
Berbagai macam celotehan para siswa dan siswi baru itu sontak memenuhi lorong yang berisi deretan kelas tersebut. Riuh rendah suara mereka mulai membuat lorong yang tadinya sepi menjadi seperti kawasan Hong Dae yang selalu ramai. Setelah direktur menutup upacara tadi, mereka langsung menuju ke kelas mereka masing-masing. Sebagian ada yang menanggapinya dengan berjalan santai menuju kelas dan sebagian lagi bahkan berlari, penasaran dengan siapa ia akan berteman tiga tahun kedepan.
Perlahan Hye Rim menyusuri lorong itu, tentunya mencari kelasnya. Untuk saat ini, ia harus ekstra hati-hati, kalau tidak akan terjatuh dan terinjak-injak oleh para siswa dan siswi yang sama seperti dirinya, mencari kelas mereka masing-masing. Ramai sekali.
“Kurasa ini.” Gumamnya sambil memperhatikan papan bertuliskan, 10-1.
Eh?
“Kau, berada di kelas ini juga?” tanyanya pada seseorang.
Gadis berambut panjang itu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ayo masuk!” ajak gadis itu. Hye Rim mengangguk. Bersama dengan Se Na, ia memasuki kelas yang sudah mulai terisi penuh.
“Hye Rim!”
Seseorang memanggil namanya, dilihatnya seorang pemuda tengah berdiri sambil melambaikan tangan ke arahnya. Jung Seun Ho?
“Hye Rim! Disini!”
‘Kenapa ia juga berada di kelas ini?’ sambil terus memalingkan wajahnya dari Seun Ho, ia berjalan mengikuti Se Na yang berjalan di depannya.
“Yaa, kau memalingkan wajahmu dariku?”
“Astaga!”
“Ikut aku!” tiba-tiba saja tangan Seun Ho sudah memegang tangan kanannya. “Kau akan duduk bersamaku.” Lanjut Seun Ho. Hye Rim terkejut, sontak ia menahan tarikan Seun Ho.
“Ayo.” Pemuda itu mencoba menarik Hye Rim.
“Kenapa?” tiba-tiba Seun Ho memegang pipi kanan Hye Rim dan menolehkannya ke arah LED TV yang berada di sebelah whiteboard.
DIHARAPKAN SATU BANGKU DIISI OLEH SATU SISWA DAN SATU SISWI.
“Sudah jelas? Kalau sudah, ayo!” Seun Ho akhirnya membawa Hye Rim yang masih melihat pengumuman itu dengan mata yang tidak percaya. Bagaimana mungkin teman duduk juga diatur disini?
Seun Ho pun duduk yang kemudian diikuti oleh Hye Rim. Sambil melepas ransel terracotta nya, ia mengedarkan pandangannya di penjuru kelas dan benar saja, tidak ada satu pun diantara bangku-bangku itu yang diisi oleh siswa saja atau siswi saja. Pandangannya berakhir ke Seun Ho yang terlihat sibuk memperhatikan siswa dan siswi yang sebagian besar idol itu.
“Jangan lihat aku, aku juga tidak tahu apa-apa.”
Ya, sepertinya Seun Ho memang tidak tahu apa-apa tentang ini semua, baiklah untuk kali ini ia akan menerimanya. Walaupun ia harus duduk dengan Seun Ho, paling tidak ia tidak harus merasa canggung. Ia rasa ini yang terbaik dari pada harus duduk dengan salah satu idol yang kedepannya mungkin akan membuatnya berada dalam masalah.
“Tae Min-ah!” panggil Seun Ho tiba-tiba. Seorang pemuda yang baru saja di panggil oleh Seun Ho itu tengah berjalan masuk sambil melambaikan tangan ke arah Seun Ho, ah sebentar! Tapi kenapa mata Tae Min seakan-akan tengah menatapnya?
**
“Ahh, belum apa-apa tapi, kenapa aku sudah merasa lelah?” gumamnya.
“Baiklah, paling tidak aku harus mengisi perutku agar aku bisa bertahan sampai nanti pulang sekolah, mm,, makan apa ya?” perlahan matanya menelusuri deretan daftar menu yang terpampang cukup besar di depannya. Bulgogi, ramyeon, jjajangmyeon, tteokbokki, bibimbab
“Aku tahu apa yang kau butuhkan sekarang. Bibi, tolong dua ramyeon ukuran sedang ya.” Kata seseorang yang tiba-tiba saja datang dan memesan makanan untuk mereka.
Hye Rim sontak menolehkan kepalanya, Joo Won Sunbae?
Joo Won tersenyum, “Ayo duduk, kita makan bersama.” Ajaknya. Dengan ragu ia mengikuti Joo Won yang memilih tempat duduk tepat disamping sebuah jendela besar yang menghadap ke kota Seoul.
“Duduklah, tidak perlu canggung.” Senyumnya sambil menunjuk satu buah kursi di depannya. Sebenarnya Hye Rim masih belum yakin kenapa Joo Won Sunbae memperlakukannya seperti ini, tapi karena perutnya sekarang sedang dalam keadaan ‘kritis’, ia akhirnya menarik kursi itu dan duduk.
“Ah! Jangan memanggilku Joo Won Sunbae, cukup dengan Joo Won Oppa saja tidak apa-apa.” Katanya kemudian.
Hye Rim hanya mengangguk dan tersenyum. Ia bingung kenapa tiba-tiba Joo Won mengajaknya makan bersama? bahkan mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Hei! kau melamun?” tegur Joo Won tiba-tiba.
Hye Rim terkejut, dan sontak ia tersenyum melihat Joo Won yang tengah menatapnya. “Tidak Sun-, eh Oppa.” Jawabnya.
“Bagaimana? Semuanya berjalan baik di hari pertamamu ini?” tanya Joo Won.
Hye Rim hanya tersenyum.
Baik kurasa dan semoga kedepannya juga akan baik.
“Syukurlah.” Sahut Joo Won dengan senyuman manisnya, pemuda itu lantas menatap Hye Rim yang malah terdiam di depan semangkuk ramyun yang masih mengepulkan asapnya.
“Heii..”
Hye Rim mendongakkan kepalanya.
“Ringankan pikiranmu dan makanlah selagi hangat.” Lanjut Joo Won sambil menyerahkan satu set peralatan makan pada Hye Rim.
Gadis itu mengangguk kecil sembari tersenyum canggung.
“Gadis baik.” Gumam Joo Won yang kemudian mengaduk-aduk ramyunnya.
**
“Aku masuk dulu Oppa, terima kasih atas makanannya.” Ucap Hye Rim sambil membungkukkan badannya. Joo Won tersenyum dan mengangguk. Hye Rim pun melangkah memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Mungkin semua orang masih berada di kantin, pikirnya.
“Hye Rim!!”
Hye Rim melihat ke arah Seun Ho yang tengah melambaikan tangannya, ia dikelilingi tiga orang yang duduk di sekitarnya, dua laki-laki dan satu perempuan. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.
“Ayo! Bergabung dengan kami.” Ajak Se Na.
Hye Rim mengangguk. Ia pun melangkah cepat menuju keempat orang tersebut, tapi sontak langkahnya terhenti, melihat seorang pemuda yang memalingkan wajahnya ke arahnya dan tersenyum.
__ADS_1
“Annyeong!” sapa pemuda itu tiba-tiba. Seketika langkah Hye Rim terhenti.
Tae Hyung? Kenapa ia bisa berada disini?.
Dengan senyum kikuk ia membalas salam itu, kembali berjalan dan duduk di kursi kosong yang sialnya tepat di sebelah Tae Hyung. Hye Rim otomatis melihat Seun Ho dengan pandangan –kenapa ia ada disini?-
“Ah, Tae Hyung baru saja menyelesaikan schedule nya di salah satu acara musik, ia terlambat. Hye Rim-ah kurasa kami tidak perlu memperkenalkanmu dengan Tae Hyung kan?”
Tae Hyung hanya mengangguk dan tersenyum.
Hye Rim melihat Tae Hyung bingung. Kenapa ia tidak mengatakan apa-apa?
“Ah iya! Kalian sudah mengecek website sekolah kita? Disana video performance Tae Hyung dan Hye Rim menjadi pilihan nomor satu pengunjung.” Kata Seun Ho tiba-tiba.
“Memangnya ada hal seperti itu?” tanya Tae Min.
Seun Ho mengangguk,”Kalian tahu berapa orang yang sudah menonton video itu?” tanyanya sambil mencondongkan sedikit badannya ke depan.
“Dua juta orang. Dalam tiga hari sudah ada dua juta orang yang menonton performance kalian berdua!” Seun Ho langsung menepukkan kedua tangannya.
Hye Rim terkejut. Dua juta?
“Aku yakin itu karena kau beruntung dapat berduet dengan Tae Hyung.” Lanjutnya.
Hye Rim sedikit melipat wajahnya. Memangnya hanya Tae Hyung yang memukau?
“Kau serius?” Tae Hyung juga tidak percaya. Dua juta bukanlah angka yang sedikit.
“Ah, kalian pasti belum melihatnya, percuma aku mengatakannya jika kalian belum mengeceknya.” Katanya yang langsung menghentikan tepuk tangannya dan bersandar di kursinya. Semua hanya tersenyum, kecuali Se Na yang sedang memperhatikan Tae Hyung dan Hye Rim, bergantian.
“Sudahlah, lebih baik kita ganti topik pembicaraan kita. Hye Rim-ah! kau darimana saja tadi? kenapa kau bisa kembail dengan Joo Won Sunbae?”
Hye Rim sontak terkejut. Mereka melihatnya?
“Eh, itu,” Hye Rim berusaha menghindari tatapan keempat orang yang kini tengah melihatnya dengan rasa curiga.
“Hmm, aku mencium sesuatu disini,” ucap Seun Ho yang terus-terusan menatap Hye Rim dengan penuh curiga.
“Kau-, tidak, aku tadi hanya tidak sengaja bertemu dengan Joo Won Oppa dan kebetulan kelas kita searah.” Jawabnya grogi.
“Joo Won Oppa??” goda Seun Ho sambil lagi mencondongkan badannya ke depan.
“Yaa! Jung Seun Ho!”
Seun Ho hanya tertawa melihat ekspresi Hye Rim yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu itu, sedangkan Tae Hyung dan Tae Min hanya tersenyum melihat tingak lucu Hye Rim yang benar-benar terlihat grogi.
*
Hye Rim melangkah pelan sambil memperhatikan situasi di sekitarnya yang penuh dengan siswa dan siswi. Sama seperti dirinya mereka juga akan menuju rumah mereka masing-masing, tapi, keadaannya berbeda dengan dirinya. Saat ini entah kenapa ia merasa sangat lelah sedangkan siswa dan siswi itu masih terlihat ceria dengan senyuman dan tawa mereka, bahkan beberapa dari mereka sedang saling mengejar sekarang.
Hye Rim menolehkan kepalanya dan reflek langkah kakinya terhenti.
“Kenapa berhenti? Kau sakit?” tanya pemuda itu yang juga ikut berhenti.
Tae Hyung? Darimana ia? Kenapa ia tiba-tiba ada di sampingku?
“Eoh? Ada apa? Kau mencari sesuatu?” tanya Tae Hyung yang juga ikut mengecek sekitarnya. Mengikuti Hye Rim yang sedang melihat sekeliling mereka.
“Ah, tidak.” Jawab Hye Rim sambil berusaha menghindari tatapan Tae Hyung lalu melangkah pelan. Tae Hyung tersenyum memperhatikan gadis di sampingnya kini yang tengah terdiam dan terus melihat ke bawah, seperti mengalihkan pandangan dari dirinya.
“Kau,”
“Kau,”
Serentak mereka berdua tersenyum.
“Kau dulu.” Kata Tae Hyung sambil terus melangkah bersama Hye Rim.
“Seun Ho dan Tae Min kemana? Bukankah kau tadi bersama mereka?” tanyanya dengan detak jantung yang mulai melaju kencang. Ya, perasaan itu masih tertinggal didalam hatinya, walaupun sudah setahun berjalan ia berusaha untuk tidak mengidolakannya lagi tapi sayangnya semakin ia ingin melupakan Tae Hyung, ingatan-ingatan tentang Tae Hyung malah semakin melekat di pikirannya.
Tae Hyung mengangguk, “Iya. Mendadak mereka ada urusan di kantor guru dan aku sendiri sekarang.” Jawabnya sambil tersenyum ke Hye Rim, tapi sayangnya gadis itu tidak melihatnya sama sekali.
“Kantor guru? Mereka terkena masalah?”
“Bukan, kurasa, mereka hanya sedang mengurus izin. Kau tahu kan kalau jadwal kita sering bertabrakan dengan jadwal sekolah? Maka dari itu, semuanya harus dibicarakan di awal seperti ini, supaya tidak ada kesalah pahaman di belakangnya nanti.” Jelas Tae Hyung.
Hye Rim mengangguk pelan.
“Kau sendiri? Kau tidak dijemput?” tanya Tae Hyung.
“Sepertinya tidak.” Jawabnya sambil menatap ke arah lain. Sampai sekarang entah kenapa ia masih takut untuk menatap Tae Hyung, padahal ia tidak berbuat salah sama sekali. Tae Hyung mengangguk sambil terus melihat gadis di sebelahnya yang sama sekali tidak menatapnya dari tadi, kalaupun gadis itu melihatnya, gadis itu pasti akan mengalihkan pandangannya jika ia melihat gadis itu juga.
Ada apa dengan Hye Rim? Kenapa ia selalu menghindari tatapanku?
“Hye Rim!”
Sontak Hye Rim mendongakkan kepalanya yang diikuti Tae Hyung. Pemuda itu sontak mengalihkan perhatiannya dari Hye Rim pada seorang pemuda gagah yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Eoh? Oppa?” gumam Hye Rim. Sekilas Tae Hyung melihat terdapat satu ekspresi terkejut di wajah Hye Rim sekarang. Bukan terkejut bahagia tapi, takut.
“Ah! Tae Hyung-ah, aku pulang dulu!” kata Hye Rim yang langsung berlari menuju seorang pria tampan berusia akhir 20-an yang sedang berdiri di depan pintu lobi.
“Eoh, hati-ha-,” Tae Hyung masih terus melihat Hye Rim yang bahkan langsung pergi tanpa menunggu jawabannya dulu. Dan sepertinya pria itu sedang tidak dalam mood yang baik, ia bahkan tidak tersenyum sama sekali ketika Hye Rim membungkukkan badannya dan mereka langsung masuk ke mobil.
“Tae Hyung-ah!” seketika Tae Hyung terhenti dan berbalik ke belakang.
__ADS_1
“Kau mau kemana?” tanya seorang pria berbadan cukup besar yang sedang berdiri berkacak pinggang di belakang Tae Hyung.
“Eoh, Manajer Hyung? Sejak kapan Hyung disana?” tanyanya yang langsung kembali menuju manajernya yang terlihat bingung menatapnya.
“Kau bahkan tadi melewatiku. Kau sedang melihat siapa? Sampai aku yang sebesar ini tidak terlihat di matamu.” Kata pria itu yang langsung berjalan menuju van putih, membuka pintu dan duduk di tempat duduk sopir.
Tae Hyung tersenyum, “Haha, tidak Hyung, tidak melihat siapa-siapa.” Seketika pintu belakang itu terbuka, ia pun masuk dan dengan otomatis pintu itu pun tertutup.
*
Tae Hyung melepas jas sekolahnya yang menyisakan kemeja putih yang penuh keringat itu. Reflek ia mengambil salah satu handuk yang berada di jok belakang dan mengelap wajah dan lehernya yang basah dengan keringat.
“Kau tadi kenapa? Kau terlihat sangat fokus tadi.” Tanya manajernya yang sedang fokus dengan jalanan padat lancar di depannya.
“Tidak kenapa-kenapa Hyung.” Jawabnya sambil membuka salah satu botol air mineral yang masih baru dan meminumnya.
“Bohong. Jelas-jelas aku tadi melihatmu sedang fokus melihat seorang gadis yang dijemput oleh kekasihnya itu.”
“Itu kakaknya, Hyung.” Sangkalnya.
“Iya? Kukira kekasihnya. Ia terlihat muda dan tampan.” Lanjut manajernya itu.
Tae Hyung tersenyum. Muda dan tampan? kurasa memang benar.
“Tapi kenapa aku seperti pernah melihat wajah gadis itu tadi? Apa ia seorang idol? Atau aktris?”
Sontak Tae Hyung meletakkan botol mineralnya, dan langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh manajernya.
“Hyung juga merasa seperti itu? Aku juga Hyung, ketika aku melihatnya pertama kali waktu rehearsal showcase kemarin, aku merasa aku telah bertemu dengannya. Tapi setelah kupikir, karena ia bukan teman SD atau SMP ku, ia pasti orang lain, jadi untuk alasan kenapa aku pernah melihat dan menemuinya aku belum mengerti.” Timpal Tae Hyung yang masih fokus melihat manajer Hyungnya yang sedang konsentrasi menyetir sekarang.
“Showcase? Ah! Ia partner mu?”
“Iya. Namanya Hye Rim, Han Hye Rim.” Jawab Tae Hyung sembari menutup matanya.
“Oh, namanya Hye Rim. Wajahnya benar-benar tidak asing.” Jawab manajernya yang kemudian mengerem mendadak.
Sontak Tae Hyung membuka matanya, “Kenapa Hyung?” tanyanya.
“Maaf, aku lupa, aku harus membeli sesuatu untuk Hyun Joon. Ia titip sesuatu, sebentar.” Manajernya pun membuka pintu mobil, keluar dan menutupnya kencang, berlari kecil menuju minimarket yang terletak di seberang jalan. Tae Hyung memperhatikan manajernya yang terngah menyaberang dengan terburu-buru karena lampu hijau untuk pejalan kaki hampir habis waktunya, pikirannya menerawang. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasa seperti telah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, manajernya juga mengalami hal yang sama. Kalau ini memang kebetulan, ia rasa, terlalu aneh jika dua orang yang mengalaminya.
Ia mendesah, pelan ia menutup matanya lagi.
*
“Kenapa Hyun Woo Oppa tiba-tiba menjemputku?” tanya Hye Rim memecah kesunyian sejak lima belas menit yang lalu. Matanya masih memandang lurus kedepan, dan tangannya mendekap erat ransel yang berada di pangkuannya.
“Kenapa? Tidak boleh?” tanya pemuda itu sambil sekilas melihat adik perempuannya yang terlihat dingin disampingnya. Hye Rim diam, ia memutuskan untuk tidak menjawabnya sama sekali. Hari ini ia lelah, ia tidak ingin mengakhiri hari ini dengan rutinitas yang sering ia lakukan dengan kakak laki-lakinya, bertengkar.
Hyun Woo tersenyum,” Kau kenapa? Kau marah padaku?” tanyanya sambil tetap fokus terhadap jalanan di depannya.
Hye Rim masih terdiam. Maaf tapi, kali ini ia benar-benar tidak ingin menjawab satu pertanyaan pun dari kakak laki-lakinya ini.
“Baiklah, kalau kau memang tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi, tadi,”
Jantung Hye Rim seketika berdetak lebih kencang mendengar pertanyaan yang bahkan belum diselesaikan oleh kakaknya. Matanya sekilas melirik ke kakaknya yang terlihat fokus dengan jalanan yang berada di depan mereka.
“Tadi itu, Tae Hyung kan? Kim Tae Hyung?” tanya kakaknya. Ia tahu, pertanyaan ini akan berakhir seperti ini. Ah, seharusnya tadi ia tidak menanggapi pertanyaan Tae Hyung, sesalnya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Kau sekelas dengannya?”
“Iya.” Jawabnya dengan mata yang melihat jalanan disampingnya.
“Kalau tidak salah, ia idolamu kan?” tanya Hyun Woo tiba-tiba. Untuk sesaat matanya melihat adiknya yang masih saja melihat jalanan depan atau deretan pertokoan yang sedang mereka lewati, bergantian.
Hye Rim mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai kencang, pelan ia menarik nafas dan mengehmbuskannya, “Itu dulu.” Jawabnya kemudian.
“Dulu bukan berarti sudah hilang dari ingatanmu.”
Sontak Hye Rim menatap Hyun Woo. Ia tidak tahu apa maksud kakaknya berkata seperti itu. Iya, Tae Hyung memang idolanya, tapi itu dulu, satu tahun yang lalu. Bahkan ia yakin sekali kalau kakaknya telah mengetahui ini semua.
“Oppa.” Panggilnya. Pemuda itu pun menoleh, untuk sesaat.
“Bisakah kita tidak bertengkar hari ini?”
***
“Ini.” dua porsi small size patbingsoo kini telah berada di hadapannya. Sontak ia menghentikan aktifitasnya dan menatap patbingsoo merah jambu itu. Pemuda itu langsung duduk, mengambil ramyeon dengan sumpitnya dan memakannya.
“Kenapa? Kau tidak suka patbingsoo?” tanya Joo Won melihat Hye Rim yang masih terdiam menatap patbingsoo itu.
Hye Rim menggeleng,”Ah, tidak Oppa.” Jawabnya canggung.
Joo Won tersenyum, “Kau ini, seperti dengan orang asing saja.” Katanya tiba-tiba.
Sontak Hye Rim mengangkat kepalanya, menatap Joo Won yang sedang tersenyum menatapnya sekarang dengan bingung.
“Eoh? tidak. Makanlah.”
__ADS_1