
“Yaa!!” seru Seun Ho sambil menepuk meja yang berada didepan Tae Hyung. Sontak saja Tae Hyung terkejut dan langsung menatap tiga orang yang berada di sekelilingnya.
“Kau-, kau tahu sudah berapa kali aku bertanya?” tanya Seun Ho.
Tae Hyung terdiam dengan tatapan bingung.
“Hh, sepertinya kau bahkan tidak tahu apa yang telah kutanyakan padamu.”
Tae Hyung menatap keempat temannya dengan tatapan bingung.
“Aku lapar, aku mau ke kantin.” Kata Seun Ho lemas sambil beranjak dari kursinya. Secara serentak ketiga murid lainnya yang tengah menghabiskan waktu istirahat di kelas itu hanya bisa terdiam melihat tingkah Seun Ho yang menggelikan baru saja. Sepertinya ia kesal karena pertanyaan yang seharusnya ia sudah dapatkan jawabannya malah bahkan tidak masuk ke telinga si calon penjawab.
“Kau kenapa? Ada yang mengganggumu? Sepertinya bebanmu lebih berat dari bebanku dan Hye Rim.” Tanya Tae Min sembari melirik Hye Rim dan tersenyum. Hari ini adalah hari perdana Tae Min kembali ke sekolah setelah tiga hari tidak diizinkan untuk keluar dari asrama dan hari kedua Hye Rim masuk sekolah dengan perasaan yang campur aduk.
Tae Hyung menggeleng dan tersenyum. Hye Rim hanya terdiam sambil menatap Tae Hyung dengan penasaran dengan apa yang tengah berada dalam pikiran Tae Hyung sekarang.
“Tae Hyung-ah, ayo kita ke kantin!” ajak Se Na sembari tiba-tiba menarik lengan kiri Tae Hyung. Sontak ketiga remaja itu terkejut dan semuanya kini terfokus pada lengan kiri Se Na dan lengan kanan Tae Hyung yang saling bertautan. Pelan Tae Hyung mencoba menarik lengannya dari Se Na tapi gadis itu malah menguatkan tarikannya.
“Pergilah, kami disini saja.” Sahut Tae Min.
Tae Hyung masih terdiam, pandangannya secara tidak sadar menatap mata Hye Rim bingung, seakan-akan ia tengah meminta pendapat Hye Rim apakah ia harus pergi atau tidak. Untuk beberapa detik pandangan mereka bertemu tapi tiba-tiba Hye Rim mengalihkan pandangannya dan membuka sebuah buku didepannya, pura-pura membacanya.
“Baiklah. Kita pergi dulu!” kata Se Na sembari berdiri yang kemudian diikuti oleh Tae Hyung. Kedua remaja itu pelan tapi pasti berjalan meninggalkan kelas yang hanya menyisakan dua orang remaja lainnya, Tae Min dan Hye Rim.
Sejenak suasana kelas mendadak menjadi sunyi, sepi dan senyap. Atmosfir di kelas itu mendadak berubah menjadi canggung, sangat canggung, terlebih diantara kedua remaja itu. Perlahan Tae Min menoleh ke arah gadis yang tengah duduk disebelahnya kini. Gadis yang entah apa ia memang sedang membaca buku atau hanya berpura-pura untuk menghindari tatapan matanya. Tapi tiba-tiba gadis itu menolehkan kepalanya, pandangan mereka bertemu sebentar dan gadis itu kembali mengalihkan pandangannya.
“Hye Rim-ah,” panggil Tae Min lembut.
Perlahan Hye Rim menoleh, menatap Tae Min.
“Kau baik-baik saja?”
Seketika Hye Rim terkejut, sejenak ia terdiam dan menghindari tatapan Tae Min.
Tidak. Aku tidak baik-baik saja.
“Tentu aku baik-baik saja. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa berada di sini sekarang. Kau ini,” jawab Hye Rim tiba-tiba. Jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya membuat bibirnya sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu.
“Maafkan aku.”
Reflek Hye Rim menatap Tae Min yang tengah menundukkan kepalanya. Sepertinya skandal ini telah membuat Tae Min benar-benar merasa bersalah.
“Jika aku tidak memanggilmu pagi itu, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Maaf.” Ucap pemuda itu sekali lagi. Entah kenapa tangan kanan Hye Rim mulai terangkat dan hampir mendarat di bahu kiri Tae Min, karena tiba-tiba gadis itu terhenti dan menarik tangannya kembali. Kini ia hanya bisa terdiam sambil terus memandang Tae Min yang terlihat sangat terbebani.
“Aku tidak tahu kenapa waktu itu aku menjadi sangat bodoh. Aku seharusnya sudah tahu kalau itu adalah ruangan publik dan aku adalah seorang yang sangat dilarang terlihat berdua dengan perempuan di ruangan publik. Aku seharusnya sudah tahu itu semua, tapi kenapa aku malah,, hh, mulut sial ini.” Kata Tae Min yang tiba-tiba memukul-mukul bibirnya dengan telapak tangan kanannya. Hye Rim terkejut, sontak tangannya mulai meraih pergelangan tangan kanan Tae Min. Menghentikan kegiatan bodoh yang sedang pemuda lakukan itu sekarang.
“Hentikan. Ini semua bukan salahmu. Semuanya mungkin memang harus terjadi.”
Seketika Tae Min terhenti. Matanya kini memandang tangan Hye Rim yang tengah memegang pergelangan tangannya erat. Dengan perlahan ia mulai melepas tangan Hye Rim dari pergelangan tangannya dan menggenggamnya, erat.
Hye Rim tersentak. Reflek ia mencoba menarik tangannya tapi sayangnya genggaman Tae Min terlalu kuat untuk dirinya dan kini pemuda itu menghadapkan badannya ke depan Hye Rim. Menatap kedua mata gadis itu dengan dalam, sangat dalam.
“Tae-, Tae Min-ah,” kata Hye Rim sambil berusaha menarik tangan kananya.
Tapi pemuda itu hanya terdiam sambil terus memandang dan menggenggam erat tangan gadis itu. Gadis yang juga tengah menatapnya, kini.
**
Kedua remaja itu terus berjalan menyusuri lorong kelas, melewati taman hijau dan kolam, memasuki lorong kelas mereka dalam diam. Seperti tidak ada yang ingin memulai percakapan atau takut untuk memulai percakapan, mereka terus terdiam. Tae Hyung yang hanya menatap lurus dan Se Na yang terus menatap Tae Hyung dengan sesekali tersenyum.
Dan kini kurang dari sepuluh langkah mereka akan sampai di kelas mereka.
‘Walaupun kau terlihat tidak bahagia bersamaku sekarang. Tapi tidak apa-apa, karena aku bahagia sekarang. Sangat.’ Batinnya dalam hati sambil terus memandang pemuda itu sambil menyedot sekotak yogurt yang tengah digenggamnya.
‘Jika saja aku tahu rasanya seperti ini, aku pasti akan ikut mengerjakan tugas dari Jang Saem waktu itu. Ahh! Bodoh, bodoh, bodoh!’ batinnya sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
“Kau kenapa?” tanya Tae Hyung tiba-tiba.
Seketika Se Na terhenti dan tersenyum menatap Tae Hyung.
“Tidak, tidak apa-apa.” Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ah! Kenapa waktu itu kau tidak menghubungiku sama sekali? Padahal kau tahu kalau aku tidak ikut mengerjakan tugas dari Jang Saem. Apa Hye Rim tidak memberi tahumu?” tanya Se Na. Akhirnya ia bisa membuka sebuah percakapan.
“Bukan. Hye Rim sudah mengatakan semuanya padaku. Tapi karena kurasa saat itu kau sedang mengalami waktu yang berat setelah pemberitaanmu dengan Cha Sajangnim dan mungkin kau membutuhkan waktu untuk beristirahat, akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungimu. Maaf.”
Oh
“Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu.” Balas Se Na sambil tersenyum manis.
*
“Tae-, Tae Min-ah,”
“Hye Rim-ah, ada yang harus kukatakan kepadamu.” Kata Tae Min, ia terlihat serius.
Hye Rim terdiam.
“Aku-,”
“Yaa-, Tae Min-ah, jangan seperti ini, aku-,”
__ADS_1
“Aku tidak akan berbelit-belit kali ini.”
Mungkinkah?
Sontak terlintas ingatan dimana pertama kali ia menerima panggilan dari Tae Min malam itu. Ketika ia merasa ada yang aneh dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh pemuda ini, satu kalimat yang membuatnya hampir tidak bisa tidur malam itu. Sekilas Hye Rim menatap Tae Min, jujur ia terlalu takut untuk melakukan kontak mata dengan pemuda yang berada di depannya kini. Ya, karena pemuda itu tengah menatapnya dengan dalam dan tajam.
“Ah, aku tidak kalau akan seperti ini jadinya. Pada awalnya kukira ini hanya perasaan kagum saja, seperti seorang penggemar pada idolanya.” Senyum pemuda itu.
“Ketika aku melihatmu mencalonkan diri menjadi ketua kelas, disitulah awal dari kekagumanku kepadamu. Dimana semua anak-anak tidak saling menatap untuk menghindari kemungkinan ditunjuk sebagai ketua kelas, kau malah mencalonkan dirimu, da-,”
“Aku tidak mencalonkan diriku sendiri, Seun Ho yang melakukannya.”
“Tetap saja. Kau melakukannya demi Seun Ho dan lainnya. Aku suka sikapmu, oleh karena itu aku reflek mencalonkan diriku sebagai wakilmu, untuk mengenalmu lebih dekat.”
“Dan anehnya sejak saat itu, aku semakin mengagumimu, bahkan aku mungkin sudah jadi penggemarmu. Aku menikmati waktu-waktu dimana kita hanya berdua, ketika para guru menyuruh kita untuk melakukan tugas-tugas dan teman-teman yang selalu meminta kita melakukan semuanya. Aku suka dengan waktu-waktu itu. Itu kali kedua aku merasa sangat bahagia setiap kali bertemu denganmu, seperti aku bertemu dengan idolaku.” Kata Tae Min sambil tersenyum memperhatikan wajah Hye Rim yang sebagian terkena sinar matahari itu.
“Kau lihat apa dibawah? Kenapa kau terus menunduk seperti itu? Tidak ingin menatap wajahku?” tanya Tae Min tiba-tiba. Sontak Hye Rim terkejut. Pelan ia mengangkat wajahnya, menatap pemuda itu sekilas dan menundukkan kepalanya lagi.
“Hanya itu? Itu kau sebut dengan melihat?”
Hye Rim terdiam. Tae Min tersenyum geli.
“Baiklah, karena aku sudah berjanji untuk tidak berbelit-belit, aku akan langsung mengatakannya padamu.”
**
Hye Rim menelan ludahnya. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
“Walau terkadang kau bersikap dingin terhadapku, tapi setiap aku melihat senyummu, semuanya kembali menjadi hangat.”
Kini genggaman tangan Tae Min mulai menguat.
“Han Hye Rim, aku menyukaimu.”
Sontak Hye Rim mengangkat wajahnya. Matanya menembus kedua bola mata pemuda di depannya kini dengan tajam. Ia tidak perduli dengan jantungnya yang kini semakin tidak karuan dan rasa malunya untuk menatap pemuda itu yang ia rasakan sejak tadi. Kini matanya benar-benar menatap pemuda itu, pemuda yang tengah tersenyum kepadanya.
Benar. Itu semuanya benar. Telinganya tidak salah dengar waktu itu, kalimat itu ternyata memang benar-benar didengarnya. Dan semua sikap Tae Min yang sedikit menaruh perhatian berlebih terhadap dirinya akhir-akhir ini ternyata ‘manifestasi’ dari kalimat itu, kalimat yang baru saja ia dengar untuk yang kedua kalinya tadi.
“Astaga! Yaa, kenapa kau mendadak berhenti?”
Serentak Hye Rim dan Tae Min menolehkan kepalanya ke arah pintu kelas. Kini seorang siswa dan siswi tengah berdiri tepat di depan pintu itu. Seorang siswa yang hanya terdiam sembari menatap Tae Min dan Hye Rim bergantian dan seorang siswi yang sibuk berbicara dengan siswa itu, siswa yang sebenarnya tidak memperhatikan siswi itu sama sekali.
Tae Hyung?
Sontak Hye Rim menarik tangannya dari genggaman Tae Min dan langsung mengalihkan pandangannya. Untuk keberapa kalinya ia membuka bukunya dan membolak-baliknya. Pikirannya sedang tidak fokus sekarang, ia terus memikirkan pemuda itu, pemuda yang kini berjalan pelan menuju bangkunya, diikuti oleh gadis dibelakangnya.
Apa ia mendengarnya? Apa Tae Hyung melihat semuanya?
“Oh iya, ini. Ada kimbab untuk kalian. Tae Min, Hye Rim, makanlah!” kata Se Na sambil mengeluarkan kimbab dari paper bag putih itu dan meletakkannya di meja Seun Ho.
“Aku ingin ke kamar mandi sebentar.” Katanya sambil melangkah terburu-buru. Saat ini ia harus pergi dari kelas itu secepat mungkin. Ia belum siap menghadapi tatapan Tae Hyung.
Ketiga murid itu seketika terdiam. Terlebih gadis itu, ia terus melihat Hye Rim yang keluar terburu-buru dengan tatapan bingung, berbeda dengan kedua pemuda yang saling memandang dan terdiam.
“Ada apa dengannya? Jangan-jangan, apa kalian bertengkar?” tanya Se Na.
“Bertengkar?”
“Yaa! Ada apa dengan Hye Rim? kenapa ia terlihat begitu terburu-buru?” potong seorang pemuda yang sedang berjalan masuk, menuju bangkunya, Jung Seun Ho.
Tae Hyung terdiam sejenak, matanya menatap lantai dibawahnya.
“Tae Min-ah, kurasa kita harus bicara.” Ucap Tae Hyung tiba-tiba.
Sontak Se Na dan Seun Ho yang sibuk mengunyah kimbab langsung terhenti. Keduanya kini menatap dua pemuda yang tengah saling memandang sekarang. Perlahan Tae Hyung beranjak dari kursinya dan langsung berjalan keluar tanpa menunggu Tae Min yang kini sedang tersenyum menatap Se Na dan Seun Ho.
Se Na hanya terdiam dan terus memandangi dua pemuda tampan yang baru saja menghilang di balik pintu. Sebenarnya ia tidak terlalu yakin dengan apa yang dipikirkannya sekarang, tapi sepertinya memang itu alasannya. Alasan kenapa dua pemuda tampan itu bersikap berbeda dari biasanya.
“Aigoo, ada apa dengan mereka? Apa mereka tengah meremehkanku? Kenapa semua pertanyaanku tidak ada yang mereka jawab?”
**
Tae Hyung memperhatikan sekitarnya. Matanya kemudian menatap Tae Min yang perlahan berjalan menuju arahnya.
“Apa yang ingin kaubicarakan denganku?” tanya Tae Min tanpa basa-basi.
“Dimana akal sehatmu?” tanya Tae Hyung tiba-tiba. Tae Min hanya terdiam dan menatap Tae Hyung, datar. “Apa kau puas telah menyatakan perasaanmu pada Hye Rim?” lanjutnya.
Tae Min memandang arah lain dan tersenyum sinis.
“Ternyata ini. Kenapa? Kau iri?”
Tae Hyung menatap Tae Min tajam.
“Yaa, Lee Tae Min, apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?”
“Kenapa kau malah bertanya sesuatu yang telah kau ketahui?” tanya Tae Min.
“Apa agensimu tidak mengajarkan apa yang seharusnya seorang hallyu star sepertimu lakukan saat ia terkena skandal dengan lawan jenis? Bukankah ia seharusnya menghindari lawan jenis itu dan kalau memang ia kebetulan adalah teman yang tidak tahu apa-apa, bukankah seharusnya kau menenangkannya? Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan berjanji kalau hal seperti ini tidak akan terjadi lagi? Tapi apa yang baru saja kau lakukan? Kau telah membuatnya menikmati secangkir americano panas setelah berlari jauh. Kau bukannya membuatnya dingin tapi kau malah memperburuknya.”
“Sebentar.” Potong Tae Min menghentikan kalimat Tae Hyung.
__ADS_1
“Biarkan aku bicara.” Kata Tae Min sembari membalas tatapan tajam Tae Hyung.
Tae Hyung terdiam sambil menggerakkan tangannya, mempersilahkan Tae Min.
“Itu saja yang ingin kau katakan padaku? Dimana salahku? Aku hanya menyatakan perasaan yang sudah lama kusimpan dan kau tahu? Aku bahkan belum sempat mengatakan kapan Hye Rim harus menjawabnya. Ingat, aku hanya menyatakan perasaanku, tidak lebih garis bawahi itu!” bela Tae Min.
“Dan juga bukankah itu hal yang baik? Memang kau pernah melihat seorang gadis yang sedih dan takut ketika mendengar pernyataan cinta dari orang semacam kita, seorang idol? Mereka pasti akan sangat senang, bahkan mungkin mereka akan memamerkannya ke semua orang, lagipula-,”
“Yaa, Lee Tae Min! Jaga bicaramu! Sekarang kau menganggap Hye Rim gadis seperti itu? Kau-,” Ucap Tae Hyung tiba-tiba dan sedikit mengeraskan suaranya.
Sontak Tae Min terdiam. Pikirannya menemukan sesuatu yang benar di dalam perkataannya baru saja tapi apa yang dikatakan Tae Hyung juga tidak salah. Karena memang, Hye Rim bukan gadis seperti itu.
“Jaga bicaramu disaat kau tidak tahu apa-apa tentang Hye Rim.”
“Memangnya kau tahu segalanya?” tanya Tae Min tiba-tiba.
Seketika tenggorokan Tae Hyung tercekat. Matanya sedikit membesar menatap Tae Min yang sedang menatapnya tajam sekarang.
“Aku tanya, apa kau tahu segalanya tentang Hye Rim?”
**
“Yaa! Hentikan! Apa dengan kalian berkelahi seperti ini akan membuat perasaannya semakin baik? Yaa! Lee Tae Min! Kim Tae Hyung!!” teriak Joo Won sambil berusaha menarik Tae Min dari genggaman Tae Hyung.
Saat ini Joo Won dibantu dengan beberapa teman laki-lakinya tengah berusaha memisahkan kedua pemuda yang sudah saling melayangkan tinju masing-masing sejak dua puluh menit yang lalu. Suasana sudah menjadi semaki ramai oleh murid sekarang, sebelum para guru datang kesini dan melihat semua ini, ia harus bisa memisahkan mereka berdua. Karena ia tahu hukuman bagi seseorang yang berkelahi di sekolah ini tidaklah ringan, terlebih jika mereka adalah seorang idol.
Tapi sepertinya, amarah yang telah menguasai kedua pemuda itu sedang sangat membara saat ini, walaupun masing-masing dari mereka tengah dipegangi oleh dua orang siswa lebih, mereka masih bisa melayangkan tinju mereka.
“Yaa! Kalian tidak perduli dengan sederet jadwal yang menunggu kalian nanti, esok dan seterusnya? Apa kalian bisa melakukan tugas kalian dengan wajah seperti itu??” bentak Joo Won sambil menyeruak masuk diantara kedua pemuda itu. Ya, sekarang wajah kedua pemuda itu sudah mulai tidak berbentuk. Memar dan darah mulai mewarnai kedua wajah tampan itu.
“Argh!!” Joo Won terjatuh. Secara tiba-tiba ia telah terkena salah sasaran dari dua pemuda yang tengah dikuasai oleh amarah itu.
Joo Won mengelap sedikit darah yang keluar dari pojok kanan bibirnya.
“YAA!! APA KALIAN SEDANG MEREMEHKAN SUNBAE KALIAN INI?” teriak Joo Won akhirnya. Tiba-tiba saja ia menyeruak masuk di antara kedua pemuda itu dan langsung memberikan pukulannya kepada masing-masing pemuda itu.
Sontak semua siswa dan siswi yang mulai memenuhi kolam renang itu terkejut. Termasuk beberapa siswa yang sedang berusaha menjauhkan Tae Min dari Tae Hyung. Tak lama setelah itu, segerombolan murid lainnya mulai menyeruak masuk dan ternganga melihat adegan yang ada di depan mata mereka. Salah satu dari mereka, seorang gadis yang berdiri tepat di depan ketiga pemuda yang sedang berkelahi itu terdiam untuk sesaat, kemudian matanya mulai mengawasi sekitarnya, mencari satu barang yang mungkin ada di dalam indoor swimming pool ini, sesuatu yang baru saja muncul di pikirannya.
Matanya terhenti di satu rak yang penuh dengan peralatan renang dan itu dia, barang yang tengah gadis itu cari. Cepat ia melangkah menuju rak itu, mengambil ember merah yang terdapat disamping tumpukan pelampung, membawanya menuju kolam renang dan mengisinya penuh dengan air. Kemudian ia berjalan ke arah ketiga pemuda itu dan,
BYURR!
Seketika ketiga pemuda itu terhenti. Mereka benar-benar berhenti. Kini sebagian dari tubuh mereka sudah basah terkena siraman air yang datang dari belakang mereka, secara perlahan dan serentak mereka membalikkan badan.
“Sudah? Bersihkan wajah kalian dengan air itu!” kata gadis itu sambil menatap mereka dengan nanar. Tanpa menunggu balasan dari ketiga pemuda yang tengah menatapnya dengan terkejut, ia langsung meletakkan ember itu dan berbalik, berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Semua orang yang berada di ruang itu kini terdiam. Menatap seorang gadis pemberani yang baru saja menghentikan sebuah ‘pertarungan’ hebat hari ini.
“Hye Rim?” gumam Tae Hyung lirih sambil menatap gadis yang berlari sambil mengusap air matanya itu. Gadis yang baru saja membuka pintu dan keluar.
PRITTT!!
“Im Joo Won, Lee Tae Min, Kim Tae Hyungg, ikut bapak ke ruang guru. SEKARANG!”
***
“Tidak ada yang terjadi disini Hyun Woo Hyung, semuanya terkendali.” Kata Joo Won sambil berjalan perlahan di depan indoor swimming pool.
“Aku tanya, apa kau tahu segalanya tentang Hye Rim??”
Langkah Joo Won terhenti dan matanya memperhatikan apa yang tengah terjadi di dalam indoor swimming pool lewat sekotak kaca yang terdapat di pintu masuk ruangan itu.
Sedang apa mereka?
“Ah, Hyung, nanti kuhubungi lagi.” Joo Won mulai mematikan panggilannya dan memasukkan smartphonenya ke saku jasnya.
“Iya, aku tahu melebihi semua yang kau ketahui tentangnya. Aku tahu semua detail tentangnya. Kau sedang tidak berpikir bahwa hanya kau yang menyukainya kan??”
Tae Min menatap Tae Hyung, tajam.
“Iya. Aku menyukainya dan aku yang lebih dulu bertemu denganya. Bahkan jauh sebelum kau melihat bayangannya di sekolah ini. Jauh sebelum itu.”
“Selain itu. Apa kau pantas menyukainya? Kau-, seorang yang tidak tahu apa-apa tentangnya bahkan kau hampir saja membuat semua mimpi Hye Rim kandas. Apa kau pantas untuk menyatakan cintamu?”
Perlahan Joo Won mulai memegang gagang pintu itu. Cinta? Perempuan?
Tangan Tae Min mulai menggenggam, erat.
“Jadi menyerahlah dan serahkan Hye Rim padaku. Karena aku menyukainya. Sangat.” Perlahan Tae Hyung membalikkan badannya dan berjalan.
Joo Won tersentak.
“Hye Rim? Astaga! Apa yang akan dilakukan Tae Min?”
“Yaa, Kim Tae Hyung!” tiba-tiba saja satu pukulan keras dari Tae Min mendarat sempurna di pipi kanan Tae Hyung. Otomatis pemuda itu terjatuh.
Cepat Joo Won memutar gagang pintu itu dan berlari masuk ke dalam. Keadaan mulai tidak terkendali. Tae Min sudah melemparan tinjunya beberapa saat yang lalu dan kini, baru saja ia lihat Tae Hyung membalasnya, tepat di pelipis mata kanan Tae Min.
Ini tidak bisa dibiarkan. Apa mereka lupa siapa mereka kini?
“YAA!! HENTIKAN SEMUA INI!!”
***
__ADS_1