Backstage - Strange Things Behind the Spotlight

Backstage - Strange Things Behind the Spotlight
CHAPTER 11 - THE FIRST PAGE - ‘When the forgotten page merge with the new one, we don’t even know w


__ADS_3

Hye Rim memasang earphone dan mulai menyentuh salah satu lagu yang terdapat dalam playlist di smartphone nya. Perlahan ia menutup matanya, menikmati alunan lagu yang sedang menempati chart nomor satu di salah satu acara musik di Seoul, lagu yang dinyanyikan oleh temannya. Lee Tae Min.


“Astaga! Bukankah itu manajer Tae Hyung? Kenapa dia menuju kemari?” seru seorang gadis’biasa’ yang duduk disebelahnya. Di dalam lobi yang lengang itu.


“Apa ada salah satu dari kalian yang mengenalnya?” sahut yang lainnya.


Hye Rim membuka matanya, melihat sekumpulan gadis yang duduk disebelahnya.


“Ahh, aku jadi rindu Tae Hyung. Aku tidak melihatnya selama seharian ini.” Gumam salah satu gadis sambil membuka flipcover smartphone nya dan memandang foto Tae Hyung yang terdapat di lock screen nya.


“Permisi. Han Hye Rim?”


Sontak para gadis itu dan –tentunya-  Hye Rim menoleh ke asal suara, dilepasnya earphone nya dan mengangguk.


“Iya,” Hye Rim menatap pria awal tiga puluhan itu dengan bingung.


“Ayo. Kita berangkat sekarang. Ia sudah menunggumu.” Kata pria yang tiba-tiba mengambil paperbag Hye Rim, membawanya pergi. Untuk beberapa detik Hye Rim bingung dan melihat pria yang berjalan pelan meninggalkannya. Siapa pria itu? Kenapa tiba-tiba,


“Ayo!” Ajak pria itu sambil menggerakkan kepalanya.


Dengan beberapa pertanyaan yang berputar di pikirannya Hye Rim mulai berdiri. Dimasukkannya smartphone nya kedalam saku jasnya dan sekilas menoleh ke kumpulan gadis yang ternyata sedang berbisik-bisik sambil menatap dirinya dengan iri. Langsung saja ia mengalihkan pandangannya dan berjalan mengikuti pria yang tidak dikenalnya –tapi anehnya mengenalnya- dengan paperbag nya di genggaman pria itu.


“Bukankah itu gadis yang digosipkan dengan Joo Won? Lalu apa hubungannya dengan Tae Hyung?” tanya salah satu gadis sambil menatap Hye Rim dengan heran.


Langkah Joo Won terhenti. Setelah berjalan cepat dari kelasnya, menuruni tangga dan berada di lobi hanya untuk bertemu gadis itu tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Sedikit bingung dan terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.


“Siapa tadi? Hye Rim, Han Hye Rim??”


“Iya, tapi kenapa manajer Tae Hyung menjemputnya?” tanya salah satu gadis yang berada tepat disebelah Joo Won. Sontak Joo Won menoleh ke kumpulan gadis yang berada di sampingnya.


“Manajer Tae Hyung?” tanyanya pada salah satu gadis sambil menyipitkan matanya.


**


“Yaa! kau kenapa?”


Sontak pemuda yang sedari tadi berulang kali mengecek inbox salah satu SNS di smartphone nya itu tersentak. Matanya sedikit melebar menatap seorang gadis yang tengah menikmati secangkir caramel macchiato di depannya. Gadis rambut panjang coklat almond yang tengah menatapnya heran.


“Kau  tahu? Kau telah membuatku seperti seorang penggemar yang dengan semangatnya berceloteh didepan idolanya yang sebenarnya tidak terlalu memperhatikan celotehan penggemar itu. Padahal aku bukan penggemarmu.” Kata gadis itu sambil menyibakkan rambut coklat almondnya ke belakang dan menyeruput caramel macchiatonya. Gadis itu lalu meletakkan cangkirnya. Menatap tajam pemuda di depannya.


“Ah! Tapi sepertinya kali ini penggemar itu lebih beruntung dariku, paling tidak idolanya akan tersenyum menanggapinya. Sedangkan kau? Kau membuatku lebih buruk. Sejak lima belas menit yang lalu aku merasa sedang berbicara dengan manekin tanpa ekspresi.” Lanjutnya sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya dan menyilangkan kedua lengannya.


“Manekin tanpa ekspresi yang tampan.” Sahut pemuda itu sambil memasukkan smartphonenya ke saku jas seragamnya dan mulai meminum Americano nya.


Gadis itu mendesah sambil menatap pemuda itu tanpa ekspresi. Tampan?


“Ada apa? Ada apa dengan smartphone mu? Kau menunggu telepon dari Hye Rim atau mungkin pesan yang telah kau kirimkan padanya belum ia balas? Im Joo Won-ssi .”


Joo Won sedikit terkejut. Ia langsung mengatur detak jantung dan ekspresinya.


Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedang menunggu balasan?


“Benar. Ah, haruskah aku pergi dari sini?” Kata gadis itu dengan kecewa.


Sontak Joo Won terkejut mendengar sahutan yang dilontarkan gadis itu, tapi sesaat kemudian ia tersenyum tipis menatap gadis itu.


“Eii, Jung Jin Hee, kau,” Joo Won menatap Jin Hee dengan menyipitkan matanya.


Gadis di depannya sontak menatap mata Joo Won kaget dan sedetik kemudian langsung mengalihkannya. Tangannya langsung mengambil secangkir caramel macchiato nya dan meminumnya.  Joo Won tersenyum geli melihat sahabatnya itu terlihat begitu salah tingkah.


“Inilah yang kukhawatirkan. Aku sendiri bahkan tidak bisa mengendalikan pesonaku.” Katanya sambil tetap tersenyum dan menyandarkan punggungnya. Dengan perlahan dan hati-hati Joo Won mengeluarkan smartphonenya dan mengecek kembali SNS nya. Kosong.


Kenapa belum ada balasan? Aku bahkan sudah mengiriminya beberapa kali. Aneh.


**


Kedua remaja itu tiba di depan studio rekaman yang akan mereka gunakan hari ini. Tangan Tae Hyung reflek mengambil ID card dari saku celananya, menggesekkannya ke satu alat yang terpasang di sebelah pintu dan pintu otomatis itu pun terbuka.


“Masuklah.” Kata Tae Hyung yang masuk terlebih dahulu dan kemudian merebahkan dirinya di sofa hijau tosca yang terdapat di dalam studio.


Gadis itu pun melangkahkan kakinya, ragu. Bukan karena ini pertama kalinya ia masuk ruangan seperti ini atau takut akan kakaknya jika tahu ia berada di sini, di kantor Je Sang Ent. tapi, kalau ia masuk dan pintu ini menutup secara otomatis maka hanya akan ada dirinya dan Tae Hyung yang berada di dalam ruangan ini. Itu yang ia takutkan sekarang.


Tae Hyung memejamkan matanya, menikmati udara segar yang berasal dari pendingin ruangan itu dan satu buah lagu yang baru saja ia setel. Untuk beberapa detik ia masih terlarut dalam kelelahan setelah kelas vokal yang telah ia selesaikan beberapa menit yang lalu, tapi tiba-tiba ia membuka matanya, ingat bahwa ada seseorang yang harus ia perhatikan sekarang. Seorang gadis yang masih berdiri di depan pintu masuk.


“Kau tidak berniat untuk duduk?” tanyanya lalu berdiri, mengambil sebuah kertas dari laci meja di depannya. “Tidak perlu merasa canggung. Kau tahu betapa susahnya aku mendapat izin memakai studio rekaman ini? Duduklah.” Lanjutnya.


Hye Rim menoleh, berjalan perlahan menuju sofa dan duduk.


“Emm, kau tidak penasaran kenapa aku datang sendirian kesini? Tanpa Se Na?” Tanya Hye Rim ragu-ragu sambil melepas tas ranselnya dan meletakkannya disampingnya.


Seketika Tae Hyung menoleh dan menggeleng.


“Kenapa? Ia juga anggota kelompok kita.” Sahut Hye Rim.

__ADS_1


“Aku tahu. Tapi sepertinya ia sedang sangat sibuk sekarang, setelah pemberitaan dengan presdir muncul. Kau pasti sudah membacanya kan?” Tanya Tae Hyung sambil kembali ke sofa dan duduk.


“Ini.” Tae Hyung memberikan selembar music sheet kepada Hye Rim dan duduk tepat disamping Hye Rim. Seketika jantung Hye Rim berdetak kencang. Ia tidak pernah duduk di sebelah seorang pemuda sedekat ini. Dengan terus mengontrol nafasnya ia menerima music sheet itu dan perlahan menggeser badannya dari Tae Hyung.


“Lirik yang kau tulis sudah menjadi sebuah lagu sekarang.”


“Backstage?” tanya Hye Rim melihat judul lagu yang tengah dipegangnya.


Sontak pemuda itu berdiri kembali dan berjalan menuju satu meja besar yang berisi beberapa alat yang dibutuhkan ketika proses perekaman berlangsung. Pemuda itu pun langsung duduk di salah satu kursi dan menyalakan sebuah laptop.


“Kau mau dengar?” tawar pemuda itu sambil menoleh ke gadis itu.


Hye Rim tersentak. Fokusnya berpindah, dari music sheet kini beralih ke pemuda itu.


“Kemarilah.” Kata Tae Hyung sambil menggerakkan kepalanya dan menepuk satu kursi yang berada di sebelahnya. Menyuruh Hye Rim untuk duduk disebelahnya. Tapi sayangnya Hye Rim masih terdiam.


“Hei. Kau ini kenapa? Kau canggung karena ini pertama kalimu kesini atau karena melihatku seperti ini? Seorang Idol yang biasanya selalu bersinar di atas panggung berubah menjadi seseorang yang biasa?” goda pemuda itu. Seketika Hye Rim merasa seperti telah dibangunkan dari bangunnya. Langsung saja kesadarannya datang dan membuatnya kembali ke dunia, ke sikapnya seperti biasa.


“Mana mungkin,” sangkalnya sambil beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju pemuda itu dan duduk di sebelahnya. Tae Hyung tersenyum melihat Hye Rim yang telah berada di sampingnya. Kini tangan dan matanya mulai sibuk dengan satu file musik yang telah ia siapkan sejak tadi malam. Cursor di layar itu mulai membuka satu buah folder dan klik! Satu-satunya file mp3 di folder tersebut pun terbuka.


“Dengarkan sampai selesai. Setelah itu kau baru boleh berkomentar.”


Sebuah lagu dengan alunan musik yang lembut mulai keluar dari beberapa speaker dan perlahan memasuki telinga kedua remaja itu. Sebuah lagu yang diiringi oleh instrumen yang lembut dan halus, sangat halus, sampai gadis itu tidak sadar bahwa ia perlahan memejamkan matanya, menikmati lagu itu.


Tae Hyung memandang gadis itu dan tersenyum tipis.


Apa kau menyukainya?


Tidak menunggu lama sebuah suara pemuda yang sangat khas mulai mengalun indah menghiasi instrumen dari lagu itu. Caramel macchiato voice, suara yang terkenal dengan kelembutannya, suara pemuda itu, Kim Tae Hyung. Disusul dengan satu suara pemuda yang berbeda, suara maskulin yang melengkapi lagu itu. Melafalkan lirik yang telah gadis itu tulis beberapa hari yang lalu. Lirik yang benar-benar ia tulis sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Lagu itu semakin mendekati akhirnya tapi gadis itu masih memejamkan matanya. Entah kenapa ia merasa perasaan dan pikirannya sangat damai sekarang, ia masih menutup matanya bahkan sesekali menggoyang-nggoyangkan kepalanya pelan.


Aku menyukai lagu ini. Sangat.


Hanya menunggu kurang dari satu menit lagu itu pun selesai dan Hye Rim pun membuka matanya. Tersenyum memandang Tae Hyung.


“Aku tidak tahu kalau aku adalah seorang penulis lirik yang handal.” Celetuknya.


Sontak Tae Hyung menoleh dan mengernyitkan dahinya. Kemudian kembali ke layar laptop itu sambil menggeleng-nggeleng pelan.


“Tapi, kenapa ada rap? Kau bahkan tidak pernah mengatakan kepadaku sebelumnya. Lalu siapa yang akan melakukan part itu?” tanya Hye Rim beruntun.


Tae Hyung menghela nafasnya. Ia pun menghentikan aktifitasnya dengan keyboard dan mouse laptop itu kemudian memutar kursinya, menghadap Hye Rim. Hye Rim masih memperhatikan laptop di depannya ketika kedua tangan Tae Hyung memegang sandaran tangan kursinya, memutarnya dan persis menghadap pemuda itu.


“Iya. Itu rap. Maafkan aku kalau aku memang tidak pernah mengatakannya kepadamu. Aku.” Jawab Tae Hyung berurutan, sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu.  Hye Rim terdiam, debaran kencang jantungnya membuatnya tidak bisa berkata apa-apa sekarang.


“Eoh! Apa aku mengganggu?”


Seorang pemuda yang berusia tiga tahun lebih tua dari Tae Hyung telah berdiri dan tersenyum manis di depan pintu masuk otomatis yang baru saja tertutup. Sontak Tae Hyung melepas kedua tangannya dari sandaran kursi Hye Rim dan tersenyum ke arah pemuda itu.


“Hyun Joon Hyung sudah datang?” sapa Tae Hyung.


Pemuda yang bernama Hyun Joon itu hanya mengangguk dan tersenyum sambil menunjukkan satu paper bag kepada Tae Hyung.


Hyun Joon Oppa?


Sontak gadis itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke pemuda dengan celana jins coklat dan kaos hitam yang tengah tersenyum ke arahnya.


“Annyeong. Han Hye Rim.”


**


“Wahh! Aku merasa hidup kembali!” seru Tae Hyung sambil mengunyah satu buah sandwich yang sedang dipegangnya. Hyun Joon sontak menoleh dan tersenyum.


“Pelan-pelan. Kau akan tersedak jika kau makan seperti itu. Kalau kau tersedak kita tidak akan bisa melakukan recording hari ini. Kasihan Hye Rim yang sudah datang dari jauh.” Sahut Hyun Joon sambil tersenyum ke arah Hye Rim. Hye Rim hanya mengangguk dan tersenyum canggung.


“Eii, tapi apa Hyung tahu siapa yang telah menyebabkan aku kelaparan seperti ini?” tanyanya pada Hyun Joon sambil melirikkan matanya ke arah Hye Rim yang sedang meneguk segelas capucchino di depannya. Hye Rim terhenti. Ia langsung memandang Tae Hyung dengan sinis.


“Hahaha.Sudah-sudah, ah! Han Hye Rim! Apa kau sudah mendengarkan lagunya?”


Hye Rim menghentikan makannya dan mengangguk, menatap Hyun Joon.


“Bagaimana? Ada komentar?” tanya Hyun Joon sambil mengambil music sheet yang tergeletak manis di meja itu. Hye Rim menatap Hyun Joon dan menggeleng.


“Aku menyukainya.” Jawabnya sambil mengambil selembar tisu dan mengelap mulutnya. Ia sudah selesai dengan makan malamnya dan sekarang ia harus bekerja.


“Tapi sebentar? Backstage?” tanya Hyun Joon dengan bingung.


“Bukan aku Oppa. Tae Hyung.” Sahut Hye Rim sambil melirik Tae Hyung.


“Kenapa? Bukankah itu judul yang bagus? Sebuah kisah cinta yang diselimuti rasa cemas, khawatir tapi tetap dapat meninggalkan debaran bahagia di dalam hati?”


“Bukankah itu Backstreet? Tapi kenapa Backstage?” tanya Hyun Joon.

__ADS_1


“Karena pelakunya adalah dua orang idola.” Jawab Tae Hyung sambil tersenyum.


Hyun Joon hanya tersenyum menanggapi komentar Tae Hyung baru saja.


“Mm, bagus juga. Jadi, kita bisa mulai sekarang?” tanyanya sambil menatap Hye Rim dan Tae Hyung, bergantian. Tae Hyung mengangguk dan langsung beranjak menuju ruangan recording, mengecek semua peralatan yang ada di dalam ruangan yang hanya dibatasi dengan kaca itu dan kembali berjalan keluar.


Hye Rim mengangguk pelan. Perlahan ia mulai beranjak menuju meja yang berada di depan ruang rekaman, mengikuti Hyun Joon yang telah duduk dan menyalakan semua peralatan yang dibutuhkan ketika proses perekaman berlangsung. Ketika gadis itu baru saja duduk tiba-tiba seorang pemuda memasangkan sepasang headset di telinganya.


“Dengarkanlah. Kau hafalkan melodi bagianmu dan aku yang akan masuk dulu.” Kata Tae Hyung sambil memilih satu lagu di dalam smartphone yang terhubung dengan headset dan kemudian menyerahkan smartphone nya ke tangan gadis itu. Sejenak Hye Rim terhenyak. Dengan tatapan yang bingung ia menerima smartphone itu dan memperhatikan pemuda yang berjalan masuk ke ruangan recording sambil membawa selembar kertas. Pemuda yang mulai memasang sepasang headset ke kepalanya, mengecek mikrofon dan tiba-tiba melambaikan tangan ke arahnya.


Sontak Hye Rim mengalihkan pandangannya.


Kumohon jangan seperti ini. Kau bisa membuat perasaanku yang telah lama tidur itu bangun kembali.


“Kau dengar suaraku Tae Hyung?” tanya Hyun Joon sambil melihat Tae Hyung yang sedang membenarkan posisi headset nya dan melafalkan pelan lirik yang terdapat di kertas.


Pemuda itu mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


“Baiklah-, kita mulai!” perlahan Hyun Joon mulai menaikkan beberapa tombol yang berada di depannya dan proses perekaman resmi dimulai.


**


“Hyun Soo-yah, apa kau lihat Hye Rim?” tanya Hyun Woo sambil mengambil remote televisi dan duduk diatas sofa mocca yang berada di ruang keluarga. Hyun Soo menggeleng dan kemudian langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya.


Hyun Woo hanya terdiam melihat adiknya yang akhir-akhir ini sedikit berbeda. Matanya kemudian melihat televisi dan mengganti channel nya. Mencari sesuatu yang bagus.


“Eoh!” seketika ia teringat akan sebuah pesan di smartphonenya yang sepertinya belum sempat ia buka sejak dua jam yang lalu. Dengan segera ia beranjak dari sofa itu, berjalan menuju kamarnya yang berada di samping ruang keluarga dan mengambil satu buah smartphone keluaran terbaru yang tergeletak di atas tempat tidurnya.


Perlahan ia mulai memasukkan password di lock screen smartphonenya sambil berjalan keluar dan menutup pintunya. Delapan pesan dari sebuah produk SNS belum terbaca. Itulah yang tertulis pada pemberitahuan yang berada di halaman depan smartphonenya. Tanpa menunggu lagi ia menyentuh pemberitahuan itu dan delapan pesan beserta foto yang telah masuk ke SNS nya satu jam yang lalu memang belum sempat ia buka. Dan klik! pesan-pesan itu pun terbuka. Sontak matanya sedikit membesar dan langkahnya terhenti, tepat di sebelah televisi. Dua kalimat singkat beserta satu foto yang menampilkan seorang gadis yang sangat ia kenal telah mengejutkan dirinya.


“Hye Rim?” seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia memperbesar foto itu dengan kedua jarinya dan memperhatikan seorang gadis berambut panjang yang terlihat memasuki sebuah mobil putih bersama seorang pria.


Ia tidak mengenal pria itu tapi ia sangat mengenal gadis itu.


‘Astaga! Bukankah ini Lee Tae Min? Kali ini siapa wanita yang bersamanya? mengapa begitu mendadak dan terbuka seperti ini?’


‘Iya. Mereka terlihat sedang bermesraan di tempat itu pagi ini, benar?’


‘Iya, salah satu penggemar memfoto mereka dan mengatakan kalau pemuda itu adalah Lee Tae Min, mereka terlihat sangat yakin. Ini benar-benar mengejutkan. Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?’


‘Ya, bahkan aku juga terkejut. Jujur, secara pribadi aku benar-benar terkejut. Tapi, menurutmu siapa gadis ini, Hye Young –ssi? Apa seseorang dari agensinya, kampung halamannya atau mungkin, teman sekolahnya?’


Hyun Woo masih berdiri sambil terus memperhatikan foto itu, tidak perduli dengan apa yang ia dengar dari televisi yang berada di sebelahnya


‘Menurutku, ini teman sekolahnya. Entah kenapa gadis rambut panjang dengan sepatu putih, sport outfit merah jambu dan abu-abu itu adalah teman sekolahnya. Apa mereka memang telah membuat janji sebelumnya untuk bertemu di taman pagi tadi?’


Sontak pikiran Hyun Woo teralih. Sepatu putih dan baju merah jambu?


Langsung saja ia berjalan menuju ruang keluarga. Berdiri tepat di depan LED TV besar itu. Untuk sekali lagi ia menajamkan penglihatannya, memperhatikan gadis berbaju merah jambu dan abu-abu yang tengah duduk di salah satu bangku taman dan seseorang pemuda yang tengah duduk di samping gadis itu,wajah dan badan pemuda itu mendekat ke arah wajah gadis itu, menutupi sebagian gadis itu, termasuk wajah gadis itu.


Sontak matanya terhenti pada sepasang sepatu yang tengah di kenakan gadis itu. Sepatu yang ia belikan beberapa bulan  yang lalu sebagai hadiah ulang tahun untuk adik perempuannya, Han Hye Rim.


Han Hye Rim?


Matanya kembali terpusat pada sebuah foto yang sedari tadi dibukanya. Sontak ia menyadari satu hal yang penting. Foto adiknya dengan Tae Min di taman dengan foto adiknya memasuki mobil yang terdapat di smartphone nya berbeda. Mereka tidak terlihat berkaitan satu sama lain. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa menuruni tangga.


“Nuna! Kau sudah liha-,” sontak langkah kaki itu terhenti. Langkah seorang pemuda yang berhenti tepat di depan LED TV itu, di belakang kakak laki-lakinya. Sontak ia terdiam, terkejut memandang kakaknya tengah berdiri di depan TV itu, memperhatikan foto dan berita skandal yang tengah dibawakan oleh dua pembawa acara itu. Ia menundukkan kepalanya sambil mengambil smartphone yang berada di saku celananya tapi tiba-tiba pandangannya terhenti pada smartphone yang tengah di pegang kakaknya, smartphone yang menampilkan foto kakak perempuannya tengah memasuki mobil bertuliskan JS. Ent.


“Hyun Soo-yah, apa kau tahu dimana kakakmu berada sekarang?”


“Tidak Hyung.” Hyun Soo menggeleng dan kemudian menekan kontak kakak perempuannya, mencoba menghubungi Hye Rim, memberitahu tentang ‘badai’ ini.


‘Ahh, sepertinya begitu. Tapi kuharap gadis ini akan baik-baik saja. Kau tahu kan maksudku?’


***


Untuk sejenak Hye Rim terhenti di depan kantor Je Sang Entertainmet.Gedung berlantai lima yang memiliki satu videotron besar di depan gedung itu, videotron yang menampilkan artis-artis mereka.


Ia menghela nafas. Diperhatikannya gedung itu dengan seksama.


“Hmm.”, gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh gedung ini. Gedung modern, taman yang indah dan sebuah kolam kecil.


“Semoga tidak terjadi apa-apa,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Gadis itu menghela nafasnya pelan.


“Tenang Hye Rim, tidak akan ada yang terjadi hari ini..” gumamnya pelan sembari mengangkat wajahnya kembali. Matanya tak sengaja melihat pria yang telah membawanya kemari tengah melambaikan tangan ke arahnya.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2