga bersekolah disini, sepertinya aku harus segera pergi dari


sini.” Sahut Henry yang terlihat khawatir dan langsung merendahkan topinya.


                “Siapa?


Ah! Penyanyi yang digosipkan denganmu itu?” tanya J.E


                Seseorang


yang dari tadi mendengar celotehan-celotehan kelima pemuda yang berada di belakangnya


itu sepertinya sudah tidak tahan lagi, sontak ia terhenti dan berbalik, menatap


kelima pemuda itu.


                “Omo!


ya! kenapa kau tiba-tiba berhenti??”


                “Hhh,,


Henry Hyung, Baek Hyun Hyung, Kang


Dae Hyung, Dae Hyung Hyung, Dae


Ho Hyung, dan Ji Eun Hyung, keumanhaseyo[3], Tidak


bisakah kalian fokus hanya padaku sekarang? aku bisa telat nanti.” Kata pemuda


itu tiba-tiba.


                “Ahh!


maaf ,maaf. Kami lupa kalau kami sebenarnya harus mengantarmu sampai ke dome


itu. Baiklah, kita pergi!” sahut Baek Hyun sambil menggandeng tangan maknae nya


itu dan melangkah maju diikuti oleh member lain di belakangnya.  Mengantar maknae yang tahun ini resmi menjadi


siswa baru sekolah menengah atas, Kim Tae Hyungg.


 


 


 


 


 


 


[1]


Panggilan untuk seorang yang lebih tua dari seorang laki-laki kepada


perempuan/kakak perempuan


 


 


[2]


Senior


 


 


[3]


Hentikanlah

__ADS_1


__ADS_2