
Tanganku gemetar saat mendengar semua perkataan Boby.
Cerai ..., dan cerai ....
Hujan masih mengguyur kota ini, meski tak lebat seperti tadi siang.
Tapi airmataku, tetap menitik membasahi pipi tanpa dapat kutahan.
Salahkah bila aku mengharapkan rumah tanggaku bersamanya, suamiku yang lebih muda tujuh tahun dariku ini.
Tentu dengan fisik yang prima dan wajah tampannya, wanita mana yang akan menolak karismanya. Terlebih suamiku ini anak seorang konglomerat.
Kulangkahkan kakiku melewati selasar panjang rumah tuan Atmaja.
Kuelus perutku yang semakin membesar seiring pertumbuhan janin di dalam rahimku.
Aku mematung memandang jalan yang akan kulalui, disaat seperti ini kembali kata-kata Boby yang berulang kali menegaskan akan adanya perceraian di antara kami membuat hatiku sakit.
"Salahkah aku berharap bahagia bersamanya? Tak cukupkah dengan Kau mengambil bang Rusdi dari sisiku, kenapa kini kebahagiaan sekali lagi harus terenggut." Batinku meronta, membuat aku luruh tak kuasa menahan beban dalam hati ini.
Samarku dengar derap langkah kaki yang begitu cepat dan semakin dekat.
Kemudian sepasang tangan meraih tubuhku dan memelukku erat.
"Kau kenapa? Perutmu sakit?" tanyanya.
Aku tak menjawab, yang kutahu hatiku sakit sekali.
Dalam pelukannya aku menangis.
Berulang kali dada bidangnya itu kupukul sekuat tenaga, kerah bajunya pun kuremas seolah ingin mencekiknya.
Tangisku semakin menjadi, begitu pun pukulan dan remasanku.
Lelaki itu tak melawan ataupun mengelak, dirinya hanya memelukku. Begitu diri ini tenang, barulah dirinya menuntunku ke mobil.
Begitu di dalam mobil, disekanya airmataku yang masih menetes.
Perlahan dipasangnya sabuk pengaman ke tubuhku dan sesekali di usapnya perutku.
"Kau berbohong, pendusta. Kau bermuka dua!" umpatku.
Boby hanya menatapku tajam, tangannya tak lepas dari setir mobil.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
*****
Begitu sampai ke rumah di tariknya kuat tanganku dari mobil dan menghempaskan tubuhku ke ranjang.
"Jelaskan! Apa maksud perkataanmu tadi, hah!" hardiknya.
"Aku mendengar semua perkataanmu dengan tuan Atmaja." Airmata ini kembali luruh saatku menjawabnya.
Lelaki itu menggusarkan rambutnya, seolah frustasi.
Kini dirinya duduk di sampingku, dapatku dengar suara helaan nafasnya.
"Kita sudah membahas ini, Ganis! Haruskah aku mengulangnya lagi," ujar Boby.
"Aku pikir, aku ...," lirihku.
Aku menunduk, seakan hilang semua keberanianku tadi.
"Aku tahu bagimu ini berat, jadi nanti begitu anak ini lahir. Aku akan mengurusnya, dan kau bisa berkumpul kembali bersama anak-anakmu," terang Boby.
PLAK ...!
Kudaratkan sebuah tamparan keras ke pipinya, hatiku memanas saat dirinya dengan gamblang mengatakan hal yang tak mungkin bagiku.
"Kau br*ngs*k! Aku bukan barang ataupun alatmu mencetak anak, seumur hidupku tak kan rela pisah dengan anakku terlebih masih bayi." Ku tatap nyalang lelaki yang harusnya menjadi imam bagiku.
Boby hanya menatapku tanpa dapatku artikan tatapan matanya.
Malam itu Boby pergi dan hingga dua minggu dirinya tak kembali.
Aku merasa bod*h, kepergiannya begitu membuatku kacau.
Setiap malam aku menantikan kepulangannya, berharap dia kembali dan aku akan meminta maaf.
Akan kutepiskan rasa ego di hati ini.
Tak apa, aku akan mengalah ....
Kuberanikan menelepon dirinya, tapi panggilan dariku selalu ditolak.
Kuberanikan menelepon tuan Atmaja, paman Boby.
"Boby sudah bekerja di kantor ayahnya, Ganis. Sudah seminggu ini, ketika kau kemari bersamanya. Itu hari terakhir Boby bekerja menjadi supir saya, sekarang dia memegang perusahaan ayahnya. Kau tak tahu itu?" Tuan Atmaja membeberkan semua, akhirnya terjawab sudah.
Aku tertegun mendengar semuanya, terlebih ketika kuingat pembicaraan mereka tentang perjodohan yang keluarganya inginkan.
Hatiku tak ingin semua itu terjadi, terus menerus aku menelepon Boby.
Tetap saja, tak ada satu pun panggilanku diterima.
Kuketik pesan via aplikasi hijau, aku meminta maaf padanya.
Ceklis dua dan berwarna biru, tapi tetap tak dibalas.
Hari ini, dua minggu sudah Boby tak pulang.
Aku hanya mendapat notifikasi di ponsel sejumlah uang masuk ke rekeningku.
Pesanku padanya tak dibalas sampai hari ini.
__ADS_1
Mengingat itu airmataku kembali luruh, susah payah aku menahan airmataku selama ini.
Aku tak ingin menangis lagi, takut berpengaruh pada perkembangan janin dalam rahimku.
Tiba-tiba masuk pesan via aplikasi hijau, gegas kubuka. Hatiku sedikit senang karena berharap Boby yang mengirim pesan padaku, nyatanya bukan.
Bu Sani, wanita itu mengatakan anakku Ilham, demam tinggi dan akan dibawa ke Rumah Sakit.
"Iya, bawa saja! Aku akan menyusul, aku pulang hari ini. Tolong katakan pada Ilham dan Yayan," ujarku.
Benar, untuk apa aku di sini meratapi lelaki itu sedang anak-anakku sakit tak kuperhatikan.
Tanpa berpikir dua kali, gegasku masukkan bajuku dan pagi itu kutinggalkan rumah dimana semua yang kulalui bersama Boby terpatri di sana.
Kupandang sekali lagi rumah itu dari kejauhan.
Kutarik koper dan mulai menyusuri jalan, sesekali kuusap perutku. Berharap anak yang kukandung baik-baik saja mengingat perjalanan yang lumayan jauh akan kutempuh sampai kampung halaman.
Ketika aku berada dalam bis, sesekali mata ini melirik keluar. Berharap Boby datang dan menggenggam tanganku, sayangnya itu tak mungkin.
Kupandang layar ponsel dimana namanya terpampang jelas.
Sekali lagi kutelepon dia, dan kali ini diterima.
Airmataku luruh saat kudengar suara wanita yang menerimanya. Aku diam saja, namun wanita itu terus menerus bicara.
["Halo,"]
["Cari Boby, ya?"]
["Lagi mandi anaknya, nanti dia telepon lagi aja ya,"]
Dalam bis yang berdesakan, aku menangis tersedu-sedu.
Wanita tua yang duduk di sampingku memeluk diri ini dan mencoba menenangkanku.
"Sing sabar, Nyi." Wanita itu menepuk-nepuk bahuku.
Akhirnya aku tenang dan kumatikan ponselku, agar kutenang. Bagaimanapun ada anak yang kukandung, harus kujaga meski ayahnya tak pernah menginginkannya.
"Ya Allah, kuatkan hatiku!" batinku.
Tepat adzan Magrib berkumandang, aku sampai ke rumah.
Kosong, tentunya mereka ada di Rumah Sakit.
Gegas kuaktifkan ponselku, dan hatiku mencelos saat panggilan via aplikasi hijau penuh dengan panggilan dari Boby.
Tatapanku nanar melihat pesannya.
"Kau kemana?"
"Kenapa lemarimu kosong, kau kemana?"
dan banyak lagi pesannya yang tak kubaca.
Ku telepon Bu Sani, dan segera kutuju Rumah Sakit yang dikatakannya.
Beberapa kali perutku bergejolak, pasalnya dari pagi tak kuisi nasi sama sekali. Hanya dua bungkus roti yang kubeli dari pedagang di terminal tadi.
Perut yang membesar membuatku menggunakan gamis yang longgar dan kukenakan lagi outer agar perutku tak terlalu kentara terlihat.
"Nanti akan kukatakan pada mereka saat sudah tenang," batinku.
Tangisku pecah saat melihat Ilham terbaring lemah dan tangannya diinfus, serta Yayan yang memelukku erat.
Kami bertiga berpelukan erat, melepas rindu setelah berbulan-bulan tak bertemu.
Bu Sani tersenyum sembari tatapannya tak lekang dari perutku.
"Yan, jaga Ilham dulu ya. Ibu mau beli makan dulu." Aku bergegas keluar bersama Bu Sani.
Dapatku tebak sahabatku ini ingin menanyakan perihal apa.
"Nis, kamu ..., hamil?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk pelan.
Diusapnya bahuku.
"Gak apa, tenang aja. Aku tahu siapa kamu, ga mungkin macam-macam. Bagaimana ini terjadi, ceritakan! Biar aku buat pengaduan ke pak Atmaja," tukas Bu Sani.
"Tak perlu, ini bukan karena pak Atmaja. Pak Atmaja sangat baik," kilahku.
Aku pun menceritakan semuanya pada Bu Sani.
Sahabatku ini turut menitikkan air mata begitu mendengar semua tentang rumah tanggaku sekarang.
"San, bantu aku! Aku ingin tenang bersama anak-anakku, bisakah kau merahasiakan semua. Aku akan kembali ke kampung halaman ibuku.
Jika pak Atmaja atau siapa pun yang mencariku, katakan saja kau tak tahu." Aku menatap lekat wajah sahabatku ini, berharap dukungannya.
Bu Sani mengangguk pelan," jadi kamu mau ke Kalimantan, ya! Nanti beli kartu baru aja, nomor yang itu di buang biar mereka ga bisa menghubungi kamu," sahut Bu Sani.
"Aku ingin melahirkan dan hidup tenang bersama anak-anakku, terkadang aku merindukan almarhum bang Rusdi. Seandainya saja dia masih ada, aku takkan seperti ini," lirihku.
"Sudah, jangan kau ratapi terus. Bangkit Ganis, kau wanita kuat! Nanti aku totalkan semua uangmu, sekitar 60 juta kalau ga salah." Bu Sani mengeluarkan ponselnya, ada yang menelepon.
Kemudian wanita itu memberi isyarat padaku untuk diam.
["Halo"]
...
["Hah, Ganis? Ga ada kok, bukannya lagi kerja di rumah Bapak?"]
__ADS_1
...
["Lho, ga ada, Pak! Benar, ini aja saya telepon ga diterima padahal anaknya lagi sakit,"]
...
["Iya, nanti saya hubungi kalau dia pulang ke sini ya, Pak!"]
...
"Tuh, kan! Pak Atmaja telepon aku nanyain kamu, suamimu ga nyari?" tanya Bu Sani.
Kupandang ponselku, kali ini tak ada satu pun yang menelepon karena kuganti ke mode pesawat.
"Ga ada," kelakarku.
"Ya, sudah! Nanti ke Yayan sama Ilham, kasih tahunya pas udah tenang aja. Aku yakin anak-anak pasti mengerti keadaanmu. Terlebih Yayan, anakmu itu sedikit-sedikit 'bagaimana ibu, lagi ngapa ya, ibu,' aku yakin mereka akan mengerti. Tenangkan hati dan pikiranmu, kasihan anak dalam kandunganmu." Bu Sani menggenggam erat tanganku.
"Beli makan dulu, yuk! Aku lapar, anak-anak juga cuma makan sedikit," ajak Bu Sani.
Akhirnya kami pun membeli 4 bungkus nasi goreng dan beberapa buah-buahan.
****
Sedang di rumah yang Ganis tatap tadi pagi, tengah bersimpuh seorang lelaki yang menangis mengenang kepergian wanita yang sengaja dirinya tinggalkan selama dua minggu ini.
"B*d*h, kenapa pergi? Aku hanya ingin melihat apa reaksimu tanpa ada aku di sampingmu," gerutu lelaki itu.
Tangisnya begitu lirih, berkali-kali dirinya berteriak memanggil nama wanita yang tengah mengandung anaknya itu.
Sedang kakak perempuannya, Melani yang tadi pagi mengangkat telepon dari Rengganis itu hanya mematung melihat sang adik yang begitu nelangsa.
"Sejak kapan dia punya istri, lalu kenapa mereka tinggal di rumah omah?" batin sang kakak.
****
Pagi itu dirinya iseng ketika melihat ponsel Boby yang terus menerus berdering, sedang adiknya tengah membahas kinerja perusahaan dengan sang ayah, bagaimanapun semua telah berada dalam kendalinya.
Mereka kembali ke Indonesia, setelah menetap di Singapura karena pengobatan sang ayah.
Selama di Singapura, perusahaan dipercayakan kepada adik ayah Boby, Atmaja Wardoyokusumo.
Karena waktu itu Boby masih memilih tinggal di luar negeri bersama sang kekasih, Selena.
Kembali ke Indonesia karena ancaman dari sang ayah yang mengatakan akan menghapus namanya dari daftar penerima semua hartanya, terlebih Boby adalah anak lelaki satu-satunya.
Ayah Boby, Dani Wardoyokusumo adalah seorang pebisnis handal yang memiliki banyak perusahaan di berbagai bidang.
Karena kecintaannya pada dunia kerja, membuat ayah Boby ini abai akan kesehatannya.
Sehingga penyakit struk menyerang lelaki yang handal dalam bisnis tersebut.
*****
"Siapa sih, nelpon terus?" celetuk Melani.
Begitu melihat nama wanita, sang kakak pun tersenyum.
"Angkat ah, biar terbakar api cemburu. Aku senang ada yang membara. Hahaha!" gumam wanita itu.
****
Begitu Boby meraih ponselnya, dilihatnya berkali-kali Rengganis menelepon.
"Akhirnya kau menyadari, kan! Tak bisa hidup tanpaku," gumam Boby.
Tak menunggu lagi, Boby segera meluncur pulang ke rumah dimana sang istri berada.
Hanya saja, itu menjadi hari yang menyedihkan baginya.
Dimana dirinya tak mendapati sang istri, bahkan lemari pakaiannya pun kosong.
Di ceknya panggilan di ponsel, ternyata ada yang menerima panggilan.
Gegas saja Boby kembali ke rumah orangtuanya.
"Melaniii!" pekiknya.
"Ada apa ini ribut-ribut, kamu bukannya kerja malah balik lagi ke rumah," sahut ibunya.
"Mana Melani Mah?" tanya Boby.
Terlihat wanita yang dicari Boby turun dari tangga dan menghampiri sang adik.
"Apa?"
"Lu angkat telepon di hp gue tadi?" tanya Boby.
"Ya," jawab Melani tanpa dosa.
Seketika Boby berang.
"Lu ngomong apa aja tadi?" Lelaki itu menatap tajam pada sang kakak.
"Cuma bilang lu lagi ga bisa angkat telepon aja, emang itu siapa sih?"
"Istri gue," pekik Boby.
Satu rumah terkejut mendengar penuturan Boby, lelaki itu tak peduli.
Melani kemudian membuntuti sang adik, penasaran akan wanita yang membuat adiknya seperti kebakaran jenggot.
Boby bergegas ke rumah sang paman, mengobrak abrik setiap sudut mencari Rengganis. Bahkan kamarnya dulu sampai kamar Dinda, hingga gadis itu histeris melihat Boby masuk tanpa ijin ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan!" hardik pak Atmaja.
__ADS_1
"Ganis, aku mencari istriku!" pekik Boby tak kalah nyaring.