
Haruskah aku menelponnya?
Sudah sebulan semenjak pertemuan tak disengaja dengan tuan Atmaja beserta Oliv, sang istri. Akhirnya Oliv dan tuan Atmaja memiliki buah cinta, seandainya Dinda tak mengenaliku ... tentu kami takkan pernah bersua dan aku tak kan pernah tahu kabar ayah Tri, Boby.
Setiap hari aku memandangi nomor telepon Boby, nomor yang sama dengan yang tertera di ponselku. Sebenarnya aku tak pernah menghapus nomornya, hanya saja aku tak berani menghubunginya.
Hingga malam itu ...
Tri yang asyik menonton video kartun di sebuah aplikasi kubiarkan memainkan ponselku sendirian, sedang aku ke dapur membersihkan makanan sisa Tri makan.
Balitaku itu suka makan buah dan sayur sendiri, melihat itu aku pun membiasakan dirinya makan sendiri sehingga selalu saja berantakan sisa makanannya.
Seperti kali ini, Tri menonton video dan aku membersihkan semua kekacauan balitaku makan.
Video yang ditontonnya sudah berhenti berputar, jari mungilnya menekan-nekan sembarang layar ponsel, tanpaku tahu ... Tri melakukan video call ke nomor Boby.
["Hai, ini siapa?]
Aku tertegun begitu mendengar suara lelaki yang begitu aku kenal.
Tri malah memanggil-manggil 'mamah'.
Tanpa sadar kaki ini melangkah dan melihat ke arah ponsel, tak kuat rasanya kumelihat manik hitam yang begitu berbinar menatap layar ponsel.
Keningnya mengernyit, sedang aku tak berani bersuara.
["Ini siapa?"]
Sekali lagi lelaki itu bertanya, tanganku gemetar saat hendak menekan tombol akhiri di layar ponsel.
Tuttt ... bulir bening menetes begitu saja saat diri ini mengakhiri panggilan.
Langsung saja ku mati daya ponsel dan kutidurkan anak bungsuku itu di samping abangnya, Ilham.
Tri termasuk anak yang tak rewel, setiap malam hanya perlu diusap punggungnya saja sudah tidur.
Saat Ilham dan Tri sudah terlelap, rumah terasa sepi ... terlebih Yayan sudah mulai kuliah lagi.
Kugenggam ponselku dan kuaktifkan kembali.
Begitu ponselku aktif, tak ada panggilan ataupun pesan dari Boby.
Kupikir-pikir lagi ucapan tuan Atmaja waktu itu, bagaimanapun aku masih istrinya dan harus menberi kabar bila hatiku sudah mantap.
__ADS_1
"Ada baiknya aku menelepon dia, bagaimanapun Boby harus mengetahui Tri." Aku bermonolog, hatiku tak karuan.
Kuberanikan meneleponnya via suara.
Tuttt ... Tuttt ... Tuttt ...
["Halo,"]
Hening, rasanya lidahku kelu.
["Halo,"]
Sekali lagi Boby mengucapkan sapa.
Aku malah tergugu dan airmataku menetes, yang terdengar hanya isak tangisku.
["Ganis?"]
Boby menebak dan kini dirinya benar sekali.
Mendengar dia menyebut namaku, membuat tangisku pecah. Aku tak kuat mengucapkan satu patah kata pun.
Dapatku dengar, lelaki itu pun menangis ... panggilan via tangis, bukan suara!
["Aku, aku di kampung halamanku."]
["Dimana kampungmu? Aku ke sana sekarang,"]
["Jangan, ini sudah malam!"]
["Katakan dimana? Kalau tidak, aku akan mencarimu sendiri."]
Aku menghela nafas panjang saat kembali menghadapi sifat Boby yang selalu semaunya.
["Untuk apa kau menemuiku? Bukankah aku ini penghalang masa depanmu?"]
Airmataku kembali menganak sungai jika mengingat hal tersebut.
Dapatku dengar helaan nafas kasar Boby.
["Karena kau istriku dan kau masa depanku,"]
["Sekarang katakan kau dimana?"]
__ADS_1
["Aku di ..."]
Kata-kataku tertahan saat terdengar suara rengekan Tri, sepertinya anak bungsuku bermimpi.
Gegasku menghampiri anakku itu, rengekannya terdengar jelas pastinya oleh Boby, nyata lelaki itu terdiam.
Sesekali kuusap punggung Tri sampai anak bungsuku kembali terlelap.
["Ganis,"]
["Ya,"]
["Apakah anak kecil itu ...,"]
["Anakmu,"]
Kujawab singkat pertanyaannya yang menggantung.
["Katakan kau dimana?"]
["Kalimantan, tepatnya di kampung Berlian."]
["Kalimantan Barat?"]
["Iya,"]
["Tunggu aku, besok pagi aku sudah ada di depan pintumu,"]
Aku hanya tersenyum getir saat mendengar kata-kata Boby yang seolah mustahil bagiku.
["Ya sudah, aku mau tidur. Selamat malam!"]
Sengaja inginku akhiri panggilan ini.
["Baiklah,"]
["Assalamualaikum,"]
["Wa'alaikumsalam,"]
Bibir ini mengulas senyum seakan lega bisa mendengar suara lelaki yang kurindukan.
Setahun sudah, lebih bahkan ....
__ADS_1
"Mendengar suaramu saja sudah membuatku bahagia,"